Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Panggil aku papa


__ADS_3

Papa Arkana melangkah masuk ke dalam kamar Arkana sambil tersenyum penuh arti, membuat pipi Qania semakin merona karena malu begitu pun dengan Arkana.


"Jadi saling sayang nih?" tanya papa Arkana dengan nada menggoda.


"Eh oom" ucap Qania kikuk.


"Udah baikan ya?" tanyanya lagi.


"Iya dong pa" jawab Arkana penuh percaya diri.


Papa Arkana tersenyum, ia mengajak kedua anak muda itu untuk duduk diatas tempat tidur dengan posisi ia ditengah, Qania di sebelah kanannya dan Arkana disebelah kirinya. Tak lupa juga kedua tangannya membelai rambut keduanya.


"Papa senang melihat kalian berdua baik-baik saja, jangan sampai ribut lagi. Masalah dalam hubungan memang hal biasa dan sudah hal yang lumrah, tapi dari situ kalian akan tahu seberapa besar cinta kalian berdua apabila di terpa masalah besar namun kalian masih bertahan. Dan dari masalah itu pula kalian bisa tahu bagaimana besar cinta dan kasih sayang pasangan kalian masing-masing" nasihat papa Arkana.


"Aku setuju oom" ucap Qania sambil tersenyum.


"Lah bukannya kamu yang minta putus waktu itu" sanggah Arkana.


"Hei siapa juga yang tidak akan memutuskan hubungan jika melihat pacarnya berselingkuh di depan mata, tanpa ada niat menjelaskan apapun" ketus Qania.


"Aku nggak selingkuh ya" elak Arkana.


"Hanya bermain api gitu" timpal Qania.


"Nggak gitu..." Arkana berusaha membela diri namun langsung di potong oleh papanya.


"Arkana, saat itu memang posisi kamu yang salah, papa pun jika jadi Qania pasti akan melakukan hal yang sama. Namun dari situ papa bisa melihat jika cinta Qania padamu sungguh besar, buktinya saat ini ia mampu mengalah dengan egonya dan memilih untuk kembali bersamamu" ucap papa Arkana sambil tersenyum tulus menatap Qania.


"Aku memang salah" lirih Arkana.


"Dalam hubungan keterbukaan itu yang utama, sehingga kalian bisa sama-sama menghadapi apapun dalam hubungan kalian" lanjut papa Arkana.


"Terima kasih untuk masukannya om" ucap Qania.


"Sama-sama sayang. Oh iya mulai sekarang biasakanlah memanggil papa, sama seperti Arkana. Kan calon mantu" goda papa Arkana.


Qania tersenyum malu, wajahnya bersemu merah. Rasanya ia seperti akan melayang mendengar kata calon mantu itu.


"Lampu hijau nih" sahut Arkana.


"Tapi jangan sampai melewati batas. Jika tidak tahan maka menikah lah" saran papanya.


"Kok sama sih seperti ucapannya mama papa" gumam Qania.

__ADS_1


"Mungkin memang kita berjodoh sayang" sahut Arkana menggoda.


"Iihhh nyambung aja nih" ketus Qania.


"Hmm, kalian lanjut saja ya. Papa mau balik ke kantor, tadinya papa pulang mau ngecek kamu tapi ternyata disini sudah ada obat penyembuh rupanya" ledek papanya.


"Oom.. eh papa. Dari tadi ledekin kita mulu nih" rengek Qania.


"Terharu deh rasanya dipanggil papa sama calon mantu" goda papa Arkana.


"Qan nikah yuk" ajak Arkana tiba-tiba.


"Apaa?" Qania terkejut mendengar ucapan Arkana.


"Hei masih kecil nanti saja nikahnya. Papa pamit dulu" ucap papa Arkana kemudian berdiri dan meninggalkan kedua anak muda tersebut.


Setelah papanya pergi Arkana kembali mendekati Qania yang masih duduk bersamanya.


"Gimana sayang?" tanya Arkana sambil menatap Qania dengan serius.


"Gimana apanya?" tanya Qania bingung.


"Soal lamaran aku tadi?".


"Tentu saja Qania Salsabila Wijaya" jawab Arkana sambil membelai rambut Qania.


"Tunggu aku wisudah dan jadi sarjana dulu, oke" tandas Qania.


"Lama dong Qan, dua tahun lagi" Arkana terlihat lemas.


"Ya sabar" timpal Qania kemudian berdiri dan meninggalkan Arkana.


"Sayang mau kemana?" teriak Arkana saat Qania sudah berada diambang pintu.


"Mau nyari air minum, habisnya dari tadi bertamu nggak disuguhin air minum" ucap Qania kemudian pergi berlalu.


"Eh iya aku lupa, hehe" Arkana bangkit dan mengejar Qania yang sudah akan menuruni anak tangga.


****


Arkana dan Qania sudah kembali ke kamar Arkana setelah menghabiskan makan siang yang sudah lewat waktunya itu.


Saat ini jam menunjukkan pukul dua siang, dimana Qania sangat merasa mengantuk, begitu juga dengan Arkana.

__ADS_1


Qania memilih duduk di sofa yang berada di bawah jendela kamar Arkana, sementara Arkana duduk di tempat tidur dengan posisi mereka saling berhadapan.


"Katanya mau menjawab apapun yang akan aku tanyakan" ucap Qania memecah kebisuan mereka.


"Tentu, kamu ingin menanyakan apa?" kata Arkana kemudian bangkit dan berpindah posisi duduk bersama Qania.


"Aku mau kamu ceritain ke aku siapa itu Syeril dan bagaimana bisa dia berada di rumah sakit bersama kamu?" pertanyaan singkat Qania tersebut membuat Arkana terdiam sesaat.


"Syeril itu pacar aku waktu masih sekolah, namun kita berpisah saat dia pindah sekolah dan tinggal diluar kota" jawab Arkana.


"Apa kalian putus?" selidik Qania.


"Entahlah, tidak pernah ada kata putus saat itu. Komunikasi awalnya sangat lancar hingga kami memutuskan jika hubungan kami bertahan selama tiga tahun, kami akan bertunangan" cerita Arkana.


"Lalu?"..


"Beberapa hari sebelum aku di rawat di rumah sakit dia datang untuk menagih janji itu" lanjut Arkana.


"Jadi selama ini kalian masih berhubungan dan aku menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian?" tanya Qania dengan mata yang mulai berkaca-kaca, hatinya terasa begitu sakit.


"Tidak seperti itu sayang, aku dan dia sudah lama tidak berkomunikasi dan aku menganggap bahwa hubungan kami sudah berakhir karena dia sendiri yang memutus kontak denganku. Aku sama sekali tidak menjadikanmu orang ketiga, kamu satu-satunya Qania" tegas Arkana.


"Tapi tetap saja kalian belum putus dan aku tetap saja akan dianggap sebagai perusak hubungan orang" bentak Qania dengan air mata yang sudah mulai menetes.


"Aku harus tegasin gimana lagi sayang, kamu satu-satunya. Nggak ada Syeril, hanya kamu" suara lantang Arkana membuat Qania terdiam.


"A..aku masih belu..mmmmhh" Qania sudah tidak bisa berkata apa-apa karena tanpa aba-aba Arkana langsung mencium bibir Qania.


Mata Qania berbelalak, saat ia sedang mengeluh Arkana tiba-tiba saja mengecup bibirnya dengan lembut dan singkat.


Keduanya bertatapan, saling diam dan hanya mata mereka yang berbicara saat ini. Ada rasa ingin lebih dari itu yang dirasakan oleh Arkana begitu pun dengan Qania.


Masih dalam mode hening, Arkana memajukan kepalanya sedikit miring, Qania yang melihat itu seolah memiliki kontak batin. Qania menutup matanya seolah siap menerima ciuman berikutnya dari Arkana.


Melihat Qania yang diam Arkana langsung saja meluruskan niatnya, tanpa ragu ia kembali mengecup bibir itu. Namun kali ini bukan hanya kecupan singkat, melainkan berubah menjadi ******* yang terasa manis untuk keduanya. Qania yang masih kaku itu mulai mengikuti permainan Arkana hingga ia bisa membalas pagutan dari Arkana.


Cukup lama keduanya menikmati pagutan bibir mereka, hingga keduanya merasa sulit bernapas barulah mereka melepaskan ciuman yang cukup panas itu.


Arkana langsung mengecup lembut kening Qania dan membawanya kedalam dekapannya. Ia memeluk tubuh Qania dengan begitu erat, sambil membelai rambut Qania.


"Aku sungguh hanya mencintai kamu dan hanya kamu satu-satunya dalam hidupku Qania, percayalah aku memohon padamu" tutur Arkana yang masih memeluk Qania.


Qania tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk dan menenggelamkan kepalanya di dada Arkana sambil mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2