
Perdebatan kecil masih berlanjut di depan rumah kost Qania saat Raka meminta untuk naik ke motor sportnya dan Qania maunya naik motor maticnya saja. Bukannya apa, Qania hanya tidak ingin di jalan nanti harus berpegangan pada Raka dan yang jelas tentu saja itu akan mengingatkannya pada pria yang dulu selalu membawanya mengukur jalan dengan motor sportnya, Arkana Wijaya.
“Naik motorku atau kita nggak usah jalan” ancam Qania.
“Iya, iya” ucap Raka mengalah kemudian meraih kunci motor Qania yang sedang pegang oleh pemiliknya. “Tahu aja sih kalau mau dimodusin” gumam Raka sambil berjalan ke arah motor Qania.
“Aku masih dengar ya Raka” ketus Qania.
“Hehehe … ayo naik tuan putri” ajak Raka setelah menghidupkan mesin motor.
Qania mendengus kemudian ia turun naik di bonceng Raka, keduanya pun pergi untuk mengukur jalan.
‘Sebisa mungkin aku harus menghindari kebiasaan bersama Arkanaku, karena dia adalah Raka. Aku nggak mau buat dia merasa kalau aku jadiin dia pelampiasan rinduku',.
‘Boleh nggak sih gue modusin elo Qan, pengen banget gue dipeluk sama lo’,.
Akhirnya keduanya hanya bisa saling membatin sepanjang jalan. Namun karena merasa bingung tanpa tujuan akhirnya Raka membuka suara.
“Qan, kita kemana nih bagusnya?” tanya Raka sambil melirik dari spion motor.
“Raka, ini kan udah waktunya makan siang, aku lapar” sahut Qania.
“Ya sudah kita makan saja dulu. Kamu mau makan apa?”,.
“Ayam bakar” sahut Qania.
“Oke, meluncur”,.
Namun saat mereka hampir sampai ke tempat yang menyediakan ayam bakar, Qania menghentikan Raka. Raka pun menepikan motor dan berbalik menatap Qania.
“Kenapa Qan? Katanya lapar” tanya Raka.
“Nggak jadi deh makan ayam bakar, aku mau makan nasi Padang aja” jawab Qania.
Meskipun bingung Raka hanya menurut saja. Asalkan bisa berdua dengan pujaan hatinya, kemana pun akan ia turuti.
‘Apalagi kalau Qania ngajak gue ke KUA, gue nggak bakalan nolak. Hihihi …',.
Tak sampai sepuluh menit mereka sudah sampai di restoran yang menyediakan nasi Padang. Awalnya Qania ingin makan di warung saja, namun ia sadar yang bersamanya ini Raka Saputra, bukan Arkana Wijaya. Ia tidak ingin mengulang kenangannya bersama Arkana dengan pria lain karena hanya akan membuatnya merasa bersalah pada Raka dan juga kenangannya bersama Arkana tidak ingin ia gantikan.
Makanan yang mereka pesan pun datang, keduanya menyantap dengan tenang tanpa pembicaraan sampai makanan mereka sama-sama tandas.
Sempat terjadi perdebatan kecil lagi hanya karena masalah siapa yang ingin membayar. Qania bersikeras bahwa ia yang akan bayar karena ia yang mengajak. Sementara Raka, pria itu bersikeras untuk membayar karena ia adalah seorang pria.
“Mana boleh pria makan dibayarin cewek” ucap Raka yang membuat Qania memutar bola matanya jengah.
Akhirnya Qania mengalah dan membiarkan Raka yang membayar makanan mereka.
“Mau kemana lagi Qan?” tanya Raka ketika mereka sudah berada di parkiran.
“Nonton yuk” ajak Qania.
“Boleh juga” sahut Raka.
Keduanya pun langsung naik ke atas motor dan Raka membawa Qania ke salah satu mall untuk menonton.
Dan disinilah mereka sedang menonton film horror yang dipilih langsung oleh Qania. Raka pun hanya menurut saja karena ingin menghindari perdebatan padahal ia sangat ingin menonton film action.
Qania begitu serius menonton sementara yang disampingnya juga tengah serius memandangi wajah Qania dari jarak yang cukup dekat.
‘Cantik, sangat cantik' batin Raka mengagumi kecantikan alami ibu satu anak yang masih terlihat seperti gadis dua puluh tahun itu.
Qania bukannya tidak tahu kalau Raka tengah memandanginya, ia hanya membiarkan saja selagi Raka tidak melakukan hal-hal diluar batas. Toh mata juga matanya si Raka, pikir Qania.
__ADS_1
‘Arkana, maafin gue tapi gue nggak bisa ngilangin perasaan cinta gue ke istri Lo. Yang ada tiap gue berusaha menjauh justru rasa rindu padanya makin nyiksa gue. Maafin gue Arkana tapi dari kalian masih bertunangan, menikah bahkan sampai saat ini gue masih terus mencintai istri Lo. Udah enam tahun gue nyimpan perasaan ini dan nyiapin tempat yang rapih buat Qania. Gue harap Lo nggak akan marah dan berilah restu buat kami',.
Saat Raka tengah sibuk membatin, Qania yang terkejut dengan kemunculan hantu yang menyeramkan dari layar lebar itu langsung berbalik dan masuk ke dalam pelukan Raka.
Deg …
Qania mendongakkan kepalanya dan Raka menundukkan kepalanya sehingga keduanya saling bertatapan. Dan entah dorangan setan dari mana sehingga Raka tiba-tiba saja langsung mengecup kening Qania.
Ingin sekali Raka mengecup bibir ranum di hadapannya, namun ia takut Qania justru akan marah dan menjauhinya.
“Ma, maaf Qan” ucap Raka tergagap begitu Qania melepaskan pelukannya.
Qania masih diam, berusaha mengontrol detak jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak tak karuan setelah dahinya dikecup oleh Raka.
‘Aduh gawat, Qania pasti marah nih sama gue. Ah sialan, sepertinya setan dari layar lebar itu keluar dan masuk ke tubuh gue sampai-sampai dia bikin gue nggak sadar nyium si Qania’ gerutu Raka dalam hati.
“I,iya nggak apa-apa kok. Lain kali awas saja kalau sampai nyium aku sembarangan” jawab Qania dengan memberikan ancaman.
“Iya Qan, gue janji. Sekali lagi maafin gue ya” ucap Raka lega.
‘Huh syukur dia nggak marah ke gue',.
Qania pun kembali mengatur posisi duduknya seperti semula dan kembali fokus menonton. Sementara Raka tengah senyam-senyum mengingat kejadian barusan dimana ia tanpa sengaja mengecup kening Qania.
Akhirnya film yang sedang mereka tonton pun selesai, Qania mengajak Raka untuk segera kembali karena teringat akan Lala yang pasti sedang menunggunya.
“Raka, pulang yuk. Lala sendirian di rumah” ucap Qania begitu mereka keluar dari bioskop.
“Nggak mau jalan lagi Qan?” Tanya Raka yang sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu bersama Qania.
“Nggak deh. Lagian aku tuh harus istirahat, besok kan berangkat KKN” jawab Qania.
“Ya ampun” Raka menepuk dahinya, “maaf gue sampai lupa Qan. Ya udah yuk balik aja” lanjut Raka tanpa sadar menarik tangan Qania untuk berjalan keluar.
Qania menatap tangannya yang digenggaman oleh Raka, ada desiran aneh di dada Qania. Ia bahkan tidak memperdulikan Raka yang tengah mengoceh sendiri di depan.
“Qan Lo dengan gue atau enggak sih?” tanya Raka sembari berbalik badan.
“Dengar” sahut Qania.
“Terus kenapa diam dari tadi?”,.
Qania tidak menjawab, ia hanya melirik ke arah tangannya yang masih dipegang oleh Raka. Raka yang penasaran pun mengikuti arah pandang Qania.
“Eh, hehe maaf ya Qan” Raka melepaskan pegangannya dari tangan Qania sambil cengengesan.
Qania tersenyum tipis kemudian melangkah lebih dulu meninggalkan Raka.
Raka menggaruk belakang kepalanya sambil menatap punggung Qania yang terus berjalan menjauhinya.
“Oh ****! Dua kali gue kelepasan hari ini. Astaga Raka, kendaliin diri Lo, jangan sampai Qania marah dan ngejauhin elo. Hah, gue emang selalu lupa daratan kalau udah sama Qania, terlebih lagi statusnya saat ini jomblo”,.
Raka pun berlari mengejar Qania yang sudah berada cukup jauh dari tempatnya berdiri sambil mengagumi wanita pujaan hatinya itu.
“Cepat amat jalannya Qan” keluh Raka saat ia sudah menyamai posisi Qania dengan napas tersengal-sengal.
“Kamunya aja yang lelet” cibir Qania.
Raka hanya mencebikkan bibirnya kemudian bersama-sama dengan Qania menuju ke parkiran.
🌷
🌷
__ADS_1
Raka dan Qania sampai di depan rumah kost Qania bersamaan dengan Lala yang keluar dari dalam kost. Qania dan Raka pun turun dari motor dan langsung menghampiri Lala yang tengah tersenyum di depan pintu.
“Assalamu’alaikum La” salam Qania.
“Wa’alaikum salam, Kak. Dari mana nih?” balas Lala kemudian menyingkir dari pintu dan membiarkan Qania masuk bersama Raka, kemudian ia ikut masuk dan duduk di ruang tamu bersama.
“Dari nonton La. Kamu mau keluar ya?” tanya Qania.
“Iya Kak, ada yang harus Lala cari untuk tugas perbaikan nilai” jawab Lala.
“Ya sudah, hati-hati. Sebelum magrib kalau bisa udah di rumah ya” pinta Qania.
“Tenang Kak, ini kan baru pukul tiga sore. Paling Lala sampai di rumah kalau nggak ada halangan itu sekitar pukul lima” ujar Lala.
“Iya La” sahut Qania.
“Baiklah, kak Qania, kak Raka, Lala pamit dulu ya” pamit Lala seraya berdiri.
“Hati-hati kamu La” ucap Raka.
Lala mengangguk kemudian keluar meninggalkan Qania dan Raka yang sedang duduk. Tak ada perbincangan meskipun Lala sudah pergi, Raka mengira Qania masih marah kepadanya padahal saat ini Qania sedang lelah dan mengantuk saja.
“Qan, gue pamit atau gimana nih?” tanya Raka memecah kebisuan.
“Hmm … sebenarnya aku ngantuk banget nih Ka. Tapi aku nggak ngusir kamu, kalau kamu masih mau disini nggak masalah” jawab Qania sembari menutup mulutnya dengan tangan karena menguap.
“Kamu nggak apa-apa aku tinggal?” tanya Raka memastikan.
“Ya ampun Ka, di lingkunganku ini sangat ramai dan keamanannya terjamin. Nggak usah khawatir” kekeh Qania.
“Semoga saja benar aman. Ya sudah gue pulang dulu ya, ntar malam kita makan bareng bertiga. Nggak pake nolak” tandas Raka.
“Siapa juga yang menolak makanan gratis” sambar Qania membuat Raka terbelalak.
Qania tertawa melihat ekspresi Raka yang terkejut saat ia justru menerima ajakan Raka. Raka yang sadar tengah di tertawakan oleh Qania menjadi kikuk, ia pun langsung menormalkan kembali ekspresinya.
“Gial, anak sultan doyan makanan gratisan” ledek Raka.
“Biarin. Nggak baik tahu kalau menolak rejeki” tutur Qania.
“Iya deh, iya. Ya udah gue balik, ntar jam setengah tujuh gue datang lagi” ucap Raka seraya berdiri diikuti oleh Qania.
Qania mengantarkan Raka sampai ke teras, kemudian ia melambai saat Raka sudah berada di atas motor.
“Hati-hati” pesan Qania.
Raka mengangguk kemudian tersenyum manis, Qania pun membalas melambai dan tersenyum tipis. Setelah Raka tidak terlihat lagi, Qania pun masuk dan menutup pintu rumah kostnya dan bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Qania menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, ia meletakkan ponselnya di sampingnya. Ia menatap langit-langit kamarnya sembari terbayang kejadian dimana Raka mencium dahinya tadi.
“Sayang maafin aku, dia udah nyium aku dan aku yakin kamu pasti marah karena setiap inci di kulit tubuhku adalah milikmu dan kamu nggak suka apa yang menjadi milikmu disentuh oleh orang lain. Tolong maafin aku ya” gumam Qania, kemudian ia menutup matanya, bukan tidur melainkan ia ingin menstabilkan perasaannya.
Akhirnya sore itu Qania habiskan dengan memikirkan kenangannya bersama Arkana, beberapa kali ia tersenyum kala teringat kenangan manis nan romantisnya bersama pria romantis yang menyebalkan itu. Tak lupa pula bulir air mata yang turut membasahi pipinya kala rasa rindu yang tidak bisa ditebus itu datang menghantui hati dan pikirannya.
“Arkana Wijaya, aku merindukanmu. Sangat sangat merindukanmu” lirih Qania.
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗
Berteman yuk:
IG: Vvillya
__ADS_1
FB: Vicka Villya Ramahani
WA: 0823 5054 5747