Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Terlambat


__ADS_3

“Pamit ya Qan” ucap Raka sambil melambaikan tangan dari dalam taksi.


Tadi setibanya mereka di kota Y, Raka memaksa untuk mengantarkan Qania pulang bersamanya dalam satu taksi agar ia bisa tahu tempat tinggal Qania.


Saat Qania masuk ke rumah nek Nilam, Lala yang sedang mengepak jualanannya terperanjat kaget ketika Qania menggodanya.


“Mbak boleh borong semuanya” goda Qania.


“Boleh mb…akk, aaa kak Qania” pekiknya kemudian meloncat ke pelukan Qania.


Qania dengan senangnya membalas pelukan Lala, sementara nek Nilam yang baru saja keluar dari kamarnya tersenyum senang melihat kedekatan kedua anak kostnya yang terlihat seperti dua saudara itu. Ia pun memutuskan untuk segera bergabung bersama Lala dan Qania.


“Wah lihat siapa yang datang” ucap nek Nilam dengan senyumannya yang terus mengembang di wajahnya.


Qania melepas pelukannya dan langsung menghambur memeluk nek Nilam yang ia anggap sebagai neneknya sendiri karena ia tidak memiliki seorang nenek dan hanya memiliki seorang kakek yang tinggal di kota berbeda dari mereka.


“Nek apa kabar?” tanya Qania setelah melepas pelukannya.


“Alhamdulillah baik nak, gimana liburannya?” tanya nek Nilam.


“Menyenangkan dan cukup untuk melepas rindu bersama anak dan keluarga” jawab Qania dengan wajah berseri.


“Syukurlah, sebaiknya sekarang kamu istirahat dan nenek akan membuatkan makan malam untuk kita” ucap nek Nilam.


“Lah nek ini masih sore” celetuk Lala sambil menengok keluar rumah.


Nek Nilam dan Qania hanya menatap Lala dengan senyuman kemudian nek Nilam memilih untuk pergi ke dapur.


“Ih nenek kenapa sih?” tanya Lala yang kembali duduk di lantai sambil mengemaskan dagangannya.


“La, mau nganterin pesanan?” tanya Qania ikut duduk.


“Iya nih kak, ada dua alamat berbeda tapi pesanan mereka ada empat kak” jawab Lala dengan semangat.


“Kakak ikut ya, sekalian mau jalan-jalan” ucap Qania.


“Emang kakak nggak capek?” tanya Lala.


“Nggak lah, kan Cuma duduk doang di dalam pesawat” jawab Qania sambil berdiri kemudian berjalan sambil menarik kopernya dan masuk ke dalam kamarnya.


“Haiih apalah daya aku nggak pernah naik pesawat jadi nggak tahu gimana rasanya” ucap Lala sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah mengemaskan barang-barang yang akan ia antar, Lala kembali masuk ke kamarnya untuk bersiap dan begitu ia keluar dari kamar, Qania pun sama. Keduanya saling berpandangan lalu melempar senyuman.


“Yuk kak” ajak Lala.


“Ayo”,.


Qania dan Lala pun pergi untuk mengantar pesanan menggunakan motor Qania yang memang ia berikan kepada Lala sebagai transportasi untuk mengantarkan barang. Dan karena Qania tidak mengetahui alamatnya, maka Lala lah yang menyetir motor.


Satu pesanan sudah sampai pada pembelinya, tinggal satu pesanan yang terdapat tiga barang. Lala pun membawa Qania ke alamat tersebut dan keduanya terperangah melihat rumah pemesan itu.


“Woaah kak, pemesannya orang kaya kak” pekik Lala sambil melepaskan helmnya.


“Iya nih La, ternyata jualanmu diminati orang kaya juga ya” ucap Qania menimpali ucapan Lala namun menyelipkan ledekan.


“Ish kakak nih” kesal Lala membuat Qania terkekeh.


“Ya sudah ayo antar” suruh Qania dan Lala pun berjalan menemui satpam penjaga rumah tersebut.


“Permisi pak, ada pesanan atas nama Marsya Alvindo” ucap Lala memberitahukan satpam tersebut.


“Oh iya mbak, berikan saja kepada saya karena tadi non Marsya sudah mengatakan kepada saya dan memberikan saya uangnya. Segini kan mbak?” ucap pak satpam tersebut sambil menyodorkan beberapa lembar uang.


“Ah ini kelebihan pak” ucap Lala mengembalikan satu lembar uang seratus ribu.


‘Oh ternyata gadis ini memang bisa dipercaya. Ya sudah karena non Marsya berpesan untuk memberikan bonus padanya jika dia jujur maka itu adalah haknya’,.


“Ah memang lebih mbak karena non Marsya menitipkan itu sebagai bonusnya” jawab satpam tersebut dengan ramah.


“Bo..bonus pak?” tanya Lala terbata.


“Iya mbak, kenapa?” tanya satpam itu mengerutkan keningnya.


“Se..senyak ini?” tanya Lala lagi.


Satpam tersebut hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Iya mbak” jawabnya.


“Huaa terima kasih banyak pak, sampaikan juga pada mbak Marsya kalau mesan lagi bakalan aku kasih diskon” ucap Lala kegirangan.


“Iya” jawab satpam tersebut sambil terkekeh.


“Ya sudah permisi ya pak” ucap Lala.


“Iya hati-hati” sahut satpam tersebut.


“Hah sebegitu senangnya dapat bonus seratus ribu dan akan memberikan imbalan diskon pada non Marsya. Ya ampun mungkin dia tidak tahu kalau non Marsya adalah anak orang kaya” gumam satpam tersebut sambil menatap Lala dan Qania yang sudah pergi berlalu mengendari motor maticnya.


Tak lama setelah kepergian Lala dan Qania, sebuah mobil berwarna hitam mengkilap memasuki pekarangan rumah Marsya Alvindo itu.


“Tris kamu yakin nggak mau mampir dulu?” tanya Marsya dengan nada sedikit merengek.


“Sayang aku banyak kerjaan” tolaknya.


“Hm ya udah deh, aku masuk ya. Bye” ucap Marsya dan langsung mengecup singkat pipi Tristan.


“Marsya”,.


“Hehe, habisnya kamu udah jarang cium aku kalau bukan aku yang memulainya” ucap Marsya terkekeh kemudian bergegas keluar dari mobil.


Tristan menatap Marsya yang sudah masuk ke dalam rumahnya, kemudian ia mulai menghidupkan mesin mobilnya kemudian melajukan mobil itu meninggalkan rumah Marsya.

__ADS_1


“Gue nggak tahu kenapa rasa gue ke elo itu berbeda Sya, maaf” gumam Tristan disela-sela ia menyetir mobilnya.


🥀


Qania dan Lala baru saja sampai di rumah kostan mereka dan langsung masuk ke kamar Qania karena diperjalanan Qania sudah mengatakan bahwa ia membawa oleh-oleh untuk nek Nilam dan dirinya.


Lala tak hentinya memuji beberapa barang yang Qania berikan kepadanya dan membawa hampir semua makanan yang Qania bawakan.


“Hei ingat nek Nilam juga dikasih makanannya” teriak Qania saat Lala berjalan keluar dari kamarnya.


“Yaa” teriak Lala dari luar.


“Haiih anak itu” gumam Qania kemudian memejamkan matanya dan tertidur dengan cepat karena kelelahan.


 


*


 


Hari seminar yang ditunggu-tunggu Qania pun tiba, dengan antusias ia membangunkan Lala di kamarnya dengan terus mengetuk pintu kamar gadis itu. Lala yang masih tidur di kamarnya pun hanya bisa mendengus karena Qania tidak bisa membuatnya tenang dengan suara ketukan pintu yang membuyarkan mimpi indahnya.


“Iya kak, aku mandi. Lagian masih pagi” teriak Lala dari dalam.


“Pagi katamu, ini sudah pukul sembilan dan kurang dari sejam kita harus sudah sampai” teriak Qania balik sambil menyandarkan punggungnya di dinding di dekat pintu kamar Lala.


“Iya, iya Lala mandi” sahut Lala yang berjalan gontai keluar dari kamar sambil membawa handuknya.


Qania mendengus melihat Lala yang dengan santainya melewati dirinya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Untung saja waktu yang dihabiskan Lala untuk mandi dan berganti pakaian tidak sampai dua puluh menit sehingga mereka bisa cepat meluncur ke tempat diadakannya seminar.


 


*


 


Qania dan Lala sedang melaju di jalan raya, namun bunyi klakson dari arah belakang mereka membuat Qania menoleh dan meminta Lala untuk berhenti dan menepi.


“Ada apa sih kak?” tanya Lala ketika selesai menepikan motor.


Sebuah motor sport berwarna hijau mendekati Qania dan Lala kemudian ia membuka helmnya membuat Qania tersenyum dan tentu saja tadi Qania sudah tahu siapa orang itu.


“Hallo Salsabila” sapa Raka yang duduk di atas motornya sambil menatap Qania dengan wajah berbinar.


“Hallo juga Ka” balas Qania.


“Kak dia siapa? Teman sekelas kakak?” tanya Lala sambil menatap Raka.


“Oh dia Raka, teman kakak dari kampung dan juga teman kakak dari kecil” jawab Qania memperkenalkan Raka.


“Hallo, nama saya Lala” ucap Lala mengulurkan tangannya.


“Kalian mau kemana?” tanya Raka.


“Kita mau ke hotel ada seminar” jawab Qania.


“Oh jam berapa?” tanya Raka.


“Sebentar lagi” jawab Qania.


“Ya ampun kak lima menit lagi masuk” pekik Lala setelah menatap jam tangannya.


“Appaa? Raka kami pamit dulu nanti kita bertemu lagi” ucap Qania gelagapan.


“Bye kak Raka” ucap Lala kemudian melesatkan motor matic tersebut.


Raka hanya tersenyum menatap kepergian kedua wanita itu, kemudian ia memasang kembali helmnya.


“Pasti Qania, nanti kita akan bertemu lagi dan akan terus bertemu” gumam Raka sebelum melajukan motornya.


 


*


 


Lala dan Qania berlari ke aula hotel yang berada di lantai lima setelah mereka menaiki lift. Dengan cepat Qania membuka pintu ruangan tersebut dan melihat seorang pria dengan setelan jas berwarna maroon sedang menjelaskan sesuatu namun wajahnya tidak kelihatan karena memunggungi mereka.


“Maaf, kami terlambat” cicit Qania.


“Silahkan kalian..”,.


Baru saja Qania dan Lala akan melangkah masuk, sebuah sahutan membuat keduanya terdiam.


“Keluar” ucapnya.


“Appaaa? Maaf pak kenapa kami diminta untuk keluar padahal hanya terlambat kurang dari sepuluh menit?” protes Qania.


“Sepuluh menit ataupun satu menit tetaplah namanya terlambat. Jadi silahkan keluar” ucapnya dingin dan tegas masih tetap memunggungi Qania.


Qania mendengus kemudian menarik tangan Lala untuk keluar dengan menghentak-hentakkan kakinya.


“Arrgghh, aku sudah mengorbankan waktu liburanku demi untuk menghadiri seminarnya dan hasilnya seperti ini. Dasar pria sok disiplin waktu, nggak bisa telat dikit doang udah main ngusir. Emang dia pikir dia siapa? Tanpa mahasiswa juga seminarnya nggak bakalan jalan kayak gini. Sombong pula, nggak mau natap orang” gerutu Qania sambil berjalan menuju kearah lift.


“Semua itu karena kamu juga sih La pakai lambat bangun” tambah Qania.


“Lah kok jadi Lala sih, kan tadi kakak yang minta berhenti untuk ngobrol sama teman kakak. Jadi ini juga salah kakak” sanggah Lala tidak terima disalahkan oleh Qania.


“Iya juga sih, ah ini salahnya si Raka yang emang dari dulu suka banget buat aku kesal” gerutu Qania kesal.


“Ih kok malah main nyalah-nyalahin sih. Sabar aja kali kak, nanti ada lagi kok” ucap Lala mencoba menenangkan Qania.

__ADS_1


Tinggg…


Lift terbuka, Qania dan Lala masuk namun tanpa melihat orang di depan mereka.


Bugghhh….


“Aaawww” ringis Qania dan orang yang bertabrakan dengannya bersamaan.


Keduanya jatuh terduduk di depan pintu lift.


“Maaf mbak saya tidak sengaja” ucap Qania sambil berdiri.


“Ah saya juga yang jalannya nggak hati-hati sambil mainin ponsel” ucapnya seraya berdiri.


“Eh mbaakk…”,.


“Wah gadis piano”,.


Keduanya sama-sama berteriak heboh kemudian saling mendekat untuk bersalaman.


“Mbak Marsya ngapain kesini?” tanya Qania.


“Oh tunangan aku lagi ngisi seminar di hotel ini” jawab Marsya.


“Marsya Alvindo?” tanya Lala yang masih tercengang.


“Iya saya” Marsya menoleh ke asal suara.


“Waah mbak saya Lala yang menjual barang-barang dari hasil sulaman dan rajutan yang mbak pesan itu loh. Nggak nyangka bisa bertemu langsung dengan mbak dan wah mbak cantik sekali” pekik Lala memuji Marsya.


“Oh jadi kamu Lala yang jualan pakaian dan beberapa aksesoris itu” timpal Marsya heboh.


“Iya mbak” jawab Lala mengangguk antusias.


“Wah kumpulan wanita dengan suara cempreng dan heboh” kekeh Qania yang menyadari suara mereka bertiga begitu besar.


Ketiganya pun saling menatap dan tertawa terbahak-bahak.


“Oh iya mbak, katanya tadi tunangannya ya yang lagi ngisi seminar di hotel ini?” tanya Qania disela tawa mereka.


“Oh haha iya Qania, ada apa?” jawab Marsya sambil menyeka air matanya karena tertawa.


“Hmm Tristan Anggara?” lanjut Qania tanpa menjawab pertanyaan Marsya.


“Ah kamu kok tahu” pekik Marsya.


“Yaiyalah tahu mbak, kita baru aja diusir sama tunangan mbak” ujar Qania sebal.


“Hah kenapa Tristan ngusir kalian?” tanya Marsya kaget.


“Ya kita datang terlambat padahal kurang dari sepuluh menit doang” jawab Qania masih kesal.


“Buhahaha, Tristan memang seperti itu. Dia paling anti yang namanya telat tapi paling sering telat kalau ada urusan sama aku” ucap Marsya tertawa.


Qania dan Lala hanya memasang wajah datar sambil menatap Marsya yang masih senang tertawa itu.


“Oke, oke biar aku yang hubungi Tristan ya” ucap Marsya yang mengerti raut wajah dua orang di depannya itu.


Qania dan Lala langsung menatap senang pada Marsya yang sedang menekan-nekan ponselnya itu.


“Senang banget” ledek Marsya yang sedang menempelkan ponsel di telinganya.


“Ada apa Sya? Aku kan lagi ngisi seminar”,.


“Em gini Tris, dua orang temanku ingin masuk seminarmu tapi mereka terlambat” ucap Marsya dengan suara dibuat manja.


“Dua orang yang baru saja keluar itu?”,.


“Hehehe, iya sayang. Bisa nggak mereka masuk, kasihan sudah jauh-jauh datang” bujuk Marsya.


“Ya tentu saja nggak bisa”,.


“Ougghh tapi kan say…”,.


“Kamu kan tahu gimana aku, meskipun kamu merayu aku nggak bakalan bilang iya”,.


Tut…tutt..tutt..


“Triss, halloo Triss. Sayangg?” panggil Marsya namun panggilan tersebut telah diputus sepihak.


Marsya mencoba menetralkan perasaannya dengan beberapa kali menghembuskan napas panjang.


“Gimana mbak?” tanya Qania.


“Hmm maaf Qania sepertinya aku tidak bisa menolongmu” jawab Marsya lesu.


Qania dan Lala yang tadinya sangat bersemangat kini nampak lesu setelah mendengar jawaban dari Marsya.


“Ya sudah mbak Marsya, kami pamit dulu” ucap Qania setelah mereka sempat hening beberapa saat.


“Mau kemana Qania? Kita makan siang bareng aja dulu” ajak Marsya mencegat.


“Lain kali deh mbak” tolak Qania.


Marsya paham kalau saat ini Qania sedang kecewa dan kesal pada tunangannya itu sehingga ia tidak banyak berkomentar apalagi memaksa Qania.


“Ya sudah kapan-kapan ya. Dan ya, tolong berikan nomor ponselmu” ucap Marsya sambil menekan-nekan ponselnya.


Qania pun dengan senang hati menyebutkan nomor ponselnya dan setelah keduanya bertukaran nomor ponsel, Qania dan Lala pun pamit.


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗

__ADS_1


 


__ADS_2