Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Rencana Elin (2)


__ADS_3

Elin dan Qania berjalan menuju pedagang jajanan keliling dan mulai memesan jajanan kesukaan mereka. Seperti biasa, mereka menghabiskan pagi di taman hanya untuk jajan dan bukan olah raga seperti yang lainnya. Saat Elin


hendak menambahkan saos tomat pada bungkusan plastiknya, tak sengaja ia menjipratkan saos itu ka bajunya yang berwarna putih itu.


“Ya ampun, ceroboh banget sih” ledek Qania.


“Hehehe, aku ke toilet dulu ya. Mau ngebersihin saosnya dulu, tungguin” ucap Elin kemudian pergi meninggalkan Qania, dan menitipkan jajanannya pada Qania yang sedang duduk di bangku taman.


Qania menikmati jajanannya dengan lahap, sambil melihat-lihat situasi taman, tanpa sadar ia teringat akan kisahnya di taman ini bersama Arkana. Tepat di bangku yang ia duduki dimana Arkana pertama kalinya meminta dirinya untuk menjadi pacarnya. Beberapa bulan yang lalu saat mereka balikan juga di bangku yang sama mereka bermesraan. Seolah film yang tengah diputar di hadapannya, seakan bayangan kenangannya bersama Arkana terlihat nyata, dimana ia tengah berlari-lari menikmati hujan bersama kekasihnya itu.


“Hei” sapa Ghaisan membuyarkan lamunan Qania.


“Eh Ghai” ucap Qania kaget.


“Mikirin apa?” Tanya Ghaisan.


“Nggak kok, oh ya Elin dimana?” Tanya Qania mengalihkan.


Wajar saja Qania mencarinya, karena sudah cukup lama ia pergi padahal pamitnya hanya ke toilet.


“Sudah pulang” jawab Ghaisan lalu meneguk air mineral dari botol.


“Appaaa?” Tanya Qania kaget.


“Katanya perutnya sakit, dia Cuma titip pesan ke saya buat disampaikan ke kamu” jelas Ghaisan.


“Awas saja dia ya, pergi nggak bilang-bilang ke aku. Padahal dia yang ngajak, eh malah dia yang pulang duluan” Qania mengomel.


“Kamu masih ingin disini atau ingin pulang?” Tanya Ghaisan.


“Kalau sudah kayak gini mah ya pulang tentunya” jawab Qania masih kesal.


Ghaisan terus memperhatikan ekspresi kesal Qania, hal yang paling disukai Arkana ternyata menjadi favoritnya juga saat ini.


“Dia nampak manis saat sedang kesal” batin Ghaisan.


Qania tidak memperhatikan tingkah Ghaisan yang diam-diam memperhatikannya, ia bersikap cuek dan langsung berdiri. Karena masih terus mengomeli Elin yang entah kemana, tanpa sadar Qania berjalan malah kea rah tanaman bunga, hingga kakinya tersandung batu yang ada di sekitar tanaman-tanaman itu.


“Awww” pekiknya.


“Hei kamu mau kemana sih?” Tanya Ghaisan yang melihat Qania terjatuh, wajar saja kakinya sakit karena ia tidak mengenakan sepatu melainkan sandal jepit.


“Mau pulang lah” jawab Qania kesal.


“Itu bukan jalan pulang” ucap Ghaisan menahan tawanya.


Qania melihat ke sekelilingnya, ia merasa malu karena salah jalan.

__ADS_1


“Awas saja kamu Lin” gumam Qania kemudian berusaha berdiri.


Ghaisan dengan sigap langsung menangkap tubuh Qania yang hampir jatuh lagi karena berusaha berdiri. Ia memapah Qania untuk kembali duduk di bangku tadi.


“Kakimu berdarah, jangan berjalan dulu” ucap Ghaisan yang duduk berjongkok di depan Qania sambil memegangi kaki putih mulus itu.


“Hei jangan seperti itu, kamu menyentuh kakiku. Aku jadi tidak enak” ucap Qania sambil berusaha melepaskan kakinya dari tangan Ghaisan.


Ghaisan mengerti jika Qania merasa tidak enak hati, ia pun langsung membersihkan luka Qania dengan air dari botolnya tadi, kemudian menyobek bajunya yang memang berbahan tipis dan mudah disobek. Ia membalut luka


Qania dengan potongan kaosnya.


Qania diam-diam mengamati perlakuan Ghaisan padanya, dalam hati ia terisak. Andai saja yang melakukan hal ini adalah Arkana, tapi sayangnya dia bukanlah Arkana.


“Toh kalau Arkana juga ada disini, pasti dia bakalan ngelakuin hal yang sama” batin Qania, ia tetap berpikir positif dan tidak mau membandingkan kekasihnya dengan orang lain. Baginya Arkana tetap nomor satu meskipun saat ini mereka sedang tidak baik-baik saja.


“Kamu sudah bisa jalan?” Tanya Ghaisan membuyarkan  lamunan Qania.


“Eh iya” jawab Qania.


“Saya perhatikan kamu ini selalu melamun” ungkap Ghaisan.


“Ah ya, saya memang suka melamun, hehehe” jawab Qania sambil tertawa garing.


“Ya sudah, ayo pulang” ajak Ghaisan.


“Banyak sekali yang menyukai kekasihku itu” ucap Arkana yang ternyata memperhatikan Qania dari kejauhan, ia merasa kesal namun ia juga masih enggan untuk mendekat karena melihat Qania sepertinya tidak mengharapkan


kehadirannya.


 ____________


 


Qania sampai di rumah berjalan sendirian, karena ditengah perjalanan tadi ia merasa risih disentuh oleh orang yang tidak memiliki hubungan dengannya. Hatinya seolah merasa bahwa dari kejauhan Arkana tengah memperhatikannya, oleh sebab itu ia meminta Ghaisan untuk tidak terlalu mengkhawatirkannya. Hatinya selalu ia jaga untuk Arkana seorang, meskipun ada ataupun tidak ada Arkana, Qania bersikap seolah Arkana sedang mengawasinya sehingga ia selalu menjaga jarak dengan orang lain terutama lawan jenisnya..


Qania masuk ke rumah dengan berjalan agak pincang, mamanya yang sedang menonton tv itu terkejut melihat keadaan Qania.


“Kamu kenapa?” Tanya mamanya yang kemudian memencet tombol merah pada remot tv.


“Tadi kesandung batu ma” jawab Qania yang ikut duduk bersama mamanya.


“Ya ampun, selalu saja ceroboh. Oh iya udah ketemu Arkana?” Tanya mamanya.


Qania menggeleng lemah, ia sangat merindukan pria itu namun orangnya entah berada dimana.


“Loh bukannya tadi dia nyusul kamu ke taman?” Tanya mamanya bingung.

__ADS_1


“Arkana ke taman ma?” Tanya Qania balik.


“Iya, tadi dia kesini nyariin kamu. Mama bilang kamu lagi ke taman jadi dia pamit buat nyusul kamu” cerita mamanya.


“Ya ampuun” Qania menepuk jidatnya, kemudian tanpa memperdulikan kakinya yang sakit ia berlari keluar dan terus menuju ke taman untuk mencari Arkana.


“Arkana pasti salah paham kalau dia lihat aku tadi sama Ghai” ucap Qania merasa bersalah.


Qania duduk di bangku taman yang sudah sepi itu, ia tidak menemukan Arkana disana. Air matanya menetes begitu saja saat membayangkan wajah Arkana.


“Mengapa takdir mempermainkanku seperti ini, aku begitu merindukannya tapi saat dia ingin menemuiku justru kami tidak dipertemukan” isak Qania sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“Mengapa juga aku begitu cengeng memikirkan pria menyebalkan itu?”.


Dalam tangisnya, Qania merasa seseorang sedang memegangi kakinya dan sepertinya sedang mengobati lukanya.


“Bagaimana bisa sampai berdarah lagi bahkan sebanyak ini hahh?” Tanya orang itu.


Qania menjatuhkan tangannya yang menutupi wajahnya untuk melihat siapa yang sedang memegangi kakinya.


“Sayaaang” panggil Qania saat melihat Arkana lah yang sedang mengobati lukanya.


“Dasar cengeng dan ceroboh” cibir Arkana yang kemudian ikut duduk bersama Qania.


“Menyebalkan” ketus Qania, kemudian memeluk Arkana dengan penuh kerinduan. “Aku merindukanmu” bisik Qania.


“Benarkah?” Tanya Arkana dengan mengangkat sebelah alisnya, membuat Qania melepaskan pelukannya dan menatap tajam pada Arkana.


“Sejak kapan kau bertanya seperti ini, biasanya kau selalu membalas perkataanku” Tanya Qania heran.


“Ya soalnya tadi aku lihat ada yang menggantikan posisiku di sampingmu, aku pikir kau sudah melupakanku” jawab Arkana sambil memalingkan wajahnya.


“Dasar cemburuan. Hei kamu, dimana pun dan dengan siapa pun aku, hanya kamu yang selalu ada di hati dan pikiranku” ungkap Qania juga ikut memalingkan wajahnya.


Arkana yang sebenarnya tahu isi hati Qania hanya tersenyum, ia sengaja ingin membuat Qania kesal dan pada akhirnya berujung kata romantis dari Qania. Arkana berbalik dan memeluk Qania dari belakang, membuat wajah


Qania merona, dan juga merasa senang.


“Entah mengapa aku selalu saja luluh padamu, menyebalkan” ucap Qania sebelum berbalik untuk membalas pelukan Arkana.


Arkana tersenyum, kemudian mengecup dahi Qania. Setelahnya ia membelai lembut wajah Qania dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.


“Aku sangat mencintaimu, jangan dekat-dekat dengan pria lain. Banyak yang mengincar kekasihku ini, jadi jagalah hati dan matamu” ucap Arkana kemudian memeluk lagi tubuh Qania.


Sementara Ghaisan kembali ke rumah dengan perasaan hancur saat melihat kemesraan Qania. Ia tadi melihat Qania berlari dan kakinya kembali berdarah, sehingga ia menyusulnya. Saat ia ingin mendekati Qania yang tengah


menangis, seorang pria datang yang tidak lain adalah Arkana.

__ADS_1


__ADS_2