Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Melanjutkan Tugas


__ADS_3

Seorang pria bermasker hitam dengan mengenakan jaket kulit berwarna hitam, celana jeans dengan warna senada tak lupa pula kacamata senada sedang berjalan sambil menarik koper kecil miliknya keluar dari bandara. Ia sebelumnya sudah memesan taksi online yang kini tengah menunggunya. Ia pun segera memasuki taksi tersebut.


“Kafe di dekat taman kota Pak,” ucapnya.


Meskipun tidak betah memakai masker, ia tetap mengenakannya mengingat akan ada kejadian heboh nantinya jika ia tetap memaksakan diri untuk melepasnya. Taksi tersebut pun melaju dan hampir dua puluh menit berhenti tepat di depan kafe yang tadi ia sebutkan. Ia pun turun dan kembali mengamati kafe tersebut.


“Benar-benar mirip dengan milikku,” gumamnya.


Ia pun masuk ke dalam kafe dan mengambil tempat duduk. Tak lama pelayan kafe datang dan menanyakan pesanannya.


“Em, saya pesan jus alpukat saja. Oh ya, apakah Pak Rizal dan Pak Fero ada?” tanyanya.


“Pak Rizal jarang datang kesini Pak karena ia sibuk membantu tuan Setya mengurus hotel. Pak Fero yang mengelola kafe ini bersama Nona Qania. Kalau Pak Fero ada di dalam ruangannya,” jawab pelayan wanita yang berumur sekitar dua puluh tiga tahunan.


“Oh begitu. Baiklah tolong katakan padanya Tristan Anggara menunggunya disini.”


“Baik Pak. Saya akan menyampaikannya dan mohon menunggu untuk pesanannya,” ucap pelayan tersebut dengan ramah dan langsung pergi.


Pelayan yang bernama Aya itu pun ragu-ragu mengetuk pintu ruangan Fero yang sebenarnya adalah ruangan milik Qania. Pasalnya Fero agak kaku dibandingkan Rizal yang lebih suka bercanda.


“Siapa?” tanya Fero dari dalam.


“Aya Bos,” jawabnya.


“Ada apa?”


“Seseorang bernama Tristan Anggara menunggu anda di meja delapan Bos. Saya permisi ingin membuatkan pesanannya,” jawabnya.


“Oke.”


Di dalam ruangan, Fero yang sedang memeriksa laporan keuangan kafe pun terhenti. Ia memikirkan siapa gerangan Tristan Anggara. Seperti pernah mendengar nama itu namun ia lupa dimana. Ia mengedarkan pandangannya sambil terus berpikir ia mengenal orang itu dimana. Ketika pandangannya tertuju ke lemari yang menampilkan foto keluarga pemilik kafe ini, ia langsung tersentak.


“Ya ampun, dia rupanya. Arkana Wijaya kw,” pekik Fero kemudian ia lekas berdiri dan dengan tergesah-gesah ia melangkah menemui orang yang sedang menunggunya itu.


Fero tersenyum miris saat melihat pria yang sedang sibuk dengan ponselnya namun masih mengenakan kacamata hitam serta masker dengan warna senada.


“Ka, entah mengapa gue yakin ini elo. Kita udah lama bersahabat Ka, gue nggak mungkin salah orang. Gue kenal lo udah lama. Mungkin sekarang elo hanya sedang tidak ingat sama kita semua, tapi tetap aja gue yakin ini elo,” gumam Fero yang berhenti di depan pintu ruangannya sambil menatap Tristan yang sedang memainkan ponselnya. Setelah itu ia menormalkan kembali ekspresinya untuk menemui pria itu.


“Hei Bro, apa kabar?” tanya Fero ketika ia sudah duduk di depan Tristan.


Tristan mengalihkan pandangannya, “Eh Fer. Kabar gue baik kok. Lo sendiri gimana kabarnya? Rizal nggak kerja disini ya?” tanya Tristan.


“Gue juga baik kok, apalagi setelah bertemu lo. Berasa ketemu sama sahabat lama,” jawab Fero lirih. “Oh itu, Rizal kerja di hotelnya Om Setya. Semenjak dia lulus kuliah Om Setya pindahin dia di hotel sementara gue yang mengelola semua kafe yang ada di pusat kota ini dan juga beberapa restorannya. Arkana yang seharusnya mengurus udah nggak ada. Om Setya sibuk dengan usaha dan pekerjaannya sebagai pengacara. Qania si ahli waris nggak tahu kemana, eh enggak juga sih. Dia masih harus menyelesaikan studinya,” lanjutnya.


“Kalian benar-benar pria sibuk rupanya,” kekeh Tristan.


“Hmm begitulah. Emang lo nggak sibuk, kafe lo gimana?” tanya Fero.


“Kafe aman kok. Sekarang ini gue juga sibuk, sibuk mengejar cinta Qania, hahaha.”

__ADS_1


Gelak tawa terdengar dari kedua pria tersebut sehingga beberapa pengunjung kafe sedikit mengalihkan perhatian kepada mereka.


“Semangat Bro. Arkana juga dulu gitu, setiap waktunya dihabiskan untuk mengejar cinta Qania. Lo juga harus semangat supaya Qania mau nerima elo. Kalau perlu gunain tuh caranya si Arka, biar langsung diterima,” ucap Fero terkekeh kala mengingat kejadian itu.


“Cara yang mana?” tanya Tristan penasaran.


“Yang nembak Qania pakai cara maksa itu lho. Minta digebukin kalau ditolak. Nanti kan Qania bakalan nggak tega sama lo, dia pasti langsung nerima lo,” jawab Fero.


“Boleh juga tuh,” ujar Tristan. “Lo sama Rizal bantuin gue makanya,” lanjutnya.


“Bisa di atur. Eh ngomong-ngomong lo udah mesan?” tanya Fero.


“Udah, nih pesanannya udah datang,” jawab Tristan bersamaan dengan pelayan yang bernama Aya itu datang membawakan jus alpukatnya.


“Lo cuma mesan minuman doang?” tanya Fero saat Tristan sedang menyeruput jusnya.


“Iya. Sebenarnya tujuan gue kesini tuh mau nyariin elo sama Rizal. Gue mau minta tolong buat cariin gue tempat nginap buat nanti malam,” jawab Tristan.


“Oh lo mau nginap. Maunya sih gue ajak lo ke rumah, tapi takutnya istri gue pingsan lihat elo. Kalau ke rumah Rizal juga ntar Gea yang pingsan. Gimana kalau ke hotel Ayumi aja?” usul Fero.


“Ayumi siapa?” tanya Tristan dengan dahi mengkerut.


“Hahaha, maksud gue tuh Hotel Ayumi punya Om Setya. Jadi Ayumi itu nama mendiang istrinya. Kalau lo mau gue hubungi Rizal sekarang biar dia nyediain kamar buat elo, gimana?”


“Boleh juga.”


“Oke. Gue telepon Rizal dulu,” ucap Fero kemudian merogoh ponsel yang ada di dalam saku celananya.


Setelah mematikan panggilannya, Rizal segera menemui resepsionis untuk meminta mereka mengurus kamar atas nama Tristan Anggara. Setelah itu ia menuju ke tempat dimana diadakan acara resepsi untuk nanti malam. Setelah memastikan semuanya hampir rampung, Rizal segera bergegas menuju ke kafe. Ia ingin bertemu dengan pria yang wajahnya sangat ia rindukan dan juga akan menjemputnya dan membawanya ke hotel.


Kurang lebih dua puluh menit Rizal sampai di kafe dan segera menuju ke ruangan Fero karena terakhir pesan dari Fero mengatakan bahwa ia dan Tristan berada di dalam ruangan tersebut. Rizal terlihat seperti orang yang sedang kasmaran padahal hanya bertemu Tristan. Ah, mungkin karena begitu merindukan sosok Arkana yang sudah ia anggap adik itu.


“Cepat amat lo nyampe,” ucap Fero begitu Rizal duduk bergabung bersama ia dan Tristan.


“Jalanan belum macet Bro,” jawab Rizal sambil memperlihatkan jam di tangannya yang menunjukkan pukul lima belas kurang lima menit.


“Apa kabar Bro?” tanya Tristan kemudian mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


“Kabar gue baik Bro, gimana dengan lo?” tanya Rizal menyambut uluran tangan tersebut. Rasanya ingin ia peluk pria ini namun ia tak ingin Tristan berpikir macam-macam.


“Gue juga baik,” jawab Tristan kemudian keduanya melepaskan jabatan tangan mereka.


“Lo udah dari tadi nyampe di kota ini?” tanya Rizal.


“Tadi gue sampai langsung kesini dan itu kira-kira hampir dua jam-an lah,” jawab Tristan memperkirakan karena ia sudah mengobrol dengan Fero lebih dari satu jam.


“Oh. Eh lo nggak mau jalan-jalan bareng kita nggak? Mumpung lo disini kita jalan dulu yuk,” ajak Rizal.


“Gue sih oke,” ucap Tristan, “Tapi gimana dengan wajah gue? Aman nggak?” tanya Tristan lesu.

__ADS_1


“Aman Bro, pasti aman,” sahut Fero.


“Gue punya ide, gimana kalau kita jalannya bareng sama para istri aja? Kayak dulu gitu, kita sering triple date?” saran Rizal.


“Gue setuju sih tapi ntar mereka pada syok lihat Tristan,” ucap Fero.


“Iya juga ya. Em gimana kalau Qania aja?” usul Rizal lagi.


“Males gue males. Emang lo mau kita nontonin kebucinan mereka kayak biasanya … eh, sorry Tris, gue lupa elo Tristan bukan Arkana,” ucap Fero tersadar.


“Hahaha, santai aja. Gue maklum kok. Sebenarnya sih ada satu tempat yang pingin gue datangin disini. Kira-kira kalian mau nggak anterin gue kesana?” tanya Tristan ragu-ragu sambil melirik Fero dan Rizal bergantian.


“Tentu bisa, emang kemana?” sahut Rizal cepat.


“Ke makam Arkana.”


Untuk sesaat Fero dan Rizal terdiam. Keduanya sama-sama tahu kalau makam itu saat ini kosong karena tulang-belulangnya sedang berada di laboratorium forensik atas permintaan nyonya Wijaya. Hingga akhirnya Rizal pun bersuara.


“Yuk lah kita jalan,” ajak Rizal kemudian ketiganya keluar dan tak lupa Tristan kembali memakai maskernya sebelum keluar dari ruangan itu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju ke area pemakaman umum yang saat ini begitu sepi namun tak terlihat mencekam karena hari masih begitu terang dan cukup panas. Begitu mobil berhenti di area yang biasa digunakan untuk memarkir kendaraan pengunjung pemakaman, ketiga pria dengan postur tubuh hampir sama pun keluar dari mobil. Tristan memegang sekeranjang bungan dan juga sebotol air. Ia melangkah ragu, jantungnya berdegub kencang seolah ia begitu tidak siap datang ke tempat ini.


Sudah lama ia ingin berkunjung ke tempat orang yang begitu mirip dengannya namun setelah sampai di tempat ini justru ia merasa kakinya begitu berat untuk melangkah. Ia merasa tidak siap, seolah ia yang ada di dalam makam tersebut. Ada rasa tidak tenang dan juga tidak senang karena kini ia sudah membaca nama yang tertera di nisan tersebut. Tiba-tiba saja dadanya terasa begitu sesak saat menaburi kembang tersebut di atas tanah makam yang bertuliskan Arkana Wijaya. Tak bisa ia jelaskan perasaannya saat ini. Marah, kesal, sesak, sedih dan sakit. Namun ia tidak bisa menyimpulkan dari sekian banyak rasa yang timbul di hatinya itu adalah bentuk dari apa?


“Hai Arkana, perkenalkan saya Tristan. Dulu sebelum saya datang kesini dan berkeinginan untuk datang berkunjung kesini saya sudah banyak merangkai kata untuk disampaikan kepadamu. Namun begitu sampai di tempat ini justru saya kehilangan semua itu. Saya tidak tahu harus berkata apa kepadamu. Mengatakan bahwa saya mencintai istrimu? Ataukah mengatakan bahwa saya datang untuk meminta restumu. Ah tidak juga seperti itu. Saya ingin mengatakan bahwa saya ingin merebut Qania darimu karena saya mencintainya dan sangat ingin dan yakin bisa menjadikan Qania istri saya. Entah kau suka atau tidak tetapi tidak ada yang akan bisa menghalangi jalanku. Jadi tolong restui perasaanku terhadap Qania. Saya tahu ini terdengar begitu kejam, tapi sudah saya katakana saya lupa harus berkata apa padamu saat sampai disini. Padahal seingatku rangakaian kata yang dulu saya susun itu begitu manis untuk membujukmu. Tapi sudahlah, lupakan saja.


“Oh ya Bro, gue bisa mastiin satu hal sama lo. Gue ngomongnya lo gue aja ya biar lebih akrab. Gue bisa janjiin satu hal ke elo yaitu gue bakalan jagain, sayangin dan mendidik serta mengurus anak lo seperti anak gue sendiri. Anak lo nggak bakalan kekurangan apapun karena gue bakalan berikan semua yang ia butuhkan dan inginkan. Lo nggak usah khawatir tentang anak lo, gue bakalan lanjutin tugas lo menjadi Ayah untuk Arqasa, anak lo dan Qania akan menjadi anak gue dan Qania. Maaf mengatakan ini, tapi ketika gue muncul sebagai suami Qania, maka semua orang pasti akan mengira gue Qania dan nggak ada yang bakalan tahu kalau Arqasa itu bukan anak gue. Saat hari itu tiba pun gue akan menjadi Arkana Wijaya, gue bakalan buang identitas gue sebagai Tristan Anggara. Toh gue juga udah nggak punya siapa-siapa di dunia ini.


“Maaf kalau nanti gue bakalan gantiin posisi lo. Tapi gue janji bakalan jagain semua orang yang lo sayangi terutama bokap lo. Gue bakalan jadi anak yang baik buat dia. Gue bakalan biarin dia nganggap gue sebagai elo. Nggak masalah bro. Mungkin jalan takdir gue emang udah seperti ini, tapi gue yakin gue pasti bisa ngejalaninnya. Sekali lagi gue minta maaf. Ini bukan rencana gue, tapi emang udah diatur sama yang Maha Merencanakan.


“Selamat beristirahat Bro. Gue doain lo bakalan dapat tempat terbaik disisi-Nya. Lo tidur yang nyenyak dan jangan mikirin keluarga lo lagi. Ada gue yang bakalan nerusin tugas lo sebagai anak, ayah dan juga suami yang baik.”


Setelah mencurahkan seluruh perasaannya, Tristan pun membacakan doa untuk Arkana. Sementara Rizal dan Fero di belakang hanya saling melirik sedari tadi. Mereka seolah berkomunikasi lewat telepati dan keduanya saling paham arti gerak tubuh dan lirikan mata mereka.


“Gue pamit pulang dulu ya bro. selamat beristirahat,” ucap Tristan yang kemudian mengusap nisan itu lalu berdiri.


“Udah mau pulang?” tanya Rizal.


“Iya. Lo berdua nggak menyapa sahabat lo?” tanya Tristan.


“Ah, iya. Kita udah bosan menyapa Arka, hehe. Hampir tiap hari kita kesini buat ngobrol sama anak-anak yang lain juga,” jawab Rizal yang diangguki oleh Fero.


“Oh gitu. Emm itu, kalau kita ke hotel bisa nggak lewat di depan rumah Qania? Gue pengen lihat dia,” tanya Tristan malu-malu.


“Hahaha, tentu saja Bro. Jangankan lewat, kita bakalan mampir sekalian sambil ngeteh dan ngemil bareng tante Alisha,” ucap Fero.


Tristan langsung memasang tampang tak enak di pandang dan itu membuat Rizal dan Fero tertawa.


...🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳🌳...

__ADS_1


Maaf ya baru bisa Up 🙏🙏


__ADS_2