Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Aku juga Mahasiswa


__ADS_3

Alarm di handphone Qania terus berbunyi sedari tadi namun yang mengaktifkan alarm tersebut masih belum memperlihatkan gerakan atau pun tanda-tanda akan bangun.


Lagi, alarm terus berbunyi namun Qania masih enggan beranjak dari alam mimpinya. Mamanya yang kebetulan melintas di depan kamar Qania dan mendengar alarm tersebut berbunyi langsung mengetuk pintu kamar Qania.


Tok..


Tok..


Tok..


"Qania sayang, bangun nak. Kalau nggak mau bangun, itu alarmnya dimatiin dong. Berisik tahu" tegur mamanya yang masih setia di depan pintu kamar Qania.


 Hening..


 Mamanya yang tidak mendapat jawaban dari dalam memutuskan untuk pergi karena alarm pun juga sudah tidak terdengar lagi bunyinya. Ia berpikir mungkin Qania mendengarnya dan....


 "Hei Qania, kamu itu tidur atau pingsan sih?" tegur mamanya yang sudah mulai kesal.


 Sekali lagi ia mengetuk pintu kamar Qania namun tidak ada jawaban.


 "Haihh punya anak gadis kok bangunnya siang gini. Mentang-mentang lagi libur" Alisha terus mengoceh sambil berjalan menuruni anak tangga.


 "Tante kenapa?" tanya Arkana yang sedang duduk manis di ruang keluarga.


"Itu calon istrimu, udah nyetel alarm dari pagi tapi sampai siang gini belum juga bangun, mana alarmnya berisik sama kayak orangnya. Haduh, tante pusing gimana bangunin tuh anak. Apa dia pingsan atau udah nggak bernapas kali ya di dalam" Alisha terus mengoceh di samping Arkana.


"Huss tante apaan sih, masa anak sendiri dibilang udah nggak napas" protes Arkana yang tidak terima kalau calon istrinya dibilang sudah tidak bernapas, membayangkannya saja sudah membuat Arkana merinding.


 "Habisnya dia udah dibangunin sama alarm, tante udah ketuk pintunya berkali-kali, eh nggak ada sahutan sama sekali" keluh Alisha.


"Aku yang coba ya tante"


"Iya deh, kamu naik gih sana" Alisha terlihat pasrah sambil memijat pelipisnya.


"Aku nggak mau naik tante, aku mau coba telepon dia dulu" kata Arkana, ia mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja di depannya itu.


Ponsel Qania berdering dan nadanya khusus untuk panggilan Arkana saja, sontak hal tersebut membuat Qania langsung membuka matanya dan mencari ponselnya.


"Halo sayang, ada apa? Telepon sepagi ini?" ucap Qania dengan suara parau namun masih memejamkan matanya.


"Tuh kan tante, apa aku bilang" ucap Arkana berbisik pada Alisha.


"Hei anak pemalas, baru bangun kamu ya. Dari tadi alarm bunyi terus, mama ketuk pintu kamar kamu tapi nggak bangun juga, eh giliran Arkana telepon langsung bangun kamu ya" teriak Alisha.


"Sayang kenapa aku dengar suara mama ya di dekat kamu? Emang mama ngapain sepagi ini ke rumah kamu?" tanya Qania sambil mengucak kedua matanya.


"Hei gadis pemalas, cepat bangun sebelum mama nyuruh Arkana pulang"


"Appaaa?" Qania langsung tersentak kaget dan, "awwwhh" ringisnya, ia tidak sadar kalau ia sudah beradi di ujung tempat tidur dan ketika ia berbalik, ia langsung terjatuh di lantai.


Teriakan Qania terdengar sampai di lantai bawah, membuat Arkana panik namun tidak dengan Alisha.


"Rasain" umpat mamanya.


Qania bangkit sambil memegangi pinggangnya yang terasa sakit, ponsel yang ia pegang masih menampilkan panggilan yang masih terhubung.


“Sayang kamu di rumah aku?” Tanya Qania yang kembali duduk di tempat tidur.


“Iya sayang, ini aku udah mau pulang” jawab Arkana.


“Lah kok udah mau pulang. Kamu gimana sih, kan kita udah janjian mau keluar” protes Qania.


“Iya kita kan janjiannya jam sembilan, tapi sekarang udah jam sebelas ya aku harus pulang. Aku pikir kamu nggak jadi pergi, soalnya aku udah dua jam nungguin kamu” ucap Arkana ketus namun ia sebenarnya sedang  menahan tawa.


“APPAAA..”Qania melirik ponselnya dan benar saja, saat ini waktu menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh.


“Hehe, maaf sayang” ucap Qania cengengesan.


“Ya sudah sekarang kamu mandi, ganti baju, aku tungguin tapi nggak pake lama. Nanti kita makan di luar” tanpa menunggu jawaban dari Qania, Arkana langsung memutus panggilannya.


“Ih rese deh” keluh Qania.

__ADS_1


Qania bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dan itu hanya berlangsung selama lima menit ia keluar dan sudah terlihat segar. Ia segera mengganti pakaiannya dengan kaos biasa, celana panjang dan juga jaket sebagai luarannya.


Pagi ini sebenarnya ia akan pergi ke kampus karena akan mengurus pendaftaran KKN, namun apalah daya jika bantal enggan berpisah dengan kepala sehingga ia kesiangan.


“Yuk pergi” ajak Qania yang masih menuruni anak tangga.


“Sayang, kamu mandi?” Tanya Arkana kebingungan karena rasanya baru sepuluh menit ia memutus panggilan telepon tadi, eh Qania sudah terlihat rapih.


“Ya mandi lah” jawab Qania sambil berjalan ke arah Arkana dan mamanya.


“Kok cepat sekali ya?” Arkana menyeringai.


“Ih apaan sih, aku mandi lah. Emang mandi itu butuh waktu berapa lama sih. Orang Cuma nyiram badan, gosok gigi, pakai sabun, shampoo terus bilas, kan udah selesai” ucap Qania dengan wajah kesal.


“Iya juga ya” Arkana mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Ya udah yuk pergi, aku udah telat nih” ajak Qania sambil menarik lengan Arkana yang masih duduk sementara ia tetap berdiri.


“Bukan salah Arkana kalau kamu telat, dia udah dua jam nungguin kamu. Mana Cuma sendirian lagiu dia nungguinnya” Alisha kembali mengomeli anak gadisnya itu.


“Oke aku minta maaf, ya udah yuk pergi” Qania menarik paksa Arkana.


“Pamit dulu ya tan, Assalamu’alaikum” Arkana sudah tidak sempat bersaliman dengan Alisha karena Qania sudah menariknya untuk pergi.


“Iya, hati-hati. Wa’alaikum salam” jawab Alisha sambil geleng-geleng kepala.


“Naik motor?” Tanya Qania saat sampai di depan rumahnya.


“Iya, soalnya ada yang protes nggak bisa meluk kalau naik mobil” sindir Arkana, menahan tawanya.


“Apaan sih kamu. Ya udah ayo pergi” ajak Qania sangat buru-buru sekali.


“Iya ayo” Arkana pasrah, kemudian menaiki motornya di susul oleh Qania.


Motor Arkana meninggalkan rumah Qania, menyusuri jalan dan akhirnya sampai ke kampus Qania yang terlihat cukup ramai.


“Bukannya lagi libur kuliah ya?” Tanya Arkana saat mereka berjalan menuju ruangan dosen Qania.


“Iya, Cuma angkatan kami tahun ini udah mau KKN jadi pada ngumpul di kampus karena ada pengumuman tentang pendaftaran KKN. Selain  itu ada juga yang lagi ngurus ujian akhir karena nggak lama lagi akan diadakan wisudah” jawab Qania menjelaskan.


“Nanti kita lihat di pengumuman, semoga aja nggak jauh-jauh dari kota ini”


“Semoga” sambung Arkana, ia sebenarnya tidak mau jika Qania pergi jauh. Ingatan tentang Qania yang ketinggalan di penginapan tempo hari membuat Arkana semakin khawatir dan juga tidak ingin berjauhan.


“Kan Cuma dua bulan sayang” hibur Qania yang menyadari keresahan di hati tunangannya itu.


“Aku tahu” jawab Arkana lemas.


“Kamu kok bisa tahu sih sayang?” Tanya Qania penasaran.


“Aku kan mahasiswa juga” jawab Arkana dengan santai.


Qania menghentikan langkahnya setelah mendengar penuturan Arkana barusan, ia menatap lekat mata Arkana dan Arkana pun melakukan hal yang sama.


“Kamu mahasiswa juga?” Tanya Qania tidak percaya.


“Hehe iya” jawab Arkana sambil menggaruk belakang kepalanya padahal tidak gatal.


“Ceritain” Qania menatap serius pada Arkana, ia tidak memperdulikan mahasiswa yang lewat sambil menatap heran padanya dan Arkana.


“Duduk di situ duly sayang” ajak Arkana sambil menarik lembut tangan Qania menuju bangku panjang di depan ruangan mereka berdiri.


“Sekarang jelasin ke aku” pinta Qania saat mereka sudah duduk berdua.


“Sebenarnya aku juga mahasiswa tapi di kampus STIE sana, aku satu tingkat di atas kamu dan aku tahu soal KKN karena aku udah selesai KKN. Aku bahkan sudah menyelesaikan ujian skripsi, tinggal tunggu jadwal yudisium. Maaf sayang, aku nggak cerita ke kamu. Tadinya aku mau buat kejutan sama kamu saat aku wisudah nanti, eh aku malah kecoplosan” cerita Arkana dan lagi-lagi Qania menatap tak percaya.


“Ada banyak hal yang belum aku ketahui tentang kamu” gumam Qania masih menatap Arkana yang sedang tersenyum padanya.


“Makanya aku kasih tahu” ucap Arkana dan membuat Qania menatap kesal kepadanya.


“Kamu hebat juga ya sayang. Aku pikir kamu Cuma anak motor yang tahunya balapan liar doang” cibir Qania.

__ADS_1


“Enak saja, terus siapa yang mau gantiin papa mengelola usahanya kalau aku nggak punya modal ilmu. Kalau modal tampang, aku tahu semua orang juga tahu aku ganteng. Tapi kalau ganteng tapi nggak ada ilmu, sia-sia dong” ucap Arkana dengan pedenya.


“Pede banget sih kamu. Tapi kamu benar, modal tampang doang nggak akan cukup. Aku bangga sama kamu” ucap Qania sambil menyandarkan kepalanya di bahu Arkana.


“Ya sudah, kamu mau di sini atau ke ruangan dosen kamu?” Tanya Arkana.


“Eh iya, aku lupa” ucap Qania yang kemudian bergegas berdiri.


Arkana mengikuti Qania yang berjalan menuju ruangan administrasi jurusannya. Kemudian Qania masuk sendiri dan Arkana memilih menunggu di luar sambil berbincang dengan Rey dan Yani yang kebetulan baru saja keluar dari ruangan itu.


“Permisi bu Silfi, saya mau nanya dong soal pendaftaran KKN?” ucap Qania dengan ramah pada staf administrasi jurusannya itu, keduanya memang sudah sangat akrab karena Silfi sangat senang bercerita alias curhat sama Qania kalau di kampus.


“Eh Qania, kamu paling telat nih datangnya hari ini. Untung saja ibu belum pulang” ucap bu Silfi sambil tersenyum manis pada Qania yang duduk di hadapannya ini.


“Aku kesiangan bu, hehe”


“Ya ampun anak gadis. Hmm, kalau soal KKN itu pendaftarannya mulai minggu depan dan KKNnya akan diadakan dua minggu lagi. Sebelum itu kamu harus urus dulu nilai-nilai kamu dan bertanya pada dosen wali jika ia mengizinkan kamu turun KKN atau kerja praktek dulu. Setelah itu kamu datang deh ke ibu buat ngambil formulirnya dan persyaratan KKN” jelas bu Silfi.


“Oh gitu ya bu. Oh iya, gimana nilai saya bu dari semester satu sampai enam?” Tanya Qania, padahal ia sudah tahu tentang nilai-nilainya.


“Aman terkendali. Sekarang kamu menghadap gih ke bu Lira, dosen wali kamu itu. Sepertinya dia masih di ruangannya, kamu bicarain sama dia. Kali aja dia nyuruh kamu kerja praktek dulu” saran bu Silfi.


“Oke bu, terima kasih. Aku ke ruangan bu Lira dulu” ucap Qania, kemudian meninggalkan bu Silfi yang kembali mengutak-atik keyboar computer di depannya itu.


“Gimana sayang?” Tanya Arkana ketika Qania sudah keluar dari ruangan tadi.


“Kita ke ruangan dosen wali aku dulu, tempatnya di depan kampus” jawab Qania kemudian menarik tangan Arkana.


Qania mengetuk pintu ruangan bu Lira dan bu Lira menyahuti dari dalam dan menyuruh Qania masuk. Dengan perlahan Qania membuka pintu, terlihat bu Lira yang sedang mengetik di computer yang ada di atas mejanya.


“Oh kamu Qania, silahkan duduk” ucap bu Lira mempersilahkan, ia juga tersenyum tipis.


Qania lalu duduk di hadapan bu Lira yang dibatasi meja kerja bu Lira itu, “terima kasih bu”.


“Ada apa Qania?” Tanya bu Lira sambil melepas kacamatanya.


“Begini bu, saya ingin mendiskusikan tentang KKN dan KP bu” jawab Qania sedikit gugup (KP itu Kerja Praktek ya, kalau jurusan keguruan biasanya disebut micro teaching atau turun PPL gitu, atau kalau yang lain biasa disebut magang).


“Oh itu, terus kamu maunya KP dulu atau KKN dulu?” Tanya bu Lira sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja.


“Saya juga bingung bu, menurut ibu baiknya yang mana ya bu?” Qania balik bertanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Emm, kamu daftar KKN saja. Saat ini daerah sekitar kota kita belum ada proyek besar jadi kamu KKN saja dulu. Siapa tahu nanti kamu selesai KKN sudah ada proyek” usul bu Lira.


“Benar juga sih bu”


“Ya sudah, kamu daftar saja dulu KKNnya. Oh iya bagaimana tentang proposal kamu?”


“Sudah siap sih bu, ibu kan pembimbing satu saya dan pak Mustakim pembimbing dua. Sejauh ini saya sudah diskusi juga sama pak Mustakim bu dan dia suka sama proposal saya juga. Waktu itu ada koreksi sedikit tapi sudah saya perbaiki. Tinggal saya perlihatkan ke ibu lagi” Qania menjelaskan dengan sangat semangat.


“Sebentar kirim ke email ibu, nanti ibu periksa. Kalau sudah oke, apa kamu siap maju ujian proposal minggu ini?” Tanya bu Lira.


“Saya sudah sangat siap bu. Saya menguasai materi itu dan semoga saja begitu, hehe” jawab Qania.


“Ya sudah, jangan lupa kirimi ibu dan pergilah ambil formulir KKN”


“Baik bu, saya permisi dulu”


“Iya”


Qania keluar dari ruangan bu Lira kemudian menghembuskan napas panjang, Arkana heran melihatnya namun ia langsung tanggap bahwa sang kekasih baru saja merasa lega.


“Gimana sayang?” Tanya Arkana.


“Aman sayang. Aku bakalan KKN dulu, pendaftarannya juga minggu depan. Pu;ang yuk, aku lapar” rengek Qania.


“OTW ayam bakar nih” goda Arkana.


“Ah kamu memang paling tahu sayang” ucap Qania sambil menggandeng mesra lengan Arkana, seolah takut jika kekasihnya itu hilang karena tidak tahu jalan pulang.


“Senang rasanya kamu selegket ini. Emang nggak malu dilihatin banyak mahasiswa?” Tanya Arkana mencoba menggoda Qania.

__ADS_1


“Nggak, biar mereka tahu kalau kamu itu kekasih Qania Salsabila Sanjaya, mahasiswi teknik sipil yang paling pintar” jawab Qania dengan bangganya, sementara Arana tertawa kemudian mengacak rambut Qania sambil berjalan ke arah parkiran.


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


__ADS_2