Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Misi Dimulai


__ADS_3

“Jadi, dia juga memiliki kecurigaan yang sama dengan kita Kak?” tanya Syaquile setelah mendengarkan cerita kakaknya.


“Ya. Jadi menurutmu bagaimana?” tanya Qania balik.


“Ya kita akan melakukannya, Kak. Bagaimanapun juga kita tetap harus membuktikannya bukan?” ucap Syaquile.


“Lalu bagaimana jika seandainya terbukti mayat yang ada di dalam kuburan itu memang bukan Arkana?” tanya Qania lagi.


“Itu artinya ada kemungkinan Kak Arka masih hidup Kak. Sepertinya mimpi Kakak itu adalah pertanda. Di mimpi itu kata Kakak, Kakak melihat Kak Arka sedang dirantai dan meminta Kakak untuk segera datang menolongnya. Mungkin saja Kak Arka sedang terjebak di suatu tempat. Ada tiga kemungkinan yang aku pikirkan saat ini, Kak,” ucap Syaquile berbalik menatap Qania lekat.


“Apa Dek?” tanya Qania dibuat degdegan sekaligus penasaran.


“Yang pertama mengingat mimpi Kakak, aku berpikir kemungkinan Kak Arka sedang ditahan oleh seseorang mungkin saja itu Juna. Mungkin malam itu Juna membawa kak Arka pergi dengan bantuan anak buahnya lalu meletakkan mayat pria yang bentuknya mirip dengan kak Arka dengan memasangkan cincin pertunangan agar kita semua percaya bahwa itu memang benar adalah mayat kak Arka. Yang kedua, mungkin saja memang kak Arka sudah meninggal dunia dan begitu juga dengan Juna mengingat ia pun tidak tercium jejaknya sampai saat ini dan memang mungkin saja mayat itu adalah mayat Arjuna. Dan yang ketiga … yang ketiga itu …”


“Yang ketiga apa Dek?” desak Qania karena Syaquile enggan untuk bicara.


“Yang ketiga itu … ak-aku rasa Tris-tristan Anggara itu adalah kak Arkana,” jawab Syaquile lirih.


Deggg …


Qania sangat terkejut saat adiknya mengatakan hal tersebut. Ia ingin berharap namun masih ada dua kemungkinan yang mungkin saja adalah kebenarannya.


“Kemungkinan yang pertama dan kedua itu sangat masuk akal Dek, tapi yang ketiga ini Kakak tidak terlalu yakin mengingat Tristan itu berada jauh dari dari tempat tinggal kita Dek, beda pulau bahkan,” elak Qania.


“Apapun bisa terjadi, Kak. Lagi pula Dennis memiliki satu alasan yang kita berdua tidak tahu itu apa dan kenapa dia menyuruh Kakak untuk melakukan tes DNA pada mayat di kuburan kak Arkana,” tegas Syaquile.


“Entahlah Dek, Kakak pun nggak bisa menyimpulkan hal itu,” ucap Qania lesu.


“Kakak hanya takut terlalu berharap, kan? Kakak hanya tidak ingin membuat opini itu agar Kakak tidak terlalu berharap, kan?” tanya Syaquile menatap intens kedua mata Qania.


“Ya, iya Dek. Rasanya disaat segala yang kita harapkan terus harapan itu ternyata tidak sesuai dengan apa yang terjadi, rasanya sangat menyakitkan. Kakak lelah jika harus terus merasa kecewa. Lebih baik Kakak tidak terlalu berharap meskipun kenyataannya tidak bisa dipungkiri kalau Kakak sangat berharap Tristan itu adalah Arkana. Kakak tidak ingin semua ini berujung rasa sakit. Kalaupun yang ada di makam itu bukanlah Arkana, maka Kakak pun belum bisa berharap kalau Tristan itu adalah Arkana. Hanya saja ada sedikit kemungkinan, eh ….”


Qania menghentikan ucapannya karena teringat akan sesuatu.


“Dek, tadi Tristan telepon Kakak lho,” ucap Qania.


“Dia telepon Kakak? Dia ngomong apa aja?” tanya Syaquile.


“Dia bilang dia akan bertunangan dan minta Kakak buat bantu dia ngebatalin,” jawab Qania.


“Terus?”


“Terus apa lagi ya?” Qania nampak berpikir sejenak, “Oh iya dia nanya Kakak percaya nggak sama arwah penasaran, ya Kakak jawab sedikit. Walaupun Kakak nggak ngerti kenapa dia tadi tiba-tiba nanya kayak gitu. Dan kamu tahu Dek, alasan apa yang bikin dia nanya kayak gitu?” ucap Qania menggebu-gebu.


“Apa Kak?”


“Katanya dia merasa di tubuhnya ada arwah Arkana yang masih penasaran makanya dia saat melihat Kakak langsung jatuh cinta gitu. Langsung suka tanpa tahu apa sebabnya kenapa bisa punya perasaan seperti itu ke Kakak padahal dia punya Marsya yang sudah menjadi kekasihnya bertahun-tahun lamanya. Awalnya Kakak hampir menertawakannya sebelum akhirnya dia bilang kalau beberapa tahun yang lalu dia pernah mengalami koma dan dinyatakan hampir meninggal. Namun tiba-tiba saja dia tersadar dan sampai saat ini segar bugar,” cerita Qania dan Syaquile pun turut mendengarkan dengan baik.


“Koma Kak?” tanya Syaquile yang dijawab anggukan oleh Qania.


“Kalau alasannya tentang arwah kak Arka aku sedikit nggak percaya dan menurutku nggak masuk akal. Tapi … tapi kalau dia adalah emang kak Arka itu bisa masuk akal Kak!” seru Syaquile merasa yakin dengan ucapannya.


“Kakak nggak ingin terlalu berharap Dek,” ucap Qania lemas.


“Biar fakta di lapangan yang membuktikannya Kak. Kita kan masih punya satu alasan yang kita belum tahu itu dari Dennis. Iya kan?” ucap Syaquile berusaha meyakinkan Qania.


“Iya kamu ada benarnya juga Dek. Semoga ketidakmungkinan yang selama ini Kakak semogakan itu tersemogakan ya Dek,” ucap Qania mulai mendapati semangatnya.


“Aamiin Kak. Oh iya, besok kita harus melangsungkan rencana kita itu. sepertinya Tuhan dan semesta emang mendukung rencana kita Kak. Mulai dari keluarga kita yang bakalan berangkat ke luar kota hingga kita bisa melakukannya diam-diam. Dan pertemuan Kakak dengan Dennis yang juga meminta Kakak untuk melakukan hal yang sama, bukan. Bukankah ini tanda-tanda alam yang menyetujui rencana kita?” ucap Syaquile merasa sangat senang.


“Benar juga ya Dek, Kakak baru kepikiran sekarang lho,” ucap Qania menimpali.


“Besok setelah Mama, Papa dan Om Setya pergi, kita akan menjalankan rencana ini. Aku yang bakalan hubungi pihak kepolisian dan tim forensik untuk mengidentifikasi tulang belulang di makam tersebut. Ini kesempatan yang baik Kak, semoga saja apa yang kita harapkan dapat terkabulkan,” ucap Syaquile sambil menggenggam tangan kakaknya berusaha menyalurkan kekuatan.


“Aamiin Dek,” ucap Qania.


“Ya sudah, sekarang aku mau balik ke kamar dan Kakak istirahatlah,” ucap Syaquile seraya berdiri.


“Iya, makasih ya Dek. Kamu memang yang paling mengerti Kakak,” ucap Qania tulus.


“Iya Kak, sudah tugas aku kok,” ucap Syaquile dengan memberikan senyuman manisnya pada sang Kakak dan Qania pun membalasnya.


Syaquile pun meninggalkan kamar Qania dan Qania langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah mengenakan pakaian tidurnya, Qania pun ikut bergabung bersama anaknya yang saat ini sudah berpetualang jauh di alam mimpinya.


“Ar, Mami janji bakalan jagain kamu Nak. Sampai waktu berganti dan kamu yang bakalan jagain Mami. Jika seandainya mayat itu bukan Daddymu, maka kita akan berusaha mencari dimanapun keberadaannya saat ini entah hidup atau mati. Dan jika saja dia adalah Daddy, maka kita akan mengikhlaskan semuanya. Mami akan berusaha menjadi Ibu sekaligus Ayah untukmu. Mami nggak bisa janjiin banyak hal, tapi Ar perlu tahu kalau Mami bisa ngasih cinta dan kasih sayang yang banyak untuk Ar. Bahkan Mami rela seluruh hidup Mami untuk Mami persembahkan ke Ar. Dan jikapun seandainya orang itu adalah Daddy, maka mari kita berjuang untuk mengembalikannya pada kita berdua. Mami berjanji akan membawanya pada Ar dan kita bertiga akan menebus semua waktu yang telah terlewati dengan penuh duka. Ar, doain Mami ya Nak,” ucap Qania sambil membelai rambut anaknya yang sedang terlelap itu.


.... . ....


Jidat Qania saat ini dipenuhi peluh seukuran biji jagung. Bagaimana tidak, saat ini ia sedang mengalami kejadian yang membuatnya berkeringat di dalam mimpinya.


“Qania, sayang, tolong aku sayang,” pinta Arkana.


“Qania, kau jangan menolongnya. Tolong aku saja Qania, aku saja!” ucap Tristan.


“Aku suamimu Qania, jangan lakukan itu padaku Qania. Jangan bongkar makamku, kau tidak menghargaiku dan sudah tidak mencintaiku lagi hingga kau meragukan cintaku?” tanya Arkana dengan tatapan mata sendunya.


“Jangan dengarkan dia Qania, dia bukan Arkana. Dia bukan suamimu, tolong aku saja Qania,” ucap Tristan tak mau kalah.

__ADS_1


Qania yang berdiri di tengah-tengah dua pria yang berwajah sama itu semakin kebingungan. Kedua-duanya sedang membutuhkan pertolongannya dalam bentuk yang berbeda namun ia pun tidak bisa mengabaikan salah satunya.


“Qania jangan dengarkan dia sayang, dia hanya pria yang kebetulan berwajah sama denganku. Tolong bantu aku sayang, jangan lakukan itu. Itu sama saja kau menyiksaku. Aku sudah cukup bahagia dengan kau yang mencintaiku hingga akhir hayatku. Dia hanya ingin mengambil hatimu agar kau melupakanku Qania. Dengar aku sayang, hanya aku yang mencintaimu dan aku yang setia padamu. Tolong jangan lupakan aku Qania dan jangan lakukan ini. Aku terluka sayang, kau meragukanku,” ucap Arkana menghiba.


“Aku sama sekali tidak meragukanmu. Apa salahnya jika aku melakukan itu Arkana? Aku juga butuh kepastian dengan semua kejadian ini. Tidak mudah bagiku untuk melewati semua ini dengan beribu pertanyaan di benakku. Aku ingin semuanya jelas biar aku tidak perlu banyak berpikir lagi. Aku sudah lelah terus menerka-nerka kenyataan yang ada di hadapanku Arkana,” lirih Qania.


“Kau sangat benar Qania. Sebaiknya kau menolongku lalu aku akan menolongmu untuk mencaritahu semua kebenarannya,” timpal Tristan.


Qania menghela napas kemudian ia melirik Tristan. Entah mengapa wajah pria itu cukup bersinar di pandangan Qania. Rasanya ia begitu tenang saat menatap wajah teduh itu. namun perasaan itu segera ia tepis karena di sebelah kanannya masih ada Arkana, suaminya. Ia menatap lekat mata sendu itu, ada sesuatu hal yang membuat hati Qania gusar dan itu entah apa. Qania tidak bisa mengartikan perasaan gusarnya itu.


“Qania, jika kau tetap ingin melakukan itu maka lakukanlah dan aku anggap kau sudah tidak lagi mencintaiku. Aku tahu sekarang kau sudah mencintai pria yang berwajah sama denganku, bukan? Makanya kau bersikeras melakukan ini. Kau sudah tidak mencintaiku lagi Qania, cintamu semu!” teriak Arkana.


“Nggak gitu Ka, nggak gitu. Aku cinta kamu banget Ka, sangat malah. Tolong jangan kamu raguin aku Ka,” isak Qania.


“Qania, kamu jangan dengarkan dia. Sudah aku katakana bukan kalau dia itu bukan suamimu. Dia hanya sedang menunda rencanamu untuk menemukan kebenaran. Harusnya dia setuju saja jika kau melakukan itu, itu semua kan juga demi kebaikanmu,” ucap Tristan.


“Kau berhentilah menghasut istriku, brengsek!” maki Arkana.


“Aku sama sekali tidak menghasutnya. Aku hanya memberikan pencerahan agar Qania bisa berpikir dengan jernih,” elak Tristan.


“Kau terlalu banyak ikut campur!” sentak Arkana.


“Aku akan terus melakukannya! Dan asal kau tahu, aku pun mencintai Qania,” tandas Tristan.


“Kau?!” geram Arkana seraya menunjuk wajah Tristan.


“Apa?!” tantang Tristan.


“Sudah cukup! Berhenti berdebat! Aku capek, aku muak, aku malas dan aku nggak peduli lagi. Aku pusing dan jangan terus membuatku pusing,” bentak Qania membuat Tristan dan Arkana terdiam.


Bagaimana tidak pusing, dihadapkan dengan dua pria berwajah sama saja sudah membuat Qania oleng, apalagi ditambah keduanya yang terus berdebat dan juga dengan dua pribadi mereka yang sangat berbeda. Hal itu membuat Qania semakin pusing. Ia seolah melihat Arkana di diri Tristan dan melihat Tristan di diri Arkana. Dari tatapan keduanya pun sangat berbeda. Tatapan Arkana seakan membuat Qania gusar sementara menatap Tristan justru membuat Qania tenang.


“Jangan tatap matanya Qania. Kau bisa tertipu sayang, tolong dengarkan aku,” ucap Arkana memohon.


Qania seakan tersadar dari lamunannya saat ia mendengar ucapan Arkana yang seolah tahu apa yang tengah ia pikirkan.


“Hahaha, ada-ada saja,” ejek Tristan.


Namun kemudian Qania melihat Tristan, ia menatap lekat mata itu. Betapa terkejutnya ia melihat sekilas wajah itu terlihat seperti pria yang sangat ia benci. Pria yang memporak-porandakan kebahagaiaannya.


“Ar-ju-na,” gumam Qania.


Arkana tersenyum kecut, “Aku sudah bilang jangan tatap matanya,” ucapnya seakan mengejek Qania.


Qania menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian ia tatap sekali lagi namun hasilnya kembali berbeda. Tristan tetap terlihat seperti Tristan.


Dimaki seperti itu membuat Arkana geram, ia kemudian maju untuk memberikan pukulan di wajah Tristan dan berhasil memuntahkan satu bogemannya tepat di pipi kanan Tristan. Hingga akhirnya terjadilah perkelahian antara kedua pria tersebut yang mana membuat Qania semakin pusing.


“Hentikan!! Sudah cukup, tolong berhenti!!” teriak Qania.


Tinju keduanya berhenti di udara saat mendengar teriakan Qania. Mereka pun berjalan mendekati Qania dan saling berebut untuk menggenggam tangan Qania namun sayang Qania segera menepis tangan mereka.


“Sudah cukup! Aku tidak peduli apakah kau Arkana dank au adalah Tristan ataupun Juna ataupun iblis laknat, aku tidak peduli! Aku pusing dan aku ingin pulang. Tolong menyingkirlah,” ucap Qania seraya berjalan meninggalkan keduanya.


Baru saja Qania berjalan, namun ia dibuat terkejut akan aksi keduanya yang kembali beradu kekuatan hingga keduanya terjatuh ke jembatan.


“Tristaaannn … Arkana ...” Qania berteriak namun sayangnya ia tidak bisa menyelamatkan keduanya.


Saat ia tengah menangis di jembatan, sebuah mobil hitam melaju kencang di depannya dan tiba-tiba saja mobil itu menabrak pembatas jalan dan terpental jauh hingga menimbulkan ledakan hebat dari mobil tersebut. Seseorang tiba-tiba saja menarik tangan Qania dan membawanya melompat ke sungai di bawah jembatan tersebut. Awalnya Qania ingin berteriak namun saat melihat siapa yang menggenggam tangannya, Qania merasa tenang.


“Kak Dennis,” ucap Qania saat mereka sudah tercebur ke dalam air.


“Semua akan baik-baik saja. Apapun itu jangan berhenti berharap,” ucap Dennis kemudian langsung naik ke daratan meninggalkan Qania yang terbengang karena ucapannya.


Ditengah kebingungannya, seseorang datang dan langsung menariknya ke darat.


“Dek,” ucap Qania saat melihat ternyata yang datang menolongnya adalah Syaquile.


“Semua akan baik-baik saja Kak,” ucap Syaquile.


“Tapi mereka berdua dimana?” tanya Qania.


“Siapa? Tristan dan Arjuna?” tanya Syaquile.


Qania mengangguk, “Dimana mereka?”


“Mereka sudah tiada Kak, mereka sudah meninggal,” ucap Syaquile sambil menuntun Qania berjalan.


“Apa? Meninggal?” pekik Qania.


“Iya, sudah meninggal,” jawab Syaquile mengulang kembali jawabannya.


“Lalu Arkana?” tanya Qania lagi dan Syaquile menjawab dengan mengangkat kedua bahunya tanda ia pun tidak tahu.


.... . ....


Qania membuka kedua matanya ketika mendengar adzan subuh. Ia mencoba kembali mengingat kejadian di dalam mimpinya yang menurutnya tidak nyambung dan tidak masuk akal. Namun satu hal, ucapan tentang Tristan Anggara dan Arjuna yang telah meninggal membuat Qania tidak tenang. Ia pun langsung mencari ponselnya.

__ADS_1


Qania mendapati begitu banyak pesan dari Tristan dan langsung ia baca.


Qania kamu bisa bantu aku kan?


Qania aku bersama dengan arwah Arkana, kamu jadi kan menolongku?


Kamu rela aku bersama wanita lain?


Qania tolong balas pesanku.


Qania aku menunggumu.


Qania menarik napas lega, pria itu rupanya masih hidup pikir Qania. Ia pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya lalu melaksanakan kewajiban subuhnya.


Setelah Qania menyelesaikan rutinitasnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan, ia turun ke bawah untuk membantu bi Eti menyiapkan sarapan sekaligus ingin bercengkrama dengan kedua orang tuanya yang akan pergi ke luar kota.


Saat menuruni anak tangga, Qania melihat di ruang keluarga Syaquile dan Papa sedang berbincang-bincang sehingga ia memutuskan untuk menemui mereka.


“Selamat pagi Pa, Dek,” ucap Qania saat ia sudah duduk di samping papanya sementara Syaquile duduk di hadapan mereka.


“Pagi juga,” balas keduanya hampir bersamaan.


“Oh ya Pa, sebenarnya ada hal yang ingin Qania tanyakan tapi baru keingat sekarang,” ucap Qania.


“Apa tuh?” tanya papanya.


“Itu lho Pa,, tentang kenalan Papa yang namanya Tristan Anggara yang anggota LSM itu,” ucap Qania yang kemudian melirik ke arah Syaquile yang sedang terbatuk-batuk.


“Kamu kenapa Dek, keselek?” ledek Qania yang sebenarnya tahu kalau adiknya itu terkejut.


Syaquile menatap datar pada Qania, sementara orang yang ia tatap sedang memasang tampang polosnya.


“Papa sih sudah lama nggak dengar kabar soal dia. Bahkan udah nggak pernah dengar namanya lagi semenjak kejadian dia datang ke Papa yang ternyata hanya kasus palsu itu. ada apa Nak?” jawab Papa Zafran.


“Oh gitu ya Pa. Enggak sih, aku cuma ingin meminta bantuannya kalau nanti aku ada masalah saat magang. Emang nggak ada kabar sama sekali ya Pa?” tanya Qania memastikan.


“Bahkan berita tentangnya pun dihapus dari semua media dengan alasan yang tidak diketahui. Sempat beredar kabar kalau Tristan Anggara itu meninggal akibat ada salah satu oknum yang ia laporkan karena kasus korupsi mereka dan ada juga yang bilang dia sedang di penjara karena sudah menyebarkan berita palsu. Hanya saja Papa tidak tahu mana yang merupakan kebenarannya,” jawab Papa Zafran.


Qania dan Syaquile saling berpandangan dan mengangguk pelan tanda mereka mungkin memiliki pemikiran yang sama.


“Oh gitu ya Pa. Emang sih pekerjaannya berisiko tinggi. Ya udah deh, aku mau naik dulu mau lihat Arqasa,” ucap Qania.


“Aku juga mau naik dulu Pa, mau mandi,” ucap Syaquile.


“Ya sudah,” ucap Zafran.


Qania dan Syaquile pun naik bersamaan sambil membahas ucapan Papa tadi.


“Jadi Papa tahu Kak?” tanya Syaquile.


“Iya dan Kakak baru ingat sekarang,” jawab Qania.


“Dan itu menjadi tugas Kakak buat cari tahu,” ucap Syaquile sebelum mereka berpisah di depan pintu kamar Qania.


“Iya.”


.... . ....


Qania memeluk erat tubuh Arqasa sebelum membantu anaknya itu masuk ke dalam mobil.


“Jangan lama-lama perginya, Mami masih rindu,” ucap Qania menahan tangisnya.


“Iya Mi. Mami mau nitip apa nih?” tanya Arqasa.


“Mami mau nitip anak ganteng Mami dong biar cepat pulang dan selalu sehat serta dalam lindungan Allah SWT,” jawab Qania.


“Hahaha, iya Mi,” tawa Arqasa.


“Udah nggak usah lama-lama pamitannya. Kita udah mau berangkat ini,” lerai Papa Zafran.


Dengan memasang tampang kesal Qania melepaskan pelukannya dan Arqasa. Ia menghujami seluruh wajah itu dengan ciuman hingga Arqasa mengeluh.


“Hati-hati ya. Ma, Pa, jagain Arqasa. Qania titip dia ya,” ucap Qania lirih.


“Pasti Nak,” jawab Alisha yang duduk di belakang.


“Kamu tenang aja,” timpal Papa Setya yang duduk di depan dengan Papa Zafran yang mengemudikan mobil.


Qania mengangguk, sekali lagi ia ciumi wajah anaknya seolah berat untuk melepaskan. Setelah Arqasa masuk dan mobil itu pergi dan hilang dari pandangan Qania dan Syaquile, kedua kakak-beradik itu pun saling berpandangan.


“Misi dimulai Kak,” ucap Syaquile dengan seringainya.


.... . . . . . ....


Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


...


__ADS_2