
Apa-apa?! Tidak mungkin Revan mengkhianati kami. Apa-apaan dia ini! Umpat Pak Handoko dalam hati.
Tuan Alvindo terlihat gusar, bagaimana bisa ini terjadi dan ini menurutnya hanya sebuah kesalahan teknis. Mungkin ia salah dengar, iya mungkin saja hanya salah dengar, pikirnya.
Tuan Alvindo pun melirik Pak Handoko dengan lirikan mematikan membuat Pak Handoko menciut. Tatapan itu mengisyaratkan sebuah pertanyaan dengan kemarahan padanya.
Pak Handoko bertanya-tanya dalam hati mengapa asisten Revan yang begitu ia percaya bisa mengkhianatinya.
Awas saja kau Handoko. Kau yang menyuruhku untuk menyerahkan mereka pada asisten kepercayaanmu tapi ternyata dia berkhianat dan kemungkinan terburuk justru dia pun menjadi orang yang akan menjobloskanku ke dalam penjara. Batin tuan Alvindo.
Hakim pun meminta asisten Revan dan dua orang yang datang bersamanya untuk mengambil tempat dan mempersilahkan asisten Revan untuk melanjutkan ucapannya.
“Terima kasih untuk kesempatannya yang mulia. Saya datang ke tempat ini awalnya untuk membantu pihak tergugat karena pada awalnya saya mengetahui mereka adalah korban sebenarnya. Pikir saya, tidak mungkin dua orang hebat ini yang sangat disegani dan dielu-elukan mampu berbuat hal seburuk itu. Tapi itu pada awalnya sebelum saya mengetahui kebenaran bahwa mereka jugalah ah tidak hanya bos saya saja yaitu Pak Handoko yang terhormat juga pun menjadi dalang dari kematian kakak saya, asisten kepercayaannya dulu yang mengabdi dengan setia kepadanya justru ia renggut nyawanya dengan sadisnya. Saya datang sekaligus untuk menambah tuntutan atas kematian kakak saya,” ucap asisten Revan panjang lebar dengan perasaan yang bergemuruh. Ia mengepalkan tangannya menahan emosi, sangat ingin ia hajar wajah pria yang sangat ia hormati di hari kemarin.
Pak Handoko terbelalak kaget, ia tidak menyangka bahwa mantan asistennya itu merupakan kakak dari asistennya saat ini. Ia pun lebih tidak percaya lagi bahwa kematian mantan asistennya pun meninggalkan jejak padahal sudah sedemikian rapih ia simpan kejadian itu.
“Apakah itu benar, Handoko?”
Tuan Alvindo menatap tajam Pak Handoko. Ia benar-benar tidak percaya bahwa asisten Sudirman mati ditangan Pak Handoko. Ia sangat mengenal pria yang begitu setia pada rekan bisnisnya itu.
Pak Handoko tergagap dan itu langsung membuat tuan Alvindo berdecih.
“Ternyata selama ini aku berbisnis dengan pria selicik dirimu,” ucap sarkas tuan Alvindo yang membuat Pak Handoko menelan ludah dengan susah payah.
“Apakah Anda memiliki bukti atas kejadian itu? Dan orang-orang yang datang bersama Anda ini ada hubungan apa dengan kasus ini?” tanya Hakim.
Asisten Revan pun menjawab dengan lantang. Ia menyerahkan bukti dari ponselnya dan juga mengatakan bahwa Pak Jayadi dan Pak Nizar yang datang bersamanya adalah korban dari kejahatan mereka.
“Baiklah, karena adanya laporan dan bukti yang baru maka sidang hari ini kami pending guna mengusut kebenaran dari kasus ini dan untuk hasil sidang akan diumumkan pada hari Jum’at pukul sembilan pagi.”
Hakim mengetuk palu tiga kali dan sidang hari ini pun usai. Pak Handoko dan Pak Nizar dibawa kembali ke lapas sementara tuan Alvindo dan pengacaranya bergegas pergi agar tidak berpapasan dengan keluarga Setya Wijaya dan rekannya.
Qania mengejar asisten Revan. Ia sangat penasaran dengan kejadian ini. Sebelum menceritakan kejadiannya, asisten Revan terlebih dulu menghela napas dan menatap penuh rasa bersalah pada Qania.
Flash back On ....
“Hahahaha ... jadi seperti ini cara mainmu asisten Revan. Menculik dan mengikatku di sini lalu kau ingin mendapatkan apa dariku?” ejek Pak Herman yang tengah duduk di sebuah bangku dengan tangan dan kaki yang terikat.
“Saya rasa Anda sudah tahu kenapa sampai Anda berada disini dengan kondisi seperti ini,” hardik asisten Revan.
__ADS_1
“Apakah ini tentang saya yang ternyata ketahuan sebagai seorang mata-mata?” tanya Pak Herman namun dengan masih terkekeh.
Asisten Revan geram, Pak Herman seolah-olah tidak takut dan terus mengejeknya. Dengan brutal ia memukuli wajah Pak Herman hingga babak belur.
“Pukul saja. Bunuh saja saya asisten Revan. Dan jika saya mati maka tidak akan ada yang menjadi saksi atas kematian asisten Sudirman, kakak Anda bukan?”
Asisten Revan terkejut mendengar ucapan Pak Herman yang mengetahui tentang keluarganya.
“Kau bicara apa brengsek?!”
“Hahaha. Santai Bro. Saya tahu dan saya pun memiliki bukti atas apa yang menjadi penyebab kematian Kakakmu itu. Jangan pikir saya tidak tahu jika kau bekerja menjadi seorang asisten pun untuk mencari tahu kebenaran tentang kakakmu. Hahahaha, lucu sekali. Orang yang selama ini kau cari itu sudah berada di dekatmu dan bahkan kau mengabdi sebagai kacung setianya,” ledek Pak Herman.
“Tutup mulutmu bajingan! Aku tahu kau sedang berbicara omong kosong,” bentak asisten Revan namun dalam hati ia pun penasaran.
“Tidak usah sok jual mahal. Aku sangat tahu dengan jelas bagaimana malam itu Pak Handoko menyewa seorang profesional untuk menyabotase mobil kakakmu. Bahkan aku merekamnya dan jika tidak percaya rekaman itu masih ada di laptopku meskipun itu kejadian sudah empat tahun berlalu.”
Pak Herman melihat asisten Revan terdiam. Ia bisa merasakan bahwa saat ini pria dihadapannya ini tengah bergelut dengan hati dan pikirannya. Ia sebenarnya merasa kasihan karena nasib mereka pun hampir sama. Jika ia kehilangan adiknya makan asisten Revan kehilangan kakaknya dan dengan orang yang sama pula.
“Malam itu aku bekerja lembur dan memang hanya tinggal aku saja. Pukul delapan malam aku baru saja keluar dari ruanganku dan berpapasan dengan asisten Sudirman. Beliau itu lebih ramah daripada dirimu sehingga kami cukup akrab meskipun dia adalah salah satu target balas dendamku pada awalnya.”
Empat tahun yang lalu ....
“Selamat malam asisten Dirman. Anda belum pulang?” sapa Pak Herman.
“Selamat malam juga Pak Herman. Ya tadinya saya sudah pulang namun Pak Handoko menelepon katanya tadi beliau melupakan dokumen penting di ruangannya sehingga saya harus kembali untuk mengambilkan dan mengantarkannya ke rumah Pak Handoko. Anda pun belum pulang?” jawab asisten Sudirman dan balik bertanya.
Pak Herman berjalan menuju ke mobilnya namun ia bergegas untuk bersembunyi karena melihat ada dua pria berbadan kekar dan satu orang berpakaian montir tengah berdiri di dekat mobil asisten Sudirman.
“Selamat malam Pak Handoko, kami sudah berada di parkiran kantor Anda dan sudah berada tepat di hadapan mobil asisten Anda,” ucap seorang pria yang bertubuh kekar di teleponnya.
“Baik. Kami sudah membawa seorang montir untuk merusah rem dan juga beberapa bagian lainnya.”
“Sedang dikerjakan Pak.”
“Sudah selesai. Imbalan kami jangan lupa.”
“Hahaha, baik Pak selamat malam.”
Panggilan berakhir dan mereka pun segera melakukan aksi tak terduga dengan menusuk perut montir tersebut hingga pria itu meregang nyawa di tempat itu juga dan mereka segera membawa mayatnya entah kemana.
Pak Herman yang berada begitu dekat dengan mobil asisten Sudirman tak bisa berkata apa-apa melihat kejadian tersebut dan untung saja ia masih sempat berpikir untuk merekam kejadian tersebut. Ia pun berlari ke ruang CCTV karena ia yakin bisa mendapatkan rekaman di parkiran tersebut. Ia harus lebih cepat dari kedua pria tadi.
Setelah ia menyalin rekamannya, ia hampir saja berpapasan dengan salah satu pria suruhan Pak Handoko. Untung saja ia bisa bersembunyi dan bergegas menuju ke mobilnya namun sayang asisten Sudirman justru sudah pergi lebih dulu.
__ADS_1
Ia mengejar ke arah rumah Pak Handoko dan ditengah jalan ia melihat kerumunan orang dan ternyata apa yang ia takutkan terjadi. Mobil asisten Sudirman mengalami kecelakaan dan ia pun bergegas membawa asisten Sudirman menuju ke rumah sakit.
Di ruang UGD ...
“Asisten Dirman bertahanlah. Aku akan membantumu menuntut mereka yang sudah mencelakaimu,” ucap gusar Pak Herman.
Asisten Sudirman tersenyum meski wajahnya berlumuran darah. “Aku sudah tahu ini akan terjadi,” ucapnya terjeda dan itu justru membuat Pak Herman terkejut.
“Aku melihat sendiri mereka merencanakan ini. Dan demi keselamatan adikku satu-satunya biarlah saya yang berkorban. Simpan baik-baik bukti yang ada di tanganmu itu. Dan semoga kamu tidak dalam bahaya. Bukankah sebagai seorang kakak kita pun akan melakukan hal yang sama seperti tujuanmu untuk adikmu Jorgi?”
“An-anda tahu saya?”
“Ya. Saya tahu,” jawab asisten Sudirman dengan lemah dan tetap tersenyum. “Ambil ini, di dalamnya ada bukti rekaman bagaimana mereka merencanakan pembunuhan pada Pak Angga dan juga keluarga Pak Jayadi. Ada file tentang kasus pencucian uang dan masih banyak lagi. Saya yakin suatu saat nanti akan datang keadilan untuk kita. Dan tolong Anda tetaplah bungkam sampai waktu itu tiba. Anggap saja malam ini kita tidak pernah berkomunikasi. Dan tolong, jika bertemu adikku katakan bahwa saya sangat menyayanginya.”
Ucapan itu berakhir beriringan dengan tertutupnya kedua mata asisten Sudirman dan juga bunyi alat yang berdenging.
Pak Herman berusaha memanggil nama asisten Sudirman dan juga dokter yang tadi menangani namun sayang Tuhan berkehendak lain.
Kembali pada asisten Revan dan Pak Herman ...
Asisten Revan menangis mendengar cerita tersebut. Ia pun melepaskan ikatan di tangan dan kaki Pak Herman.
“Besok mari kita ke pengadilan dan ikutlah memberikan keadilan untuk kakakmu,” ucap Pak Herman kemudian menepuk pundak asisten Revan untuk memberikannya kekuatan.
“Bagaimana dengan keluarga yang juga tengah di sandera?” tanya asisten Revan.
“Bawa bersama kita. Akan aku persiapkan semua bukti itu dan akan kita berikan ke pengadilan. Ini sudah pukul dua dini hari, istirahat saja dulu. Beberapa jam lagi kita akan kesana dan kau harus siap menjadi pembela kakakmu,” ucap Pak Herman selayaknya seorang kakak.
Flash back off ...
“Saya membenarkan ucapan kakak saya, akan datang keadilan untuk kami semua dan itu melalui kamu, Qania. Terima kasih banyak. Saya yakin kamulah pemenangnya. Untuk keluarga Pak Jayadi biarlah bersama saya karena cucunya pun sudah saya amankan bersama Pak Herman. Permisi,” ucap asisten Revan dengan nada suara yang begitu lesu.
Qania hanya mengangguk tak mengatakan apapun hingga asisten Revan pergi. Di belakangnya menyusul Papa Setya dan rombongan Pak Erlangga bersama Pak Herman.
“Qania, karena sidangnya aman dan akan diumumkan hari Jum’at maka hari Kamis kamu ujian meja,” ucap Pak Erlangga tiba-tiba.
__ADS_1
“Appa?!”
“Lebih cepat lebih baik. Ayo kita pulang dan persiapkan semuanya,” ucap Pak Erlangga tak menanggapi keterkejutan Qania sementara Papa Setya hanya tertawa melihat menantunya terbengang.