Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Pertolongan Ghaisan


__ADS_3

Rumah pak kadus nampak sangat ramai pagi menjelang siang ini, karena rencananya mala mini akan diadakan acara perpisahan dan tentunya mereka akan menyediakan hidangan untuk para warga sekitar yang ikut bergabung, termasuk guru-guru dari sekolah dasar dusun Suka Asrih yang mereka undang.


Saat para warga sibuk membantu menyiapkan acara, kesepuluh mahasiswa itu sekarang tengah berada di pos ronda untuk memasang peta dusun yang mereka buat dibantu oleh pak Oge. Setelah peta itu terpasang, mereka sibuk mengambil dokumentasi kemudian kembali ke rumah pak kadus.


“Sayang sekali disini nggak ada band buat nyanyi ntar malam” celetuk Baron.


“Kan ada gitar” sahut Abdi.


“Elo sih Qan, nggak minta Arkana buat bawain bandnya kesini” ujar Prayoga membuat Qania menatap kesal kepadanya.


“Hehehe, peace”,.


Qania hanya menghela napas kemudian pergi meninggalkan teman-temannya, ia memilih masuk ke dalam rumah dan mengecek apakah ada bahan yang kurang, karena ia yang mengatur bagian konsumsi.


Qania bergabung dengan ibu-ibu dan membantu mengiris bumbu, serta sesekali melempar candaan. Kebetulan Raka yang memegang kamera Qania datang ke dapur untuk minum, Qania langsung memintanya untuk mengambil foto mereka. Tanpa menolak sedikit pun, Raka langsung menuruti permintaan pencuri hatinya itu.


“Wah senangnya di foto” teriak ibu-ibu membuat Qania tertawa.


“Oke Raka, beberapa kali lagi ya” seru Qania.


“Qan, setahu gue biasanya orang minta di foto itu katanya sekali lagi ya, bukan beberapa kali lagi” ceplos Raka dan lagi-lagi membuat Qania tertawa.


‘Andai saja gue pemilik tawa itu’,.


Raka menuruti keinginan Qania, sampai ibu-ibu itu yang meminta untuk menyudahi acara foto-fotonya barulah Raka pamit untuk mengambil dokumentasi di luar.


“Nak Qania, sepertinya kita kekurangan bumbu, saya permisi dulu mau pergi ke warung buat beli” ucap bu Karni.


“Eh nggak usah bu, biar saya saja” cegah Qania.


“Eh nggak apa-apa nak?” Tanya bu Karni tidak enak hati.


“Santai bu, apa yang harus saya beli?” Tanya Qania sembari berdiri.


“Ketumbar sama mericanya dan jahe” jawab bu Karni.


“Oke bu, saya pamit dulu. Di warung bu Jejen kan?” Tanya Qania memastikan.


“Iya, ini uangnya” ucap bu Karni sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribu.


“Aduh bu uangnya disimpan saja, biar saya yang beli pakai uang saya. Lagian ini acara kami, ibu-ibu datang membantu saja saya sudah senang, jadi tidak perlu. Kalau begitu saya pamit dulu, Assalamu’alaikum” ucap Qania tersenyum kemudian berjalan keluar.


“Wa’alaikum salam” jawab ibu-ibu.


Saat qania berjalan keluar dari halaman rumah pak kadus, Baron mencegatnya.


“Mau kemana?” Tanya Baron.


“Ke warung bu Jejen, ada bumbu yang kurang” jawab Qania.


“Gue temani oke”,.


“Nggak, Cuma beberapa meter dari sini pakai ditemani segala. Kamu bantuin warga gih” tolak Qania.


“Tapi hati-hati ya” pesan Baron.


Qania mengangguk kemudian melangkah pergi sambil bersenandung.


“Bu Jejen” panggil Qania.


“Eh nak Qania, mau beli apa neng? Maaf ya ibu nggak bisa ikut bantuin soalnya lagi jaga warung” ucap bu Jejen tak enak hati.


“Santai bu, tapi jangan sampai nggak datang nanti malam ya”,.


“Pasti neng, ibu pasti datang” ucapnya bersemangat.


“Oh iya bu, ini Qania mau beli ketumbar, jahe sama merica, ada bu?” Tanya Qania.


“Oh ada neng, tunggu ya” bu Jejen pun langsung mengambil satu per satu yang disebutkan oleh Qania.


“Nah ini dia” ucap bu Jejen memberikan sebuah kantung plastic.


“Jadi berapa bu?” Tanya Qania sambil merogoh saku celananya.


“Tiga puluh ribu neng”,.


Qania tersenyum kemudian memberikan uang pecahan seratus ribu.


“Kembaliannya buat Indun saja bu, buat hadiah karena dia rajin belajar” ucap Qania.


“Wah terima kasih banyak neng” ucapnya bahagia.


“Sama-sama bu, Qania pamit dulu, Assalamu’alaikum”,.


“Wa’alaikum salam”,.


Baru saja beberapa langkah Qania meninggalkan warung bu Jejen, seseorang tiba-tiba saja membekap mulutnya dan membuat Qania tak sadarkan diri. Ia pun segera membawa masuk Qania kedalam mobilnya.


“Dek sini” panggilnya saat melihat dua nak kecil tengah berjalan ke warung bu Jejen.


“Iya om ada apa?” Tanya salah satunya.


“Tolong anterin ini ke rumah pak kadus dan katakana bahwa kak Qania sedang ada urusan bersama Arkana” ucapnya kemudian menyerahkan kantung plastik itu serta memberikan uang lima puluh ribu.

__ADS_1


“Baik om, terima kasih” ucap kedua anak itu sumringah.


Ia pun segera masuk ke mobil dan menjalankan mobilnya dengan wajah bahagia serta seringai licik di wajahnya.


“Habislah kau kali ini Qania, makanya jangan pernah menolak Arjuna Wilanata. Kau akan merasakan akibatnya” ucapnya menyeringai puas sambil menatap Qania yang duduk di sebelahnya.


Dia adalah Arjuna, tadi sewaktu ia sedang dalam perjalanan untuk kembali ke rumah ia tak sengaja melihat Qania tengah berjalan seorang diri. Ia memperhatikan Qania yang tengah berbelanja, ia sangat senang karena akhirnya kesempatan itu tiba dan ia pun segera meneteskan obat bius ke sapu tangannya yang memang sudah ia sediakan untuk menjebak Qania jika ia mendapat kesempatan.


*


*


Degg….


Arkana meremas dadanya yang tiba-tiba terasa sakit saat ia tengah menghadiri rapat dari para investor di hotel miliknya. Perasaannya jadi semakin gelisah saat wajah Qania melintas di pikirannya.


Keringat dingin menyucur di wajahnya, ada sesuatu yang menekan hatinya hingga ia tanpa sadar meneteskan air mata.


“Ka, kamu kenapa?” Tanya papanya berbisik.


“Nggak tahu pa, tiba-tiba perasaan Arka nggak enak” jawabnya sambil mencoba menenangkan pikirannya namun sulit.


“Sebaiknya kamu control dulu perasaanmu, kita sedang ada dalam rapat penting” pinta papanya.


“Baik pa”,.


‘Ya Allah, tolong jaga Qania. Semoga ini bukan firasat buruk, tolong jaga Qania ya Allah’,.


 


*


*


Cittttt……


Bughhhh…


“Aduh Yudis kenapa sih ngerem mendadak, jidat aku sakit nih” keluh Syifa.


Ghaisan tidak menjawab, ia hanya terdiam sambil melihat sosok yang sempat muncul di depan mobilnya itu, ia kemudian memicingkan mata namun sosok itu sudah tidak ada lagi.


“Yudis” panggil Syifa.


“Eh iya sayang, kenapa?” Tanya Ghaisan tersadar.


“Kamu kenapa ngerem mendadak?” Tanya Syifa sambil mengelus dahinya.


“Ih”,.


“Maaf sayang, mana yang sakit?” Ghaisan berbalik menghadap ke Syifa.


“Ini dahiku” jawabnya.


Cup…


“Udah nggak sakit kan?” Tanya Ghaisan sambil menyeringai puas saat melihat wajah Syifa yang sudah memerah karena malu.


“Hmmm” jawabnya malu-malu.


‘Ada apa dek?’ batin Ghaisan, ia kemudian kembali menjalankan mobilnya.


Ghaisan kembali melanjutkan perjalanannya, ia membawa Syifa ke rumah buk Jum untuk mengunjungi makam dua wanita yang sudah ia anggap sebagai keluarganya itu dan juga akan masuk ke hutan dimana markas mereka berada untuk memberitahukan perihal undangan pernikahannya.


Ghasain menoleh ke rumah pak kadus yang nampak sangat ramai, ia berniat turun untuk menyapa namun ia urungkan karena tadi teringat sosok Melia yang menatap sendu ke arahnya.


Tak butuh waktu lama Ghaisan dan Syifa sudah sampai di rumah milik bu Jum, ia kaget saat melihat sebuah mobil tengah terparkir di halaman rumah itu.


Ia pun turun, namun ia meminta Syifa untuk tinggal dulu di dalam mobil karena ia ingin memeriksa terlebih dahulu keadaan rumah tersebut.


“TOLOOOONGGG”,.


Ghaisan terperanjat kaget saat mendengar teriakan orang meminta tolong dari dalam rumah, ia semakin waspada saat mendekati pintu rumah tersebut.


“TOLOOONGG, ku mohon jangan, hiksss”,.


“Inilah akibatnya jika menolakku, mari kita nikmati bersama sayang. Ini nggak akan sakit kok, aku akan bermain lembut denganmu”,.


Ghaisan terperanjat mendengar percakapan orang dari dalam rumah itu, ditambah suara tangis yang tiba-tiba saja membuat dadanya bergemuruh.


“Jangan ku mohon jangan”,.


Ghaisan yang geram langsung saja membuka pintu rumah yang tidak terkunci itu, ia mencoba mencari asal suara dari kamar yang mana.


“Hikss jangan sentuh aku, pergi kamu pergi, ku mohon jangan”,.


“Jangan membuatku kesal Qania, kau tinggal menurut dan menikmati saja apa susahnya sih” bentaknya.


Degg..


Hati Ghaisan semakin gelisah saat mendengar nama gadis yang pertama kali berhasil memporak-porandakan hatinya.


Ghaisan melangkah dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara, ia mendapati kamar milik Melia yang sedikit terbuka membuatnya memiliki cela untuk mengintip.

__ADS_1


Braaakkkk…


Ghaisan tidak bia menahan amarahnya begitu melihat gadis yang memiliki tempat di hatinya itu tengah menangis ketakutan dan juga tubuhnya gemetar hebat yang tengah berada di bawah kunkungan seorang pria berbadan atletis dan tentu saja lebih besar dari Qania. Ghaisan menendang pintu kamar tersebut membuat Qania dan Arjuna menoleh ke arahnya.


“Bangsat, siapa kau beraninya masuk ke rumah ini” bentak Arjuna sangat geram saat melihat Ghaisan tengah berdiri menatap nyalang ke arahnya dengan kedua tangannya terkepal. Ia bangun dan turun dari tempat tidur untuk member pelajaran kepada pria yang sudah merusak kesenangannya itu


“Ghai tolong aku” lirih Qania dengan wajah yang sudah dibasahi oleh air mata, bibir Qania gemetar saat menatap penuh permohonan kepada Ghaisan. Dalam hati Qania sangat bersyukur karena ada yang datang menolongnya dan itu adalah Ghaisan, orang yang dianggapnya sebagai hero.


“Bangsat, keparat” maki Ghaisan kemudian maju dan menendang perut Juna.


Juna terunsungkur hingga punggungnya membentur tembok kamar.


“Beraninya kau melakukan itu pada Qania, cari mati kau hah” bentak Ghaisan yang sudah hilang kendali.


“Bukan urusanmu bangsat” maki Juna kemudian maju dan menyerang Ghaisan.


Juna yang ahli dalam bela diri tidak membuat Ghaisan takut karena ia seorang militer yang tentu saja mengusai banyak ilmu bela diri.


Bughhh…


Plakkk…


Keduanya saling memukul dan menendang di hadapan Qania membuat Qania semakin gemetar ketakutan.


Juna dengan membabi buta menyerang Ghaisan namun lagi-lagi Ghaisan bisa menghindar dari serangan Juna dan membalas pukulannya. Ghaisan sedikit kualahan karena gerakan Juna yang begitu gesit, beberapa kali ia juga harus terkena pukulan dan tendangan Juna namun Juna lebih banyak mendapatkan luka lebam di wajahnya.


Wajah ketakutan Qania terus terbayang di benak Ghaisan sehingga emosinya bertambah berkali-kali lipat. Ia kehilangan control saat tidak sengaja melihat kaos Qania yang sudah sobek di bagian lengannya.


Buggghhh…


Satu bogeman mendarat tepat di hidung Juna membuatnya merasa pusing dan terhuyung kebelakang. Darah mengalir dari hidung Juna, membuatnya menggerak-gerakkan kepalanya agar pandangannya yang mulai memburam kembali jernih.


Bughhhhh….


Ghaisan tersungkur hingga jatuh di atas tempat tidur tepat di depan Qania.


“Siapa kau? Kenapa kau menyerang Juna?” Tanya Denis dengan suara yang begitu lantang setelah menendang punggung Ghaisan.


Ghaisan bangun dan menoleh ke belakang, ia tersenyum kecut saat melihat Denis yang sudah siap menghajarnya.


“Baru saja Ghaisan ingin melayangkan tendangan ke arah Denis, satu tendangan kembali dilayangkan dari arah belakang membuat Ghaisan jatuh tengkurap di lantai.


“Tolong jangan sakiti Ghaisan” teriak Qania dengan tangis yang semakin menjadi.


“Semakin kau takut semakin membuatku merasa bersemangat menyakitinya Qania” ucap Juna kemudian menjambak rambut Ghaisan yang masih terbaring di lantai.


“Tolong Juna, jangan sakiti dia”,.


“DIAAAAM brengsek” bentaknya membuat Qania tersentak.


Ghaisan hampir saja kehilangan kesadarannya karena mendapat pukulan bertubi-tubi dari Juna dan Denis. Denis menjadi kalap saat melihat darah keluar dari hidung Juna dan itu membuatnya merasa terluka sebagai seorang sahabat.


“Denis ku kira kau tidak sama seperti Juna, tapi ternyata kalian sama saja” bentak Qania, ia mencoba mengumpulkan keberaniannya saat melihat Ghasian sudah tidak lagi bergerak.


“Qania?” Denis tersentak begitu melihat ternyata ada Qania di dalam kamar tersebut.


“Iya ini aku” hardik Qania.


“Sejak kapan kau..”,.


“Hahaha, kau memang tidak melihatku atau kau pura-pura tidak melihatku Denis?” ejek Qania.


“Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Denis kebingungan.


“Kau tidak lihat bajuku yang sobek ini? Apa mungkin aku datang kesini untuk menemui Juna dan menyerahkan diriku untuk disetubuhinya?” cibir Qania membuat Denis terbelalak.


‘Aku Qania Salsabila, aku kuat dan aku berani. Ghaisan maafkan aku sudah membuatmu dua kali terluka karena ku’,.


“Apa yang kau lakukan padanya Juna” bentak Denis sambil menarik kerah baju Juna dan membawanya berdiri.


“Jawab” bentak Denis lagi.


“Hahaha, berpura-pura lah kalian saling membentak karena aku tidak akan percaya dengan sandiwara kalian” ejek Qania dengan sorot mata dan senyum meremehkan.


“Gue sumpah nggak tahu Qania” cicit Denis.


‘Aku tahu Denis, tapi maafkan aku jika saat ini emosimu ku permainkan’,.


“Elo lihat seorang gadis datang ke tempat pria dan berada di dalam kamar berdua, lo pikir aja sendiri mau ngapain?” ucap Juna mencoba menyudutkan Qania.


“Hahaha, Juna, Arjuna Wilanata yang terhormat. Anda bukannya tahu kalau saya selama ini menolak anda bahkan saya tidak pernah sedikitpun menanggapi anda. Lalu atas dasar apa anda mengatakan bahwa saya mendatangi anda, sangat ironi” cibir Qania sambil berjalan mendekati Juna dan Denis.


Denis menghempaskan kerah baju Juna dengan kasar, ia merasa sudah gagal mengawasi Juna yang akhirnya berakibat seperti ini. Ia bahkan sudah turut membantu Juna melakukan kejahatan dengan ikut memukuli orang yang datang untuk menolong Qania.


‘Bangun Ghai, aku tahu kamu ,masih sadar dan masih kuat. Aku akan berusaha mengulur waktu, aku yakin kamu pasti nggak akan ngebiarin aku kenapa-napa. Bangun Ghai, jadi lah suami pura-puraku untuk yang kedua kalinya’ rintih Qania dalam hati.


Qania tersenyum tipis saat melihat tubuh Ghaisan mulai bergerak, ia tahu Ghaisan bukanlah orang yang mudah tumbang.


 


...****...


... ...

__ADS_1


__ADS_2