
Kegiatan laporan pertanggung jawaban kelompok KKN sudah selesai dan hasil laporan paling memuaskan dan juga menjadi kelompok KKN terbaik jatuh pada kelompok Abdi di dusun Suka Asrih membuat mereka gembira ditambah lagi bu Lira mengajak mereka makan bersama di restoran.
Sebenarnya akan memakan waktu beberapa hari untuk melakukan sidang LPJ KKN, namun tim dosen sengaja membagi-bagi kelompok mereka di ruangan masing-masing dengan dosen yang berbeda-beda agar tidak memakan waktu lama mengingat beberapa hari lagi akan ada acara wisudah.
Bu Lira mengajak sepuluh mahasiswa dampingannya itu untuk makan siang di restoran dan memesan makanan mereka masing-masing sesuka hati. Mereka pun makan dengan dibarengi canda tawa dan kekonyolan serta gombalan-gombalan maut yang asih terus dilancarkan oleh Prayoga kepada Elin.
“Sepertinya ada cinta di posko KKN” ledek bu Lira membuat yang lainnya membenarkan ucapan bu Lira.
“Iya bu, si Banyu gaya batu jadian sama Manda” seru Ikhlas.
“Bentar lagi gue sama Elin, iya kan” sambar Prayoga sambil menatap Elin.
“Mimpi aja sana” ketus Elin membuat teman-teman mereka menertawakan Prayoga begitu pun dengan bu Lira.
“Tenang Yoga, ibu bisa lihat di mata Elin ada benih-benih cinta untukmu” ucap bu Lira membuat Qania, Yoga, Abdi dan Baron terkejut.
“Woah bu Lira ternyata bisa melawak juga” ucap Prayoga sambil bertepuk tangan sementara Qania, Abdi dan Baron ikut mengangguk membenarkan ucapan Prayoga.
Bu Lira tersenyum melihat ekspresi empat mahasiswa jurusannya itu.
“Emang menurut kalian selama ini ibu itu gimana?” Tanya bu Lira sambil tersenyum meledek.
“Dingin”,.
“Tegas”,.
“Serius”,.
“Perfect”,.
Ucap keempat mahasiswanya membuat bu Lira tertawa.
“Hahaha, lain kali kenali ibu saat di luar kampus juga supaya tahu ibu seperti apa” ujar bu Lira membuat keempat mahasiswanya tersenyum malu.
“Oh iya bu, teman-teman sekalian juga Elin mau ngundang besok acara nikahan kakakku yang tempo hari datang ke posko” ucap Elin mengalihkan pembicaraan.
“Mayor?” Tanya Raka, Banyu dan Witno bersamaan.
“Iya, datang ya. Ibu juga datang ya” imbuh Elin.
“So pasti, makan gratis kita” ucap Baron kegirangan membuat Abdi menoyor kepalanya.
“Giliran makan gratis lo laju bener deh” cibir Abdi.
“Gaya lo, persis nggak sama kayak gue” kesal Baron membuat Abdi tertawa.
“Qan, bareng gue ya” ucap Raka dan Witno bersamaan.
“Acieee” ledek mereka.
“Jangan, Qania sudah ada yang punya. Mau kalian dituntut ayah mertuanya yang merupakan pengacara hebat di kota kita ini?” cegah bu Lira sembari menyeringai membuat kedua pria itu menggeleng dnegan cepat.
“Bu, sejak kapan ibu tahu?” Tanya Qania kikuk.
“Sejak kapan ya? Emm, mungkin sejak viral video ada mahasiswa ibu yang diberi kejutan oleh pacarnya hanya untuk minta maaf di kampus dengan mawar putih yang begitu banyak” jawab bu Lira meledek sementara Qania tertunduk malu.
“Woaah itu kan trending topik di kampus beberapa bulan lalu. Jadi itu kamu Qan?” Tanya Banyu takjub.
“Iyaaaa” seru teman-temannya mewakili Qania membuat Banyu hanya ber Oh ria.
Akhirnya acara makan-makan itu diakhiri dengan gelak tawa mereka kemudian akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Prayoga mengantar Elin sementara Raka mengantar Qania.
Sempat terjadi penolakan keras dari tim Arkana yang tidak lain adalah Prayoga, Abdi dan Baron. Namun begitu Qania dan Elin menceritakan yang sebenarnya baru lah mereka mengizinkan dengan catatan Arkana harus tahu karena mereka tidak ingin seriganya Qania itu mengamuk.
*
*
“Saya terima nikahnya Nur Syifa binti Lukman Hamdani dengan mas kawin tersebut dibayar tunai lillahita’alah”,.
“Bagaimana para saksi, sah?”,.
__ADS_1
“Sah”,.
Penghulu tersebut langsung membacakan doa kemudian setelah doa selesai Ghaisan dibimbing ke kamarnya dimana Syifa sedang menunggu untuk pembatalan wudhu.
Acara tersebut berlangsung dengan khidmat dan juga tangis haru dari kedua orang tua Elin karena saat ini impian kedua orang tua kandung Ghaisan yang tidak lain adalah kakak mereka untuk menikahkan Ghaisan sudah terlaksana.
Begitu pun dengan elin yang tengh menangis haru karena kakaknya kini sudah memiliki wanita lain dan artinya perhatian kakaknya yang selama ini hanya untuknya sudah harus terbagi namun itu tidak membuatnya cemburu terlebih lagi ada Prayoga yang terus menempel padanya sedari tadi.
“Sayang, aku terharu deh lihat mereka” bisik Arkana pada Qania yang tengah tersenyum melihat pengantin yang kini sudah duduk di pelaminan akad karena rencananya nanti malam akan di adakan resepsi di hotel milik Arkana dan itu hadiah dari Arkana yang memberikan fasilitas hotelnya dan juga kamar khusus pengantin secara Cuma-Cuma kecuali dekorasinya itu adalah tanggung jawab pihak pengantin.
“Sama”,.
“Kita kapan ya kayak gitu sayang?” Tanya Arkana setengah merengek.
“Setelah aku wisudah” jawab Qania namun pandangannya masih tertuju ke pelaminan. Tanpa Arkana ketahui sebenarnya Qania sedang membayangkan dirinya dan Arkana lah yang tengah duduk di pelaminan itu.
“Ngomong-ngomong soal wisudah besok aku wisudah loh” ucap Arkana membuat Qania terkejut.
“Kok baru kasih tahu sekarang sih?” Tanya Qania setengah kesal.
“Aku lupa padahal kemarin aku gladi, hehe” jawab Arkana cengengesan.
“Kamu bakalan ajak aku nggak?” Tanya Qania ragu-ragu.
“Ya jelas lah” jawab Arkana membuat Qania mengembangkan senyumannya.
“Tapi aku nyiapin pakaian buat besok” ucap Qania cemberut.
“Udah tenang aja, aku udah siapin buat kamu” ucap Arkana sembari merengkuh bahu Qania.
“Makasih sayang, calon suami yang sigap nih” puji Qania kemudian keduanya tertawa.
Setelah puas bercanda keduanya pun menghampiri raja dan ratu sehari itu dan melakukan foto selfi beberapa kali. Elin dan Prayoga juga turut meramaikan, sementara teman-teman yang lain katanya akan datang nanti malam saja di acara resepsinya.
Saat para tamu sudah banyak yang pulang dan menyisakan anggota keluarga dan kerabat dekat, Arkana juga mngajak Qania berpamitan dan Prayoga pun pamit pulang lebih dulu.
Arkana membawa Qania ke rumah Qania dan masuk ke dalam mobilnya membuat Qania daim saja dan menunggu apa yang ingin Arkana lakukan. Arkana masuk dan memasangkan seatbelt pada Qania, melihat kekasihnya hanya diam saja membuat Arkana langsung mencium bibir Qania secepat kilat dan tentu saja Qania sangat terkejut dengan tindakan Arkan atersebut.
“Sesuatu yang di ambil secara mendadak itu rasanya enak juga ya” ledek Arkana membuat Qania mendengus kesal.
Arkana pun menyalakan mesin mobilnya dan membawa Qania pergi.
“Kita mau kemana sih sayang?” Tanya Qania sambil menatap Arkana yang fokus menyetir dengan sebalah tangan karena tangan satunya ia gunakan untuk menggenggam tangan Qania, hal yang selalu ia lakukan setiap kali mereka pergi dengan menggunakan mobil.
“Kamu udah cantik, aku udah ganteng, kita sama-sama pakai baju kondangan ya sudah sekalian aja kita foto prewedding” jawab Arkana membuat Qania langsung tersedak.
“Kenapa sayang? Santai aja, kamu ini saking bahagianya sampai tersedak gitu” ledek Arkana sembari memberikan air mineral yang ada di dekatnya.
Qania pun meminum air tersebut masih dengan perasaan kesalnya pada Arkana.
“Sayang emang kamu nggak gladi lagi?” Tanya Qania.
“Astaga aku lupa sayang” pekik Arkana yang tiba-tiba menginjak rem mendadak.
Qania tersenyum kecut, bohong kalau ia tidak senang dengan ajakan Arkana untuk berfoto, ia merasa jadi manusia munafik jika saat ini ia berkata pergilah aku nggak apa-apa kok.
“Makanya pikirannya jangan nikah mulu” cibir Qania yang diam-diam memendam kekecewaan.
“Hehe kan nikah itu ibadah sayang” kekeh Arkana.
“Ya udah putar balik terus anterin aku ke rumah dan kamu balik ke kampus kamu” pinta Qania.
“Iya, maaf ya sayang kita jadi gagal buat foto prewedding” lirih Arkana sembari menatap Qania dengan tatapan sendu.
Qania mengangguk, Arkana bisa melihat ada tatapan penuh kekecewaan dari sorot mata Qania hanya saja kekasihnya itu enggan untuk mengatakannya.
‘Bisa-bisanya gue bego banget sih, kenapa juga tiba-tiba lupa. Duh gue nggak tega lihat Qania sedih dan kecewa kayak gini. Arggh gladi sialan’ gerutu Arkana dalam hati.
Arkana pun menyalakan kembali mesin mobilnya kemudian memutar balik arah untuk mengantarkan Qania pulang.
*
__ADS_1
*
Aula kampus yang dijadikan tempat untuk menyelenggarakan acara wisudah pun kini sudah sangat ramai dengan para mahasiswa yang memakai pakaian toga beserta orang tua mereka yang tengah mendampingi. Qania tersenyum kikuk saat berjalan sendirian mencoba mencari dimana keberadaan Arkana karena tadi ia datang bersama papa Arkana dan kini Setya Wijaya itu tengah menerima telepon di luar jadi Qania memutuskan untuk masuk lebih dulu.
Qania tersenyum saat melihat Arkana tengah melambaikan tangan ke arahnya. Qania pun bergegas berjalan ke tempat Arkana.
“Ark..”,.
“Wah selamat ya Ka, elo jadi lulusan terbaik tahun ini” puji salah satu teman Arkana lalu menempelkan pipi dan
kanannya di pipi Arkana alias cipika-cipiki tepat di depan mata Qania.
“Sangat tampan” pujinya lagi.
Arkana seolah melihat ada tanduk yang mulai muncul dari kepala Qania saat melihat seorang cewek menyentuh asset milik Qania itu.
“Makasih Gled” ucap Arkana datar kemudian berjalan tergesa untuk menghampiri Qania yang tanpa ia sadari air matanya sudah menetes membasahi pipinya.
“Sayang, hei maafkan aku. Aku tidak menyangka kalau Gledys akan melakukan itu” lirih Arkana kemudian memeluk Qania di tengah kerumunan mahasiswa dan wali mereka.
“Ka, kamu nggak bakalan tinggalin aku kayak waktu kamu bersama Syeril kan?” suara Qania terdengar gemetar membuat Arkana semakin mempererat pelukannya.
Ia tersadar bahwa Qania masih trauma dengan kejadian dimana ia mengabaikan Qania dan malah memilih Syeril waktu di rumah sakit. Wajar kalau Qania merasa sakit dan takut karena itu terjadi di depan matanya. Meski pun hal itu terlihat lumrah namun tidak dengan Qania yang tidak pernah melakukan itu dengan teman-temannya makanya Qania takut jika ada hubungan lebih antara Arkana dan Gledys.
“Sayang hei, dengarkan aku. Aku Cuma cinta dan sayang sama kamu, nggak ada yang lain dan dia hanya temanku. Nggak ada yang bakal rebut aku dari kamu apalagi misahin kita” Arkana berusaha meyakinkan Qania.
“Aku, aku nggak pernah cium teman-teman priaku seperti tadi dia menciummu. Aku, aku sangat tidak suka pria ku disentuh wanita lain” ucap Qania takut.
Arkana tersenyum samar, dalam hati ia begitu senang karena ia tahu Qania sangat posesif padanya bahkan sebelas dua belas dengannya namun Qania selama ini selalu menutupinya. Tapi juga ada rasa kesal pada dirinya sendiri yang membiarkan Qania melihat dengan matanya sendiri Arkana disentuh oleh wanita lain. Hati perempuan mana yang tidak sakit saat melihat sendiri prianya disentuh wanita lain, kalau pun Arkana yang ada di posisi Qania mungkin ia akan menggila.
Sementara Gledys yang selama ini menyukai Arkana langsung syok begitu melihat Arkana memeluk erat seorang wanita ditengah umum. Hatinya sakit jika benar bahwa gadis yang dipeluk Arkana itu adalah kekasihnya.
“Nah itu dia om” tunjuk Rizal pada Arkana.
Rizal, Gea dan Setya datang menghampiri Arkana yang tidak mengenal situasi dan kondisi itu malah asyik berpelukan dengan Qania.
“Arkana Wijaya” panggil papanya dengan suara lantang membuat Arkana kaget dan melepaskan pelukannya.
“Iya pa ada apa?” Tanya Arkana dengan polosnya.
“Ini anak kalau udah sama Qania dia nggak nganggep siapa pun di dekatnya” ucap Setya sembari berjalan mendekati Arkana dan Qania.
“Lah mantu papa kenapa? Kamu apain dia hah? Kenapa dia nangis?” Tanya Setya beruntun sambil menarik Qania kedalam dekapannya.
“Kamu diapain sama bajingan tengik itu?” Tanya Setya membuat Qania terkekeh.
“Nggak kok pa” jawab Qania kemudian melepaskan pelukannya dari calon ayah mertuanya itu.
“Bohong om, jelas-jelas Qania nangis karena lihat Arkana cipika cipiki sama Gledys” sambar Fero yang ikut bergabung.
Fero berada di tingkat yang sama dengan Qania, dan bulan depan ia akan melaksanakan program KKN. Saat ini ia diminta oleh Rizal, Arkana dan Gea untuk memotret mereka saat acara wisudah.
“Oh nakal kamu ya, papa batalin nih pernikahan kalian hemm” Setya merasa kesal kemudian menarik telinga Arkana dan itu membuat teman-temannya tertawa termasuk Qania dan juga para wali yang ada disana.
Gledys yang melihat hal tersebut kembali syok saat mendengar bahwa gadis bersama Arkana adalah calon istrinya bahkan papanya sendiri menyebut gadis itu adalah menantunya. Tangan Gledys terkepal kuat, hatinya hancur namun tidak bisa berbuat apa-apa.
“Papa udah, kasihan Arkana. Qania nggak mau nikah sama pria yang telinganya nggak lengkap” lerai Qania sambil mengejek Arkana.
Setya mendengus kesal kemudian menuruti permintaan calon menantunya itu.
“Untung hari ini kamu bikin papa bangga dengan menjadi lulusan terbaik dan untung calon mantu papa membela kamu, kalau tidak tamatlah riwayatmu papa akan menikahkan Qania dengan Fero” ancam papanya membuat Arkana dan Qania menganga sementara Fero menjadi lemas.
Tak lama kemudian acara wisudah dimulai, Qania dan Setya duduk di tempat undangan yang disediakan sambil menikmati jalannya acara wisudah itu. qania merasa senang melihat Arkana yang sedang berfoto bersama rector dan dosen-dosennya karena menjadi lulusan terbaik.
‘Nggak nyangka tunanganku itu pintar, pantas saja dia bisa megang usaha papanya dan bisa berkembang pesat
dalam waktu singkat. Dia juga membantu mengoreksi laporanku waktu itu dan berkatnya kami jadi kelompok terbaik. Hm, benar ternyata masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang priaku itu’.,
************
__ADS_1