
Setelah makan malam dan bertugas membersihkan peralatan makan, Qania dan Raka kembali ke teras dimana teman-temannya sedang berkumpul sambil mengobrol. Terlihat Abdi yang tengah bermain gitar dan bernyanyi diikuti oleh yang lainnya.
“Di request lagu ya” ucap Qania yang baru datang dan langsung duduk di samping Prayoga.
“Lo yang nyanyi” sahut Abdi.
“Aku tahu kok, seperti biasa” ucap Qania sambil mengerucutkan bibirnya karena itulah kebiasaan Abdi tiap kali ia merequest lagu pasti Abdi memintanya menyanyi.
“Hahahahaha” Abdi hanya tertawa melihat Qania kesal.
“Gue suka melihat ekspresi lo kesal, menggemaskan” bisik Raka yang baru datang sambil duduk di sebelah Qania.
Qania menatap datar ke arah Raka, ia tidak tertarik menanggapi ucapan lelaki itu.
“Lagu Rindu ya Di” ucap Qania dan Abdi langsung mengangguk dan mulai memainkan gitarnya.
*Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu dihatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
Bintang malam sampaikan padanya
Aku ingin melukis sinarmu dihatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
Tahu kah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
Lagu rindu ini ku ciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
__ADS_1
Izinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan*
Disaat Qania tengah menghayati lagunya, disebelahnya Elin tengah diam mendengar karena teringat akan Fadly. Sudah beberapa hari di dusun ini ia melupakan kekasihnya itu akibat gombalan receh dari abang Yoga.
Berbeda dengan Raka yang saat ini tengah terbuai oleh suara merdu Qania, ia bahkan tidak menyadari bahwa lagu yang dinyanyikan oleh Qania merupakan ungkapan hatinya untuk sang kekasih.
Sementara Manda menatap tak suka pada Qania yang tengah bernyanyi itu, lagi-lagi ia dipukul mundur sebelum menyerang.
Prayoga dan Baron yang mengawasi gerak-gerik Manda berdecih melihat tatapan tidak suka Manda pada Qania. Mereka beralih pandang dan langsung ikut bernyanyi saat Manda tak sengaja melirik keduanya.
“Wah wah wah, suara kamu merdu juga ya Salsabila” puji Raka begitu Qania selesai bernyanyi.
“Qania aja” sungut Qania membuat Abdi tertawa.
“Gue mau Salsabila, itu kan juga nama elo” bantah Raka tak mau kalah, entah mengapa ia sangat menikmati momen kekesalan Qania.
“Terserah kamu aja deh” ucap Qania datar.
Witno merasa kesal karena Raka bisa dengan mudahnya dekat dan akrab dengan Qania sementara ia sangat sulit mendapatkan ruang bebas untuk mengobrol dengan gadis incarannya itu. Melihat Witno yang mengepalkan tangannya geram itu membuat Baron yang tak sengaja melihatnya langsung tersenyum tipis. Begitu pun dengan Abdi yang juga tidak sengaja melihatnya, ia sudah diberitahu oleh Prayoga dan Baron tentang rencana mereka mengawasi Witno dan Manda, ia pun turut menyetujui rencana tersebut.
‘Sepertinya kehadiran si gamer itu bisa membuat Witno kesulitan untuk mendekati Qania, tapi syukurlah kalau emang kayak gitu’ batin Baron.
“Guys gue masuk duluan, badan gue rasanya lelah banget” ucap Elin yang memutuskan untuk melanjutkan kegalauannya di dalam kamar.
“Oke” ucap mereka kompak.
“Mau abang pijitin beb?” Tanya Prayoga kembali menggoda Elin.
“Nggak, terima kasih” tolak Elin penuh penekanan membuat teman-temannya tertawa.
“Jangan galak-galang beb, entar kamu bucin sama abang” tambah Yoga.
“Awwwhh sakit Qan” ringis Prayoga karena mendapat cubitan di pinggangnya dari Qania.
“Makanya jangan usil” tegur Qania.
“Iya maaf” cicit Prayoga membuat Elin terkekeh.
Setelah Elin masuk, pak Oge dan pak Mirad datang untuk mengajak yang lainnya ronda keliling kampung. Abdi dan Baron yang sudah tahu hal itu sampai lupa memberitahukan teman-temannya.
“Maaf guys gue lupa ngasih tahu kalau di dusun ini biasanya ada ronda setiap tiga kali dalam seminggu. Kalian ada yang mau ikut nggak?” Tanya Abdi.
“Mau, gue mau” sahut Prayoga dan Banyu bersamaan.
__ADS_1
“Gue nggak mau ikut, gue kan cewek” celetuk Manda.
“Iya Manda, cewek enggak kok” seru Baron.
“Oh syukur deh, gue masuk dulu ya, yuk Qan” ajak Manda.
“Kamu duluan aja Manda” sahut Qania.
Manda pun langsung bergegas ke kamar karena ia juga sudah sangat letih.
“Ikhlas, Raka sama Witno gimana?” Tanya Abdi.
“Gue sih oke” sahut Raka dan Ikhlas hampir bersamaan.
“Gue ngikut” jawab Witno sok cool.
“Oke, jadi sebaiknya kita bagi kelompok ronda. Kita ka nada tujuh cowok dan rondanya tiap malam Senin, Rabu, dan Jumat jadi kita bagi tiga kelompok. gue sama Baron mala mini, tapi kalau ada yang mau ikutan juga boleh, biar besok aja kita bagi kelompoknya” ucap Abdi menjelaskan.
“Gue ikut deh” ucap Witno berusaha terlihat keren di depan Qania.
“Gue juga” ucap Prayoga dan Ikhlas bersamaan.
“Oke, jadi Raka dan Banyu jaga di rumah ya” ujar Abdi.
“Lah gue mau ikut Di” lirih Raka, ia sebenarnya sangat ingin ikut karena ingin mencari tempat yang ada signalnya agar bisa bermain game.
“Lo nanti aja, kita berangkat dulu” ucap Abdi sambil berjalan mengikuti pak Mirad dan pak Oge.
“Jaga rumah, aku mau masuk. Jangan kamu jual, ntar pak Jaja bisa bunuh kamu” ucap Qania ketus pada Raka yang tengah merengek untuk ikut tapi di tolak oleh Abdi.
“Biar gue aja yang jaga rumah, Raka aja yang mala mini” ucap Witno bersimpatik, padahal ia ingin mendekati Qania karena baginya saat ini ada ruang untuknya bisa mengakrabkan diri tanpa gangguan siapapun.
“Enggak Witno, dia itu Cuma alasan supaya bisa mencari tempat yang ada signalnya biar bisa main game” celetuk Ikhlas.
Wajah Raka yang tadinya senang menjadi datar kembali setelah mendengar ucapan sahabatnya itu.
“Kuy jalan” ajak Ikhlas pada yang lainnya.
“Sialan lo kartu As, joker, pamrih” umpat Raka saat mereka sudah berjalan meninggalkan halaman rumah pak kadus.
‘Syukur deh nggak jadi si Witno yang di rumah, dan sepertinya si Raka juga emang Cuma jahil aja sama si Qania dan nggak ada niatan buat menjadi orang ketiga. Mungkin dia galau karena nggak bisa main game sehingga Qania yang mudah kesal itu menjadi game baru baginya’ batin Abdi, ia merasa lega.
...***...
__ADS_1