
"Home sweet home," ucap Qania dengan bahagianya begitu turun dari mobil.
"Yes, home sweet home," timpal Syaquile.
Keluarga Sanjaya itu pun sama-sama keluar dari mobil dimana Qania begitu posesif memeluk Arqasa.
"Mi, lepasin ih. Ar udah bisa jalan sendiri," keluhnya meronta ingin di turunkan.
"No! Sampai kapan pun Ar tetap bayi kecil Mami," ucap Qania sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Syaquile, Alisha, Zafran dan Pak Roni hanya menggeleng sambil tersenyum melihat Ibu dan Anak yang sedang beradu mulut itu.
"Selamat datang non Qania, gimana kabarnya?" sapa bi Eti yang memang sudah menunggu kedatangan majikannya di ryang tamu.
Sapaan Bi Eti membuat Qania menghentikan langkahnya sejenak sebelum menaiki tangfa.
"Alhamdulillah baik Bi. Bi Eti sendiri kabarnya gimana?" tanya Qania balik.
“Alhamdulillah, saya juga baik Non,” jawab bi Eti.
“Saya ke atas dulu ya Bi, mau istirahat,” 0amit Qania.
“Iya Non, selamat istirahat.”
Qania mengangguk kemudian segera membawa Arqasa naik ke lantai dua melewati tangga dan mereka pun langsung menuju ke kamar.
“Mamii ... Ar udah gede gini masih aja di gendong. Malu kan kalau ada teman yang lihat,” gertunya begitu Qania sudah meletakkannya di atas tempat tidur.
“Gini ya Ar, Mami tegasin sekali lagi kalau buat Mami sampai kapanpun itu Ar tetap anak bayi Mami. Anak kecil Mami. Jadi Mami bakalan terus perlakuin Ar kayak gini sampai Mami udah nggak mampu lagi buat gendongin Ar,” ucap Qania sambil membelai rambut anaknya.
“Ya udah deh terserah Mami aja. Ar mau bobo dulu, capek tahu perjalanan mengudara,” ucapnya sambil merebahkan tubuhnya.
“Dih gayanya songong amat ya,” kekeh Qania.
“Anak siapa dulu dong,” timpal Arqasa.
“Anaknya Qania Salsabila dan Arkana Wijaya,” sahut Qania.
“Benar sekali. Hooaamm ... Selamat istirahat Mamiku sayang,” ucap Arqasa yang perlahan-lahan pun tertidur.
Setelah mengecup penuh kasih sayang pada anaknya, Qania pun memutuskan untuk mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian, ia pun keluar untuk menemui sang calon pengantin.
Tok ... Tok ... Tok ...
“Masuk!”
Pintu terbuka dan pemandangan yang Qania lihat pertama kali adalah seorang gadis yang tengah berbaring sambil memainkan ponselnya. Ia pun berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar itu.
“Ck, seperti inikah calon pengantin? Bermalas-malasan dan hanya bermain ponsel. Setidaknya mendekati hari pernikahan itu Lo harusnya melakukan perawatan,” ucap Qania sambil menyilang kan tangannya di atas perut.
Mendengar suara yang begitu familiar di telinganya Elin spontan langsung menengok ke arah pintu.
__ADS_1
“Sumpah ini benar Qania Salsabila?” pekik Elin dengan segera melompat dari tempat tidur dan berlari memeluk Qania.
“Wait ... Bau amat sih? Belum mandi ya Lo?” ucap Qania mencegah Elin yang hendak memeluknya.
“Iya sih. Tapi bodoh amat lah,” ucap Elin kemudian menghambur memeluk Qania yang juga langsung dibalas pelukan oleh Qania.
“Kangen tahu nggak,” lirih Elin.
“Sama, aku juga,” balas Qania kemudian keduanya melepaskan pelukan.
Elin pun mengajak Qania untuk duduk di sofa. Qania melihat sekeliling kamar Elin, disana tidak begitu banyak perubahan. Hanya sebuah foto yang menarik perhatian Qania. Foto yang terletak di atas meja belajar Elin dimana foto tersebut terbingkai indah. Qania tersenyum melihatnya kemudian beralih menatap Elin.
“Nggak nyangka gue akhirnya Lo berdua bisa sampai di titik ini,” ucap Qania merasa bahagia sekaligus terharu.
“Berkat siapa coba?” kekeh Elin, dalam hati ia pun senang sekali mendengar ucapan Qania. Rona merah di pipinya tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat ini.
“Siapa ya?” Qania berpose seolah-olah ia sedang berpikir.
“Ih rese deh. Ya berkat elo sama Arkana lah,” kesal Elin.
“Hahaha ... Ya enggak begitu juga. Kan yang jalanin dan pertahanin hubungan itu kalian berdua. Berarti semua itu berkat kegigihan dan usaha kalian. Kami berdua hanya perantara saja,” ucap Qania bijak.
“Kalau dipikir ada benarnya juga sih. Tapi aku tetap mau ngucapin terima kasih buat kalian berdua. Terima kasih Qania,” ucap Elin kemudian memeluk Qania dari samping.
“Sama-sama sayoong. Aku turut bersuka cita untuk hubungan kalian,” ucap Qania tulus lalu membalas pelukan Elin.
“Andai Arka masih ada ya Qan, aku pasti bakalan berterima kasih banget sama dia. Kalau bukan karena dia mungkin saat ini aku nggak tahu apa yang akan terjadi sama diriku jika masih bersama Fadly,” lirih Elin.
“Jangan ngawur deh Qan. Duh kok aku jadi nyesel ya udah nyebutin nama keramat itu,” keluh Elin.
“Aku nggak ngawur. Emang Arka ada kok,” keukeuh Qania.
“Qan ....”
“Arkana ada disini-“ menunjuk dadanya- “Dia bakalan selalu ada disini Lin.”
“Aaa Qania ... Kamu sweet banget sih,” ucap Elin kemudian kembali memeluk Qania.
Aku ingin membawa Arkanaku tapi aku belum yakin untuk itu, batin Qania.
Keduanya pun berbincang-bincang membahas pesta pernikahan Elin dan juga berbagi cerita tentang Qania yang kuliah di kota Y. Qania tidak menyebutkan sekali pun nama Tristan Anggara. Ia hanya menceritakan tentang Raka yang juga berada di kota yang sama dengannya.
“Dia sangat mencintaimu dari dulu, Qan,” ucap Elin.
“Aku tahu tapi aku tidak bisa membalasnya. Aku hanya mencintai Arkana saja. Dan anakku tidak ingin memiliki Ayah sambung. Dan aku pun tidak ingin memasukkan orang lain di dalam dunia yang sudah kubangun bersama Arqasa dan kenangan bersama Arkana,” ucap Qania. Sekalipun itu Tristan Anggara, sambung Qania di dalam hati.
“Aku nggak maksud mendebatmu Qan, tapi ya kamu tahu sendirilah kalau kita itu nggak selamanya bisa hidup sendiri. Suatu saat Arqasa akan menikah dan memiliki keluarga sendiri. Kamu udah nggak akan jadi prioritasnya lagi. Dia bakalan sibuk mengurus usaha kakeknya yang menggurita itu. Belum lagi anak istrinya. Kamu akan sendirian di hari tua, Qan. Pikirkan ini sekali lagi. Aku sebagai sahabatmu dari kecil hanya ingin melihatmu bahagia dan memiliki keluarga yang utuh. Aku yakin Arqasa pasti akan mengerti. Tidak ada salahnya menerima Raka di hatimu Qan. Jika belum ada ruang di hatimu untuknya, maka berilah dia kesempatan untuk menempati pikiranmu. Dia pria yang baik dan juga kau pasti lebih tahu seperti apa perasaannya terhadapmu.
“Aku yakin suatu saat nanti Arqasa akan mengerti. Pikirkanlah kebahagiaanmu Qan. Aku nggak nyuruh kamu buat lupain Arkana. Enggak gitu. Tapi, Arkana udah nggak ada Qan. Dia udah nggak bisa balik lagi kesini. Dan apa ini, apa yang kamu lakukan ini sama saja kau menyiksa dirimu sendiri dan kau juga menipu diri dan keadaan Qania. Mana Qania Salsabila yang aku kenal dulu. Ini bukan dirimu Qan. Aku tahu kamu cinta mati sama Arkana, tapi nggak gini juga caranya. Kamu nyiksa diri tahu nggak,” ucap Elin panjang lebar. Sebenarnya sudah lama sekali ia ingin mengatakan ini pada Qania, namun baru kali ini ia mendapat kesempatan.
Elin tahu jika Qania sudah banyak menolak pria yang menyukainya demi menjaga cintanya untuk Arkana. Dan ia pun tahu hal tersebut dari kedua orang tua Qania. Sungguh Elin cukup geram dengan sikap Qania. Ia merasa Qania sudah kehilangan akal sehatnya karena menutup diri dari pria lain demi menjaga cintanya.
__ADS_1
“Qan, kamu jangan marah oh enggak, kamu boleh marah dengan semua ucapanku ini. Tapi, semua yang aku ucapin ini demi kebaikanmu. Kami semua sayang padamu dan peduli padamu Qan. Lihatlah orang tuamu yang begitu sangat menginginkan melihatmu kembali bahagia. Bukan menunjukkan kebahagiaan palsu di depan mereka. Kuncilah Arkana di hatimu, karena aku tahu dia memiliki semua hal spesial yang memenuhi rongga hatimu. Tapi, bukalah sedikit untuk orang baru. Jodoh Arkana memang adalah dirimu, tapi kau. Jodohmu tentulah bukan Arkana. Coba buka mata, hati dan pikiranmu Qania. Kau pasti menemukan orang itu. Mungkin saja dia sudah ada di jangkauanmu namun kau terus saja menutup matamu dan menulikan telingamu.”
Usai berkata seperti itu, Elin menatap wajah Qania. Tak ada ekspresi marah atau keberatan dengan air muka Qania. Semuanya normal-normal saja. Elin menghirup napas dalam-dalam kemudian menghembuskan secara perlahan.
“Maaf terlalu banyak bicara. Aku hanya gemas saja pada sikapmu itu. Ah lebih tepatnya kau membuatku geram nyonya Wijaya,” ucap Elin diselingi canda.
Qania tersenyum. “Untuk apa meminta maaf, hem? Tidak ada yang salah dari semua ucapanmu. Justru aku sangat senang dan merasa begitu diperhatikan. Terima kasih karena sudah peduli padaku,” ucap Qania tulus dengan mata berkaca-kaca.
“Dasar bodoh, tentu saja aku peduli padamu. Kau ini bagaimana sih,” gerutu Elin namun langsung memeluk Qania dan Qania pun membalas pelukannya.
“Aku pikir kau melupakanku,” ledek Qania setelah mereka melepaskan pelukannya.
“Sekali lagi kau mengucapkan kata kotor itu maka aku akan membuatmu tidak bisa bicara lagi,” ancam Elin dengan bibir berkedut menahan tawa.
“Wuuh aku takut,” ejek Qania.
“Kemari kau hah, aku akan membotaki kepalamu dan akan melakban mulutmu,” ucap Elin kemudian mengaitkan lengannya di leher Qania hingga Qania kesulitan bergerak.
“Ya ampun lepasin ih. Sejak kapan seorang Felin menjadi sebarbar ini hah?” ucap Qania menahan tawanya.
“Sejak aku menjalin hubungan dengan saudaramu itu. Aku menjadi barbar begini. Dia membuatku menjadi diriku sendiri yang apa adanya,” ucap Elin tanpa sadar mengurai cekatannya dari leher Qania karena saat ini pikirannya tengah melayang jauh pada kekasihnya itu. Ia pun tidak menyadari kalau Qania tengah tersenyum devil padanya saat ini.
Bahagia terus seperti ini Lin. Aku sangat suka melihat kebahaiaanmu. Ah rasanya aku ingin menemui si biang rusuh itu. Aku ingin memberinya selamat dan juga ucapan terima kasih karena sudah membuat Elin kembali menjadi dirinya sendiri.
“Oh ya? Apa dia tidak meminta jatah dulu padamu?” pancing Qania.
Mata Elin terbelalak. “Bicara apa kau ini hih. Dia saja bahkan lebih suka memelukku daripada menciumku. Dia lebih memilih merangkul ku daripada mengajakku berciuman. Kau tahu, dia sangat menjagaku. Dia akan marah jika aku keluar bersamanya mengenakan pakaian kurang bahan. Katanya bukan untuk mengatur penampilanku melainkan untuk melindungi auratku. Kau tahu Qan, selama lima tahun aku bersama Yoga, bisa dihitung berapa kali kami berciuman. Dengan sikapnya yang begitu menjagaku makanya Mama sama Papa mendesaknya untuk segera menikahiku. Mereka takut kehilangan menantu yang seperti itu,” curhat Elin membuat Qania senyam-senyum sendiri.
“Aku nggak nyangka si biang rusuh bisa juga kayak gitu,” kekeh Qania.
“Apalagi aku. Makasih ya Qan, karena kamu udah ngebuka hati dan pikiran ku waktu itu. Jika tidak, aku nggak akan pernah ngerasain dicintai dan dihormati seperti ini. Aku bahkan akan kehilangan jati diriku jika saja aku menolak perasaanku waktu itu,” lirih Elin sambil menggenggam tangan Qania.
“Harus berapa kali sih kata terima kasih itu terucap dari mulutmu itu. Mendingan sekarang kamu mandi, aku mau pulang. Nanti malam kita ke mall,” ucap Qania yang membuat Elin bersemangat.
“Ke mall bareng anak sultan? Ya jelaslah gue mau. Pastinya dibelanjain dong ya?” sorak Elin sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
“Dasar! Iya, hitung-hitung hadiah pernikahan,” ucap Qania.
“Yes! Tapi kan pernikahannya masih seminggu lagi Qan,” ucap Elin sambil memanyunkan bibirnya.
“Udah ih nggak usah masang tampang kayak gitu. Gelay gue. Aku mau pulang dulu, jangan lupa nanti malam,” ucap Qania seraya berdiri.
“Pastinya.”
Qania pun berjalan beriringan dengan Elin. Elin mengantarnya hingga ke ruang tamu karena Qania menolak saat Elin ingin mengantarnya sampai ke gerbang.
“Rumah hanya berjarak lima langkah antar gerbang sok-sokan mau nganterin sampai ke gerbang,” nyinyir Qania dan Elin hanya bisa meringis.
.... . . . . . . . ...
Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎
__ADS_1