
Rapat LPJ saat ini tengah berlangsung, beberapa jam kemudian istirahat untuk makan dan kembali masuk lagi.
Sudah pukul empat sore, rapat masih terus berlangsung dengan hanya sekali istirahat untuk makan.
Di depan yang tengah mempresentasikan laporan ada Abdi, Qania, Cika dan Yani. Mereka sangat serius menjawab berbagai pertanyaan yang dilayangkan kepada mereka. Tak dipungkiri beberapa kali debat bersitegang dengan pertanyaan dari anggota himpunan mengenai laporan mereka.
Qania dan timnya terlihat kesal dengan pertanyaan yang kadang hanya diberikan untuk menguji, mengerjai bahkan memojokkan mereka.
Rapat berlangsung berjam-jam, menguras tenaga dan keringat karena sempat terjadi aksi yang hampir memiju terjadinya baku hantam dikarenakan kurang puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh tim Qania, karena setelah mendapat jawaban si penanya malah melebarkan pertanyaannya kemana-mana yang membuat Abdi panas.
Bahkan saat itu Qania juga geram hingga menggebrak meja dan mulai adu mulut. Namun hal seperti itu sengaja dilakukan dan bisa dikatakan settingan yang menguras perasaan dan tenaga. Tujuannya adalah untuk memperlihtkan kepada calon pengurus baru bahwa mengurus himpunan tidaklah muda dan mereka akan mewanti-wanti jangan sampai ada kesalahan ketika menjabat nanti.
Pukul tujuh belas lewat dua puluh menit rapat dipending hingga pulul sembilan belas lewat tiga puluh menit. Beberapa dari mereka ada yang pulang namun tidak untuk pengurus inti himpunan. Mereka mengadakan briefing karena setelah istirahat nanti yang akan maju adalah dari divisi-divisi yang ada di struktur kepengurusan himpunan.
"Gimana untuk laporan kalian nanti? Gue sama tim gue udah selesai tapi kalian juga menentukan nasib kepengurusan kita ini" tanya Abdi.
"Gue aman, semoga aja sih" sahut Prayoga dari divisi kemahasiswaan.
"Gue juga aman, laporan gue lengkap" Risty dari divisi keagamaan.
"Apalagi gue" songong Rey yang menjabat ketua divisi hubungan masyarakat (Humas).
"Gue Baron ketua dari divisi FK atau yang kita sebut Forum Kominikasi mengatakan bahwa laporan divisi gue aman" ucap Baron dengan bangga.
"Lebaaaayyyyy.." ledek mereka yang akhirnya menyisahkan gelak tawa.
Setelah ketua dari divisi-divisi yang lainnya turut mengatakan kesiapan mereka untuk maju melaporkan petanggungjawaban mereka.
"Oke gue harap memang semuanya aman, gue harap kepengurusan kita ini dapat dikenang menjadi pengurus terbaik yang pernah menjabat di himpunan kita ini" ucap Abdi menutup briefing.
.
.
Waktu berlalu begitu saja, saat ini rapat kembali dilangsungkan dengan pembahasan laporan dari masing-masing pengurus divisi.
.
.
Di kafa saat ini Fero, Arkana dan Rizal tengah memikirkan rencana untuk memperbaiki hubungan Fero dan Cika. Disana juga ada Gea yang ternyata sudah kembali ke rumahnya beberapa jam yang lalu, Rizal memutuskan untuk langsung menjemput Gea dan membawanya ke kafe.
"Gue rasa lo harus ketemu dan bicara baik-baik dulu deg Ro, jangan langsung ke intinya" saran Gea.
Arkana sudah menceritakan tentang rencana Fero dan Qania pada Rizal dan Gea yang diiyakan oleh Fero sehingga mereka dari tadi sibuk memikirkan rencana awal mereka untuk kelanjutan hubungan sang sahabat.
"Gue setuju Ge, akan sangat mengejutkan bila langsunh ke intinya meskipun kita sama-sama tahu gimana Cika ke elo bro" sahut Arkana sambil menopang dagunya dengan tangan.
"Terus gimana?" tanya Fero sambil garuk-garuk kepala.
"Gue ada ide" ucap Gea.
Mereka saling berbisik, dan akhirnya ide Gea menjadi pilihan. Mereka mulai menyusun rencana untuk mengatur pertemuan Fero dan Cika.
"Mereka lagi rapat dari tadi pagi" ucap Arkana baru teringat Qania karena seharian tidak saling komunikasi. Arkana mengerti jika saat ini Qania sedang sibuk dan ia tidak ingin mengganggu.
"Sebaiknya kita tunggu aja" usul Gea.
"Lo yakin Ge? Bukannya gue ngelarang, cuma Qania bilangnya ada kemungkinan rapatnya selesai nanti subuh dan lo cewek, jadi kita nggak mungkin ngajak elo" ucap Arkana memandang kearah Gea.
"Iya sayang, aku nggak mau loh kalau kamu ikut" timpal Rizal.
__ADS_1
"Lo pulang aja deh Ge, biar kita aja. Gue juga nggak mau lo sampai subuh sama kita, ntar lo dicariin sama orang tua lo" pinta Fero.
"Santai, bokap nyokap masih di kampung nenek. Tadi gur balik lebih awal karena ada urusan kampus dan besok bikap nyokap baru balik dan kemungkinan sampainya nanti sorean" ucap Gea meyakinkan mereka.
"Kamu yakin sayang? Nanti kedinginan" Rizal khawatir.
"Nggak bakal, ntar kalau dingin tinggal peluk kayak gini" Gea memeluk Rizal dari samping.
"Mata suci gue brooo..." pekik Fero.
"Mentang-mentang nggak ada Qania jadi lo berdua mau pamer gitu, menyebalkan" gerutu Arkana.
"Pembalasan bro, biasanya kan lo yang suka tebar kemesraan di depan kita. Iya kan Ro?" Rizal menatap Fero menanti persetujuan.
"Benar Zal, tapi mata gue Zal, mata gue ternodai" Fero menampakkan wajah gusar namun terlihat lucu bagi teman-temannya.
"Lebaaaayyyy..." ledek Gea.
🌸
🌸
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam, namun rapat masih berlangsung dengan keadaan sengit. Biasa, setingan dari para pengurus untuk menghindari rasa mengantuk.
"Saya merasa laporan dari divisi Forum Komunikasi ada kejanggalan, karena selama ini kita pergi ke kegiatan FK kebanyakan pakai uang pribadi. Tapi kita selama ini selalu menyebar proposal dan hasilnya lebih dari cukup. Apa kalian tidak merasa bahwa sebenarnya uang itu kurang atau dikemanakan?" tanya Edo, peserta rapat dengan santai namun tatapannya begitu menusuk.
"Mohon maaf sebelumnya saudara Edo, tapi kami sama sekali tidak pernah menggunakan atau menggelapkan serta mengurangi jumlah uang yang didapat dari proposal yang kita sebar. Bukankah di laporan yang kami bagikan ada bukti nama donatur dan jumlah donasinya" jawab Baron santai, mencoba tidak terpancing.
"Tapi kenapa kita disana untuk mengikuti kegiatan harus memakai uang pribadi lebih banyak. Harusnya kalian sebagai pengurusnya bisa mengatasi ini" sungut Edo.
"Kami sudah merincikan semuanya, apakah saudara Edo tidak membaca dengan jelas dilaporan yang anda pegang tentang rincian semua anggaran FK Temu Wicara Regional dan Temu Wicara Nasional?" balas Baron sudah mulai terpancing.
"Maaf saudara Baron, saya bahkan sudah membacanya berulang kali sehingga saya mendapatkan kejanggalan ini"elak Edo.
"Apakah saya benar saudara Baron? Atau memang ada kesalahan dalam rincian yang divisi anda berikan?" sindir Edo, ia menatap penuh ejekan pada Baron.
Baron dan Edo memang kurang akrab karena pernah bersitegang karena masalah diluar himpunan yang juga pernah terbawa sampai ke himpunan namun mereka bisa menyelesaikannya waktu itu.
"Saudara Edo, anda tidak bisa menuduh tanpa bukti" geram Baron.
"Bukti ini sudah cukup jelas" bantah Edo.
"Apakah saudara Edo memiliki dendam pribadi dengan ketua divisi kami atau salah satu dari pengurus divisi FK? Karena sedari tadi saya perhatikan anda memang banyak bertanya saat divisi lain presentasi namun tuduhan anda begitu parah pada divisi kami?" tanya Kasman yang duduk di sebelah Baron sebagai anggotanya.
"Sepertinya yang dibilang Kasman itu benar Di, Edo mengambil kesempatan ini untuk menjatuhkan dan menuduh Baron" bisik Qania pada Abdi.
Saat ini Qania bertugas sebagai moderator dan Abdi sebagai ketua sidang.
"Lo benar Qan, gue juga merasa seperti itu" tutur Abdi sambil menatap tajam ke arah Edo yang sedang menatap Baron.
"Apa aku bantu aja ya?" tanya Qania.
"Tunggu dulu Qan, kita lihat dulu sampai dimana mereka akan berdebat" tahan Abdi.
"Baiklah" Qania pasrah.
Keadaan ruangan rapat menjadi gaduh karena asumsi-asumsi peserta rapat yang mulai terprovokasi oleh ucapan-ucapan Edo.
"*Waktu lo tiba Baron" Edo berkata dalam hati sambil menatap Baron penuh permusuhan.
"Gue nggak boleh lengah, jangan sampai gue kepancing. Sepertinya dia memanfaatkan situasi ini, arrghh" Baron sangat geram dengan perilaku Edo dan juga geram akan tatapan yang diberikan Edo padanya*.
__ADS_1
"Sabar bang, jangan terpancing. Selagi kita benar kita jangan sampai kalah oleh provokasinya" bisik Kasman.
"Pasti, lo bantuin gue juga" pinta Baron sambil berbisik namun tetap mengunci tatapannya pada Edo.
"Pasti bang, gue udah tahu ini hanya trik untuk menjatuhkan kita" hibur Kasman.
"Lo benar" ucap Baron.
Edo mengalihkan pandangannya ketika ponselnya bergetar, ia kemudian sibuk membalas pesan yang masuk di ponselnya. Sementara Baron langsung menatap ke arah Abdi dan Qania untuk meminta saran.
"Lo tenang aja, ada kita" ucap Abdi tanpa suara, Baron mengerti ucapan tersebut langsung mengangguk dan mengalihkan pandangannya pada Qania yang tersenyum padanya.
"Ada kita, kamu tenang aja" ucap Qania tanpa suara juga. Ia tersenyum tulus untuk memberi dukungan dan semangat pada Baron yang terlihat mulai diselimuti emosi namun untungnya ia masih bisa menahannya.
"Makasih" ucap Baron dengan gerakan bibir.
Menyadari Edo sudah mulai menatapnya, Baron menghembuskan napas dan berusaha tenang untuk kembali beradu pendapat dengan Edo.
"Maaf saudara Edo, saya rasa saat ini anda bukanlah bertanya melainkan menuduh kami, bukan begitu?" tanya Baron dengan santai, ia melempar senyum tipis kepada Edo.
"Kalau iya, lalu kenapa?" tantang Edo.
"Anda ada masalah pribadi dengan saya?" tanya Baron berusaha santai meskipun ia merasa segel kesabarannya sudah terbuka.
"Jangan pura-pura lupa deh lo. Lagian lo tinggal ngaku aja kalau uangnya lo pake kan beres. Kita bisa ikhlasin biar darah daging lo nggak ada yang haram" sindir Edo.
Baron geram, ia kalut dan melupakan bahwa ia dan Edo tengah berada di ruang rapat dan dalam situasi sidang. Baron merasa segel kesabarannya sudah terlepas dan amarahnya sudah terbuka lebar sehingga ia tanpa sarar mengangkat kursi dan akan melemparkannya kepada Edo.
Braaakkkkk.....
Qania menggebrak meja dengan kuat sehingga fokus mereka teralih padanya. Baron tersadar melihat kemarahan diwajah Qania, ia langsung menurunkan kembali kursi yang ia pegang yang sebelumnya ia duduki.
"JIKA KALIAN ADA MASALAH PRIBADI JANGAN BAWA KEDALAM FORUM. KALIAN BISA SELESAIKAN DI LUAR ITU TERSERAH KALIAN. APA KALIAN TIDAK MENGHARGAI KAMI DISINI SEBAGAI KETUA DAN WAKIL HIMPUNAN?" ucap Qania dengan lantang dan penuh penekanan.
Tidak ada yang berani mengeluarkan suara jika Qania yang berkata-kata. Selama ini mereka selalu menghindari amarah wakil ketua himpunan itu, karena ketua himpunan maupun dimisioner pengurus himpunan sebelumnya pun juga tidak berani mengusiknya.
"Kalian harus profesional, kesampingkan dulu masalah pribadi kalian" tambah Abdi yang juga kesal.
"Dia yang memulainya" bantah Edo.
"Hahaha, lo nggak salah tuh Do. Gue yang presentasi dan lo peserta aktifnya, tentu lo yang mulai duluan karena lo yang bertanya" hardik Baron membuat Edo mengepalkan tangannya namun masih memandang ke arah Abdi dan Qania.
"Terlepas dari bagaimana sikap Baron pada kamu Edo, kita semua disini tahu kamu yang memulainya" ujar Abdi.
"Tapi Di..."
"Lo dengar sendiri kan" Baron memotong ucapan Edo.
"Tolong kalian berdua profesional lah, apa kalian tidak malu menjadi bahan tontonan?" tanya Qania, ia menhhela napas kemudian menyandarkan punggungnya di kursi.
"Sedari tadi saya sudah profesional ibu wakil, saya bersabar dan berusaha santai dengan sikapnya dan juga pertanyaannya yang terkesan memojokkan saya dan anggota saya. Tapi saya tidak terima jika dituduh apalagi sampai mengatakan darah daging yang haram. Saya sangat tidak terima" ungkap Baron, ia berusaha mengatur napasnya yang masih memburu.
"Saya mengatakan itu berdasarkan bukti yang ada di lapangan dan yang ada di rincian laporan kalian" sanggah Edo tidak mau kalah.
"Edo, Baron, LO BERDUA KELUAR" teriak Qania.
Jika Qania sudah mengatakan lo gue dan dengan lantang serta penuh penekanan, maka tidak ada lagi yang bisa membantahnya.
Dengan berat hati Baron meninggalkan ruang rapat dan memberi kepercayaan pada Kasman dan anggotanya yang lain. Sementara Edo merasa cukup puas karena berhasil mengalahkan Baron.
"Lo berdua jangan ada yang pulang dan duduklah yang tenang di luar. Dengarkan ini dari luar dan jangan beranjak sedikitpun, karena lo berdua belum selesai. Setelah rapat ini selesai kita akan mengurus kalian berdua" Qania memberi peringatan dengan sangat penuh penekanan.
__ADS_1
"Oke, mari kita lanjutkan, Kasman silahkan...." ucap Abdi sebagai ketua.
...⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘⚘...