
Para mahasiswa khususnya yang berjenis kelamin perempuan dibuat tercengang dengan kehadiran sosok tampan dengan mengendarai motor serta helm dan kacamata hitam yang ia kenakan nampak memasuki halaman rumah yang mereka tempati, tanpa terkecuali dengan Qania.
Tristan menghentikan motornya dan berjalan ke rumah kemudian membuka kacamata serta helmnya, gayanya terlihat begitu keren dan Qania tiba-tiba saja merasa de javu.
‘Arkana.’
Qania teringat ketika Arkana datang menemuinya di himpunan dan teman-teman serta adik tingkatnya begitu terkagum-kagum akan sosoknya. Qania tersenyum mengenang kejadian tersebut hingga ia tidak sadar kalau Tristan sudah berada di hadapannya.
“Selamat malam,” sapa Tristan yang masih berdiri di ambang pintu.
Saat ini para mahasiswa tersebut sedang berbincang di ruang tamu untuk membahas program kerja mereka selama dua bulan dan juga mereka tadi sudah membahas tentang permintaan Tristan untuk membawa Qania.
“Selamat malam, mari masuk,” ajak Zakih.
Tristan pun tersenyum dan langsung masuk setelah meletakkan helmnya di kursi teras. Kemudian ia ikut duduk di lantai bersama para mahasiswa tersebut dan lagi-lagi jantung Qania berdebar tak karuan, ia terus saja teringat akan Arkananya yang juga datang saat ia melaksanakan KKN dulu.
“Oh iya, saya ingin bertanya. Kami harus memanggil apa ke anda? Apakah memanggil tuan? Kakak? Pak? Atau ….”
“Panggil Tristan saja, dan nggak usah pakai bahasa formal ke gue. Santai aja,” ucap Tristan memotong ucapan Zakih.
“Oke, Tristan. Jadi tadi kami sudah membahas tentang permintaan elo untuk mengajak Qania ikut membantu masalah proyek lo dan kita udah izinin. Tapi kata Qania, ada harga yang harus lo bayar karena mengambil satu tenaga dari kelompok kami. Bagaimana?” ucap Zakih langsung ke intinya.
“Tidak masalah. Jadi gue harus bayar seperti apa nih?” Tanya Tristan.
“Jadi kamu harus membantu kami membeli material untuk pembangunan di desa ini, bagaimana?” Jawab Qania.
“Oke, deal.”
Semua mahasiswa tersebut bersorak gembira, karena kegiatan mereka kali ini mendapatkan donatur dan itu artinya kegiatan mereka akan berjalan dengan baik dan lancar tanpa memikirkan masalah keuangan.
“Terima kasih, Tristan. Tapi tolong jangan sampai ada dosen kami yang melihat Qania berada di kota karena kami pasti akan terkena dampaknya,” ucap Yusuf mengingatkan.
“Pasti.”
“Nggak usah khawatir soal itu, aku memang akan menemui pak Erlangga juga di kota dengan alasan untuk mengecek harga material yang akan kita gunakan,” ucap Qania.
“Ide bagus,” ucap Mae yang diikuti oleh anggukan oleh semua teman Qania.
“Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi sebelum hari makin larut, Qan,” ajak Tristan.
“Ya sudah, ayo.” Qania pun langsung berdiri.
“Tas kamu?” Tanya Tristan karena tidak melihat Qania membawa tas atau pun koper.
“Untuk apa? Aku punya tas kecil ini kalau hanya untuk menyimpan ponsel dan dompetku,” ucap Qania sambil menggoyang-goyangkan tas kecilnya.
“Kamu nggak bawa pakaian?”
“Kan ada kamu yang beliin. Pamit ya semua, rindukan aku.” Ucap Qania melenggang pergi meninggalkan Tristan yang masih terbengang.
Tristan tersenyum, Qania sangat pandai memainkan pikirannya. Ia benar-benar mengakui kalau wanita ini begitu cerdas.
‘Dia yang cerdas atau gue yang oon ya?’
Tristan pun berpamitan dengan teman-teman Qania kemudian menyusul keluar untuk menemui Qania yang sedang menunggunya. Ia tersenyum melihat Qania yang sedang menatap datar kepadanya.
“Yuk,” ajak Tristan.
“Ini motor kamu?” Tanya Qania.
“Ya iyalah Qania, emang motor punya tetangga. Gimana sih,” sahut Tristan kemudian menaiki motornya. “Ayo naik.”
Qania pun naik ke boncengan Tristan. Ia melambai pada teman-temannya ketika motor tersebut mulai berjalan dan Tristan mengangkat kepalanya dengan gaya kerennya untuk berpamitan pada teman-teman Qania.
‘Tadinya aku pikir bakalan naik motor sport kayak waktu sama Arkana. Ya … hmm, sudahlah. Yang penting naik motor. Maaf Tristan, aku meminjam ragamu untuk melepas rinduku pada suamiku. Terserah kau mau menganggapku apa, aku hanya peduli dengan perasaanku saat ini.’
Sudah setengah perjalanan namun tidak terdengar sepatah kata pun dari keduanya. Tristan begitu sibuk tersenyum karena mendapat kesempatan berdekatan sedekat ini dengan Qania. Sedangkan Qania, sepanjang jalan ia sibuk dengan mengenang semua kebersamaannya dengan Arkana dulu saat mereka sedang mengukur jalan menggunakan motor sport milik Arkana.
Hawa dingin membuat Qania terus menggosok-gosokkan telapak tangannya. Meskipun sudah mengenakan jaket tetap saja Qania merasa kedinginan. Tristan yang sedikit mengintip dari kaca spionnya menjadi tidak tega.
__ADS_1
“Ini nih, siapa suruh minta naik motor. Jadi sekarang kedinginan, kan. Dasar sok kuat,” cibir Tristan.
“Anda bicara pada siapa ya?” Tanya Qania ketus.
“Pada rumput yang bergoyang, Qania,” balas Tristan tak kalah ketusnya.
Bibir Qania berkedut, rupanya pria di depannya ini sudah tidak jaim lagi. Jujur saja ia merasa aneh dengan tingkah Tristan seharian ini yang tidak arogan kepadanya.
“Mau peluk, malu. Nggak peluk dingin,” sindir Tristan yang terus mengamati Qania dari spionnya.
Qania mengangkat sebelah alisnya. Kemudian ia kembali menormalkan ekspresi wajahnya. Biarkan saja dia, anggap saja hanya suara jangkrik, pikir Qania.
Tristan yang merasa tidak ada balasan dari Qania pun menepikan motornya namun tidak mematikan mesin motornya. Ia berbalik badan dan mendapati wajah penuh tanya Qania.
“Udah nggak usah malu dan ragu. Aku nggak bakalan ngatain kamu kok kalau kamu meluk aku. Siniin tangannya,” ucap Tristan lembut, dan berhasil membuat Qania tidak berkutik dan hanya diam saja saat Tristan melingkarkan tangannya di perut Tristan.
Deggg …
Jantung keduanya berdetak begitu kencang, ada perasaan yang membuncah namun keduanya malah memilih diam dan hanya bisa berkata-kata dalam hati.
‘Aku akan mendapatkanmu, Qania. Akan aku perjuangkan.’
‘Tristan, kamu mengingatkan aku pada Arkanaku. Kau membuat rinduku makin menjadi-jadi dan maaf kalau aku melampiaskannya kepadamu. Aku sungguh tidak tahu bagaimana harus menyikapi keadaan ini. Apakah aku harus senang karena bisa melakukan kebiasaanku bersama Arkana dengan orang yang berwajah sama dengannya atau kah aku harus meradang karena rasa rinduku semakin besar dan aku tidak bisa mengobatinya lagi, hikss.’
Tanpa sadar Qania menyandarkan kepalanya di punggung Tristan, yang ia tahu saat ini ia sedang bersama Arkana. Ia lupa kalau pria yang sedang ia peluk ini adalah Tristan Anggara.
“I miss you so much, Ka” lirih Qania, ia semakin mempererat pelukannya.
Jantung Tristan seakan ingin melompat keluar saat tangan Qania semakin erat memeluknya. Ia sangat senang dan bahkan bibirnya terus menyunggingkan senyuman. Namun senyuman itu memudar kala mendengar gumaman Qania yang menganggapnya adalah Arkana.
‘Haruskah gue bersyukur karena bisa seintim ini dengan Qania? Atau haruskah gue menertawakan kebodohan gue yang mengira Qania sedang nyaman bersamaku padahal dia sedang menjadikan aku pelampiasan rindunya. Sakit, rasanya begitu sakit. Tapi gue bakalan berusaha agar Qania menyukai gue ya sebagai gue. Tidak apalah dia sekarang menjadikan gue pelampiasan. Gue bakalan terus mendekatinya sebagai diri gue sendiri hingga akhirnya dia lupa dengan Arkana dan hanya ada Tristan Anggara yang ada di hati dan pikirannya.’
Setelah menempuh waktu hampir empat jam, akhirnya motor itu berhenti di halaman samping kafe milik Tristan. Perjalanan yang hanya memakan waktu tiga jam jadi begitu lambat, mungkin karena mereka sedang bahagia dan memilih untuk menikmati perjalanan.
“Yuk masuk ke kafe, Qania.” Tristan menarik tangan Qania untuk masuk ke ruangannya, entah sadar atau tidak namun tidak dengan Qania yang sudah degdegan saat Tristan menggenggam tangannya. Pandangannya terus tertuju pada tangannya yang digenggam oleh Tristan.
‘Ruangan ini satu-satunya yang berbeda dengan kafe milik papa Setya. Kalau disana, ruangan khusus pemilik kafenya nggak besar kayak gini. Tapi kalau yang ini lebih besar dan sepertinya ada kamar tidurnya,’ ucap Qania dalam hati sambil memperhatikan ruangan khusus milik Tristan.
“Kagum, hem?” ledek Tristan yang mendapati Qania sedang mengamati ruangannya ini.
Qania tersentak, kemudian ia langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi begitu datar.
“Mau sampai kapan kau memegang tanganku, tuan Tristan Anggara?” Sindir Qania.
“Oupss, maaf. Yuk duduk,” ucap Tristan melepaskan tangan Qania dan mengajaknya untuk duduk di sofa.
Qania dan Tristan pun duduk bersama dengan jarak yang cukup jauh karena Qania yang memilih menjaga jarak dari Tristan dan itu sedikit membuat Tristan kecewa.
“Jadi, jam berapa kamu mengundangnya untuk datang kesini?” Tanya Qania.
“Karena kamu tadi menyuruhku untuk membatalkan makan malam, maka tadi aku mengundangnya untuk makan siang bersamaku disini,” jawab Tristan.
“Oh ….”
“Hanya oh?”
“Ya itu saja. Oh iya, aku mau keluar dulu,” ucap Qania beranjak dari duduknya.
“Kemana?” tanya Tristan ikutan berdiri.
“Mau cari minum, dari tadi disini nggak disuguhkan makanan atau minuman,” sindir Qania.
“Oh hehehe, maaf. Aku saja yang keluar, kamu mau minum apa?” Ajak Tristan.
“Apa aja deh, kalau ada susu ya susu aja, tapi yang cokelat.”
“Kamu tunggu disini saja, biar aku ambilin sekalian sama camilannya.” Cegat Tristan, kemudian ia keluar dan menutup pintu dari luar, takut kalau Qania melarikan diri dari sana.
Qania pun duduk kembali, ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia memikirkan harus pulang ke kostan atau menginap dimana malam ini. Saat ia sedang melamun, Tristan datang dengan membawa dua gelas minuman dan kentang goreng serta aneka nugget.
“Silahkan tuan putri, jangan sungkan-sungkan,” ucap Tristan setelah menata makanan dan minuman di atas meja.
__ADS_1
Qania tersenyum tipis, ia pun langsung mengambil gelas yang berisi susu cokelat dan langsung meneguknya beberapa kali.
“Terima kasih, kamu tahu saja kalau saya butuh makan dan minum untuk menyusun rencana membantumu. Kamu tahu nggak, logika tanpa logistis itu ….”
“Anarkis,” potong Tristan.
Keduanya pun bertatapan kemudian sama-sama tertawa. Baru kali ini keduanya tertawa bersama dan tidak ada dari mereka yang menyadarinya.
“Kamu tahu juga istilah itu,” ucap Qania setelah menghentikan tawanya.
“Ya tercetus begitu saja dari pikiran gue,” ujar Tristan terkekeh.
“Ouhh … jadi sekarang kita mau bahas rencana besok atau kamu mau istirahat dulu. Kamu itu udah bolak-balik menemuiku disana dan kamu pasti lelah,” ucap Qania merasa kasihan dengan perjuangan Tristan hari ini.
“Apa itu bisa diartikan bentuk perhatianmu untukku?” Tanya Tristan berbesar kepala.
Qania mencebikkan bibirnya, pria ini benar-benar.
“Terserah. Jawablah sekarang,” ketus Qania.
“Aku sih terserah kamu, kalau kamu lelah aku akan istirahat dan biar besok pagi saja kita bahas masalah ini,” ucap Tristan lembut.
Qania memilih diam tak menyahuti, ia ingin melihat seperti apa reaksi Tristan saat mereka dalam suasana hening. Qania tersenyum saat melihat Tristan beberapa kali mengerjapkan matanya dan berusaha menahan mulutnya agar tidak menguap.
Qania tahu Tristan pasti gengsi mengakui kalau ia sudah lelah. Qania saja sudah merasa begitu kasihan kepadanya. Sekesal-kesalnya Qania pada pria ini, ia juga masih memiliki empati.
“Tristan, aku sudah lelah.” Ucap Qania sengaja agar Tristan bisa beristirahat.
Qania tersenyum tipis saat melihat Tristan menghembuskan napas lega.
“Ya udah, yuk pulang,” ajak Tristan.
“Sebentar.”
“Kenapa?”
“Makanan dan minumannya belum habis. Sayangkan mubazir. Aku tuh orang yang paling nggak suka menyia-nyiakan makanan dan minuman, apalagi gratis.” Ucap Qania sembari memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.
Tristan terkekeh, satu hal lagi yang ia ketahui dari gadis incarannya, tidak mejaga image saat makan. Tangan Tristan tergerak mengusap kepala Qania, ia tersenyum senang melihat Qania yang tidak malu-malu memperlihatkan ***** makannya.
“Habiskan saja, aku akan menunggumu,” ucap Tristan sambil membelai rambut Qania.
“Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku itu emang suka makan dan malas meladeni sesuatu kalau sedang berhadapan dengan makanan, jadi tanganmu tolong kondisikan,” ucap Qania sarkas.
Tristan tergelak, kemudian ia menarik kembali tangannya yang sedang membelai rambut Qania.
“Maaf, silahkan lanjutkan acara makanmu,” ucap Tristan merasa bersalah.
“Hmm.”
Setelah menghabiskan makanannya, Qania membawa sendiri piring dan gelas yang sudah kosong itu ke bagian dapur diikuti oleh Tristan. Kemudian mereka keluar menuju ke tempat Tristan memarkirkan motornya.
“Tristan, bisa antar aku mencari hotel atau penginapan. Aku nggak mungkin pulang ke kostan jam segini. Lala bisa kaget nanti kalau tahu aku mendadak pulang,” ucap Qania sambil menatap Tristan yang sedang memakai helmnya.
“Nggak usah, kita balik ke rumahku aja. Tenang aja, aku nggak bakalan macam-macam karena disana ada anggota keluargaku juga,” ucap Tristan meyakinkan Qania.
Qania nampak berpikir, kemudian ia pun menyetujui ajakan Tristan.
“Ya udah ayo, aku udah lelah dan pingin bobo,” ucap Qania yang langsung naik ke motor Tristan padahal si pemilik masih berdiri di samping motornya.
“Meluncur. Jangan lupa pegangan,” ucap Tristan bersemangat kemudian naik ke motornya.
Entah bagaimana bisa, Qania pun langsung melingkarkan tangannya di perut Tristan tanpa ada rasa canggung. Dan tentu saja pria di depannya saat ini sedang bersorak dalam hati. Dengan senyuman sejuta watt Tristan melajukan motornya membelah jalan dengan kecepatan sedang untuk menikmati perjalannya bersama Qania.
‘Harus gue akui kalau gue sangat bersyukur malam ini. Permintaan pertama ini benar-benar mendatangkan kebahagiaan untukku. Semoga saja permintaan selanjutnya lebih dari malam ini. Terima kasih Tuhan.’
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1