Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Anak Sultan


__ADS_3

Tristan masuk ke dalam mobilnya sambil mengamati Qania yang tengah menyetir motornya dengan membonceng Lala keluar dari halaman mall. Saat motor itu sudah melaju di jalan raya, Tristan langsung mengikutinya.


Dan tibalah mereka di depan kost, Qania dan Lala langsung masuk ke dalam kost dan menguncinya lalu masuk ke kamar mereka masing-masing dengan menenteng paper bag mereka.


Di luar, Tristan mengerutkan keningnya melihat hunian yang di tempati oleh wanita yang tadi sangat menghinanya itu.


“Cih … apa tadi wanita gila itu hanya berniat mempermalukan ku? Anak bupati dan menantu pengacara sekaligus pengusaha konon, tapi tempat tinggalnya justru berada di kelas menengah kebawah. CK … kalau anak orang kaya ya setidaknya apartemen mewah” gumam Tristan masih memandangi pintu rumah kost yang sudah tertutup itu dari dalam mobilnya.


Tristan mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.


“Cari tahu siapa Zafran Sanjaya dan Setya Wijaya SH., LLM. Saya ingin infonya segera”,.


“Baik, saya akan laksanakan sekarang juga”,.


“Awas saja kalau sampai kau membodohiku Qania” gumam Tristan.


“Eh … gue baru saja menyebut nama wanita gila itu” syoknya.


Tristan pun memutuskan untuk segera pulang ke rumahnya dan menunggu hasil dari orang suruhannya mencari informasi tentang dua orang yang tadi disebutkan oleh Qania.


Sementara Tristan kembali ke rumahnya, di dalam kamar Qania sedang membaringkan tubuhnya sambil menatap langit-langit kamar dengan pikiran kembali mengingat kejadian bersama Tristan tadi. Sesekali terdengar helaan napasnya.


“Seumur hidup barusan tadi aku bersikap sombong dengan membawa-bawa harta. Uh semoga Papa nggak marah aku bersikap angkuh begitu”,.


Qania memejamkan matanya, mencoba mencari ketenangan karena saat ini kepalanya terasa pusing.


“Arkana, aku merindukanmu”,.


 


🌷


🌷


 


Marsya membanting semua barang yang ada di kamarnya setelah ia sampai di rumah. Selama di mobil bersama papanya ia enggan mengeluarkan suara dan papanya pun tidak berniat untuk bertanya karena tidak ingin membuat anaknya sedih.


“Arghhhhh … harusnya, harusnya malam ini menjadi malam paling indah di hidup gue kalau wanita gila itu tidak merusaknya. Qania, Lo bakalan bayar ini semua. Awas saja kalau sampai gue nggak jadi tunangan sama Tristan, Lo adalah orang yang bakalan bertanggung jawab” teriak Marsya dari dalam kamarnya.


Tuan Alvindo yang kebetulan melintas di depan kamar putrinya itu hanya bisa mengelus dada, ia tidak ingin mencampuri urusan putrinya kecuali jika Marsya memintanya.


“Dari awal sudah Papa peringatkan padamu, Nak. Jangan kau bermain api, hmmm“,.


Tuan Alvindo kemudian pergi meninggalkan kamar anaknya yang dari dalam terus terdengar teriakan, umpatan dan bunyi barang-barang yang pecah.


 


.........................


 


Tristan POV


Gue merasa benar-benar menjadi pria paling bodoh di dunia ini setelah gue ngucapin kalimat dan bersikap kurang ajar kepada wanita gila yang bernama Qania Salsabila Wijaya itu.


Bagaimana mungkin mulut gue berucap seperti itu padahal sudah lama gue nyari keberadaannya melalui orang yang gue suruh pantau rumah kostnya yang dulu dan ternyata dia sudah pindah. Ternyata ini sebabnya kenapa dua tahun ini orang gue nggak bisa nemuin keberadaannya.

__ADS_1


Baru tadi siang gue ketemu dia di mall dan entahlah sebagian hati gue merasa senang meskipun gue nggak di sapa dengan baik olehnya dan bahkan ia sempat adu mulut dengan Marsya.


Oh syukurlah dia baik-baik saja dan semakin terlihat cantik. Apa iya dia wanita menikah dan memiliki anak? Dari wajahnya dan fisiknya dia bahkan terlihat seperti seorang remaja, bukan ibu rumah tangga.


Mungkin gue udah gila karena merasa senang melihat wajahnya sampai-sampai gue lupa nyuruh anak buah gue buat nyari infonya. Dan gue langsung balik ke pekerjaan proyek jalan yang sumpah gue nggak ngerti tapi demi menyenangkan calon papa mertua ya gue terima aja permintaannya itu.


Mendapat telepon dari om Alvindo saat gue mau pulang buat merilekskan pikiran dan tubuh gue membuat gue bertanya-tanya ada hal apa yang ingin dia bahas dan akhirnya gue iyain aja ajakannya.


Gue terkejut ternyata ajakannya untuk meminta gue buat mengikat Marsya. Bukan keinginannya yang sebenarnya buat gue terkejut, tapi penolakan dalam hati gue. Gue nggak ngerti dan nggak tahu kenapa hati gue berat buat ngeiyain permintaan om Alvindo makanya gue minta buat tunangan dulu. Gue pingin mantapin hati gue biar nggak salah ngambil keputusan sebelum gue bilang gue mau nikah sama Marsya.


Herankan, gue udah bertahun-tahun sama Marsya tapi gue nggak siap buat ngikat dia? Aneh, tapi itu yang gue rasain.


Untuk menutupi penolakan hati gue, gue iyain keinginan Marsya buat dansa dan nolak keinginannya buat nyanyiin dia dengan dalih gue nggak bisa nyanyi.


Selama ini Marsya nggak pernah tahu kalau gue itu bisa nyanyi dan hobi nyanyi karena gue nggak pernah nyanyi buat dia dan entah mengapa bisa seperti itu. Harusnya gue bisa membuat dia terpesona dengan suara merdu gue yang beberapa tahun lalu bikin para pengunjung kafe gue terpesona.


Oh iya, mengenai kafe rahasia itu akhirnya diketahui juga oleh Marsya padahal gue udah usahain agar dia nggak tahu kalau gue punya satu kafe khusus dimana gue bisa ngeluarin suara emas gue dan juga tempat dimana gue ngabisin waktu disaat gue sedang nggak pingin diganggu.


Gue keluar saat suara pianis itu mulai bernyanyi, dan entah mengapa jantung gue berdetak tak karuan seolah suaranya sudah tidak asing lagi di telinga gue.


Dengan senyum yang terus gue paksain gue menari bersama Marsya di lantai dansa hingga lagu romantis tentang seorang pria yang sedang melamar kekasihnya itu selesai dinyanyikan.


Tiba-tiba saja tanpa gue duga pianis itu menyanyikan lagu galau dan suasana romantis itu berubah menjadi sendu dan gue langsung kaget karena Marsya sudah sesenggukan. Entah setan apa yang merasuki pikiran gue hingga gue ingin memberi pelajaran kepada perempuan yang tengah bernyanyi itu.


Hampir saja senyum gue mengembang begitu tahu siapa yang berada di balik piano itu, pantas saja gue seperti mengenal suaranya. Ternyata wanita yang selalu gue sebut gila itu lah yang tengah duduk menatap gue.


Namun lagi-lagi dia membuat emosi gue naik ke ubun-ubun saat dia memanggil gue.


“Arkana Wijaya”,.


Tapi yang paling buat gue marah adalah saat gue nggak sadar udah nyakitin hatinya. Gue bisa lihat sorot mata penuh kebencian yang ia perlihatkan ke gue.


‘’Bodoh, gue emang bodoh. Hahh, bisa-bisanya gue ngelakuin itu ke dia. Hanya karena dia nggak sengaja sebut gue dengan nama orang lain gue sampai ngehina dia sampai segitunya. Dia pasti marah besar ke gue, hahh brengsek”,.


Akhirnya gue hanya bisa mengumpat di dalam kamar gue ini. Gue bakalan terima apapun perlakuan Qania ke gue.


“Qania, please maafin sikap gue ke elo” lirihku sampai tak sadar rasa sesal, pusing dan kesal membawa gue ke alam mimpi.


Tristan POV end …


 


Hari telah berganti, rembulan pun kini telah berganti menjadi hangat mentari pagi serta suara bising kendaraan sudah mulai memenuhi jalanan di kota besar ini.


Lenguhan khas bangun tidur terdengar dari mulut seorang pria tampan yang masih setia memejamkan mata namun tuntutan pekerjaan membuatnya harus bertarung dengan matanya sendiri.


Bunyi ponsel membuat Tristan terpaksa membuka matanya dan langsung mencari ponselnya yang ternyata berada di bawah bantalnya.


Zafran Sanjaya


-        Ketua DPRD dua periode kabupaten X


-        Bupati kabupaten X saat ini


-        Pengusaha


-        Istri Alisha Sanjaya

__ADS_1


-        Anak pertama Qania Salsabila Sanjaya/Wijaya


-        Syaquile Sanjaya


Setya Wijaya


-        Pengacara kondang kabupaten X


-        Pengusaha hotel


-        Pengusaha kafe dan restoran


-        Anak Arkana Wijaya


-        Menantu Qania Salsabila Wijaya


-        Cucu Arqasa Wijaya


 


Mata Tristan langsung terbuka lebar setelah membaca pesan dari orang suruhannya. Ia pun langsung menelepon orang tersebut.


“Hallo” sapa seseorang di seberang saluran.


“Jelaskan padaku secara mendetail dan terperinci” pinta Tristan


“Baik Pak. Jadi Zafran Sanjaya itu merupakan bupati kabupaten X saat ini sekaligus pengusaha. Memiliki keluarga yang harmonis seorang istri dan dua orang anak serta seorang cucu. Jadi Pak, Setya Wijaya dan Zafran Sanjaya ini merupakan besan karena anak pertama dari bapak Zafran Sanjaya yang bernama Qania Salsabila menikah dengan anak tunggal bapak Setya Wijaya yang bernama Arkana Wijaya. Namun sayang suaminya sudah meninggal akibat kecelakaan hampir lima tahun yang lalu. Dan Qania Salsabila ini sedang melanjutkan studi sebagai mahasiswa fakultas Hukum di universitas GM di kota Y” ,.


Tristan diam menyimak, ia kini sudah mendapatkan identitas Qania dan apa yang ia ucapkan semalam bukanlah bualan semata.


“Terima kasih atas informasinya, bayaranmu akan segera saya transfer” ucap Tristan.


“Terima kasih Pak”,.


Panggilan terputus, Tristan pun terdiam dengan informasi yang baru ia dapatkan.


“Jadi benar semua yang Qania katakan semalam, hmm anak sultan juga rupanya. Pantas sikapnya selama ini terlihat angkuh meskipun tidak ia perlihatkan dengan jelas. Caranya menjatuhkan lawan dan mengintimidasi seseorang sepertinya mengalir dari mertua dan ilmu yang tengah ia pelajari sekarang. Menarik” ucap Tristan diiringi seringai di wajahnya.


“Tapi kenapa dia selalu menyebutku Arkana Wijaya? Apakah wajah kami mirip? Oh ****, kenapa gue lupa minta foto pria yang bernama Arkana itu” umpatnya.


“Tapi ya sudah lah, yang penting gue udah puas dengan info yang gue dapatkan ini”,.


Tristan pun turun dari tempat tidurnya dan melangkah masuk ke kamar mandi.


 


...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗


Berteman yuk:


IG: Vvillya


FB: Vicka Villya Ramahani


WA: 0823 5054 5747

__ADS_1


__ADS_2