
Di tempat berbeda, Tristan semakin gusar menunggu Marsya yang tidak pulang-pulang. Dua kali penerbangan ia lewatkan dan Marsya tak kunjung datang. Saat ini ia sudah berada di bandara untuk mengambil penerbangan pagi. Ia juga sudah mengirim pesan pada Marsya kalau ia menunggu di bandara.
Semalaman Marsya tak pulang ke hotel. Itu ia ketahui saat mencari Marsya di kamar hotel dan rupanya Marsya tak ada disana. Ia berpikir pasti Marsya menginap bersama Monica mengingat dulu dua gadis itu begitu dekat saat Marsya masih menggeluti dunia model itu.
“Kamu dimana sih Sya. Sepuluh menit lagi ini,” gerutu Tristan berulang kali melirik ke arah luar dan jam tangannya.
Tristan semakin dibuat kesal saat mendengar panggilan untuk penumpang pesawat yang akan ia tumpangi itu sementara Marsya tak kunjung datang.
“Tiga menit. Tiga menit lo nggak datang gue bakalan ninggalin elo disini,” geram Tristan.
Dua menit berlalu akhirnya Tristan bisa bernapas lega karena melihat Marsya berjalan sambil menarik kopernya. Namun mata Tristan membulat sempurna begitu melihat Marsya seketika terkapar di lantai. Ia dengan jelas melihat sebuah peluru nyasar menembus bahu Marsya. Dengan cepat Tristan berlari meninggalkan kopernya dan langsung meraih tubuh Marsya, meletakkannya di atas pangkuan.
“Siapapun tolong!!” teriak Tristan.
Orang-orang yang berlalu lalang di bandara segera berkumpul dan langsung membantu Tristan membawa Marsya yang pingsan serta dipenuhi darah itu kedalam mobil taksi. Seseorang dari dalam pun berlari membawakan koper Tristan dan juga Marsya.
“Sya, bertahan Sya. Aku mohon,” lirih Tristan ketika mobil taksi mulai bergerak meninggalkan bandara.
Tristan tak bisa berpikir jernih karena darah terus saja keluar dari bahu Marsya. Tiba-tiba saja tubuh Marsya mengejang dan dari mulutnya keluar darah lalu ia kembali pingsan.
“Hurry up!”
Sang supir pun langsung melaju dengan kecepatan diatas rata-rata karena khawatir juga dengan penumpangnya ini.
Tak beberapa lama kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Supir taksi membantu membuka pintu mobil dan Tristan langsung membopong tubuh Marsya dengan tergesah-gesah ia berlari. Tak lama kemudian datang perawat rumah sakit dengan mendorong brankar dan mereka berlari cepat membawa Marsya masuk ke dalam ruang UGD.
“Tolong tunggu di luar,” ucap salah satu suster yang ternyata orang Indonesia.
“Tolong selamatkan Marsya Sus,” mohon Tristan.
“Ya, kami akan berusaha dan Anda teruslah berdoa untuknya. Sebaiknya Anda membersihkan diri dan setelah itu mengurus administrasinya. Saya permisi,” ucapnya kemudian masuk ke dalam ruang UGD.
Seorang dokter pria berusia lima puluhan tahun datang menghampiri Tristan yang sedang panik di depan ruang UGD.
“Apa yang terjadi dengannya?” Ia bertanya dengan menggunakan bahasa Inggris sebab melihat wajah Tristan yang nampak jelas bukan orang Eropa.
“Dia terkena peluru nyasar. Tadi kami akan melakukan penerbangan kembali ke Indonesia namun di bandara sepertinya ada kegaduhan sehingga Marsya yang terkena imbasnya. Tolong selamatkan adik saya Dok,” ucap Tristan bermohon.
“Sure. Saya permisi,” ucapnya kemudian masuk ke ruang UGD.
Di tengah kekalutannya Tristan teringat untuk menghubungi Tuan Alvindo. Bagaimana pun ia adalah orang tua Marsya.
“Om, Marsya Om,” ucap Tristan panik begitu tuan Alvindo menjawab panggilannya.
“Ada apa dengan Marsya, Tris?”
Terdengar suara panik dari balik saluran.
“Om maafkan saya yang lalai. Tadi kami akan berangkat untuk pulang namun di bandara terjadi aksi baku tembak dan Marsya menjadi korban peluru nyasar Om,” jawab Tristan kemudian mengusap kasar wajahnya.
Terdengar suara lengkingan keras, Tristan bisa menduga itu adalah suara ponsel tuan Alvindo yang terjatuh.
__ADS_1
“Hallo? Hallo Om?” panggil Tristan.
“Saya akan berangkat kesana hari ini juga. Tolong jaga Marsya dan terus beritahukan saya perkembangan kondisinya. Oh ya, hubungi tante Bendelina.”
Panggilan terputus begitu saja, Tristan pun langsung duduk bersandar di lantai sambil menunggu dokter ataupun suster keluar.
Pintu UGD terbuka dan keluar seorang suster yang merupakan orang Indonesia.
“Pelurunya harus di keluarkan. Pasien harus segera di operasi. Tolong urus administrasinya,” ucapnya memberi kabar.
“Baik. Dimana saya harus mengurusnya?” tanya Tristan spontan berdiri.
“Mari ikut saya.”
Tristan pun mengikuti suster tersebut dan langsung mengurus segala administrasi pengobatan Marsya. Suster menyarankan agar Tristan mengganti pakaiannya yang sudah dilumuri darah itu. Tristan pun menarik kopernya ke salah satu kamar mandi kemudian membersihkan noda darah di tubuhnya lalu mengganti pakaiannya.
Tak lama kemudian ia keluar dan segera menuju ke ruang operasi lagi. Ia teringat pesan tuan Alvindo untuk menghubungi tante Bendelina. Ia segera menelepon dan tante Bendelina mengatakan akan segera datang kesana.
Tristan memasukkan ponsel ke dalam saku celananya kemudian ia menarik kuat rambutnya. Ingin berteriak namun tak bisa ia lakukan karena saat ini ia berada di rumah sakit.
Ditengah kekalutannya ia mencoba menghubungi nomor Qania namun sayang hanya operator yang menjawab bahwa Qania sedang ada di panggilan lain.
“Sial! Dia sedang berbicara dengan siapa sih dari tadi? Tidak tahu apa kalau gue sedang membutuhkannya sekarang,” erang Tristan sambil terus mencoba menelepon nomor Qania untuk yang ke sekian kalinya.
“Harusnya kita udah di dalam pesawat atau paling nggak jika semalam kamu mendengarkanku maka kita sudah hampir sampai di Indonesia. Sial! Sial! Sial!” gerutu Tristan sambil membenturkan belakang kepalanya ke dinding.
“Kenapa ada-ada saja penghalang jalanku untuk bertemu dengan Qania, sih?” gumamnya setengah terisak karena entah mengapa hatinya begitu merindukan Qania dan juga sedikit menggelisahkan wanitanya itu.
Tukang ojek yang tadi Qania minta untuk mengantarkan paket kini telah sampai di depan jajaran rumah kostan yang cukup ramai. Ia pun membuka helmnya dan berjalan ke arah kerumunan penghuni kost tersebut sambil menenteng kantung plastik berisi kardus.
“Permisi adik-adik, disini ada yang bernama Raka?” tanya tukang ojek tersebut.
“Ah ya, saya Pak,” jawab Raka yang memang kebetulan sedang berbincang sambil memangku gitar.
“Ada paket dari mbak Qania,” ucapnya seraya menyerahkan kantung plastik tersebut.
“Qania ngirim paket Pak? Paket apa?” tanya Raka setelah mengambil kantung plastic tersebut dan menyelidikinya.
“Ya saya nggak tahu Mas. Kalau gitu saya pamit dulu,” ucapnya kemudian pergi berlalu.
Raka menjadi penasaran dengan paket yang dikirimkan Qania ini. Ia pun pamit pada teman-temannya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Raka menutup pintu kamarnya dan langsung duduk di kursi ruang tamunya yang berukuran 2 cm x 2,5 cm ini. Ia mengeluarkan kardusnya dari dalam kantung plastic sambil mengernyitkan alisnya.
“Ini apa?” gumam Raka.
Ia ingin membukanya namun ia lebih memilih menghubungi Qania lebih dulu. Tidak biasanya Qania mengirim paket dan ini pun bukan hari ulang tahunnya juga. Ia pun menelepon Qania dan panggilannya langsung dijawab.
__ADS_1
“Hallo Qan, gue tadi dapat kiriman paket dari Mas ojol. Katanya itu dari elo. Itu apa? Lo dimana?” cecar Raka begitu panggilan tersambung.
“Aku di kantor dan tolong jaga paket itu ya. Jangan di buka, tunggu aku dat—“
“Oh maaf sudah membuat Bapak menunggu. Mari kita menemui kliennya.”
Raka mengernyit mendengar ucapan Qania. Dalam hati ia berkata bahwa saat ini mungkin atasan Qania datang sehingga ia mengabaikan Raka yang sedang teleponan dengannya.
Raka hanya diam saja menunggu Qania berbicara dengan atasannya yang masih bisa ia dengar walaupun samar-samar.
“Qania naruh hpnya dimana sih?” gumam Raka.
Raka terus saja mendengarkan sampai akhirnya ia merasa bosan sendiri. “Mending gue matiin aja, ntar telepon lagi kalau Qania udah kelar kerjanya,” ucap Raka.
Baru saja akan memencet tombol untuk mematikan panggilannya, Raka terhenyak mendengar obrolan tak biasa dari seberang salurannya. Ia mendekatkan ponselnya ke telinganya serta mengaktifkan loudspeakernya agar bisa mendengar dengan jelas.
“Sial! Ini Qania kenapa sampai berteriak begini sih?” umpat Raka tak tenang.
Bola mata Raka hampir melompat keluar begitu mendengar percakapan Qania dan atasannya.
“Bangsat! Dia mau apain Qania gue? Kurang ajar! Gue harus segera kesana. Qania itu punya trauma yang mendalam. Sial! Sial!”
Raka terus mengumpat sambil mencari-cari jaketnya yang tergantung di dekatnya namun karena begitu panik ia sampai tak bisa mendapatkannya dan sibuk mencari di tempat lain. Dengan rasa cemas berlebihannya itu ia bahkan juga lupa dimana meletakkan kunci motornya.
“Sial! Kenapa gue sebodoh ini sih?” umpatnya begitu mendapatkan kunci motor yang ternyata masih tertancap di motornya.
Raka mengeluarkan motonya kemudian ia kembali masuk untuk mengamankan kardus kiriman Qania ke dalam kamarnya lalu menguncinya. Ia kemudian keluar lagi dan langsung naik ke atas motonya. Sesaat kemudian ia mengumpat kasar karena teringat ponselnya masih di dalam rumah.
Raka masih terus tersambung dengan Qania. Ia bisa mendengar suara teriakkan dan juga permohonan Qania. Bahkan ia dengan sengaja merekam pembicaraan itu agar jika terjadi sesuatu pada Qania maka ia memiliki bukti untuk menghukum pelakunya serta membantu Qania untuk menghukum pelakunya itu.
“Qania tungguin gue, bertahan please Qan. Gue akan segera sampai. Tolong bertahan untuk gue Qan,” gumam Raka dengan tanpa sadar ia menitikkan air matanya.
Raka melajukan motornya bahkan ia tidak sadar telah menerobos lampu merah dan itu membuatnya di kejar oleh Polisi. Karena tak ingin berurusan lama dengan pihak berwajib ini, Raka dengan cepat menarik gasnya hingga ia melesat dengan kecepatan tinggi di atas aspal. Ia bahkan keluar masuk di gang-gang hanya untuk menghindari kejaran Polisi. Dan benar saja, ia sudah tidak dikejar lagi namun itu membuatnya mengulur waktu terlalu lama untuk sampai ke kantor tempat Qania magang.
Begitu sampai di kantor tersebut, Raka tak lagi memarkirkan motornya di tempat parkir. Dimana ia berhenti, ia meninggalkan motornya disana dan langsung buru-buru masuk ke dalam kantor mengabaikan satpam yang terus mengejarnya.
“Anda tidak bisa sembarangan masuk!” tegur satpam tersebut saat berhasil meraih tangan Raka.
“Saya tahu Pak, tapi saya harus mencari teman saya sekarang. Dia menelepon katanya membutuhkan bantuan saya. Jadi saya kemari. Tolong kerja samanya Pak,” pinta Raka semakin cemas karena saat ini ia tak bisa mendengar suara Qania sebab ponselnya berada di dalam saku celananya.
“Siapa temanmu?” tanya Pak Satpam.
“Qania, Qania Salsabila,” jawab Raka cepat.
“Apakah disini ada pegawai bernama Qania?” tanya Pak Satpam kepada resepsionis.
Belum sempat resepsionis itu menjawab, dari arah samping datang Pak Leri yang lebih dulu memberi tahu Raka.
“Dia saat ini berada di gudang. Kau berjalan saja lurus dari sini kemudian belok ke kiri. Gudang ada di ujung jalan,” ucap Pak Leri dan Raka langsung menerobos masuk.
Aku harap kau bisa menyelamatkan temanmu itu tepat waktu. Dan semoga tidak ada Clara ke dua. Claraku harus mendapat keadilan. Dan semoga kalian bisa menjobloskan pria brengsek itu ke dalam penjara. Ia pantas untuk dihukum atas apa yangs udah ia lakukan kepada Claraku, gumam batin Pak Leri kemudian ia berjalan keluar kantor.
__ADS_1