
Qania berdiam diri di kamarnya, mencerna apa yang di katakan mamanya. Hal tersebut membuatnya semakin merasa bersalah dan merindukan Arkana. Air matanya menetes kala mengingat wajah penuh rasa bersalah Arkana tadi. Ia tidak bisa menahan lagi, segera saja ia mencari ponsel lamanya yang tersimpan di dalam lemarinya.
"Untung saja masih ada" ucap Qania lega setelah menemukan ponselnya. Ia kembali berjalan dengan agak pincang ke tempat tidurnya kemudian duduk dan mengecek pulsa di ponselnya itu.
"Syukurlah masih bisa buat nelepon. Dan untungnya aku hapal nomor telepon Arkana" ucap Qania.
Dengan cepat ia menekan angka-angka pada ponselnya. Panggilan tersambung, namun belum mendapat jawaban. Hingga tiga kali menelepon belum juga ada jawaban dari Arkana. Qania menjadi putus asa dan melepas ponselnya di sebelahnya.
"Apa dia sedang marah? Atau apakah dia sedang sibuk? Ataukah karena nomor ini baru jadi dia tidak mau mengangkat panggilan dariku?" Pikir Qania yang mulai gelisah.
Sementara di danau Arkana sudah merasa agak lega setelah menumpahkan isi hatinya disana. Ia kembali ke mobilnya, setelah menutup pintu mobil dan bersiap menghidupkannya, ia teringat akan ponselnya. Awalnya ia ingin menghubungi papanya, namun ia melihat ada tiga panggilan dari nomor baru.
"Siapa?" Tanya Arkana saat menatap layar ponselnya itu.
Ia memutuskan untuk menghubungi kembali nomor itu. Tidak beberapa lama panggilannya terhubung dan langsung dijawab.
"Hallo, ini siapa?" Tanya Arkana.
"Hallo" ucap Qania lirih.
"Sayang?" Tanya Arkana yang mengenali suara Qania.
"Maafin aku, aku udah keterlaluan. Maafin aku, aku rindu" tangis Qania pecah.
"Kamu nggak salah dan nggak perlu minta maaf sayang" ucap Arkana ikutan sedih.
"Kamu kesini, aku rindu" pinta Qania.
"Aku segera kesana, berhentilah menangis" ucap Arkana begitu senang.
__ADS_1
"Iya aku tunggu" ucap Qania kemudian mematikan telepon.
Arkana begitu bahagia saat mendengar ucapan Qania, dengan segera ia melajukan mobilnya. Sepanjang jalan ia terus bersenandung, sementara Qania juga di kamarnya sedang sibuk merias dirinya. Ia ingin nampak cantik saat bertemu dengan Arkana sebentar lagi. Ia terus tersenyum seolah baru pertama kalinya merasakan jatuh cinta.
Setengah jam kemudian Arkana sudah sampai di rumah Qania, ia mengetuk pintu dan nampaklab Qania di depannya yang membuka pintu. Rupanya ia sudah menunggu di ruang tamu sedari tadi.
"Sayang" sapa Arkana.
Qania langsung memeluk tubuh Arkana dan menangis di dekapan kekasihnya itu.
"Maafin aku, aku sayang sama kamu. Aku kangen" isak Qania.
"Maafin aku juga, aku sayang kamu. Aku juga sangat merindukanmu" balas Arkana. "Jangan nangis lagi, nanti cantiknya hilang" bujuk Arkana.
Qania langsung menghentikan tangisnya, ia juga segera melepaskan pelukannya karena baru sadar mereka berada di luar rumah. Entah apa yang akan di pikirkan orang-orang yang melihat mereka.
"Sayang masuk" ajak Qania.
"Kan aku sayang kamu" sahut Qania yang sudah duduk di sofa.
"Terima kasih sayang, aku juga sayang kamu" ucap Arkana kemudian menyusul masuk dan duduk di samping Qania.
"Sayang, jalan yuk" ajak Qania.
"Emang kaki kamu udah baikan?" tanya Arkana sambil mengecek lutut Qania.
"Asal sama kamu semua akan baik-baik saja" jawab Qania.
"Tapi tadi kamu.." belum sempat Arkana menyelesaikan ucapannya, Qania langsung meletakkan jari telunjukkan di bibir Arkana.
__ADS_1
"Tadi aku tidak bersamamu sehingga aku dalam bahaya. Sekarang aku sudah bersamamu, dan aku pasti akan baik-baik saja" ucap Qania sambil menatap Arkana begitu dalam.
Arkana langsung memeluk Qania, air matanya menetes, ia terharu dengan ucapan sang pujaan hati.
"Terima kasih untuk cintamu yang tulus" batin Arkana.
Arkana menghapus air matanya, kemudian melepas pelukannya. Ia menatap lekat mata kekasihnya itu kemudian tersenyum hangat dan Qania pun membalasnya tak kalah manisnya senyumannya itu.
"Yuk jalan" ajak Arkana.
"Yuk" jawab Qania kemudian bangkit.
"Pamit sama mama dulu" ajak Arkana.
"Tadi udah pamit sama mama sebelum kamu sampai. Ayo kita pergi" ajak Qania sambil menggandeng tangan Arkana.
"Kalau begitu ayo" ucap Arkana.
Keduanya keluar sambil bergandengan tangan, seolah hari ini adalah hari mereka pertama kali jadian. Arkana membukakan pintu mobil untuk Qania kemudian ia kembali lagi untuk masuk ke kursi kemudi.
"Kita mau kemana sayang?" tanya Arkana.
"Ke resto ayam bakar" jawab Qania.
"Lagi?" tanya Arkana menoleh ke arah Qania.
Qania hanya menjawab dengan tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya. Arkana menggeleng kemudian melajukan mobilnya sesuai keinginan ratu hatinya itu.
"*Apapun untukmu kesayanganku" ucap Arkana dalam hati.
__ADS_1
"Terima kasih selalu mengabulkan keinginanku" ucap Qania dalam hati*.