
Qania menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya. Ia masih berusaha menenangkan dirinya. Masih terbayang-bayang halusinasinya tadi. Syaquile yang duduk di sebelahnya hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Makanya Ka, jangan ngerjain orang tua. Kualat kan jadinya,” cibir Syaquile.
“Kamu Dek, bukannya tenangin Kakak malah ngatain Kakak kualat,” sungut Qania.
“Ya iyalah. Kakak tuh udah ngerjain orang tua, terus Kakak sendiri yang merasakan akibat buruknya. Apalagi namanya itu kalau bukan kualat,” ucap Syaquile kemudian memejamkan matanya. Kepalanya bersandar di sandaran kursi. “Udah sih Kak, tenang aja. Bobo gitu, masih tiga jam lagi perjalanan kita. Kakak kan sekarang di pesawat. Nggak mungkin bocah itu datangin Kakak,” ucap Syaquile dengan mata yang terpejam.
Terdengar helaan napas dari Qania. Syaquile cuek saja. Ia memilih memejamkan matanya mungkin saja ia bisa tertidur dan terbangun saat pesawat sudah sampai di kota tujuan mereka.
Tadi Syaquile buru-buru datang setelah ditelepon oleh bi Ochi. Ia langsung panik mendengar sang kakak jatuh pingsan. Segala kemungkinan buruk bermunculan di benaknya sehingga ia dengan gilanya mengemudikan mobil. Bahkan saat ia sampai Qania belum juga sadarkan diri, semakinlah bertambah kepanikannya.
Syaquile menanyakan perihal penyebab Qania bisa pingsan.
“Non Qania tadi melihat seorang bocah di kolam. Bocah yang memang biasa datang buat main di kolam tapi udah meninggal minggu lalu, Den. Eh tiba-tiba aja non Qania pingsan.”
Begitulah penjelasan bi Ochi saat Syaquile bertanya. Tak lama kemudian Qania membuka kedua matanya. Yang pertama kali ia lihat adalah adiknya kemudian wajah bi Ochi. Qania mengedarkan pandangannya, kemudian ia bernapas lega karena tak melihat senyuman mematikan dari seorang remaja bukan bocah lagi dari ambang pintu.
Qania memilih diam, ia tidak ingin memberitahukan kejadian yang membuatnya pingsan. Akan sangat lucu menurutnya. Ia bukanlah seorang indigo, tadi pun ia hanya mengarang bebas saja. Tapi hal tak terduga terjadi padanya sehingga membuatnya kehilangan kesadaran.
Hufftt, aku yakin tadi aku hanya berhalusinasi saja. Tenang Qania, tenang. Sekarang kamu udah ada di pesawat dan udah jauh dari rumah. Hufftt, mungkin memang benar kalau aku kualat. Bi, maafin Qania ya. Qania nyesal udah ngerjain Bibi.
Syaquile membuka sedikit matanya untuk mengintip. Ia menyeringai saat melihat wajah Kakak-nya yang begitu panik dengan mata terpejam. Ia pun kembali menutup matanya, menikmati perjalanan yang tersisa beberapa jam lagi.
Makanya, jangan sok-sokan ngerjain orang. Kualat, kan jadinya. Syaquile membatin.
Akhirnya dengan terus memejamkan mata dan berusaha mengusir pikiran buruknya itu membuat Qania tertidur. Sedangkan Syaquile sendiri hanya bisa memejamkan mata tanpa bisa pergi ke alam mimpi.
. . .
Qania menatap sekeliling tempat dimana ia berdiri saat ini. Ditengah-tengah taman bunga dengan keanekaragamannya. Warna-warni bunga tersebut sangat enak dipandang serta aroma yang keluar dari setiap jenis tanaman tersebut membuat tenang perasaan Qania.
“Aku dimana? Bukannya harusnya aku ada di dalam pesawat?” ucap Qania, kembali ia mengamati tempat yang ia pijaki saat ini. “Ini bukan di pesawat dan bahkan aku tidak pernah ada di tempat ini,” ucap Qania lagi.
Qania pun memutuskan untuk mencari jalan keluar dari tempat ini namun setelah ia cukup lama berkeliling ia hanya menemukan taman bunga dan juga saat ini ia tengah berdiri di tepi telaga yang sangat indah. Ada dua ekor Angsa yang sedang bermain disana.
“Tempat ini sangat indah,” gumam Qania sambil terus menatap indahnya pemandangan yang tersuguhkan di hadapannya.
__ADS_1
“Sayang.”
Qania terdiam seketika mendengar suara yang begitu tak asing di telinganya. Suara yang tidak pernah bisa tidak ia rindukan mendengarnya.
“Arkana? Arkana, itukau?” tanya Qania kemudian mengedarkan pandangannya bahkan ia sampai memutar tubuhnya untuk mencari sosok pemilik suara tersebut.
“Iya, ini aku sayang. Arkana Wijayamu,” ucap suara itu lagi.
“Sayang, kamu dimana? Kenapa tidak mendekat padaku?” tanya Qania dengan perasaan tak karu-karuan.
“Aku begitu dekat denganmu. Kenapa masih mencariku, hem?”
“Dekat? Tapi aku tidak melihatmu. Ayolah, bukan waktunya bermain petak umpet dan teka-teki denganku,” ucap Qania gusar.
“Aku tentu saja ada di hati dan pikiranmu, bukan begitu nyonya Wijaya?” Terdengar kekehan dari suara yang entah berasal darimana.
“Sayang, apa maksudmu bicara seperti itu?” isak Qania. Dalam pikirannya saat ini bahwa ucapan Arkana menandakan bahwa Arkananya sekarang hanyalah sesosok makhluk transparan yang tak bisa ia lihat bahkan sentuh. Hanya bisa ia dengar suaranya dan itu menandakan bahwa Arkananya memang benar-benar sudah tiada.
“Hikss, Arkana kau dimana. Apa kau tidak tahu kalau aku begitu tersiksa merindukanmu, hah?” Tangis Qania pecah, ia terus mengedarkan pandangannya mencoba menemukan sosok tersebut meskipun pikiran dan hatinya berkata lain.
“Hei jangan menangis. Aku tahu kau sangat tersiksa, aku sangat tahu malah,” hiburnya.
“Lalu, mengapa menyiksaku seperti ini? Sudah puas?” bentak Qania dengan membiarkan air matanya rerus mengalir.
“Maaf katamu? Kemarilah, biar aku melihatmu lalu akan kupikirkan untuk memaafkanmu atau tidak, hikss.”
“Bukankah aku sudah bilang kalau aku sudah berada di dekatmu. Bahkan sangat dekat dengan jantungmu,” ucapnya lagi.
“Tapi aku tidak bisa melihatmu!”
“Tidak perlu penglihatan untuk bisa menemukan orang yang kau sayang. Pakai hatimu. Rasakan kehadiranku. Aku begitu dekat denganmu. Jika kau benar-benar cinta dan sayang padaku, kau pasti bisa merasakan kehadiranku. Aku ada, bahkan begitu dekat denganmu. Melekat di hati dan pikiranmu. Rasakanlah kehadiranku sayang. Temukan aku dalam hati dan pikiranmu.”
“Aku tidak paham. Aku sangat tidak paham. Kau memang selalu dan selamanya ada di dalam hati dan pikiranku tapi aku butuh melihatmu,” teriak Qania.
“Jika kau bisa merasakan kehadiranku, maka kau pun pasti bisa melihatku. Aku harus pergi sayang. Maafkan aku, sebenarnya aku masih ingin bercerita denganmu tapi masih ada yang ingin menemuimu. Selamat tinggal Qania Salsabila, aku mencintaimu nyonya Wijaya.”
“Arkana jangan pergi! Jangan pergi, hikss kumohon jangan pergi. Meskipun hanya bisa mendengar suaramu tapi kumohon jangan pergi. Temani aku disini, rinduku belum tuntas padamu. Kumhhon bicaralah denganku. Aku akan terus mendengarkanmu meski tanpa melihat wajah tampanmu itu. Arkana, bicaralah. Mengobrollah denganku, aku janji tidak akan menanyakan keberadaanmu asalkan suaramu bisa menemaniku. Kumohon, hikss,” teriak Qania, ia menangis tersedu-sedu namun sampai beberapa menit kemudian tak ada lagi suara yang sangat ingin ia dengar itu membalas perkataannya.
“Taka pa, meskipun hanya sesaat tapi aku sangat bersyukur bisa kembali berbincang denganmu. Tak apa walau hanya sebentar, setidaknya rinduku padamu bisa sedikit terobati,” lirih Qania, ia kemudian menyeka air matanya yang sudah membanjiri pipinya.
__ADS_1
Qania kemudian berjalan ke arah bangku panjang yang ada di sisi kirinya, ia ingin menikmati waktu senja di tepi telaga itu. Ia sudah kelelahan sedari tadi mencari jalan keluar namun tak bisa ia temukan. Biarlah berdiam diri disini sambil menunggu kapan jalan keluar itu bisa ia temukan tanpa harus mencarinya.
Saat sedang melamun mengingat kembali perbincangan singkatnya dengan Arkana tadi, Qania dikejutkan oleh suara yang cukup familiar yang memanggil namanya.
“Qania.”
Qania menoleh ke samping kiri, ia melihat pria berbadan tegap, berkulit putih dengan wajahnya yang tampan datang dengan mengenakan pakaian santai mendekat ke arahnya. Tentu saja Qania langsung berdiri karena terkejut. Ia masih belum lupa dengan perlakuan pria tersebut padanya beberapa tahun yang lalu.
“Aku ingin berbicara sebentar denganmu. Jangan pergi, aku tidak ingin melakukan kejahatan padamu. Aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu. Bukankah tadi Arkana sudah mengatakannya?” ucapnya.
Qania tersentak, kemudian ia kembali mengingat obrolannya dengan Arkana.
Benar, tadi Arkana memang bilang kalau ada yang ingin menemuiku. Jadi orangnya dia, Arjuana Wilanata. Qania membatin.
“Ingin bicara apa?” tanya Qania ketus, kemudian ia kembali duduk.
Juna tersenyum tipis, kemudian ia berjalan mendekati Qania dan ikut duduk bersamanya namun mengambil jarak sekitar satu meter dari Qania agar wanita itu tidak menghindarinya.
“Aku ingin minta maaf padamu dan juga terima kasih,” ucap Juna namun ia tidak menatap Qania melainkan pandangannya lurus ke depan memandangi Angsa yang sedang berenang di telaga.
“Maaf dan terima kasih?” ulang Qania merasa bingung.
Juna menoleh ke arah Qania sambil tersenyum manis. “Maaf atas kesalahanku di masa lalu padamu,” ucapnya dengan lembut.
Qania menatap intens kepada Juna. Sungguh Qania sedikit terhipnotis oleh pesona pria tampan ini. Menurut Qania, Juna terlihat semakin tampan saat berbicara lembut dan tatapannya tulus pada Qania. Tidak seperti beberapa tahun lalu saat ia menatap Juna ia langsung ketakutan. Bahkan saat ini entah mengapa Juna memiliki tatapan yang teduh.
Qania mengusir pikirannya jauh-jauh, ia tidak boleh berpikiran seperti itu terhadap pria lain.
“Baiklah, aku memaafkanmu. Lalu ucapan terima kasihnya untuk apa?” tanya Qania setelah menormalkan pikirannya.
Juna kembali tersenyum, “Nanti juga kau akan tahu sendiri. Aku tidak bisa berlama-lama disini. Masih ada yang ingin menemuimu. Semoga kedatangannya nanti bisa membuatmu bahagia dan menghilangkan segala keraguan dan juga kebingunganmu selama ini. Sekali lagi terima kasih Qania dan maafkan aku untuk semua yang terjadi di masa lalu,” ucap Juna dengan lembut membuat Qania terbengang hingga ia tidak bisa melihat jika Juna sudah pergi dari hadapannya.
Qania baru tersadar beberapa saat setelahnya, kemudian ia mulai kebingungan mencari sosok Juna yang pergi entah kemana.
“Juna!! Arjuna!! Kau dimana?” teriak Qania kembali frustasi saat tidak mendapati sosok tersebut.
“Sial! Harusnya tadi aku tidak melamun. Aku kan bisa ikut Juna pulang tadi. Sekarang aku sendiri disini tidak tahu harus berbuat apa dan ak … eh, tadi Juna bilang apa ya?” Qania nampak tengah berpikir, memutar kembali memorinya saat mengobrol dengan Arjuna.
“Eh, apa maksud kata-katanya tadi ya? Lalu seseorang yang dia maksud akan menemuiku dan menghapus semua keraguan dan kebingunganku itu siapa?” gumam Qania sambil memukul-mukul pelan jari telunjuknya di dagunya.
__ADS_1
“Saya.”
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...