Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Speechless


__ADS_3

Tanpa ada yang tahu dari tadi Tristan berada di dekat mereka namun tidak berani menampakkan diri. Ia hanya memantau saja jika ada kesempatan mendekat maka ia akan langsung mendekat.


Ia tadi mendengar dari pihak kepolisian kalau korban tabrakan dibawa ke rumah sakit kota dan tanpa ba-bi-bu lagi dia segera menuju ke rumah sakit.


Mata Tristan menatap dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU. Ia menajamkan telinganya untuk mendengarkan penjelasan dokter.


"Pasien sudah melewati masa kritisnya namun belum bisa dipastikan kapan ia akan sadar. Teruslah berdoa, hanya doa saja yang bisa membantu saat ini."


Tristan meremas dadanya yang terasa begitu sesak. Ia tidak menyangka kalau semua jadi seperti ini. Kalau saja dia tidak berkata seperti itu kepada Marsya dan Qania tidak mendengarnya maka tidak akan ada kejadian seperti ini.


Tristan melihat Raka yang berlari terburu-buru ketika mendapat telepon. Sementara disana tinggallah Lala sendiri yang sedang menunggui Qania.


"Bagaimana caranya agar gadis itu pergi? Aku ingin menemui Qania," gumam Tristan.


Lama ia berpikir, ia memutuskan untuk menemui dokter yang tadi menangani Qania. Ia bertanya pada beberapa perawat yang lewat kemudian setelah mengetahui dimana ruangan dokter tersebut ia pun langsung menemuinya.


"Permisi, Dok," sapa Tristan begitu ia dipersilahkan untuk masuk.


"Iya, silahkan duduk. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter tersebut dengan ramah.


"Saya kekasih dari korban kecelakaan yang bernama Qania. Apakah saya boleh menjenguknya?" Tanya Tristan hati-hati.


Dokter tersebut tersenyum tipis, ia bisa melihat gurat kekhawatiran dari wajah Tristan.


"Bisa tapi jangan terlalu lama. Mintalah pakaian steril pada petugas yang menjaga pasien tersebut. Ingat, jangan membuat keributan yang akan mengganggu pasien."


"Baik, Dok. Terima kasih, saya permisi dulu," ucap Tristan.


.... . ....


Raka mengumpat saat motornya tiba-tiba saja berhenti. Ia pun turun dan memeriksa apa yang salah dari motornya yang tiba-tiba mati.


"****! Mogok lagi, arrggghh ...."


Raka pun mengambil ponsel dari saku celananya kemudian menghubungi Syaquile.


"Maaf, Dek. Kakak nggak bisa jemput kamu soalnya motornya mogok. Kamu telepon Lala gih biar dia jemput. Kakak harus bawa ke bengkel dulu nih, maaf ya," ucap Raka setelah Syaquile menjawab teleponnya.


"Iya, Kak. Santai aja."


Raka terus mengumpat sepanjang jalan ia mendorong motornya untuk mencari bengkel.


Di rumah sakit, Tristan masih memantau keadaan di depan ruang rawat Qania, ia berharap Lala segera pergi dari sana namun ia tidak bisa mengalihkan perhatian gadis itu. Ia hanya bisa menunggu saja.


"Iya Kak, baik."


Lala mematikan ponselnya setelah mendapat telepon dari Syaquile. Dengan tergesa-gesa Lala meninggalkan rumah sakit untuk menjemput Syaquile.

__ADS_1


Tristan menyeringai, Tuhan memang sedang berpihak padanya sehingga ia bisa mendapat kesempatan untuk menemui Qania. Ia yang sudah mengenakan pakaian pemberian perawat tadi pun dengan cepat masuk ke ruangan dimana Qania sedang terbaring tak sadarkan diri.


Air mata Tristan menetes saat melihat kondisi Qania, namun ia tidak bersuara sama sekali. Hanya bunyi alat yang terhubung di tubuh Qania yang terdengar di ruangan tersebut.


Perlahan-lahan Tristan berjalan mendekati Qania, ia langsung duduk di dekat Qania sambil menggenggam tangan yang terasa begitu dingin.


"Maaf," lirih Tristan kemudian mengecup lembut punggung tangan Qania.


Tristan mengecup lama dahi Qania, sambil terisak ia membelai wajah Qania yang dipenuhi luka dan juga terlihat sangat pucat.


Tristan menarik wajahnya dari dekat Qania, ia mengelus lembut rambut Qania tanpa mengalihkan pandangannya.


"Maaf," ulangnya lagi.


"Harusnya aku lebih berani mengatakan perasaanku pada Marsya. Aku sangat pengecut Qania, kau boleh memakiku dan mencaciku sepuas hatimu. Aku memang bodoh Qania, aku sangat bodoh. Hukum aku sepuasmu Qania, ayo bangun dan berikan aku kata-kata pedasmu. Hikss ...."


"Harusnya aku berani mengakui pada Marsya kalau aku mencintaimu Qania, harusnya aku lebih berani. Laki-laki seperti apa aku ini, tidak berani berjuang untuk perasaanku sendiri. Maaf Qania, maaf. Kalau saja aku bicara jujur pada Marsya hal ini tidak akan menimpamu. A-aku memang bodoh dan pengecut Qania, maafkan aku."


"Tolong bangun dan sadarlah untukku Qania, aku sangat mencintaimu. Setelah ini aku akan menyudahi hubunganku dengan Marsya, aku akan berjuang untukmu Qania. Aku sangat mencintaimu, hikss maafkan aku."


"Aku janji setelah kau bangun kita akan berkeliling kota dan aku akan menggendongmu. Kita akan ke pantai lagi dan aku akan bernyanyi untukmu. Apapun yang kau inginkan akan aku penuhi asalkan kau bangun Qania. Tolong jangan siksa aku seperti ini dengan keadaanmu, aku begitu sesak melihatmu seperti ini. Bangun sayang, sadarlah."


"Ini aku Tristan mu, oh bukan ini aku A-Arkana. Ya, aku Arkanamu. Aku akan menjadi Arkanamu jika kau bangun, akan ku ubah identitasku untukmu, asalkan kau bangun. Bantu aku memperjuangkan cintaku padamu. Beri aku saran untuk mengakhiri hubunganku bersama Marsya. Aku yakin kau punya ide yang sangat bagus untukku, tolong aku Qania. Jangan lama-lama seperti ini. Aku mencintaimu Qania, aku sangat mencintaimu Qania Salsabila," lirih Tristan, ia berulangkali mengecup punggung tangan Qania.


Tristan kehabisan kata-kata, ia hanya terus menggenggam tangan Qania dan meletakkannya di pipi, sesekali ia mengecupnya. Tak lupa ia juga mengecup kening dan bibir Qania, menghujami wajah itu dengan kecupan. Mulutnya tak henti menggumamkan kata maaf dengan air mata yang menetes di pipinya.


.... . ....


"Hai Kak," sapa Lala.


"Hai juga. Turun La, biar kakak yang nyetir," pinta Syaquile dengan lembut.


Lala mengangguk, kemudian ia turun. Syaquile mengambil alih untuk menyetir motor Lala, dengan gugup ia meraih tangan Lala dan ia lingkarkan di perutnya.


"Pegangan La, biar nggak jatuh," ucapnya gugup.


Lala tidak bisa mendefinisikan bagaimana perasaannya saat ini. Jantungnya berdegup kencang, ingin rasanya ia berteriak saat ini. Rasanya seperti mimpi saja bagi Lala yang diam-diam menyimpan perasaan lebih pada Syaquile.


"Iya, Kak," jawab Lala malu-malu.


Syaquile pun melajukan motor tersebut dengan senyuman yang terus tersungging di bibirnya. Begitu pun dengan Lala yang terus saja bersorak dalam hati karena bisa berduaan dan dalam pose romantis bersama pria yang sudah mencuri hatinya itu.


'Kak maaf ya aku mesra-mesraan saat kakak sedang sakit. Tapi adikmu ini sedang jatuh cinta, Kak. Dan ini untuk pertama kalinya aku merasakan perasaan seperti ini. Aku tetap khawatir sama kakak, tapi biarkan aku menyenangkan hatiku dulu ya Kak. Aku akan segera sampai, semoga kakak baik-baik aja. Syaquile datang, Kak. Syaquile datang untuk menjaga kakak.'


Syaquile memarkirkan motor di parkiran rumah sakit, ia dan Lala baru saja sampai dan keduanya pun langsung berjalan menuju ruangan dimana Qania dirawat.


Suasana hening di sekitar ruang ICU membuat bunyi perut Lala terdengar jelas di telinga Syaquile. Wajah Lala memerah menahan malu karena Syaquile menatapnya dengan senyuman meledek.

__ADS_1


"Lapar, hemm?"


"Hehe, I-iya, Kak," jawab Lala malu-malu.


"Kamu sekarang makan dulu, La. Biar aku yang jagain kak Qania. Jangan sampai kamu juga jkutan sakit," pinta Syaquile.


"Eh, iya Kak. Aku pamit cari makan dulu ya, kak Syaquile nggak ada yang mau dititipkan?"


"Nggak ada, La. Kamu hati-hati ya," ujar Syaquile.


Setelah Lala pergi, tinggallah Syaquile sendiri sambil terus menatap pintu ruangan yang tertutup rapat itu.


"Bagaimana kondisimu, Kak," lirih Syaquile.


Di dalam ruang ICU, Tristan berpamitan pada Qania meskipun ia enggan untuk beranjak.


"Aku pamit ya sayang. Aku akan datang lagi dan jika ada kesempatan aku akan menemuimu. Cepatlah sadar, untukku," lirih Tristan. Ia menciumi puncak kepala Qania, tak lupa seluruh wajah Qania dikecupnya.


Air mata Qania menetes saat Tristan beranjak meninggalkannya. Meskipun tidak sadarkan diri, Qania dapat mendengar setiap ucapan Tristan.


Tristan membuka pintu ruangan tersebut dan itu mengundang perhatian Syaquile yang tengah melamunkan keadaan sang kakak.


Syaquile tiba-tiba saja menjadi speechless saat melihat sosok yang baru saja keluar dari ruang rawat kakaknya. Mulutnya seolah kaku, bahkan untuk membalas senyuman Tristan pun ia tidak mampu.


Tristan buru-buru pergi saat menyadari pria di hadapannya tidak bersuara sama sekali dan bahkan tidak berkedip menatapnya.


Syaquile baru tersadar saat Tristan sudah tidak lagi berada di hadapannya.


"Tidak mungkin," gumamnya.


Melihat Syaquile yang terdiam, dokter yang datang ingin memeriksa keadaan Qania pun menghampirinya.


"Anda baik-baik saja?" Tanya dokter tersebut.


"Hah? I-iya dok. Oh iya dok, pria yang baru saja keluar dari ruangan itu, siapa dia?" Tanya Syaquile ingin memastikan.


"Oh pria itu, katanya dia kekasih pasien yang bernama Qania. Ada apa?"


Syaquile sangat terkejut bukan main, hanya saja ia berusaha untuk tidak menampakkannya.


"Bagaimana kondisi kakak saya, Dok? Saya adiknya Qania," Tanya Syaquile mengalihkan.


"Saya akan memeriksanya, permisi."


Syaquile terduduk lesu, ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia terus menggelengkan kepalanya.


"Aku akan bertanya nanti pada kak Qania, alasan apa yang membuatnya menyembunyikan keberadaan kak Arka," gumam Syaquile.

__ADS_1


...🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲🌲...


Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗


__ADS_2