Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Bukan Rayuan Gombal


__ADS_3

Duhai kekasih pujaan yang selalu di hati, aku menunggumu


Engkau gadis yang selalu hadir dalam mimpiku, di setiap tidurku


Dengarkan lah, aku cinta


Ingin aku, selalu bersama dirimu, menemanimu di setiap waktu


Dengarlah sayangku tiada yang lain saat ini


Engkau lah yang ada di hati, kau lah yang ada di hati


Duhai kekasihku hanya lah dirimu yang kumau


Tiada yang lain di hati, selamanya hanya dirimu


*Dengarlah puisi yang akan aku berikan, ungkapan hatiku


Tiada yang lain yang bisa ku berikan, Oohh


Hanyalah cintaku*


 


Qania tersenyum senang sambil mendengarkan Arkana bernyanyi sambil bermain gitar di teras rumah pak kadus siang ini. Ia yang sudah bucin akut semakin bucin saja dibuat tunangannya itu. Sementara Elin yang juga ada disana hanya berhalu tapi membayangkan jika seandainya Prayoga lah yang bernyanyi untuknya.


‘Huaaa, apa-apaan otak gue mikirin si geser Yoga. Atau gue yang udah geser karena membayangkan dia. Nggak, ini nggak boleh jadi’ histeris Elin dalam hati.


Qania sekilas melihat ekspresi Elin namun ia tidak ingin membahasnya. Nanti saja, pikirnya. Saat ini adalah waktu untuknya dan Arkana.


“So romantis” puji Baron yang baru datang dari dalam karena baru saja mandi, wajahnya terlihat segar dan aroma sabunnya tercium.


“Eh Baron, mau nyanyi?” tawar Arkana.


“Nggak, elo aja. Hibur tuh saudara gue yang sebulan galau akut” tolak Baron kemudian ikut duduk di lantai.


“Ih apaan sih Baron kalau ngomong suka bener aja” kekeh Qania.


“Ka, biar gue yang nyanyi buat my bebep Felin” sambar Prayoga yang baru datang dari dalam dan sudah mandi juga.


“Ya ampuuuuuun, si otak geser jangan mulai deh” Elin memutar bola matanya jengah.


“Udah Lin, lo nurut aja. Siapa tahu Yoga bisa buat lo move on dan mencuri hati lo” ucap Arkana membuat Elin dan Qania terbelalak.


“Ya kali Ka, lo nyuruh gue move on” lirih Elin, ‘Kenapa Arkana nyuruh gue move on? Dia kan tahu gue pacaran sama Fadly? Apa si Arkana juga ikutan geser otaknya’ batin Elin.

__ADS_1


“Oh gue kira lo udah nggak sama si itu tuh” celetuk Arkana namun memandang penuh maksud pada Elin.


“Udah, biar gue aja. Siap dengerin dan meleleh yang bebep Felin” Prayoga mengambil gitar dari Arkana dan mulai memainkannya.


Prayoga menyanyikan lagu Tinggalkan Saja dari Kotak Band dan itu membuat Elin luluh tentu saja dan merasa mulai menyukai Prayoga. Tapi ketika kesadarannya kembali, ia mengelak dengan rasa yang mulai tumbuh di hatinya itu.


Witno mengepalkan kedua tangannya di dalam kamar mendengar tawa riang dari teras, ia semakin sakit hati karena kehadiran Arkana yang katanya malam ini akan menginap. Saat ini hanya tinggal ia dan Raka yang berada di dalam kamar itu, sementara Raka tidak ambil pusing dengan Witno karena ia tidak begitu tahu kalau sebenarnya Witno memendam rasa pada Qania.


*


*


Banyu yang baru saja keluar dari kamar meninggalkan Witno dan Raka tidak sengaja berpapasan dengan Manda yang juga baru keluar dari kamar. Keduanya saling beradu pandang, namun karena Manda masih merasa malu pada Banyu akhirnya ia memutus kontak mata itu lebih dulu sedangkan Banyu malah menjadi bingung.


“Katanya cinta ke gue, kok dia malah cuekin gue? Apa karena tadi siang gue gagalin rencananya buat nyatain perasaan?” gumam Banyu.


“Ya udah nyatain aja” ceplos Raka yang baru keluar dari kamar.


“Eh Raka, lo dengar ucapan gue tadi?” Tanya Banyu gugup.


“Udah nggak usah gugup gitu, gue dukung kok” Raka merangkul Banyu dan mengajaknya keluar.


Di teras mereka kini tengah duduk melingkar di atas lantai dengan Abdi yang kini memegang gitar. Jangan tanyakan Qania dan Akana, keduanya sedari tadi menempel bak perangko dengan jari-jari mereka yang saling bertautan.


Prayoga yang duduk di sebelah Elin pun tidak ingin kalah, beberapa kali ia mengeluarkan gombalan recehnya dan sialnya diam-diam Elin menyukainya namun yang keluar dari mulutnya berupa umpatan.


Manda yang baru sampai di pintu tersenyum tulus melihat Qania yang tengah bersandar di bahu Arkana, ia merasa lega karena tidak menjadi gadis jahat yang berniat memisahkan pasangan serasi itu. ia pun turut bergabung dan duduk di sebelah Ikhlas yang berhadapan dengan Qania.


Raka menatap nanar ke arah Qania yang bergelayut manja pada Arkana, entah mengapa dadanya terasa sesak dan hatinya seperti di tusuk ribuan pisau.


‘Katanya Cuma iseng, kok sakit ya?’ Tanya Raka pada dirinya sendiri.


Raka mengehmbuskan napas panjang, mengatur kembali keadaan hatinya dan langsung melangkah mengajak Banyu ikut bergabung dan duduk di sebelah Manda, tentu saja Banyu yang berada di sebelah Manda dan Raka di sebelah Arkana.


“Di, boleh gue pinjam gitar?” Tanya Banyu membuat semua mata mengarah padanya.


“Lo bisa nyanyi, gaya batu?” Tanya Elin masih dengan ekspresi kagetnya, membuat Qania menyikut lengan Elin yang mulutnya begitu transparan mengatakan orang gaya batu.


“Sedikit, satu lagu nggak habis aja” jawab Banyu malu-malu.


“Oke guys, kita dengarkan Banyu si gaya batu bernyanyi” ucap Abdi membuat Qania melongo karena ia juga mengatakan Banyu si gaya batu.


“Lagu ini sebenarnya buat seseorang, gue nggak tahu tapi semoga dia suka” ucap Banyu malu-malu.


“Cieeeeee”,.

__ADS_1


“Mau nembak kah?” histeris Elin.


Sementara Manda sudah berkeringat dingin, ia berharap bahkan sangat berharap bahwa Banyu akan bernyanyi untuknya.


Banyu mulai memainkan gitarnya dan menyanyikan lagu milik ungu yang berjudul Percaya padaku, membuat Manda tak henti-hentinya berpikir apakah lagu ini untuknya atau tidak.


Arkana yang melirik Raka dengan ekor matanya, merasa seolah ada yang lain dengan pria ini, ia tadi ingin menanyakan pada Qania soal ia yang melihat pria di sampingnya menarik tangan Qania dan tak sengaja mencium rambut kekasihnya itu tadi. Namun ia merasa tidak untuk dibahas di sini karena banyak orang, bagaimana pun Arkana tetap yakin bahwa Qania setia padanya.


‘Ada sesuatu yang lain dari teman Qania ini, tapi gue nggak tahu itu apa? Rasanya dia rival yang sebenarnya karena tekanan yang gue rasakan di dekatnya beda dengan Ghaisan atau pun Fandy sialan itu. Gue ngerasa dia bakalan ambil Qania dari gue, tapi dari gelagatnya itu nggak nampakain hal tersebut apalagi dari Qania gue. Semoga Cuma perasaan gue doang’ batin Arkana.


‘Gue udah nggak benar menyimpan rasa pada Qania. Raka raka, lo nggak lihat tuh si Qania nempel banget sama pacarnya dan elo mau coba-coba merebut Qania darinya. Hahh, nasib-nasib sekalinya suka eh masa mau jadi pembinor’ batin Raka frustasi.


‘Lo lihat sendiri kan Raka, mereka itu sangat serasi dan kasihan elo nya. Gue jadi nggak tega’ batin Ikhlas, ia terus mengamati mimik muka Raka yang terlihat galau.


Banyu memberikan gitar kembali kepada Abdi setelah menyanyikan lagu tersebut sampai habis ternyata dan penuh dengan penghayatan membuat mereka bertepuk tangan memuji Banyu.


“Jadi seperti yang gue bilang tadi, lagu itu buat seseorang yang gue sukain tapi gue nggak tahu gimana perasaannya sama gue. Gue juga nggak tahu sejak kapan dan bagaimana gue mulai suka sama dia dan kalian tahu ini pertama kalinya gue ngerasain sesuatu yang beda jika melihat seorang wanita” jeda Banyu.


“Gue Cuma mau bilang, akh sialnya gue saat ini terlalu gugup dan terlalu jujur. Tapi gue nggak mau nyia-nyiain momen yang mungkin hanya datang sekali ini saja. Dan di hadapan kalian semua, gue Banyu Gavari mengaku suka dan sedang jatuh cinta pada Manda Khairunnisa, dan Manda mau kah kau menerima perasaanku ini?” ucap Banyu sungguh-sungguh sambil menatap lekat kedua netra Manda yang saat ini tengah berkaca-kaca.


“So sweet” teriak Qania.


“Terima, terima, terima” teriak semuanya kompak.


“Banyu elo, hikss. Gu..gue juga suka sama lo dan gue nerima perasaan lo ke gue” ucap Manda kemudian menunduk menumpahkan air mata bahagianya.


“Uwwwuuuwww”,.


“Cieeee”,.


“Jadian guys”,.


“Makasih banyak Manda, gue janji gue bakalan jadi lelaki terakhir buat elo dan akan terus menyayangi dan mencintai elo seumur hidup” janji Banyu sembari membawa Manda yang tengah menangis ke dalam dekapannya.


“Cieeeee”,.


Qania yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu Arkana menatap mata Arkana yang ternyata sedang menatapnya juga dan jadinya mereka saling tatap. Keduanya melempar senyum dan tanpa sadar Arkana mengecup kening Qania begitu lama.


“Sono yang jadian sini yang romantisan” ledek Elin membuat Qania tersipu malu.


“Makanya, sini sama abang Yoga. Kita juga pamer kemesraan” celetuk Prayoga membuat Elin mencubit lengan pria itu.


“Oke, gimana kalau untuk merayakan hari jadian mereka kita bakar-bakar jagung ntar malam. Tenang, gue bawa sekarung jagung di mobil” ucap Arkana.


“Setujuuuu” teriak mereka semua, membuat Qania tertawa begitu pun dengan Manda yang tadinya sedang menangis haru menjadi tertawa.

__ADS_1


 


...***...


__ADS_2