Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Itu Kursi Milikku


__ADS_3

Qania mengecup pipi gembul anaknya yang sedang damai dalam tidurnya sambil menyeka air matanya yang terus saja mengalir mengingat besok pagi ia harus meninggalkan anaknya lagi. Rasanya baru kemarin ia datang dan besok sudah harus kembali lagi dan dalam waktu yang cukup lama.


Balita itu menggeliat mungkin karena tidurnya terusik dengan tingkah mommynya yang tidak mau berhenti menciumi wajahnya. Qania terkekeh melihat bibir kerucut putranya lalu dengan gemasnya ia menciumnya tiga kali dengan kilat.


Qania membelai wajah anaknya dan mencoba menghapalkan setiap lekuk wajah putranya, mata yang sama dengan Arkana, bibir dan juga hidung yang mengkopi setiap bentuk wajah Arkana. Hanya kulitnya saja dan mungil wajahnya yang mengikuti Qania.


Kadang kala Qania kesal karena wajah Arkana lah yang mendominasi pada putranya sementara ia yang sudah mengandung dan bersusah payah melahirkan.


Ketidakadilan yang nyata di bumi ini adalah ketika seorang ibu mengandung dan bertaruh nyawa untuk melahirkan namun ketika ia melihat anaknya justru wajah ayahnya yang mendominasi.


“Kadang aku merasa nggak adil, aku yang hamil dan melahirkan tapi kamu mirip dengan daddymu” gerutu Qania sambil menoel-noel pipi Arqasa.


Qania kembali menatap sendu wajah damai putranya, wajah yang akan kembali ia rindukan dan jauh dari jarak pandangnya selama berbula-bulan lamanya.


“Mommy sangat berat untuk meninggalkanmu nak, tapi mau bagaimana lagi ini semua juga untuk kita nantinya” desah Qania.


“Kamu baik-baik ya sama kakek dan nenek disini. Jangan lupakan mommymu yang sedang memperjuangkan masa depan kita nak” lirih Qania.


“Hah, andaikan saja kamu masih disini bersamaku Ka, aku nggak harus ninggalin anak kita dan aku pasti bakalan ngurus kamu dan anak kita dan bakalan ngabaiin gelar sarjanaku untuk menjadi istri dan ibu yang baik untuk kalian berdua. Sayang semua hanya tinggal harapku saja dan juga aku hanya bisa mengkhayal menjadi sosok istri yang terbaik dan sempurna untukmu Ka. Andai saja dari dulu kita mengatakan tentang pernikahan kita, mungkin hari dimana aku menyaksikanmu dikubur di dalam tanah itu” isak Qania.


“Jahat Ka, kau jahat padaku” tangis Qania.


“Aku selalu bersyukur disetiap waktu yang kuhabiskan bersamamu. Aku tidak pernah lupa berterima kasih kepada Tuhan karena sudah menghadiahkan dirimu untukku. Apa yang kurang? Aku kurang bersyukur apa Tuhan, hingga Engkau mengambil satu-satunya yang paling ingin kujaga dan tidak ingin kubagi dengan siapapun? Aku kurang apa lagi? Apa karena aku terlalu sombong dengan pemberianmu hingga kau tidak suka dan kembali mengambilnya dariku?” pekik Qania dalam tangisnya.


Qania menangis dan terus mengajukan protes kepada sang pencipta hingga ia tertidur dengan air mata yang mongering di wajahnya.


*


Qania POV


Sarapan pagi ini aku sungguh tidak berselera, bahkan hanya kuaduk-aduk nasi goreng yang biasanya aku sangat bersemangat untuk menghabiskan dua piring sekaligus. Namun menatap wajah lucu nan menggemaskan putraku yang sejam lagi akan aku tinggalkan membuat hatiku begitu pilu.


Aku tahu ini kali kedua aku akan berpisah jauh dan lama dengannya, tapi rasanya tetaplah sangat berat dan sangat-sangat menyakiti hatiku. Aku rasanya ingin berhenti saja, tapi jika mengingat perkataan papa tentang perjuangan papa Setya membuatku juga meradang. Mungkin ini memang yang terbaik agar aku bisa memetik hasil yang lebih baik lagi kedepannya dan toh tidak selamanya aku berjauhan dengan anakku.


Aku mengangguk ketika mama dan papaku menyuruhku untuk menghabiskan makanan yang sungguh sangat sulit untuk ku telan. Tapi aku tidak ingin terlihat buruk di depan kedua orang tuaku. Aku juga yakin mereka bisa menjaga anakku bahkan lebih baik daripada diriku.


Setelah bersusah payah akhirnya nasi di piringku tandas juga. Aku berjalan malas mengahampiri kedua orang tuaku yang berada di teras samping yang sedang bermain dengan putraku yang terlihat sedang mengoceh sambil berjalan kesana-kemari. Aku tersenyum, ah rasanya ingin kubawa saja anakku dan biarkan nek Nilam atau menyewa pengasuh untuk menjaganya.


Tapi dengan kesibukanku pasti anakku akan jarang dapat perhatian juga ditambah nek Nilam yang sudah tua dan pengasuh yang belum tentu bisa dipercaya. Ya memang benar jalan satu-satunya hanyalah menitip anakku di rumah kedua orang tuaku. Lagi pula mereka menyayangi anakku dengan tulus dan bahkan melebihi kasih sayang mereka padaku.


“Belum bersiap sayang?” tanya mama kepadaku yang hanya kujawab senyum dan anggukan.


“Arqasa sini sama mommy nak” panggilku dan anakku pun langsung berjalan mendekat kepadaku.


Aku menggendongnya dan menghujani wajahnya dengan ciumanku membuatnya tertawa geli lalu mengoceh karena kesal juga. Anakku itu kadang suka membuatku kesal seperti daddynya namun juga gampang kesal sepertiku, benar-benar perpaduan yang cocok.


“Mom..mmyy” tegurnya membuatku tertawa.


“Mommy apa sayang hemm?” ledekku.


“Nanan cum cum Aqa” protesnya dengan bahasa yang masih belum jelas namun aku paham dengan maksudnya yang tidak senang kuciumi terus menerus.


“Pipi Arqasa menggemaskan nak, jadi mommy tidak bisa berhenti menciuminya” ucapku membuatnya hanya mengerjapkan matanya mungkin tidak paham dengan ucapanku tapi aku sangat suka melihat matanya yang membuka menutup seperti itu, seperti boneka saja pikirku.

__ADS_1


“Uh mom..my nanan is” protesnya lagi dan aku menjadi kasihan lalu ke belai lembut pipinya dan menatap lekat mata bening anakku yang benar-benar meneduhkan sama persis seperti mata Arkanaku.


“Sudah sana bersiap, setengah jam lagi penerbanganmu” tegur papa membuatku meradang namun yam au bagaimana lagi.


Aku sebenarnya igin menggendong anakku ke kamar namun papa melarang karena nanti aku akan kesusahan menggendong Arka dan membawa koper juga di tanganku. Padahal aku hanya membawa koper kecil yang berisi beberapa buku dan juga camilan khas kotaku untuk nek Nilam dan Lala.


Kini kami sudah dalam perjalanan ke bandara dengan papa yang menyupiri kami. Aku duduk di belakang bersama kesayanganku, putraku Arqasa Wijaya. Sementara di depan papa didampingi mama, ah rasanya sangat menyebalkan mereka memamerkan kemesraan yang tidak akan pernah bisa aku lakukan lagi bersama Arkana.


Aku masih ingat jelas bagaimana kalau aku bersamanya di dalam mobil dengan tangannya yang terus menggenggam tanganku dan sebelah tangannya fokus menyetir. Jika mengingat itu semua rasanya aku ingin berteriak dan berusaha untuk mencari doraemon dan kubujuk dia dengan dorayaki yang banyak agar mau meminjamkanku pintu kemana saja agar aku bisa ke akhirat menemui Arkana atau mesin waktu agar aku bisa pergi ke masa lalu dimana aku bahagia bersamanya atau kain untuk membalik waktu untuk mencegah semuanya agar kecelakaan sialan itu tidak pernah terjadi.


Hah aku hanya bisa berandai-andai dengan film kartun yang berbentuk kucing tapi selalu dikatai musang itu yang tentu saja itu tidak nyata adanya.


Aku suka kebiasaan putraku yang sering tertidur di dalam mobil, sehingga aku tidak perlu melihat mata beningnya sebelum aku pergi meninggalkan mereka lagi.


Lambaian tangan kedua orang tuaku dan juga wajah teduh dan damai putraku yang tertidur mengiringi klangkahku masuk menuju ke pesawatku dengan deraian air mata yang sedari tadi ku tahan di depan kedua orang tuaku.


Aku menumpahkannya saat aku sudah akan berjalan masuk ke pesawat.


“Beberapa bulan lagi aku akan kembali” ucapku seraya menghapus air mata yang entah kenapa tidak ingin berhenti membasahi pipiku ini.


Qania POV END


Qania berjalan kedalam pesawat mencoba mencari tempat duduknya namun sayang ketika ia sudah menemukannya justru ada orang yang dengan damainya tertidur di kursinya dan menutupi wajahnya dengan jaket berwarna navy.


Qania ingin marah namun tiba-tiba ia teringat akan kenangannya bersama Ghaisan di bis waktu itu membuat Qania terkekeh. Beberapa detik kemudian Qania pun duduk saja di kursi kosong yang ia yakini punya pria di sebelahnya ini.


“Permisi, mohon maaf ini kursi saya. Bisa tidak anda bergeser?” tegur Qania yang ingin duduk di dekat jendela itu agar ia bisa melihat pemandangan dari atas.


“Anda kenapa menarik jaket sa…Qania”,.


“Raka”,.


Keduanya terkejut karena tidak menyangka orang yang merebut kursinya dan orang yang mengganggu tidurnya adalah orang yang sama-sama saling mengenal.


“Kok kamu disini Qan?” tanya Raka yang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya bertemu dengan cinta pertamanya itu.


Raka sudah tahu kalau Qania dan Arkana menikah dan memiliki anak serta berita kematian Arkana sudah sampai di telinganya.


“Aku mau ke kota Y, kamu sendiri?” tanya Qania balik dengan senyuman manis menghiasi wajahnya.


“Sama Qan, kamu ngapain disana?”,.


“Kuliah, aku kuliah di Fakultas Hukum di kampus GM” jawab Qania.


“Ah kok sama sih kuliah. Tapi aku ngambil jurusan Teknik Informatika di kampus X dan mengulang lagi dari semester satu tapi sekarang aku udah mau masuk semester empat, kamu tahu sendiri aku seorang gamers” kekeh Raka.


“Iya aku juga sama mengulang dari semeseter satu akunya sekarang baru akan masuk semester kedua. Wah senangnya bisa bertemu kamu lagi Raka” ucap Qania.


‘Aku bahkan sangat dan teramat sangat senang bisa bertemu denganmu lagi Qania’,.


“Oh iya kenapa kamu tadi bangunin aku Qan?” tanya Raka mengalihkan, ia tidak ingin Qania mengetahui perasaannya yang tengah berbunga-bunga itu.


“Itu kursi milikku” jawab Qania mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


“Ah” Raka tersentak kaget,”hehe maaf, mari bertukar” ucap Raka yang langsung berdiri.


Qania hanya menggeser tubuhnya sedikit dan Raka langsung duduk di sebelah Qania.


“Kamu tinggal sama siapa disana Qan?” tanya Raka memecah kebisuan karena setelah mereka bertukar tempat Qania hanya diam saja sambil memandang ke jendela.


“Oh aku ngekost di rumah nek Nilam di dekat kampus” jawab Qania mengalihkan pandangannya ke wajah Raka.


“Nanti aku main kesana ya” ucap Raka dan Qania mengangguk antusias.


“Kok kamu nggak dari dulu ngambil jurusan itu Ka?” tanya Qania.


“Sebenarnya dulu aku tuh diterima di salah satu kampus di pulau J dengan jurusan itu tapi karena papaku pindah tugas ke kota kita aku mau tidak mau harus ikutan pindah untuk menjaga mamaku sementara kakakku sedang menyelesaikan kuliahnya juga di luar kota”,.


“Sekarang kakakku udah balik dan aku bisa bebas mengejar cita-citaku. Dia mendapat panggilan kerja di kota kita dan secara otomatis dia bakalan jagain mamaku” cerita Raka membuat Qania mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Oh ya Qan, maaf aku nggak sempat datang ke pesta pernikahnmu serta datang untuk melayat saat meninggalnya Arkana. Waktu aku selesai wisudah aku langsung diajak teman-teman untuk liburan dan saat aku kembali aku baru mendengarnya dan berniat menemuimu tapi sayang aku sudah didesak untuk segera datang ke kota Y oleh kenalanku” ucap Raka lirih.


“Nggak apa-apa” jawab Qania sembari tersenyum lembut.


Tidak ada obrolan lagi setelah itu karena Raka merasa sudah membuat Qania bersedih sementara Qania ia sudah merasa sangat mengantuk.


“Qan ak..”,.


“Eh”,.


Raka baru saja ingin bertanya lagi pada Qania agar mereka tidak berdiam diri saja, namun ia terkejut begitu kepala Qania terjatuh tepat dibahunya. Senyum Raka mengembang tentu saja.


Raka membernarkan letak kepala Qania di bahunya dan mengusap lembut anak rambut yang menutupi wajah Qania karena ia tidak mengikat rambut panjangnya itu.


‘Hmm bolehkah gue bersyukur untuk situasi ini? Apa ini pertanda kalau gue akan bersama dengan Qania? Udah lama banget gue mencoba mengubur rasa cinta gue ke Qania tapi gue nggak bisa bahkan nggak sanggup buat ngelupain wajah lo, senyuman dan suara elo Qania’,.


Raka menatap wajah Qania dari dekat dan….


Cuppp….


Secepat kilat Raka mencium bibir Qania yang entah mengapa ia tergoda untuk melakukannya.


‘Semoga Qania nggak tahu dan nggak bakalan marah ke gue’,.


‘Gue bakalan perjuangin cinta gue ke elo Qania. Gue kali ini bakalan pastiin gue bakalan dapatin hati lo. Gue nggak masalah sama status lo seorang janda dan sudah memiliki satu anak. Toh anak lo juga nggak pernah ngerasain kasih sayang dari ayahnya, biar gue yang gantiin dan melimpahkan kasih sayang itu ke anak lo. Gue janji gue bakalan jagain elo dan akan menjadikan elo milik gue Qania. Sudah cukup penantian gue, gue sekarang harus berjuang buat ngedapatin elo Qania. Semoga Tuhan memberikan gue jalan dan membukakan hati elo buat gue’,.


Raka tersenyum sambil membayangkan bagaimana ia mencuri ciuman Qania dan tentu saja ciuman pertama untuknya meskipun ia dapatkan dari hasil mencuri. Ia sempat takut kalau Qania terbangun, namun untung saja Qania tetap damai dalam tidurnya.


“Gue nggak tahu Qan elo itu tidur karena lelah dalam perjalanan ini atau karena lelah menjalani kehidupan lo sekarang. Sedari tadi gue lihat elo lebih banyak melamun dan diam saja kalau gue nggak ngajak lo ngomong. Gue juga lihat elo melihat ke jendela dan gue bisa lihat kalau pikiran elo menerawang jauh yang entah kemana. Gue tahu itu Qan”,.


“Dan sekarang gue janji gue bakalan selalu ada buat elo. Gue bakalan gantiin rasa sakit, sedih, serta kesepian elo dengan kebahagiaan dari cinta gue. Gue janji Qan, gue nggak bakalan biarin elo bersedih lagi, gue bakalan jadi pelindung buat elo dan gue bakalan selalu ada sat lo butuh gue. Gue yakin gue pasti bakalan dapatin hati lo Qania. Gue akan berjuang”,.


Ucap Raka pelan sambil membelai rambut Qania penuh sayang sementara yang dibelai entah sedang berada di dunia mana saat ini.


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima Kasih sudah membaca 😊😊😊😊🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2