
Perjalanan yang cukup lama terasa semakin lama saja bagi Tristan. Jika saja bisa, ia ingin dalam satu detik ia bisa berada di samping Qania. Namun sayang ia tidak memiliki kemampuan teleportasi agar bisa berpindah dengan cepat ke tempat mana pun yang ia mau. Ia hanya bisa terus bersabar hingga pesawat mendarat dengan selamat di negaranya.
Tristan terus mencoba memejamkan matanya, berusaha tidur agar ketika ia bangun nanti ia sudah sampai di negaranya.
"Hahaha, nggak mungkin juga gue tidur hampir dua puluh jam," kekehnya, ia menertawai pemikiran konyolnya sendiri.
"Tapi gue harus apa untuk bisa membunuh waktu? Gue harus ngelakuin sesuatu biar waktu nggak kerasa berlalu," gumamnya.
Tristan tersenyum setelah mendapat satu ide di benaknya.
"Habiskan saja waktu dengan menghalu kebahagiaan bersama Qania. Kata orang kalau kita sedang berhalu waktu seakan nggak berasa udah lama berlalu. Ya, mari kita halu-haluan," gumam Tristan, padahal dalam hatinya pun ia terisak karena rasa khawatir yang berlebihan ia sampai buntu tak bisa berpikir cerdas seperti biasanya. Benar-benar sangat menyiksanya.
Saat Tristan tengah tersenyum membayangkan kebahagiaannya bersama Qania dan Arqasa, bayangan Syaquile muncul dan itu langsung membuat Tristan terkesiap dan segera membuka kedua matanya.
"Mau tidak mau, suka tidak suka gue akan tetap berjuang mendapatkan Qania jika dia menghalangi. Dia harus tahu kalau gue benar-benar serius pada Qania. Lihat saja nanti, dia pasti akan mengalah dengan sendirinya dan membiarkan gue hidup bahagia bersama Qania dan Arqasa. Gue nggak bakal biarin ada yang menghalangi. Apapun, apapun syarat yang mereka inginkan akan gue penuhi. Termasuk jika mereka meminta gue untuk merubah identitas, itu bukan masalah buat gue. Buat gue, restu yang utama," ucap Tristan bermonolog dengan tekad yang kuat.
.... . ....
Papa Setya tersenyum sinis menatap wajah Pak Handoko yang kini sedang dibawa oleh polisi masuk ke dalam kantor. Ia juga merasa berang karena pria itu sudah menyiksa menantu kesayangannya. Saat ini ia tengah memikirkan balasan yang setimpal pada pria yang kini sudah berdiri di hadapannya.
"Selamat siang Pak. Kami sudah membawa tersangka," lapor polisi tersebut.
"Siang. Terima kasih dan biarkan dia duduk untuk dimintai keterangan," ucap Polisi yang sedang duduk berhadapan dengan Papa Setya.
Pak Handoko dipaksa untuk duduk berdampingan dengan Papa Setya. Keduanya sempat menatap lama dengan bengisnya kemudian beralih menatap polisi yang ada di hadapan mereka.
"Pak saya tidak bersalah, gadis itu yang menjebak saya," ucap Pak Handoko membela diri.
"Menjebak? Seperti apa? Coba tolong Anda jelaskan dengan baik," ucap polisi tersebut.
__ADS_1
"Dia sengaja mengundang saya ke gudang untuk menggoda saya. Dia sudah dari semenjak masuk ke kantor saya memang selalu menunjukkan gerakan aneh dan juga berusaha merayu saya. Mana ada sih Pak kucing di beri ikan terus menerus akan menolak. Dia juga mencuri dokumen penting saya. Yang harusnya Anda tangkap itu Qania, bukan saya," ucap Pak Handoko menggebu-gebu.
Papa Setya hanya berdecih pelan. Ia membiarkan orang disebelahnya ini berbicara lebih dulu. Ia tak ingin menyela ataupun menyanggahnya. Biar saja ia berbicara terus menerus sampai bosan, Papa Setya hanya akan diam mendengarkan. Ia akan menunggu hingga orang disebelahnya ini diam maka ia akan langsung berbicara.
Ucapan demi ucapan, tuduhan demi tuduhan dan juga hinaan demi hinaan terlontar dari mulut Pak Handoko yang mana membuat Papa Setya geram namun ia tetap memperlihatkan sikap tenangnya. Ia hanya menggerutu dalam hati, selebihnya ia memperlihatkan sikap santai yang mana membuat polisi di hadapan mereka itu sedikit merinding.
Orang dengan sikap tenang biasanya lebih berbahaya. Ibarat pepatah, air tenang menghanyutkan. Saya bisa melihat dari orang ini, dibalik diam dan tenangnya dia pasti memiliki banyak racun dan sudah menyiapkan banyak ranjau untuk melawan Pak Handoko, batin polisi tersebut.
Suasana menjadi hening ketika Pak Handoko dan polisi tersebut berhenti berdialog. Polisi tersebut menatap papa Setya dengan lirikan meminta ia untuk membela diri. Sedangkan Pak Handoko sendiri sedang tersenyum puas mengira lawannya tak berkutik dengan semua ucapannya tadi.
Apakah seorang Setya Wijaya hanya sekelas ini? Haha, pengacara hebat konon, tapi tak ada perlawanan, ejek Pak Handoko dalam hati.
"Apakah saudara Handoko sudah selesai dengan bualannya?" tanya Papa Setya dengan suara dinginnya namun senyuman tetap tersungging di bibirnya. Senyuman manis mematikan!
Pak Handoko yang sedang bersorak dalam hati seolah tertohok mendengar ucapan Papa Setya, "Apa maksud Anda dengan bualan? Saya bicara fakta!" bantah Pak Handoko.
"Jadi begini Pak Polisi yang terhormat, menantu saya Qania Salsabila Wijaya adalah seorang wanita terhormat yang menjunjung tinggi harkat dan martabat seorang wanita. Saya berani menjamin dengan semua harta saya jika menantu saya itu tidak ada niat sama sekali untuk menggoda bapak ini. Anak saya itu memiliki rekam medis yang menyatakan bahwa ia memiliki trauma dengan yang namanya kekerasan fisik serta yang berhubungan dengan tindakan asusila. Dari sini Anda bisa menarik kesimpulan sendiri bahwa mana mungkin seseorang dengan traumanya mau melakukan hal yang justru membuatnya menggali rasa traumanya itu sendiri.
"Anak saya meregang nyawa di rumah sakit dan sempat dinyatakan meninggal dunia, apa itu hanya sebuah jebakan saja? Menantu saya tidak kekurangan apapun hanya untuk menggoda pria tua bangka ini. Hartanya berlimpah baik dari saya mertuanya maupun dari orang tuanya yang merupakan Bupati sekaligus pengusaha sukses. Hidupnya bergelimang harta dan terlalu lugu saja pemikirannya jika ia harus menggoda orang ini demi harta. Cih, mimpipun pasti Qania akan merasa jijik pada dirinya sendiri. Anda jangan terlalu banyak berhalusinasi Pak. Anda seorang ahli hukum, jangan membodohi diri Anda sendiri dengan memutar balikkan fakta. Harusnya Anda malu dengan profesi Anda sebagai seorang pengacara yang sangat mengenal baik tentang hukum namun justru Anda mempermalukan diri Anda sendiri dengan ucapan penuh bualan tersebut.
"Anda seorang pengacara hebat mana mungkin tidak mengerti dengan hukum yang berlaku. Pengacara sekelas Anda pasti sudah banyak memenangkan kasus hukum mengingat Anda seterkenal ini di kota ini. Atau jangan-jangan Anda juga menggunakan trik kotor dalam memenangkan kasus seperti yang baru saja Anda lakukan? Wah jika begitu saya sebagai seorang pengacara merasa malu. Oh ya satu lagi, saya rasa Anda sudah tahu pasal-pasal mana yang sudah Anda langgar dan yang akan memberatkan hukuman Anda," ucap panjang Papa Setya dengan santai, tegas namun penuh sindiran yang sangat menohok Pak Handoko.
Pak Handoko tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia terdiam dengan tatapan mata penuh kebencian dan juga kedua tangan yang terkepal kuat. Ia sangat merutuki nasibnya yang harus berurusan dengan Setya Wijaya.
*Kau boleh mengolok dan merendahkanku disini. Tapi lihat saja nanti, akan kubalas kau, batin Pak Handoko.
Kan, saya sudah yakin kalau Pak Setya Wijaya ini diamnya emas. Ucapannya berhasil membungkam mulut pak Handoko, batin polisi di hadapan mereka*.
"Oh ya, kami memiliki bukti rekaman dimana Anda menyiksa menantu saya. Itu bisa memberatkan Anda dan bisa membuat Anda membusuk di penjara," lanjut Papa Setya.
__ADS_1
"Bukti apa?" tanya kaget Pak Handoko.
Papa Setya tersenyum manis, sangat manis. "Dan satu lagi, menantu saya itu selain cantik dan cerdas dia juga orang yang sangat setia. Suaminya, anak saya, sudah meninggal lima tahun yang lalu namun dia masih setia padanya. Banyak yang ingin mengambil menantuku dari genggamanku bahkan pria-pria kaya raya namun dia menolak dan tetap memilih almarhum anakku. Jadi jangan membual dengan mengatakan kalau menantuku itu menggoda Anda, sangat konyol!"ucap Papa Setya yang mana semakin membuat Pak Handoko terkejut mengetahui kalau suami Qania ternyata sudah meninggal dunia.
"Pak polisi tolong buat laporannya dan saya ingin pria ini di penjara. Jika dia mengajukan tuntutan balik dan akan membawanya ke jalur hukum maka saya siap kapanpun itu," ucap Papa Setya kemudian meninggalkan kantor polisi.
.... . ....
Di rumah sakit, Qania baru saja selesai makan siang yang disuapi oleh Syaquile. Setelah itu, Syaquile pamit untuk mencari makan siangnya sendiri.
Qania mengambil ponselnya dan melihat berita hangat hari ini tentang kasusnya bersama Pak Handoko. Ia hanya menampilkan wajah datarnya, kemudian menekan ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Hallo, paket yang aku kirim waktu itu masih di kamu, kan? Aku menginginkannya sekarang. Bisa tolong kamu antar ke rumah sakit?"
"Iya, gue juga mau kesana."
"Oke, makasih dan kamu hati-hati."
Qania menyimpan ponselnya kemudian ia diam termenung memikirkan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya.
Ia ingin segera pulang ke rumahnya menemui Arqasa dan mengambil liburan. Akan tetapi ia juga sangat ingin segera menyelesaikan kasusnya dan juga menyelesaikan pendidikannya agar ketika ia pulang ia sudah tidak lagi membawa beban.
Dan satu hal, ia juga sangat ingin menyelesaikan teka-teki tentang Tristan dan Arkana karena tentang Arjuna Wilanata sudah terungkap.
"Satu per satu mulai terkuak dan satu per satu bebanku mulai hilang namun belum mencapai puncaknya. Aku tahu setelah ini masih ada masalah yang lebih besar dari ini. Semangat Qania, semua ini pasti bisa kau lalui karena ada keluarga dan Tuhan yang selalu bersamamu," ucap Qania menyemangati dirinya sendiri.
"Tristan, ah entah kau Tristan atau Arkanaku, jika kau datang hari ini maka langkahku mencapai puncak akan segera tercapai. Datanglah, tunjukkan jika kau memang pantas untuk diperjuangkan," lirih Qania.
"Dan besok, aku harus memaksa dokter untuk mengeluarkanku dari rumah sakit. Aku masih banyak urusan diluar sana, bukan hanya berbaring hingga terbosan-bosan di ranjang rumah sakit," gerutu Qania sambil melirik bosan ruangan rumah sakit ini.
__ADS_1