Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Ledakan


__ADS_3

Arkana menatap kagum pada Qania yang tengah memberikan sambutan sebagai lulusan terbaik di atas mimbar itu. Ia bangga bahkan sangat bangga karena dialah pemilik wanita yang sedang tersenyum sambil memberikan petuahnya untuk para junior yang turut hadir di acara wisudah itu.


Sesekali Qania yang tengah berbicara itu mencuri pandang pada Arkana yang terus menatapnya dengan tatapan memuja dibarengi senyuman manisnya yang tadi membuat Qania kesal karena dari awal mereka memasuki aula kampus tempat dilaksanakannya acara wisudah ia sudah tebar pesona membuat para mahasiswi yang akan diwisudah dan juga junior-junior terus menatapnya dan ada yang dengan terang-terangan mengajaknya berkenalan dan mendekatinya untuk meminta foto.


Tapi ada satu hal yang membuat Qania membusungkan dadanya setiap kali Arkana di dekati parah mahasiswi itu.


“Maaf saya sudah dimiliki wanita itu, dia kekasih saya, tunangan saya, istri saya. Dia Qania Salsabila wanita tercantik disini dan diseluruh dunia”,.


.


Qania melangkah dan duduk di dekat Arkana setelah ia menyelesaikan sambutannya itu. Qania terus saja menggenggem tangan Arkana karena ia tidak bisa menepis bayang-bayang mimpinya itu. Ia sangat takut pria disebelahnya ini hanyalah halusinasinya saja padahal Arkana sedari tadi terus bersamanya bahkan ia yang menyupiri Qania beserta seluruh anggota keluarga Qania untuk datang kesini.


“Ekhmm, nggak ada kendaraan disini. Nggak usah gandeng-gandengan kan nggak mau nyebrang” sindir papa Qania membuat sang anak menjadi malu.


“Papa macam lupa saja, besok sampai lusa kan mereka nggak bakalan ketemu” timpal Alisha menahan tawanya.


“Loh kok bisa?” tanya keduanya.


“Kan dipingit” kekeh mama dan papa Qania bersamaan.


“Lupain terus saja aku” seru Syaquile membuat keluarganya itu menatap padanya.


“Kakak tidak akan melupakanmu anak nakal, kemari akan ku peluk kau sampai sesak napas” tutur Qania membuat mereka tertawa kecuali Arkana.


“Kak Arka kok wajahnya cemberut gitu?” tanya Syaquile heran.


“Nggak, Cuma kamu jangan lama-lama berada dalam pelukan gadis milikku. Kau harus ingat kalau kau itu seorang pria” dengus Arkana membuat Zafran dan Alisha terbelalak.


“Yaakk kakak ipar aku ini adiknya” teriak Syaquile frustasi.


“Tetap saja kau ada makhluk yang bernama lelaki” tegas Arkana dengan santainya tanpa mempedulikan tatapan kedua orang tua Qania.


“Dasar” cibir Syaquile kemudian melepaskan pelukannya dari tubuh Qania.


“Ya sudah ayo kita foto-foto” ajak Alisha.


Mendengar kata foto Qania langsung meraih tangan Arkana, bayangan mimpinya itu kembali terlintas sehingga ia langsung mengambil tindakan cepat.


“Tenang saja, aku nyata kok sayang. Apa kau lupa tadi mereka semua melihatku?” ujar Arkana.


Qania mendengus karena kembali teringat kejadian tadi saat mereka datang dan Arkana langsung menjadi pusat perhatian para mahasiswi. Namun beberapa detik kemudian ia tersenyum karena ini adalah nyata. Ia langsung menarik Arkana dan mengajaknya untuk berfoto.


Qania dan Arkana sibuk berselfie ria karena papa dan mamanya harus melayani beberapa orang yang ingin berfoto dengan mereka tanpa terkecuali pihak kampus.


Mereka sangat ingin berfoto dengan ketua DPRD kabupaten mereka yang bersahaja dfan penuh kharisma itu. orang-orang juga mengenalnya sebagai pengusaha yang cukup sukses serta dermawan karena memiliki panti asuhan dan rumah belajar untuk anak-anak yang tidak mampu.


Jangan tanyakan Syaquile, anak itu langsung bergabung bersama Raka yang juga di wisudah bersama Qania untuk bermain game. Keduanya terlihat asyik di bangku taman di samping aula bersama ponsel mereka.


*


*


Qania terlihat cemberut setelah dipaksa berpisah dengan Arkana karena tiga hari lagi mereka akan menikah. Arkana terkekeh melihat wajah Qania yang terus saja cemberut melalui panggilan video mereka.


Ya, saat ini Qania sedang melakukan panggilan video dengan Arkana setelah tadi acara makan-makan sepulangnya dari kampus Qania mereka sudah harus berpisah lagi untuk waktu tiga hari kedepan. Dengan berat hati Qania melepaskan kepergian Arkana, namun baru saja Arkana sampai di rumah Qania sudah memaksakan untuk melakukan panggilan video dan hanya berhenti saat jeda makan malam beberapa menit yang lalu.


“Jadi sayang, mau ku temani lagi tidurnya malam ini?” tanya Arkana yang kasihan dengan wajah cemberut Qania.


“Aku ingin sekali, tapi..”,.


“Tapi tidak bisa karena banyak kerabatmu yang sudah mulai datang ke rumahmu kan?” sela Arkana.


“Kok tahu?” tanya Qania terperanjat.


“Ya tahu lah, kan tadi waktu aku pulang bersamaan dengan kedatangan mereka yang dengan tegas mengatakan aku tidak boleh bertemu kamu dulu” tukas Arkana.


“Iya dan yang paling penting yang jadi penghalang kamu datang ke rumahku adalah karena Winda bakalan nginap disini. Hihh, rumahnya saja nggak jauh dari sini masa iya dia nginap segala” gerutu Qania, sementara Arkana yang tengah duduk sambil memangku gitar kesayangannya itu tertawa melihat wajah kesal Qania.


“Hehehe anggap saja Winda sebagai aku” celetuk Arkana membuat Qania berdecih.

__ADS_1


“Sayang udah dulu ya, si ikan buntal itu udah ngetuk-ngetuk pintu. Daa sayang, da suamiku aku cinta kamu, aku sayang kamu, I love you”,.


“Too”,.


“Ih rese deh” ketus Qania.


Arkana tertawa, karena ia sudah menduga bahwa Qania akan kesal dengan balasannya. Biasanya ia akan mengutarakan cinta tapi ini malah hanya membalas dengan satu kata yang terdiri dari tiga huruf itu.


“Ketawa aja teruuuss”,.


“Aku paling suka nih mode yang ini on. Ya sudah sayang, I love you too. Aku sangat-sangat sayang Qaniaku, nyonya Arkana Wijaya aku mencintaimu. Tidur yang nyenyak nanti ya istriku sayang, nanti aku kirimin lagu deh, aku bakalan nyanyi buat istriku tercinta” ucap Arkana membuat Qania tersipu malu.


“Baiklah aku tunggu”,.


“QANIAAA GUE TAHU LO LAGI NGEBUCIN TAPI TOLONG TANGAN GUE UDAH SAKIT NGETOK PINTU ELO DARI TADI” teriak Winda membuat Qania dan Arkana tertawa.


“Ya sudah sayang matiin gih teleponnya, aku juga mau nyanyi buat direkam terus aku kirim ke kamu” ucap Arkana menyudahi.


“Iya sayangku, cintaku, pujaan hatiku, pelipur laraku”,.


“Asyik, asyik. Assalamu’alaikum”,.


“Wa’alaikum salam”,.


Qania meletakkan ponselnya di atas bantal kemudian berjalan untuk membukakan Winda pintu. Qania menahan tawa saat melihat wajah Winda yang tengah kesal padanya.


“Gila ya lo Qan, gue jamuran tahu nggak sih nungguin elo bukain pintu. Lagian elo juga nggak bosan apa video call sama Arkana dari tadi. Sabar Qan, tiga hari lagi kalian bakalan nikah. Lo tidur bareng, makan bareng, mandi bareng juga iya. Dan tiap malam nih lo bakalan main kuda-kudaan sama Arkana. Aduh Qan, kok jadi gue yang baper ya. Maakkk minta kawin maakk” begitulah rentetan ocehan Winda saat ia masuk ke kamar Qania hingga ia duduk di atas tempat tidur bersama Qania yang baru saja datang karena ia menutup pintu dulu.


“Kan kumat lagi kan” cibir Qania sambil tersenyum masam.


“Qan, gue botakin mau lo” ketus Winda.


“Ogah gue, mending kita tidur”ajak Qania yang kemudian berbaring dan mencoba menutup matanya.


Qania tidak mendengarkan ocehan Winda yang terus memaksanya untuk bercerita tentang kisahnya bersama Arkana. Saat ponselnya berdering menandakan ada pesan masuk barulah Qania membuka matanya karena ia tahu siapa pengirim pesan itu.


“Gila ya lo Qan, gue ngoceh dari tadi sampai mulut gue berbusa lo nggak nanggepin tuh. Eh giliran hp lo bunyi dengan cepat lo buka mata dan mengambil hp lo, ckckck” protes Winda yang dibalas cengiran oleh Qania yang kini sibuk memakai headset dan mendengarkan suara merdu Arkana.


*


*


Dua hari menjelang pesta pernikahan Qania dan Arkana, di rumah Qania nampak sangat ramai dengan beberapa kerabat mereka serta tetangga yang juga sedang membantu persiapan pernikahan.


Meskipun dari kalangan atas di kota mereka, orang tua Qania tidaklah memesan makanan untuk acara pernikahan nanti melainkan mereka masak bersama dengan salah satu chef terbaik di kompleks mereka yang akan memasak.


Terlihat beberapa wanita paruh baya yang sedang menapis beras, mengupas bawang dan juga mempersiapkan beberapa rempah untuk memasak.


Qania hanya turun untuk makan dan sekedar menyapa keluarganya karena ia harus kembali ke kamar dan melakukan perawatan tubuh sebagai tradisi calon pengantin. Dan tak lupa pula ia menghubungi Arkana dengan melakukan panggilan video untuk melepas rindu.


*


*


Tinggal sehari menjelang pesta pernikahan, Qania nampak gelisah. Ia mondar-mandir di kamarnya, entah bagaimana perasaannya tapi dalam hatinya ia begitu mencemaskan Arkana. Bagaimana tidak cemas, Arkana sama sekali tidak membalas pesannya atau pun menjawab panggilan darinya.


Saat Qania tengah mencemaskan kekasihnya itu, di tempat lain Arkana sedang berkumpul bersama teman-temannya di kafe untuk merayakan hari terakhir kebebasan Arkana sebagai pria lajang yang belum menikah. Mereka nampak asyik menikmati makanan dan minuman serta cerita dan canda tawa mereka.


“Selamat sekali lagi bro, dan hati-hati dijalan” ucap teman-temannya saat Arkana berpamitan untuk pulang.


“Makasih bro, jangan lupa datang besok ya. Ramaikan pesta gue dan itu hukumnya wajib” ucap Arkana diiringi tawa.


“Pasti bro” sahut mereka serempak.


Arkana masuk ke dalam mobilnya dan sebelum itu ia mengirim pesan suara pada Qania.


“Selamat tidur istriku, mimpi yang indah. Maaf membuatmu khawatir. Aku sayang kamu, aku cinta. I love you, tunggu aku ya. Jangan pernah berniat meninggalkanku, oke”,.


Arkana terkekeh sendiri setelah mengirimkan pesan suara itu pada Qania. Ia merasa saat ini dirinya sudah terlalu lebay. Ia pun menyalakan mesin mobilnya dan pergi meninggalkan kafenya itu.

__ADS_1


.


.


Rizal yang baru saja ingin menutup kafe bersama Fero tiba-tiba saja mendapat telepon dari Arkana.


“Lihat si Arka, udah nelpon aja. Paling juga dia baru sampai di rumah dan udah gugup buat menghadapi harinya besok” ucap Rizal sembari memperlihatkan ponselnya dimana Arkana sedang meneleponnya.


“Anggkat aja, siapa tahu penting” pinta Fero.


“Hallo Ka” sapa Rizal sambil mengaktifkan loudspeakernya.


“Lo harus mati Arkana Wijaya”,.


“Hallo Ka, lo kenapa? Lo dengar gue nggak?” tanya Rizal panik begitu pun dengan Fero.


Dari seberang saluran terdengar kegaduhan seperti orang berkelahi dan itu semakin membuat Fero dan Rizal tidak tenang.


“Hallo Ka, lo dengar gue nggak” teriak Rizal semakin gusar.


“Ka ini kita Ka, lo dimana sekarang? Lo berantem sama siapa Ka?” timpal Fero yang dengan buru-buru mengunci pintu kafe.


“Ayo Zal, kita cari Arka” ajak Fero terburu-buru menyeret Rizal.


Bruaakkkkk…..


Rizal dan Fero terperanjat kaget saat mendengar bunyi ledakan dari sambungan telepon dan untuk sesaat keduanya terdiam.


“Zal, bilang ke gue kalau yang barusan gue dengar itu salah” ucap Fero gemetar.


“Ro bilang juga ke gue kalau itu hanya halusinasi gue aja, Ro” timpal Rizal.


Keduanya pun saling berpandangan dan kemudian mereka tersadar.


“Arkaaaaaaa” teriak keduanya kemudian bergegas naik ke motor Fero untuk mencari lokasi Arkana.


Fero dan Rizal kesana kemari mencari keberadaan Arkana, mereka melalui jalan yang menuju ke rumah Arkana tadi tapi sama sekali tidak menemukan keberadaannya. Akhirnya mereka memutuskan untuk melewati jalan yang berlawanan arah.


Rizal dan Fero menghentikan motor mereka saat melihat banyak orang berkerumun di dekat jembatan, lebih tepatnya di penurunan jembatan. Waktu sudah hampir memasuki waktu sholat subuh makanya banyak orang yang berlalu lalang disana. Keduanya pun turun dari motor dan mendekati kerumunan tersebut.


“Permisi pak, itu kenapa ya? Kenapa banyak orang berkerumun?” tanya Fero pada salah seorang warga.


“Oh itu, orang kecelakaan. Katanya pengendara mobil itu awalnya menabrak pembatas jembatan hingga akhirnya entah bagaimana mobilnya terlempar jauh ke penurunan dan terbalik lalu terbakar. Petugas dari rumah sakit dan pihak kepolisian sedang mengurusnya dan korban jiwanya sudah di larikan ke rumah sakit terdekat” cerita bapak tersebut membuat Rizal dan Fero cemas.


“Terima kasih pak, kami akan melihatnya dulu” ucap Rizal kemudian menarik tangan Fero untuk segera mendekat.


Rizal dan Fero terkulai lemas terduduk di tanah saat melihat mobil yang dimaksud bapak tadi tidak lain adalah mobil milik Arkana.


“Nggak, nggak mungkin. Arkanaaaaa” teriak Rizal sambil berusaha berdiri untuk mendekat.


Sementara Fero ia tidak bisa berkata apa-apa karena terlalu syok.


“Maaf, anda mengenali mobil ini?” tanya salah satu polisi yang sedang bertugas disana.


“Ini mobil teman saya pak. Bagaimana keadaannya?” tanya Rizal balik.


“Anda bisa mengurus kepulangan jenazah di rumah sakit Pelita Jaya sekarang” jawab polisi tersebut.


“Je.na.zah?” tanya Rizal terbata.


“Harap bersabar. Kondisi korban sangat tidak memungkinkan untuk bisa selamat. Selain kecelakaan ini sangatlah parah, mobilnya juga terbalik dan meledak. Kondisi korban cukup bahkan sangat mengenaskan. Cepatlah ke rumah sakit dan kabari pihak keluarganya” terang polisi tersebut.


Rizal seakan tidak memiliki tenaga lagi setelah mendengar penuturan polisi tersebut. Fero yang tanggap langsung membawa Rizal ke motor dan menyalakan mesin motornya lalu mereka menuju ke rumah sakit yang dimaksud oleh polisi tadi.


Rizal dan Fero tergesah-gesah memasuki rumah sakit dan mencari ruangan yang dimaksud oleh petugas rumah sakit setelah tadi mereka bertanya.


Langkah membawa mereka ke ruang yang tulisannya membuat jantung mereka seakan berhenti berdetak. Napas mereka seakan sesak saat akan membuka pintu kamar jenazah tersebut.


Fero dan Rizal melangkah perlahan menemui petugas yang sedang mengurus jenazah Arkana itu dan mereka perlahan membuka kain penutup wajanya.

__ADS_1


...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...


Terima kasih sudah membaca 😊😊🤗🤗🤗


__ADS_2