Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Acara Wisudah


__ADS_3

Qania mondar-mandir di kamarnya sambil berbalas pesan dengan Arkana. Ia bingung bagaimana caranya agar Arkana bisa masuk sementara mama dan papanya malah asyik bercerita di teras samping rumah padahal sudah hampir tengah malam.


Di balik tembok pagar di belakang rumah Qania, Arkana pun juga sedang sibuk memikirkan cara bagaimana ia bisa masuk ke kamar Qania tanpa ada kesalahan. Arkana langsung mengotak-atik ponselnya dan langsung menelepon seseorang.


“Dek bisa tolongin kakak?” tanya Arkana ketika Syaquile menjawab teleponnya.


“Duh kakak, Syaquile baru aja mau savage kakak malah nelepon. Emang kakak mau minta tolong apa?” gerutunya.


“Kakak mau nginap di rumah kamu, kamu boleh tolongin kakak gak?”,.


“Oh mau nginap, tentu boleh. Apa yang harus aku lakukan kak?” tanya Syaquile antusias.


“Gini aja deh, kamu bilang aja kamu ada keperluan sama kakak ke mama, bujuk mama supaya dia mau ya dek, please” mohon Arkana membuat Syaqiule jadi tidak tega.


“Oke kak, sekarang aku bujuk mama” ucap Syaquile.


“Makasih dek, segera kabari kakak” ujar Arkana senang.


“Baik kak, aku matiin ya. Bye” Syaquile pun menutup panggilannya dan langsung bergegas mencari mamanya.


Saat syaquile akan mengetuk pintu kamar mamanya yang berada di ujung tak jauh dari kamarnya dan Qania, ia mendengar suara orang mengobrol dari arah tangga. Syaquile pun menoleh dan melihat mama dan papanya sedang berjalan menyusuri anak tangga.


“Papaaa” teriaknya membuat papa dan mamanya menoleh padanya.


Syaquile berlari menghampiri mama dan papanya yang baru saja sampai di lantai dua. Ia memeluk papanya kemudian melepaskannya sambil menatap penuh permohonan pada papanya.


“Ada apa?” tanya papanya tanggap.


“Pa, ka Arka ngeselin” ucapnya memulai aksinya.


“Arka ngeselin, kenapa?” tanya papanya.


“Dia udah janji malam ini mau nginap dan ngajarin aku main gitar tapi dari tadi aku tungguin dia nggak datang-datang” gerutunya memasang wajah sebal.


“Apa-apaan anak itu, belum jadi kakak ipar sudah berani mengikari janjinya” kesal papanya.


“Dia tidak ingkar janji, mama yang suruh dia tadi pulang” sela Alisha.


“Yah mama, lusa Syaquile ada ujian main gitar ma. Besok kan kakak wisudah dan udah nggak boleh ketemu sama kak Arka, jadi gimana nasib aku ma..” rengeknya sambil menggoyang-goyangkan lengan mamanya.


“Kenapa nggak ngomong dari tadi, kan kalau tahu gitu Arka mama minta Arka jangan pulang dulu” kesal mamanya.


“Tapi kasihan juga nak kalau kakak iparmu disuruh datang lagi, rumahnya jauh dan ini sudah tengah malam” tutur papanya.


“Kasihan kak Arka atau aku pa?” tanya Syaquile.


“Ya tentu kamu lah, papa nggak mau kamu nggak lulus ujian” jawab papanya kemudian mengambil ponsel di saku bajunya.


“Hallo Ka, ke rumah sekarang tidak pakai membantah” ucap Zafran dan lagi-lagi lansung mematikan teleponnya.


“Sudah beres dan sekarang kamu tungguin tuh kakak iparmu dan juga kalau bisa jangan lama supaya dia bisa segera pulang” ucap papanya sambil merangkul anak bungsunya itu.


“Nginap nggak boleh?” tanya Syaquile.


“Nggak boleh nak, apa kata tetangga nanti” sahut mamanya.


“Oke deh, aku turun dulu nungguin ka Arka” ucap Syaquile girang.


Syaquile bersenandung sambil menuruni anak tangga, sementara kedua orang tuanya langsung masuk ke kamar mereka. Tak lama kemudian Arkana datang namun dengan berjalan kaki dan langsung mengetuk pintu rumah setelah pak Roni membukakan pintu gerbangnya.


“Loh kok kakak jalan kaki? Motornya mana?” tanya Syaquile setelah membuka pintu rumahnya.


“Motor mogok, nggak jauh dari sini” jawab Arkana.


“Oh ya sudah, temani aku bermain gitar dan aku bakalan lolosin kakak ke dalam” ucap Syaquile.


Arkana langsung mengambil gitar kecil yang ada di sofa di sampingnya dan mulai memainkan gitarnya. Syaquile mengamati Arkana sambil ikutan bernyanyi. Dari lantai dua Zafran tersenyum senang karena Arkana tidak menolak keinginannya dan langsung datang begitu ia menyuruhnya dan yang lebih membuatnya senang adalah Arkana dengan sabar mengajari anak bungsunya tanpa emosi sedikit pun.


“Nah sudah selesai, kakak pulang dulu” ucap Arkana setelah Syaquile berhasil menyanyikan satu lagu dengan ia sendiri yang memainkan gitarnya.


“Kan aku emang udah pintar kak, lagian kenapa kakak pulang? Katanya mau nginap” tanya Syaquile heran.


“Nggak jadi, kakakmu lagi ngambek” jawab Arkana memasang tampang menyedihkan.


“Sabar kak, ya sudah sebaiknya kakak pulang saja dan pakai saja motorku. Besok kan aku libur karena mau nemanin kak Qania wisudahan” ucap Syaquile iba.


“Nggak usah, kakak ada yang jemput kok” tolak Arkana, “Kakak pamit ya, tolong kamu jagain Qania kalau kakak tidak ada. Jangan buat dia nangis dan bersedih, jagain dia seperti kakak jagain dia, janji ya”,.


“Pasti kak” sahut Syaquile.


Arkana pun berjalan keluar rumah dan tidak melihat pak Roni di posnya karena tadi pak Roni bilang ia akan berkeliling dulu bersama beberapa satpam di komplek itu. Setelah Syaquile menutup pintu, Arkana bergegas berputar arah dan langsung menuju ke tempat dimana ia biasa memanjat ke kamar Qania dengan kain.


Disana Qania sudah menunggu dan akhirnya ia tersenyum senang karena Arkana sudah datang dan sedang memanjat ke kamarnya.


“Huh, akhirnya” Arkana benapas lega setelah akhirnya ia berbaring di tempat tidur Qania bersama kekasihnya itu tentu saja.


“Capek?” tanya Qania sambil menempelkan kepalanya di dada Arkana yang tengan berbaring menyamping.


“Dikit, tapi demi kamu itu nggak ada apa-apanya kok sayang” gombal Arkana membuat Qania merona malu.


“Sayang” panggil Qania lembut.


“Iya sayang, ada apa?” tanya Arkana.

__ADS_1


“Entah mengapa aku selalu merindukanmu, tapi mala mini aku sangat-sangat merindukanmu. Aku ingin waktu berhenti saat ini juga. Aku tidak ingin berpisah denganmu, aku takut kita tidak bisa bertemu lagi, hikss” tangis Qania pecah, Arkana langsung mendekap erat tubuh Qania.


“Aku sudah disini dan aku tidak akan pernah berpisah denganmu. Kau boleh menghukumku atau membenciku jika aku meninggalkanmu, tapi aku ingin kau tetap mengingatku jika hal itu terjadi” ucap Arkana sambil menciumi puncak kepala Qania.


“Janji?”,.


“Aku janji. Malam ini kau tidak ingin makan sesuatu?” tanya Arkana menatap lekat mata Qania yang juga menatapnya.


“Tidak, aku hanya ingin bersamamu dan kalau bisa aku ingin memakanmu” jawab Qania.


“Jangan memancingku sayang” bisik Arkana membuat Qania merinding karena sudah salah bicara.


“I..itu tidak seperti yang kau pikirkan” elak Qania membuat Arkana menyeringai.


Qania bergidik ngeri melihat wajah Arkana yang menatapnya penuh nafsu. Qania langsung berbalik badan karena tidak ingin membuat Arkana semakin bernafsu padanya.


‘Tahan Arkana, tahan’ batin Arkana.


Lain halnya dengan Qania, ia sudah cukup kesal karena Arkana tidak menyentuhnya sama sekali padahal sudah jelas tadi Arkana sangat bernafsu padanya. Qania pun memutuskan untuk berbalik dan akhirnya ia kecewa karena Arkana sudah tertidur pulas disampingnya.


“Ini aku harus senang, ketawa tau kecewa karena Arkana tidak jadi menyentuhku” gumam Qania sambil tersenyum kecut.


“Ya sudahlah aku ikut tidur saja” imbuhnya kemudian memeluk Arkana dan bersandar di dada bidang Arkana itu.


Arkana membuka matanya ketika Qania sudah tertidur pulas. Ia menciumi puncak kepala Qania berulang kali hingga air matanya menetes.


“Maafkan aku sayang, aku sangat ingin menyentuhmu tapi aku takut menyakitimu” ucapnya.


Arkana terus memandangi wajah polos Qania yang tengah tertidur pulas dengan posisi mereka saling berpelukan.


“Aku berharap bisa bersamamu dan membangun rumah tangga kita bersama anak-anak kita nanti. Aku sangat berharap tapi entah mengapa aku merasa hal itu tidak akan terjadi. Malam ini aku sangat ingin tidur bersamamu dan aku harap setelah empat hari lagi kita akan tidur bersama seperti ini. Aku berharap melihatmu sebelum aku menutup mata dan tertidur dan kamu juga yang kulihat saat aku membuka mataku dari tidurku”,.


“Qania aku sangat mencintaimu, sangat dan bahkan tidak ada kata yang mampu mewakili perasaanku padamu. Jaga dirimu baik-baik sayang, aku akan selalu menjagamu” ucap Arkana kemudian ikut terlelap bersama Qania.


*


*


Qania merasa geli karena wajahnya terus diciumi oleh Arkana yang sudah bangun lebih awal darinya.


“Sayang, aku geli” ucap Qania dengan suara paraunya khas bangun tidur.


“Ayo bangun kita sholat subuh, aku bakalan jadi imammu” ajak Arkana.


Seolah mendapat hadiah triliunan Qania langsung terbangun dan bergegas mencuci mukanya dan mengambil air wudhu. Saat Qania keluar, ia melihat Arkana yang sudah mengatur tempat sholat mereka dan wajah Arkana sangat bercahaya membuat Qania terpaku.


“Mau lihatin aku aja atau mau sholat?” ledek Arkana membuat Qania salah tingkah.


“Pandangan dijaga sayang” tegur Arkana, Qania mendengus kesal.


“Mata ini milikku” ucap Qania namun Arkana hanya terkekeh dan langsung beriqhomah.


Keduanya pun melangsungkan sholat subuh dengan khidmat hingga selesai. Qania mencium tangan Arkana setelah mereka selesai sholat dan berdoa. Tiada hentinya senyum tersungging di bibir Qania dan matanya terus menatap Arkana tanpa berkedip.


“Aku tahu aku tampan tapi setidaknya jangan buat aku salah tingkah” ejek Arkana membuat Qania malu.


“Hehe, sayang selfie yuk” ajak Qania.


Arkana mengangguk dan Qania langsung mengambil ponselnya di tempat tidur. Mereka mengambil banyak sekali gambar hingga Arkana mengeluh karena kehabisan gaya. Qania tertawa dan langsung melepas mukenahnya dan melipatnya lalu meletakkan kembali di tempatnya.


“Sayang aku pergi, jaga dirimu dan rindukan aku jika sempat” ucap Arkana berpamitan, ia kemudian mengecup dahi Qania dan menghujani ciuman lagi di setiap inci wajah Qania. Keduanya berciuman cukup lama hingga akhirnya Arkana menyudahi ciuman mereka.


“Sayang aku mau lihat mama sama papa, aku bakalan kabarin kamu kalau udah waktunya kamu keluar. Dan jangan lupa datang ke acara wisudahanku” ucap Qania kemudian mencium seluruh wajah Arkana lalu memeluknya dengan erat.


 


*


*


Qania mengedarkan pandangannya mencari sosok yang ia tunggu sedari tadi. Bebapa saat lagi ia akan menyampaikan sambutan sebagai alumni terbaik kampus mereka namun Arkana belum juga datang.


“Mari kita sambut lulusan terbaik universitas kita sepanjang masa, Qania Salsabila Sanjaya” panggil mc.


Dengan malas Qania berjalan ke podium dan berdiri disana untuk memberika sambutan dan  wejangan untuk para junior yang turut hadir disana. Mama, papa dan Syaquile sangat bangga dengan prestasi Qania, ketiganya tersenyum bangga dari tempat duduk para wali.


Qania akhirnya tersenyum lega setelah melihat Arkana dengan napas yang terengah-engah sampai di pintu aula kampusnya itu. Arkana tersenyum padanya dan Qania pun membalasnya. Akhirnya sambutan dari Qania pun bisa ia berikan dengan baik dan banyak yang memberinya apresiasi karena nasihat dan juga prestasinya serta pengalaman yang sedikit ia ceritakan di podium itu.


Setelah turun dari podium dan acara selesai, Qania berjalan keluar untuk menemui Arkana sementara orang tua Qania dan Syaquile masih berada di dalam gedung karena banyak yang mengajak mereka mengobrol karena bagi mereka kesempatan langkah bisa bercengkrama dengan ketua dewan kabupaten mereka.


“Sayang” panggil Arkana yang sedang duduk di taman belakang aula.


Qania berjalan menghampiri Arkana dan langsung memeluknya.


“Sayang kenapa tanganmu begitu dingin, apa kau sakit?” tanya Qania saat ia merasa tangan Arkana begitu dingin di genggamannya.


“Aku tidak sakit kok, hanya kecapen saja. Butuh perjuangan untuk sampai kesini sayang dan maaf aku datang terlambat” jawab Arkana menyunggingkan senyuman mautnya membuat Qania terpesona.


“Sayang kita foto yuk, aku mau ambil hp dulu di dalam” ajak Qania.


“Sayang jangan terburu-buru aku masih ingin bersamamu disini. Oh ya selamat ya sayang kamu udah sarjana. Aku sayang banget sama kamu, maafkan aku selama ini sering buat kamu kesal, aku mencintaimu Qania Salsabila sarjana Teknik” ucap Arkana kemudian memeluk Qania.


“Oh ada gelar sudah ya dibelakangnya” kekeh Qania dan Arkana pun ikut tertawa.

__ADS_1


“Sayang kalau aku gagal jadi yang terbaik untukmu aku mohon jangan membenciku, dan jangan lupakan aku. Rindukan aku ya, karena aku akan sangat merindukanmu dan selalu akan merindukanmu” lirih Arkana.


“Sayang hei kau bicara apa, kenapa seperti itu hem? Memang kau ingin meninggalkanku?” tanya Qania menahan air matanya.


“Aku tidak tahu, tapi aku hanya ingin memintamu untuk mengingat dan merindukanku sayang” jawab Arkana menyeka air matanya.


“Kau ingin meninggalkanku?” tanya Qania terisak.


“Bukankah hari ini kita terakhir bertemu dan akan dipingit?” Arkana balik bertanya.


“Oh iya, aku sampai lupa. Sayang aku pasti akan sangat merindukanmu, aku tidak bisa jika tidak melihatmu sehari saja” rengek Qania.


“Bersabarlah. Oh ya, katanya mau selfie” alih Arkana sambil menyeka air mata yang membasahi pipi Qania.


“Oh iya sampai lupa, yuk masuk sayang” Qania menarik lengan Arkana namun Arkana tak bergeming.


“Aku masih lelah sayang, bisa kan kamu ambil ponselmu dan cepatlah kemari” pinta Arkana membuat Qania tertawa geli melihat wajah menggemaskan Arkana.


“Oke boss”,.


Qania bergegas masuk dan mengambil ponselnya yang ada di tasnya yang ia titipkan pada Syaquile.


“Kakak mau kemana?” tanya Syaquile.


“Mau foto sama Arkana” jawab Qania. “Oh iya dek, ayo temani kakak, kakak ingin meminta bantuanmu untuk memotret kakak bersama Arkana” ajak Qania.


“Dek tolong bantuin fotoin papa sama rector kakakmu” panggil papanya.


“Yah kak, papa panggil tuh” ucap Syaquile lesu.


“Ya sudah kamu fotoin papa dulu, baru kamu nyusul ke belakang ya” ucap Qania kemudian bergegas keluar.


Qania tersenyum pada Arkana yang tengah tersenyum padanya. Baru saja Qania akan menemui Arkana, ponselnya berdering.


“Rizal?” gumam Qania saat melihat nama penelepon.


Qania pun langsung menjawab telepon Rizal sambil membalas uluran tangan beberapa temannya yang juga wisudah bersamanya dari jurusan lain.


“Hallo Zal ada apa?” tanya Qania, “Terima kasih, selamat juga untukmu” ucap Qania membalas ucapan teman-temannya.


”Qan, lo cepetan ke rumah sakit. Arkana kecelakaan dan dia kritis” ucap Rizal dengan suara panik.


“Aduh Zal nggak lucu ah, orang Arkananya disini bersamaku” kekeh Qania.


“Gue nggak becanda Qan, lo sekarang kesini” ucap Rizal penuh penekanan.


“Zal Arkana ada disin….”,.


Prang….


Ponsel Qania terjatuh saat ia menoleh ke tempat Arkana duduk namun kekasihnya itu tidak berada disana. Perasaan Qania semakin tidak karuan karena Arkana tiba-tiba saja menghilang. Ia kembali teringat akan Arkana yang wajahnya agak berbeda tadi.


“Sayang kenapa tanganmu begitu dingin, apa kau sakit?”,.


“Sayang jangan terburu-buru aku masih ingin bersamamu disini. Oh ya selamat ya sayang kamu udah sarjana. Aku sayang banget sama kamu, maafkan aku selama ini sering buat kamu kesal, aku mencintaimu Qania Salsabila sarjana Teknik” ucap Arkana kemudian memeluk Qania.


“Oh ada gelar sudah ya dibelakangnya” kekeh Qania dan Arkana pun ikut tertawa.


“Sayang kalau aku gagal jadi yang terbaik untukmu aku mohon jangan membenciku, dan jangan lupakan aku. Rindukan aku ya, karena aku akan sangat merindukanmu dan selalu akan merindukanmu” lirih Arkana.


“Sayang hei kau bicara apa, kenapa seperti itu hem? Memang kau ingin meninggalkanku?” tanya Qania menahan air matanya.


“Aku tidak tahu, tapi aku hanya ingin memintamu untuk mengingat dan merindukanku sayang” jawab Arkana menyeka air matanya.


Percakapan mereka tadi tiba-tiba melintas diingatan Qania membuat tubuhnya gemetar.


“Hallo Qan, lo masih disana kan?”,.


“Hallo”,.


Qania terduduk lesu sambil menangis tersedu-sedu memeluk ponselnya. Kedua orang tuanya dan Syaquile yang baru saja keluar untuk menemuinya langsung kaget begitu melihat Qania sedang menangis di kelilingi banyak orang.


“Sayang kau kenapa nak?” tanya papanya panik.


“Pa, Arkana, pa, hiksss Arkana pa” tangisnya.


“Arkana kenapa nak?” tanya Zafran semakin khawatir.


“Anterin Qania ke rumah sakit sekarang pa, Arkana, dia, dia di rawat dan sekarang keadaannya kritis pa, hiksss” tangis Qania pecah.


Zafran dan Alisha tersentak mendengar ucapan Qania, begitu pun dengan adiknya.


“Bukannya tadi katamu Arka disini?” tanya mamanya bingung.


“Tolong anterin Qania pa” ucapnya sesenggukan.


Menyadari anaknya sedang terguncang, Zafran langsung menggendong Qania dan membawanya kje mobil dan langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit.


 


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima kasih sudah membaca 😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2