
Qania melakukan penerbangan malam agar besok pagi ia bisa langsung ke kampus untuk mengurus ujian serta
magangnya. Saat ini ia sedang berada di pesawat, mencoba memejamkan matanya namun ia tak ingin tidur. Kata-kata Papanya kemarin di kantor Papa Setya sampai saat ini masih terngiang-ngiang di telinganya.
Apalagi percakapan kemarin malam yang masih terus terngiang-ngiang di telinga Qania. Tadinya ia masih ingin
berlama-lama di kantor Papa Setya, namun sayang mertuanya itu mendapat panggilan telepon dari klien dan ia harus segera pergi. Jadilah Qania pulang ke rumah bersama Papanya.
Flash back …
Setelah makan siang Qania dan Papa Zafran langsung pulang. Qania tidak ingin sendirian di kantor Papanya padahal kenyataannya sangat banyak karyawan di kantor itu. Ia memutuskan untuk ikut bersama Papanya karena Arqasa sedang berada disana. Tadi Syaquile menjemputnya di sekolah.
Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam. Papa Zafran sesekali melirik Qania dengan ekor matanya. Anaknya itu terlihat gelisah namun tidak menampakkan dengan gerakan tubuhnya. Hanya sesekali terlihat ingin berbicara namun kembali ia urungkan. Papa Zafran hanya membiarkan saja. Jika dia ingin maka ia bisa mendapatkan informasi itu sendiri. Namun ia menjaga privasi Qania. Ia yakin jika memang Qania mau cerita pasti
akan ia ceritakan juga entah sekarang ataupun nanti.
Hingga akhirnya sampai di rumah Qania tak jadi mengutarakan rasa penasarannya itu karena sudah disambut oleh
Arqasa. Ia pun bermain dengan anaknya hingga Arqasa mengantuk dan tidur siang.
Qania menjadi gelisah sendiri, ia tidak tenang jika tidak mengetahui apa yang diketahui tentang Tristan oleh Papanya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari sang Papa. Namun sayang ternyata Papanya sudah kembali lagi ke kantornya, kantor Bupati. Akhirnya Qania hanya bisa menunggu. Saking gelisahnya ia bahkan mengabaikan Tristan lagi.
Malam harinya setelah makan malam dan menidurkan Arqasa, Qania dipanggil oleh papanya ke ruangan kerjanya. Qania berpikir ini adalah waktu yang tepat dan juga sepertinya Papanya ingin membahas hal yang sama dengannya.
Setelah mengetuk pintu dan mendengar seruan untuk menyuruhnya masuk, Qania pun membuka pintu dan mendapati Papanya sedang duduk di balik meja kerjanya sambil memandangi laptop. Qania duduk di sofa dan Papanya segera menyusulnya.
“Ada apa Papa memanggil Qania Pa?” tanya Qania berusaha bersikap tenang padahal ia sudah sangat degdegan.
“Kau tahu Papa bukan orang yang suka berbasa-basi. Papa hanya ingin mengingatkanmu jika kau tidak sendirian.
Kau memiliki keluarga yang bisa kau jadikan tempat berbagi kisahmu jika kau mau. Papa tidak akan melarang dan juga tidak akan berusaha mencari tahu tanpa seizinmu. Papa hanya akan menunggu kapan kau mengenalkan pria itu kepada kami. Siapapun dia, pasti dia orang yang hebat karena sudah berhasil menaklukkan hati anak Papa. Ingat Qania, bermain yang cantiklah terhadap Papa, kau mengenal bagaimana karakter Papa, bukan? Jangan sampai Papa mengetahui anak Papa ini menangis lagi karena seorang pria, maka Papa sendiri yang akan turun untuk mencari kebenarannya. Bermain petak umpetlah dulu, jika sudah lelah bersembunyi maka datanglah, oke. Papa sibuk, kamu juga harus istirahat karena besok malam harus berangkat lagi. Selamat malam.”
Qania sangat paham dengan ucapan papanya itu. Ini artinya Papanya belumlah melihat Tristan atau sudah lihat
namun masih memilih bungkam. Kali ini Qania tidak memiliki hak untuk berbicara. Papanya sudah mengatakan selamat malam maka itu tandanya tak ada lagi percakapan.
Qania juga merasa lega karena Papanya menghormati privasinya. Akhirnya ia hanya bisa mengangguk dan
mengucapkan selamat malam sebelum meninggalkan ruangan tersebut. Ia kembali ke kamarnya dan langsung berbaring sambil memeluk Arqasa.
Hah, Papa sudah memberikan peringatan seperti itu. itu artinya untukmu Tristan, jangan sampai kau membuatku kecewa jika kau tidak ingin super heroku ini menghajarmu, gumam Qania dalam hati.
Perlahan-lahan ia pun tertidur. Ia mengabaikan panggilan Tristan lagi. Tristan pun maklum karena perbedaan
waktu yang saat ini ia masih sore sementara di tempat Qania sudah malam.
Flash back off …
. . .
Lala menyambut kedatangan Qania dengan menjemputnya langsung di bandara. Qania begitu senang karena calon adik iparnya ini begitu perhatian padahal ini hampir pukul dua belas malam. Mereka pun segera kembali ke kostan dengan Lala yang menyetir motornya. Sesampainya di kontrakan Qania langsung tidur sebab ia sudah sangat mengantuk.
Pagi harinya Qania bersama Lala pergi ke kampus. Jika Qania mengurus ujian proposalnya maka Lala mengurus
magangnya. Qania tidak perlu lagi mengurus masalah magang karena itu semua sudah diatur oleh Pak Erlangga. Yang harus ia pikirkan sekarang adalah ujiannya yang akan dilaksanakan dua hari lagi.
Sekembalinya dari kampus Qania pun langsung menyibukkan dirinya dengan menyusul proposalnya. Ia tak ada waktu untuk sekadar bermain atau jalan-jalan bersama Lala karena dua hari menurutnya begitu singkat. Beda halnya dengan waktu ia kuliah mengambil jurusan Teknik Sipil dulu, ia sudah dari jauh-jauh hari menyiapkan proposalnya. Sementara yang kali ini ia tidak memiliki persiapan karena sibuk dengan pernikahan Elin.
Di tempat berbeda dengan waktu yang berbeda seorang pria yang tidak lain adalah Tristan tidak begitu
bersemangat mengikuti langkah kaki Marsya. Sudah beberapa hari ini Qania tidak pernah menjawab panggilannya,
membalas chatnya ataupun mengiriminya kabar. Mengikuti kemanapun Marsya pergi adalah salah satu cara Tristan untuk membunuh waktu agar segera kembali dan mencari wanita yang sudah membuatnya galau seperti ini.
Setelah menemani Marsya, Tristan kembali ke hotel bersama Marsya. Dengan alasan kelelahan Tristan tak mengiyakan ajakan Marsya untuk datang ke kamarnya. Padahal Tristan sudah sangat tak sabar ingin
__ADS_1
menghubungi Qania. Namun lagi-lagi ia kembali kecewa karena panggilannya diabaikan lagi oleh Qania.
“Padahal disana masih pukul tujuh malam, kenapa dia tidak menjawab panggilanku sih? Apa dia berniat
mempermainkanku? Kalau iya, kau berhasil Qania. Kau berhasil membuatku tidak tenang dan ingin segera kembali,” gumam Tristan sambil menatap langit-langit kamar tersebut.
Wajahnya terlihat sendu karena rasa rindu yang tidak bisa ia tebus ini. Kemana entah wanita yang sudah
membuatnya tersiksa rindu ini. Ditelepon hanya operator yang menjawab. Dikirimi chat pun hanya centang satu. Berbagai pikiran buruk menghantuinya.
“Apakah terjadi sesuatu pada Qania? Apakah ponselnya hilang? Apakah dia baik-baik saja? Arggghhh sial! Harusnya gue ada disamping Qania saat ini. Bodoh! Sekarang gue malah terjebak di tempat ini dalam waktu yang masih lama.” Tristan mengerang frustasi. Hampir saja ia membanting ponselnya ke lantai kalau tidak ingat kalau ponselnya itu adalah salah satu alat penghubungnya dengan Qania. Mungkin saja tiba-tiba Qania menghubunginya, pikir Tristan.
Di tempat Qania, ia sebenarnya tidak ingin membuat Tristan khawatir padanya. Namun karena mepetnya waktu ujian dan teringat ucapan Papanya maka Qania membatasi dulu komunikasinya dengan Tristan dan lebih fokus pada ujiannya nanti.
“Maaf Tristan. Aku pasti akan menghubungimu,” gumam Qania sambil memandangi ponselnya.
Qania pun kembali mengetik proposalnya di laptop hingga Lala mengajaknya untuk makan malam. Sekembalinya dari makan malam, Qania langsung duduk manis di depan laptopnya lagi. Besok ia harus mengasistensi proposalnya karena lusa ia akan ujian. Waktu yang sangat sempit menurut Qania.
“Semangat Qania. Demi cepat menyelesaikan kuliah dan bisa balik ke kampung halaman,” ucap Qania
menyemangati dirinya sendiri. Ia pun mulai bergelut lagi dengan laptopnya dan sesekali ia menguap. Ia baru menyelesaikannya tepat pukul satu malam dan ia langsung mencetaknya agar besok ia tinggal datang ke kampus.
“Akhirnya selesai. Sekarang waktunya bobo cantik,” ucap Qania kemudian langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tidak butuh waktu lama ia sudah memasuki alam mimpi.
Paginya Qania sudah bersiap menuju ke kampus. Ia memilih datang pagi karena jika ada yang harus ia perbaiki
maka ia bisa memanfaatkan waktu siang dan sore untuk memperbaikinya. Pak Erlangga biasanya sudah berada di kampus pukul sembilan pagi.
“Jadi itu tadi ya Qania, yang saya lingkari dan ada beberapa yang saya tambah dan kurangkan itu saja koreksi dari saya. Mengenai tanda baca tidak ada yang keliru. Tidak samapi sejam kok untuk memperbaikinya,” ucap Pak Erlangga kemudian menutup pulpennya.
“Baik Pak. Sebenarnya memang saya ragu dengan paragraf itu Pak,” jawab jujur Qania.
“Iya, hilangkan saja. Sudah siap ujian besok kan?” tanya Pak Erlangga.
“Siap Pak,” jawab Qania semangat.
“Sembilan Pak.”
“Oke. Segeralah perbaiki dan kau bisa bersantai menunggu hari esok,” ucap Pak Erlangga kemudian melipat tangannya di atas meja.
“Baik Pak. Kalau begitu saya permisi,” ucap Qania seraya berdiri kemudian ia keluar dari ruangan Pak Erlangga dengan perasaan lega.
Ia pun kembali ke kostannya, namun sebelum itu ia mampir dulu untuk makan siang di warung dekat kostannya. Lala sedang di kampus, sehingga Qania hanya makan sendirian. Tadinya ingin makan di kantin namun ia urungkan karena terlihat begitu ramai dengan mahasiswa baru.
Qania sudah menyelesaikan perbaikan dan sudah menyetak kembali proposalnya. Saat ini ia akan keluar lagi untuk membeli beberapa keperluan ujian, seperti baju kemeja dan juga roknya. Bukannya tidak punya kemeja dan rok, ia hanya ingin sesuatu yang baru saat ia ujian. Uangnya berlimpah namun jarang ia gunakan, pikirnya.
. . .
Jika malam ini Qania tengah tertidur lelap, maka lain halnya dengan pria yang sedang merindukannya. Ia bahkan hampir khilaf ketika Marsya mengajaknya masuk ke kamar saking rindunya pada Qania. Ia baru saja kembali menemani Marsya untuk pekerjaannya. Siapa sangka di perjalanan yang ia habiskan untuk memikirkan Qania malah membuatnya mengiyakan ajakan Marsya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Makan malam bersama, lalu Marsya mengajak Tristan untuk mengobrol. Merasa membutuhkan teman untuk sekadar mengisi kekosongan harinya, Tristan pun menurut. Ia hanya memperhatikan Marsya namun tiba-tiba saja wajah itu berubah menjadi wajah Qania yang sedang berbicara sambil bersungut-sungut padanya. Mendadak Tristan tersenyum. Ia mengucak matanya namun tetap saja sama itu adalah Qania. Hingga ia tak bisa menahan diri untuk tidak memeluk wanita yang ia cintai itu.
“Tris, kau kenapa?” tanya Marsya heran bercampur senang, ia pun turut memeluk Tristan.
“Biarkan seperti ini sejenak. Aku sangat ingin memelukmu,” jawab Tristan.
Mendengar ucapan tersebut tentu saja semakin membuat Marsya senang. Sudah lama ia menantikan saat-saat ini
lagi. Jika Tristan pun menginginkannya malam ini, ia sudah sangat siap.
“Peluklah jika kau ingin memelukku. Aku pun tak keberatan jika kau ingin menyentuhku. Aku milikmu Tris,” ucap
Marsya dengan suara lirih.
Tentu saja Tristan semakin mengeratkan pelukannya dan sesekali menciumi puncak kepala Marsya. Marsya semakin melambung tinggi. Tristan melepaskan pelukannya dan mulai menempelkan keningnya di kening Marsya. Ia perlahan mendekati bibir yang sudah sedari tadi menunggu untuk disentuhnya itu. Marsya memejamkan matanya. Sementara Tristan yang sudah menarik dahinya dari dahi Marsya pun tersentak karena melihat bukan wajah Qania melainkan Marsya.
__ADS_1
Tristan mengucak kedua matanya namun tetap sama itu adalah Marsya. Ia mengumpat ketika tersadar ia memang sedang berada di kamar Marsya. Sementara Marsya yang merasa begitu lama Tristan menciuminya pun membuka matanya.
“Tris, kenapa kau tidak jadi menciumku?” tanya Marsya menahan malu.
“Aku akan kembali ke kamarku,” ucap Tristan berdiri namun tangannya segera ditarik oleh Marsya.
“Jangan Tris, tinggallah disini. Malam ini aku milikmu Tris. Mari kita menghabiskan malam ini dengan penuh cinta. Aku mengikhlaskannya untuk kau sentuh,” ucap Marsya dengan harapan Tristan akan langsung mengiyakannya.
Namun hal berbeda justru terjadi, Tristan malah dengan kasar menghempaskan tangan Marsya.
“Jangan jadi wanita murahan Sya. Aku tahu kau tidak semurahan itu. Ingat batasan, kita bukanlah dua orang yang
terikat dengan pernikahan. Jangan permalukan dirimu,” ucap marah Tristan kemudian ia meninggalkan Marsya yang tengah menangis, Tristan membanting pintu dengan keras.
. . .
Pagi ini Qania sudah bersiap ujian dengan sangat semangat. Tak ada masalah yang membuatnya merasa gugup saat ujian karena ini barulah ujian proposal saja menurutnya. Ia pun segera melajukan motornya ke kampus setelah mendapat sarapan dan ucapan semangat serta doa dari Lala.
Dan benar saja, ujiannya hari ini berjalan lancar tanpa hambatan. Beban satu telah tersingkirkan dan saatnya untuk menghubungi pria yang dipikir Qania tengah galau memikirkannya. Sebelum kembali ke rumah, Qania melakukan panggilan video gabungan dengan keluarganya beserta Papa Setya dengan memberitahukan kalau ia sudah menyelesaikan ujian proposalnya.
Sesampainya di rumah, Qania langsung makan karena menurutnya setelah ujian perutnya terasa begitu kosong. Setelah kenyang ia kembali ke kamar dan memikirkan cara apa untuk meminta maaf kepada Tristan karena sudah mengabaikannya. Akhirnya ia menemukan ide romantis itu, ia mencuri ide Arkana ketika dulu menghiburnya saat mereka terpisah jarak ketika ia KKN.
“Sudah terkirim. Sebentar lagi, pasti Tristan akan bangun tidur dan mendapati video itu,” ucap Qania kemudian ia memutuskan untuk tidur siang.
Beda halnya di tempat Tristan yang baru saja menyambut pagi. Ia terbangun setelah tadi tidur lagi sehabis
melaksanakan ibadah subuh. Dengan wajah kusut ia mengambil ponselnya. Matanya yang tadi begitu berat untuk bangun pun langsung terbuka lebar begitu menerima sebuah pesan permintaan maaf dan juga satu buah pesan video dari Qania.
Maaf mengabaikanmu, tidak bermaksud karena aku sedang sibuk mengurus ujian. Sekarang ujiannya sudah selesai dan semua waktuku untukmu. Dan sebagai permintaan maaf, aku nyanyiin deh kamu lagu. Dengerin baik-baik ya ….
Lima hari sudah kurindu, tak bisa ku menghubungimu
Kau sedang dengan dirinya, sedang kita rahasia
Kapankah kau ada waktu, sembunyi untuk bertemu
Baru kau sapa, kutersipu Kau puji, lupa amarahku
Karena kau paling tahu, cara lemahkan hatiku
Walau tak ada yang pasti, yang kau beri hanya mimpi
Lantas mengapa ku masih menaruh hati
Padahal kutahu kau t'lah terikat janji
Keliru ataukah bukan, tak tahu
Lupakanmu tapi aku tak mau
Pantaskah aku menyimpan rasa cemburu
Padahal bukan aku yang memilikimu
Sanggup sampai kapankah, ku tak tahu
Akankah akal sehat menyadarkanku
“Hai sayang, setelah membuka video ini jangan menelepon karena aku sednag tidur siang, oke.”
Setelah menonton video itu Tristan langsung senyam-senyum sendiri. Pikiran buruknya pun langsung hilang dengan permintaan maaf Qania yang begitu manis ini menurutnya. Ia terkekeh mendengar ucapan Qania di akhir lagu itu.
“Qania, kau menemukan lagu ini dimana sih? Kenapa sangat sesuai dengan keadaan kita, hem? Sangat manis,
tahukah kau. Aku jadi sangat terharu,” gumam Tristan sambil terus mengulang video Qania bernyanyi sambil bermain gitar kecilnya. Tristan pun mengirimkan pesan kepada Qania.
__ADS_1
Baiklah, tidur siang dulu sayang. Hubungi aku jika sudah bangun, aku sangat
merindukanmu.