Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Nyesek-Sek-Sek


__ADS_3

Mobil Marsya terparkir sempurna di parkiran hotel. Ia yang disupiri oleh supir pribadi Papa-nya pun turun dengan digandeng oleh sang Papa, tuan Alvindo. Para tamu yang juga baru saja datang langsung terpana melihat kecantikan Marsya yang malam ini begitu bersinar. Marsya tersenyum pada para tamu yang menyapanya sepanjang jalan masuk ke dalam hotel dan menuju ke ballroom hotel. Hotel megah yang akan menjadi saksi pertunangannya dengan pria yang teramat ia cintai. Beberapa awak media yang juga ingin meliput acara pertunangan pun tak hentinya mengambil gambar Marsya yang sedang berjalan bersama sang Ayah. Dibelakang mereka pun ada keluarga Marsya yaitu tante, paman dan sepupunya. Kerabat Marsya yang lainnya sudah ada yang lebih dulu sampai dan ada juga yang masih dalam perjalanan.



“Benar-benar beruntung pria yang mendapatkan putri tuan Alvindo, ia sangat cantik.”


“Benar. Aku saja ingin menjadi calon suaminya.”


“Halah, kalian tidak ada apa-apanya dengan calon tunangannya itu. Dia pria yang sangat tampan dan cerdas. Sangat pandai mengelola bisnis. Aku saja ingin menjadi calon istri Tristan.”


“Kalian berhentilah bermimpi. Sebaiknya kita masuk saja.”


Akhirnya perkumpulan tersebut menghentikan celotehan mereka dan langsung masuk mengikuti keluarga tuan Alvindo dan tamu-tamu yang lainnya.


Di dalam ruangan pun semua mata tertuju pada Marsya Alvindo. Tak ada yang tak terpesona dengan kecantikannya ini. Siapa yang tidak kenal seorang Marsya Alvindo yang dulunya adalah model dan kini sudah menjadi seorang pebisnis pakaian dan memiliki butik besar dan beberapa cabangnya.


Mereka terus saja membicarakan Marysa yang sudah duduk di sofa menunggu kedatangan Tristan. Ia sedikit resah karena tak mendapati Tristan di ruangan ini. Ia takut jika seandainya Tristan tak jadi datang dan meninggalkannya. Beberapa hari ini ia terus merasa takut akan ditinggal oleh Tristan.


“Kenapa Nak?” tanya tuan Alvindo.


“Aku gugup Pa,” kilah Marsya.


“Kau ini ada-ada saja. Jangan gugup lah. Dulu saja kau saat berlenggak-lenggok menjadi model tak ada rasa gugupnya. Masa hanya bertunangan dan memasangkan cincin kau sudah begitu gugup. Harusnya saat ini kau berbahagia sayang,” kekeh tuan Alvindo.


“Ih Papa. Memangnya Papa tidak takut aku akan diambil oleh Tristan? Papa akan sendirian dong.”


Kali ini giliran tuan Alvindo yang terdiam. Selama ini ia hanya sibuk dengan mengurus bisnis dan memikirkan kebahagiaan putri semata wayangnya. Ia lupa jika seorang putri suatu saat nanti akan meninggalkan Ayah dan Ibunya. Memikirkan hal tersebut membuat matanya menjadi berkaca-kaca.


Marsya menutup mulutnya dengan tangan saat melihat raut kesedihan di wajah Papa-nya. Ia pun tak kalah sedihnya dengan Papa-nya. Ia tentu tahu kalau ucapannya tadi sudah membuat sang Papa bersedih. Marsya pun memeluk erat Papa-nya. Disaksikan oleh para tamu dan juga keluarga Marsya. Tante Bendelina pun ikut mendekat. Ia bisa menebak apa yang Ayah dan anak ini tengah rasakan.


“Apakah hari bahagia ini sudah berubah menjadi hari berduka cita, hem?” ledek tante Bendelina, ia pun turut menghambur memeluk kakak dan keponakannya itu.


“Wah-wah, apakah seperti ini rasanya menjadi calon pengantin?” tanya Juliana yang memang belum mengerti tentang hal yang berbau pertunangan dan pernikahan.


Akhirnya mereka larut dalam perbincangan hingga akhirnya sorak para tamu undangan khususnya kaum hawa yang tengah mengagumi kehadiran seorang pria tampan mengalihkan fokus mereka.


Bibir Marsya menyunggingkan senyuman yang sangat manis dan juga ia bisa bernapas lega karena apa yang ia takutkan tak menjadi kenyataan. Ia sudah melihat pria yang dinantikannya sedang berjalan ke arahnya sambil membalas sapaan dari para tamu.


Ketampanan Tristan pun kini membuat Marsya seakan terhipnotis. Ia dapat melihat Tristan yang begitu tampan, namun bukan seperti yang orang-orang lihat saat ini. Dada Marsya berdegup kencang, membayangkan hari bahagia ini akan segera sampai, satu langkah mendekati langkah penutup.


“Selamat malam semua,” sapa Tristan pada keluarga calon tunangannya itu.


“Selamat malam juga Tristan,” balas mereka kecuali Marsya yang masih terpana akan ketampanan Tristan.


“Sya, are you okay?” tanya Tristan.


“Ah, ya. I’m okay. Hehe,” kekeh Marsya tersadar dari keterpanaannya.


“Ih jangan malu-maluin napa Kak,” bisik Juliana di telinga Marsya.


Marsya meringis mendengar ucapan adik sepupunya itu. Apa iya tadi ia sudah membuat mereka malu, pikir Marsya.


Juliana terkekeh melihat ekspresi wajah Marsya, ia berhasil membuat sepupunya itu malu saat ini.


Acara yang ditunggu-tunggu pun akhirnya akan segera dimulai karena calon tunangan sudah hadir di tempat yang tengah mereka sediakan.


“Baiklah hadirin sekalian, mari kita sambut pasangan yang berbahagia malam ini, Tristan Anggara dan Marsya Alvindo,” teriak mc.

__ADS_1


Marsya yang sudah digandeng oleh Tristan pun turun melangkah ke panggung yang sudah disiapkan untuk acara tukar cincin mereka.


“Benar-benar pasangan yang sangat serasi bukan. Yang satunya sangat cantik dan yang satunya lagi sangat tampan. Bukankah ini sama saja menjadi hari patah hati bagi kaum adam dan hawa yang memiliki keinginan untuk bersanding dengan pria tampan dan wanita cantik seperti mereka,” ucap mc tersebut yang mendapat sorakan dari para tamu.


“Baiklah, tanpa membuang masa lagi mari kita saksikan bersama acara tukar cincin mereka. Kepada kedua pasangan yang sedang berbahagia malam hari ini, dipersilahkan untuk melakukan ritual pertunangan. Eh ritual, hehehe. Tukar cincin maksudnya,” kekeh sang mc membuat heboh para tamu undangan.


Juliana yang bertugas membawakan cincin pertunangan itu melangkah anggun dengan senyuman yang tak pernah surut dari bibirnya. Ia membawakan cincin tersebut ke hadapan Tristan dan Marsya kemudian menggoda keduanya dan itu membuat Marsya tersipu tapi tidak dengan Tristan yang merasa saat ini seperti sedang diperhatikan oleh seseorang.


Mengapa gue seperti sedang diperhatikan ya? Tapi siapa yang sedang ngintai gue? Batin Tristan. Ia mengedarkan pandangannya namun tak mendapati apa-apa.


“Langsung saja kita persilahkan kepada keduanya untuk bertukar cincin. Kita mulai dari prianya dulu. Kepada Tristan Anggara kami persilahkan untuk menyematkan cincin di jari gadis cantik di depan anda. Eh salah, di samping Anda maksudnya, hehe.”


Tristan memantapkan hatinya dengan terus membatinkan bahwa ini hanyalah pertunangan saja. Ini bukanlah akhir dari perjuangan cintanya terhadap Qania. Toh, pertunangan belum akan mengikat hubungan yang sah. Setelah ini ia akan berusaha meluluhkan Qania dengan cara apapun juga. Bukankah ini juga adalah perintah yang bersifat ancaman dari wanita cantik tapi bermulut pedas dan sangat arogan itu, pikir Tristan.


Tepuk tangan yang meriah membuyarkan lamunan Tristan. Ia bahkan tak sadar bahwa cincin yang tadinya ada di dalam genggamannya sudah berpindah di jari Marsya hanya dalam sepersekian detik.


“Wah, aku merasa iri. Sang pria begitu terlihat mencintai wanitanya dan dengan tanpa adanya keraguan ia bahkan dengan cepat bisa menyematkan cincin tersebut. Huhh, jiwa jombloku meronta-ronta,” ucap mc yang satunya dan berjenis kelamin perempuan.


“Hahaha, itu sih derita lo ya,” ledek mc prianya. “Nah sekarang giliran wanitanya nih yang menyematkan cincin. Kepada nona cantik Marsya Alvindo, dipersilahkan untuk menyematkan cincin pada Tristan Anggara.”


Marsya sudah memegang cincinnya. Jantungnya kini berdebar kencang namun pandangannya tertuju pada wajah Tristan yang dalam pandangannya begitu berbeda. Ada keraguan dan juga kebahagiaan di raut wajahnya yang hanya ia sendiri yang mengetahui apa maksud dari tatapannya kepada Trisatan.


Satu menit berlalu namun Marsya belum juga menyematkan cincin tersebut. Tristan mengernyit. Ia heran dengan tatapan Marsya padanya.


“Sya, kamu baik-baik saja?” tanya Tristan membuat Marsya terkejut.


Cincin yang berada di genggaman Marsya pun terlempar karena Marsya tersentak dan tanpa sengaja menjatuhkan dengan keras cincin tersebut hingga akhirnya menggelinding di lantai. Semua mata menatap kemana perginya cincin itu dan dimana ia akan berhenti.


Takk …


Cincin tersebut berhenti di depan seorang wanita yang mengenakan gaun hitam bermotif bunga yang sedang berdiri sendiri di dekat jendela. Semua mata tertuju padanya yang kini tengah membungkuk untuk mengambil cincin tersebut



Gossip tentang wanita yang kini tengah berjalan untuk menghantarkan kembali cincin tersebut pun mulai terdengar.


“Gila, gue baru tahu ada gadis secantik dia. Udah ada yang punya belum ya? Gue mau dong jadi pacarnya.”


“Wah wanita itu sangat cantik. Aku pun sebagai seorang wanita tak bisa mengelak kalau aku begitu terpesona melihat kecantikannya.”


“Wah nona Marsya kalah cantiknya. Ini mah malaikat yang turun dari bumi.”


“Gayanya sederhana tapi kecantikannya terpampang dengan sempurna.”


“Kira-kira dia siapa ya?”


Begitulah kira-kira suara-suara yang memperbincangkan Qania saat ini. Ya, wanita itu adalah Qania. Setelah banyak berdebat dengan adiknya akhirnya ia pun turun langsung untuk menyaksikan pertunangan Tristan dan Marsya.


 


Flash back On …


 


“Kalau Kakak emang nggak ada rasa sama Tristan, aku tantangin Kakak buat hadir disana dan menyaksikan pertunangan mereka hingga selesai.” Ucap Syaquile.


“Ya Kakak nggak mau lah Dek. Yang ada bukan Kakak yang bakalan galau. Kakak takut Tristan gagal tunangan kalau Kakak ada disana,” tolak Qania.

__ADS_1


“Takut itu atau takut nyesek?” ledek Syaquile.


Dalam hati Qania pun membenarkan kedua perkataan Syaquile.


“Nggak Dek. Kakak hanya khawatir sama itu saja kok,” elak Qania.


“Ya udah kalau gitu Kakak datang kesana. Nggak usah menyapa, cukup lihat aja acaranya dan aku bakalan pantauin Kakak dari jarak beberapa meter. Nggak ada kata tidak,” ucap Syaquile tak mau dibantah.


Akhirnya setelah berdebat Qania pun menyetujui permintaan Syaquile.


Dan disinilah ia berdiri, menatap penuh sesak kepada dua pasangan yang kini tengah di kagumi oleh para tamu. Jauh sebelum Tristan datang Qania sudah berada disana. Menunggu kehadiran pria yang begitu mengganggu hati dan pikirannya . Hingga akhirnya Tristan datang dan membuat Qania kembali teringat akan pertunangannya dengan Arkana dulu. Ada air mata yang tiba-tiba menetes dari kedua mata Qania dan buru-buru ia menyekanya.


Sampai pada acara inti dimana Marsya dan Tristan diminta untuk bertukar cincin. Dada Qania terasa sesak melihat Tristan dengan mudahnya memasang cincin itu di jari Marsya. Padahal Qania mengira Tristan akan diam lama memikirkan dirinya dan juga pertunangan ini. Namun justru sebaliknya, Marsya lah yang terdiam hingga Qania merasa heran. Dan akhirnya cincin itu terjatuh menggelinding dan berhenti tepat di kakinya.


 


Flash back off …


 


 


Qania kini semakin dekat dengan kedua pasangan tersebut dan disana juga ada Juliana yang sedang terpana akan kecantikan alami dari wanita yang sedang membawa cincin pertunangan sepupunya.


“Wah dia sangat cantik,” gumam Juliana tanpa sadar.


Qania? Ini benar kamu Qan? Gue nggak lagi mimpi kan? Batin Tristan yang tak melepas tatapannya dari Qania.


A-apa? Bagaimana bisa ada dia disini? Apakah Tristan yang mengundangnya? Ya Tuhan, tolong jangan kacaukan pertunanganku malam ini. Aku tidak ingin acara pertunangan ini batal karena kehadiran Qania disini, rintih Marsya dalam hati.


Qania naik ke panggung kecil tersebut kemudian tersenyum kepada Marsya dan Tristan. Ia pun menyodorkan cincin tersebut kepada Marsya dan langsung diterima olehnya.


“Lain kali, aku tidak akan mengembalikan cincin ini padamu. Kau lihat sendiri bukan, cincin ini saja terjatuh dan datang dengan sendirinya padaku. Kau tahu itu tandanya apa bukan? Kau beruntung disini ada banyak tamu. Jika tidak, akan kubawa pergi suamiku dari sini,” bisik Qania di telinga Marsya.


Marsya memelototkan matanya mendengar bisikan Qania. Ia mengepalkan kedua tangannya sambil melihat Qania yang sudah berjalan meninggalkan ia, Tristan dan juga Juliana disana.


Baru saja Tristan akan melangkah pergi, namun Marsya dengan cepat mencegat tangannya.


“Jangan tinggalkan aku untuk malam ini, Tris,” lirih Marsya dengan kepalanya yang ia geleng-gelengkan pelan.


Tristan menghela napas, kemudian ia meminta kepada mc untuk melanjutkan acara. Bukankah lebih cepat acara ini berakhir maka ia bisa menemui Qania dengan segera, pikir Tristan.


Setelah mc melanjutkan kembali acaranya, Marsya pun langsung dengan secepat kilat memasangkan cincin tersebut di jari Tristan. Tepuk tangan meriah memenuhi ruangan tersebut. Juliana pun sudah kembali bergabung dengan kedua orang tuanya. Meninggalkan pasangan yang baru saja resmi bertunangan. Keduanya saat ini memang tersenyum manis kepada para tamu undangan. Tapi masing-masing dari mereka tentu saja sedang berpikir hal yang sama namun keinginan yang berbeda yaitu ingin menemui Qania namun akan membicarakan hal yang berbeda. Namun orang yang ingin mereka temui sudah tidak berada di tempat itu lagi.


“Gimana rasanya melihat suami Anda bertunangan dengan wanita lain?” ledek Syaquile yang kini sudah duduk di sofa bersama Kakaknya di kamar Qania.


“Nyesek-sek-sek,” jawab Qania mendramatisir.


Keduanya pun tertawa, namun hanya sebentar setelah itu mereka terdiam kembali.


“Sabar Kak. Aku rasa memang dia adalah jodohmu yang tertunda. Lihat saja bagaimana tadi Tuhan membuat drama cincin pertunangan itu. Bukankah itu pertanda Yang Maha Kuasa inginnya Kakak lah yang memasang cincin itu di jari Tristan? Eh Tristan atau Kak Arka ya?” kini Syaquile menjadi pusing sendiri.


Qania tersenyum penuh arti, Syaquile yang melihatnya bahkan cukup dibuat bergidik ngeri dengan senyuman indah nan menusuk itu.


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


Sebenarnya ini tuh bisa jadi tiga atau empat bab. Cuma aku gabungin biar nggak dikit-dikit amat perbabnya 🤭🤭🤭

__ADS_1


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


__ADS_2