Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
SC_248 : Terlupakan


__ADS_3

Sekitar pukul sebelas siang mereka baru kembali ke rumah yang akan mereka tempati selama dua bulan di desa X. Tepatnya rumah tersebut merupakan rumah milik kerabat pak Ikra, pak Kades. Rumah itu sudah ditinggal hampir setahun karena kerabatnya mendapat pekerjaan di daerah lain sehingga rumah itu kosong. Sahar yang setiap hari membersihkan rumah tersebut dan juga menempatinya agar tidak dibiarkan kosong. Namun dengan kedatangan mahasiswa KKN ia kembali ke rumah orang tuanya yang berada di sebelah rumah tersebut.


Di perjalanan pulang tadi mereka menyempatkan diri untuk membeli bahan makanan dan saat ini Qania dan beberapa temannya yang perempuan sedang sibuk memasak di dapur. Sementara para pria sedang bersantai dengan ponsel mereka masing-masing.


Mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan rumah yang mereka tempati, membuat Zakih yang sedang berbincang dengan pak Ikra di teras langsung menoleh kepada pria yang baru saja menutup pintu mobil dan berjalan ke arah mereka sambil membuka kacamatanya.


“Selamat siang,” sapa Tristan.


“Selamat siang,” balas pak Ikra dan Zakih bersamaan.


“Maaf mengganggu waktu kalian, perkenalkan saya Tristan. Saya datang kemari ingin menemui Qania, bisa?” Tanya Tristan dengan nada bicara dibuat setenang mungkin.


“Qania?” Beo Zakih.


Tristan hanya tersenyum mengangguk, sementara Zakih nampak sedang memikirkan sesuatu.


“Bukankah kamu yang berbincang dengan Qania kemarin di jalan?” Tanya Zakih setelah mendapatkan ingatannya.


“Iya, kamu rupanya masih mengingat saya,” jawab Tristan.


“Oh iya, mari silahkan masuk. Qania sedang memasak, tunggu saya panggilkan.”


“Silahkan masuk, saya harus kembali ke rumah saya,” pamit pak Ikra.


“Iya Pak, terima kasih. Saya di luar saja,” ucap Tristan.


Zakih berjalan masuk menemui Qania yang tengah membolak-balikkan spatulanya di dalam wajan penggorengan. Ia bahkan masih sempat untuk menghirup aroma masakan Qania yang membuat cacing dalam perutnya langsung berdemo. Tanpa sadar Zakih melangkah langsung ke lemari piring, ia langsung saja mengambil satu piring dan berjalan mendekati Qania.


“Qan, bagi dong. Gue udah lapar banget nih,” pinta Zakih.


Qania terkekeh melihat raut wajah memelas Zakih, namun baru saja ia akan memberikan ayam goreng itu kepada Zakih, Lina datang untuk mencegahnya.


“Gimana sih ketua, masa lo makan duluan. Nggak benar nih,” protes Lina.


Zakih menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, ia menjadi malu sendiri karena berniat makan duluan.


“Maaf, salahin tuh bau masakan Qania yang menggoda gue buat makan duluan. Bahkan sampai membuat cacing dalam perut gue berdemo,” bela Zakih.


“Dasar, selalu saja ada bahasa pembenarannya,” cibir Lina.


“Kalau gue nggak gitu, nggak mungkin lah gue masuk di fakultas Hukum dan bercita-cita menjadi pengacara hebat. Gimana sih, lo,” sungut Zakih.


“Iya juga ya,” gumam Lina.

__ADS_1


Qania kembali tergelak melihat perdebatan Zakih dan Lina yang sebenarnya adalah pasangan kekasih namun jarang terlihat mesra. Mungkin keduanya menyikapi hubungan mereka dengan dewasa sehingga tidak begitu menampakkan keromantisan mereka dengan bermesra-mesraan di depan umum. Bahkan keduanya justru nampak seperti dua orang yang berteman biasa saja.


“Ya, ya, ya, sekarang kita bisa menyaksikan live pertengkarang rumah tangga antara bapak Zakih dan ibu Lina,” celetuk Mae yang tiba-tiba datang menimbrungi.


“Biang onar datang, bubar-bubar,” ledek Zakih membuat Mae mengerucutkan bibirnya.


Lina dan Qania tertawa melihat wajah Mae yang sudah ditekuk itu. Sedangkan teman mereka yang lainnya hanya tersenyum saja. Bukan hal biasa jika Mae selalu mencampuri urusan orang namun justru dengan kehadiran Mae, masalah besar atau perdebatan sengit malah berubah menjadi komedi jika ia sudah mulai berbicara. Dan bahkan tak jarang justru ia menjadi sasaran orang-orang yang ia usili.


“Sudah sana, nanti kalau udah waktunya makan juga kita bakalan manggil kalian kok,” ucap Lina.


“Ya sudah, gue ke depan dulu. Masih lama nggak sih?” Tanya Zakih tidak sabaran.


“Kurang dari lima menit,” sahut Qania.


Zakih pun pergi meninggalkan dapur untuk bergabung bersama teman-temannya yang sedang asyik bermain game.


Seperti yang sudah Qania katakana bahwa makanan akan siap kurang dari lima menit, sekarang para mahasiswi sedang mengatur makanan di ruang tengah. Mereka memilih untuk duduk lesehan agar keakraban mereka makin terjalin.


Para mahasiswa terus saja menelan ludah karena tak sabar ingin makan, mereka turun membantu agar proses penyajian jadi lebih cepat.


Sementara di luar, Tristan sudah gelisah karena Zakih yang masuk untuk memanggil Qania pun tidak kunjung datang. Bahkan ia hanya mendengar dari luar suara gelak tawa dan perbincangan tak jelas yang membuatnya semakin resah karena sudah cukup lama menunggu.


“Harusnya tadi waktu di suruh masuk ya gue masuk saja,” gerutu Tristan.


Ia pun mondar-mandir untuk mengusir kegelisahannya. Sesekali ia melirik jam tangannya untuk melihat sudah berapa lama ia menunggu. Bahkan lima menit berlalu pun ia merasa bagaikan sudah berjam-jam menunggu.


Di dalam rumah, Zakih bersiap-siap untuk memimpin doa sebelum makan. Mereka semua sudah duduk dengan piring masing-masing yang sudah terisi makanan.


“Berdoa selesai,” ucap Zakih.


Baru saja mereka akan makan, bunyi ketukan pintu yang terbuka membuat mereka melirik ke arahnya.


“Siapa yang bertamu?” Tanya Mae yang masih menggantungkan tangannya yang berisi makanan di depan mulutnya.


“Oh ****! Gue lupa di depan ada yang nyariin elo Qan, haduh,” pekik Zakih.


“Gimana sih Zak, harusnya ingat dong,” gerutu Lina.


“Maaf,” cicit Zakih.


“Ya sudah, tamunya disuruh masuk saja. Sekalian makan siang bareng,” ucap Lina.


Zakih pun mengangguk dan langsung berdiri untuk menemui Tristan.

__ADS_1


“Maaf, mari masuk,” ucap Zakih tak enak hati.


Ingin rasanya Tristan mengajak orang di depannya ini untuk berkelahi karena sudah membuatnya menunggu bahkan ia terlupakan. Tristan pun mengikuti langkah Zakih dari belakang dan ikut duduk lesehan bersama para mahasiswa.


Tristan mencuri pandang pada Qania yang tengah menyantap makanannya sambil menunduk. Senyum tipis terbit di bibirnya mana kala ia melihat Qania yang terkejut saat melihat kedatangannya.


“Uhukk … uhukk ….”


Mae dengan cepat memberikan Qania minuman saat melihatnya terus terbatuk. Dengan cepat Qania menerima gelas tersebut dan meneguk airnya hingga tandas.


‘Gila! Kenapa pria angkuh itu ada disini? Sejak kapan? Apa dia orang yang mencariku? Jujur saja aku kaget melihatnya bukan karena dia adalah Tristan, melainkan aku tadi mengiranya adalah Arkana. Huh … untung saja kesadaranku bekerja saat ini. Kalau tidak aku akan langsung berlari dan menghambur untuk memeluknya. Sayang … dia adalah Tristan Anggara, bukan Arkana Wijaya.’


“Hai,” sapa Tristan pada Qania.


Bukannya menjawab, Qania malah memelototkan matanya karena terkejut lagi.


“Sebaiknya lo makan dulu, baru ngobrol sama Qania,” ucap Yusuf sambil menyodorkan piring kepada Tristan.


“Terima kasih,” ucap Tristan.


Ia pun dengan bersemangat menuangkan makanan ke dalam piringnya karena teringat kata Zakih tadi kalau Qania sedang memasak dan tentu saja ini pasti masakannya. Ia jadi tidak sabar ingin segera mencicipinya.


‘Enak, masakan Qania enak. Nggak sia-sia gue nggak makan siang di jalan. Fix, lo calon istri idaman gue, Qania.’


Qania sesekali mencuri pandang kepada Tristan yang sedang menikmati makanan sambil senyam-senyum sendiri.


‘Dia itu kenapa? Senyam-senyum nggak  jelas. Udah gila kali, ya? Atau nggak pernah menikmati masakan seperti ini? Tapi masakan aku ini biasa aja. Ahh … dia memang aneh.’


Tristan bukannya tidak tahu kalau Qania diam-diam memandanginya, bahkan ia juga tidak tahu seperti apa sekarang wajahnya yang terlihat sangat aneh. Dia begitu percaya diri saat Qania tak hentinya mencuri pandang padanya. Padahal yang sebenarnya adalah Qania merasa heran dengan ekspresi wajahnya yang sesekali tersenyum, seperti orang terkejut dan juga menggelengkan kepala.


Ia terus saja menyantap makanannya tanpa mempedulikan orang-orang disekitarnya menjadi terbengang sebab ia terus saja menambah makanan bahkan sudah tiga kali menambah nasi.


Zakih menatap Lina seakan mencoba memberitahukan bahwa ia begitu kaget melihat ***** makan pria disebelahnya. Begitu pun dengan yang lainnya, mereka hanya berbicara dengan gerakan bibir tanpa mengeluarkan suara.


Sementara Qania, ia mencoba menahan tawanya dengan terus mengunyah makanannya. Ia hampir tersedak karena terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya hanya untuk mencegah tawanya keluar. Sedangkan tersangka bahkan tidak sadar kalau sikapnya menjadi pusat perhatian.


Apa kabar jika ia sampai sadar bahwa sekarang ia tengah mempermalukan dirinya sendiri dengan tampang bodohnya itu?


‘Gue tahu kalau gue ini tampan. Oh ayolah Qania, kau bebas memandangi wajahku ini. Gratis untukmu, karena kau adalah calon pemiliknya.’


‘Aneh,’ batin Qania.


 

__ADS_1


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


__ADS_2