
Fandy POV
Gue diam membisu memikirkan semua perkataan Fadly barusan. Apa iya gue udah gila karena Qania? Gue akuin gue udah kelewatan batas, gue merasa gue bagaikan seorang psikopat. Bagaimana bisa gue merencanakan pembunuhan untuk orang-orang yang mendekati Qania? Padahal dulu Qania begitu baik dan pengertian, hanya gue yang bodoh karena udah ngelepasin dia.
Gue juga merasa malu karena sampai saat ini, dengan semua kejahatan yang udah gue lakuin ke mereka, tetap saja mereka masih ngelindungin gue. Ah lebih tepatnya melindungi hubungan Fadly dan Elin.
Tapi sudah sejauh ini, gue udah nggak bisa berhenti sekali pun gue harus membusuk di penjara. Gue nggak peduli kalau pada akhirnya Qania pun nggak bakalan milih gue atau bahkan dia benci banget sama gue. Yang terpenting adalah mereka nggak akan mendapatkan Qania gue.
Fandy menyeringai, terlihat aura menyeramkan dari wajahnya. Entah apalagi yang ia rencanakan, baginya semua sudah terlanjur basah lebih baik mandi sekalian.
…
Arkana melirik jam di ponselnya, saat ini tertera pukul delapan lewat dua puluh empat menit. Ia merenggangkan tubuhnya dan mulai mengutak-atik ponselnya.
“Hallo sayang” sapanya pada Qania yang mengangkat teleponnya.
Ya, saat ini ia sedang menelepon Qania.
“Tumben bangun pagi” cibir Qania dari seberang.
“Hari ini kan kita bakalan ambil undangan pertunangan kita, jadi harus bangun pagi” jawab Arkana yang sudah duduk di atas tempat tidurnya.
“Oh jadi kalau nggak ada keperluan lain nggak bakalan bangun pagi gitu?” tanya Qania dengan nada mengancam.
“Hehe, santai nyonya Arkana. Mulai sekarang calon suamimu ini akan belajar bangun pagi” cepat-cepat Arkana mengatakan hal tersebut karena mendengar nada bicara dari seberang saluran sudah mulai kesal.
“Lihat saja nanti, jika kamu nggak bangun pagi bakalan aku siram pakai air seember” tawa Qania terdengar dari telepon.
“Ada syaratnya dong kalau aku mau bangun pagi” ucap Arkana sambil menyeringai.
“Apa?” tanya Qania dengan polosnya.
“Morning kiss” jawab Arkana terkekeh.
“Mesuuuummmm” teriak Qania membuat Arkana tertawa.
“Ya sudah, aku sudah membuatmu kesal pagi ini. Rasanya pagiku akan menyenangkan” ucap Arkana sambil senyam-senyum.
“Oh jadi gitu, kalau sudah membuatku kesal akan membuat harimu menyenangkan?” tanya Qania dengan nada kesal.
“Tentu…” cepat-cepat Arkana membekap mulutnya karena kecoplosan.
“Arkanaaaaaa” teriak Qania kemudian mematikan panggilan tersebut.
Sementara Arkana terus tertawa di kamarnya.
“Ah sayangnya gue nggak bisa lihat wajah kesalnya saat ini” ucap Arkana kemudian menyimpan ponselnya di tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi.
Di kamar Qania…
“Dasar pria mesum, menyebalkan, ngeselin, pembalap liar, pemaksa….”
“Tapi kamu sayang kan?” potong seseorang
“Dan sayangnya iya.. eehh.. aahh mamaaa” teriak Qania baru sadar kalau mamanya sudah berada di dalam kamarnya.
Alisha tertawa dan semakin membuat Qania malu.
“Oh ya sayang, sabtu kan hari pertunangan kamu ya. Hari ini undangan akan di sebar, mama sama papa serta mas Setya berencana akan ke makam mbak Ayu. Kamu sama Arkana mau ikut?” tanya Alisha yang sudah ikut duduk di atas tempat tidur bersama Qania.
“Tentu ma, kapan?” tanya Qania.
“Mungkin sehari sebelum pertunangan kalian, kita harus memastikan semuanya beres dulu lalu kita akan pergi ke sana” jawab mamanya.
“Hmm oke ma. Ya sudah Qania mau mandi dulu, mau ngambil undangan sama Arka sebentar” kata Qania.
“Oke, mama ke kamar dulu” jawab Alisha.
__ADS_1
….
“Sayang..”
“Sayang..”
“Arkanaaaa..”
Akhirnya Qania berteriak karena yang sedari tadi di panggilnya hanya melamun.
“Kenapa sayang ada yang sakit?” tanya Arkana kalang kabut karena terkejut.
“Ih apaan sih. Kamu itu lagi mikirin apa?” tanya Qania.
“Nggak kok sayang” jawabnya.
“Oh” desah Qania.
“Hmm, jadi gini sayang kemarin itu pas aku pulang dari rumah kamu sepertinya ada yang ngikutin aku gitu. Terus ya, di jalan saat aku menghindari anak kecil dan kucingnya ternyata rem motor aku blong dan parahnya saat itu ada balok yang melayang hampir mengenai aku tapi untungnya anak kecil itu berteriak memberitahukanku. Ah aku jadi penasaran siapa lagi yang berniat buruk padaku” cerita Arkana, ia tahu Qania penasaran namun Qania juga enggan memaksanya untuk bercerita, hanya saja Arkana tidak ingin membuat Qania penasaran sehingga ia berinisiatif untuk menceritakannya.
“APPAA..? Kenapa baru bilang sekarang? Kamu nggak apa-apa kan sayang? Mana yang sakit?” tanya Qania sambil memeriksa tubuh Arkana membuat empunya tubuh merasa geli.
“Nggak ada sayang, aku nggak apa-apa. Kamu tenang aja” ucap Arkana menenangkan Qania, “Emang nggak malu dilihatin pengunjung kafe?” bisik Arkana.
Benar saja, beberapa pengunjung tengah memperhatikan mereka. Saat ini mereka sedang berada di kafe milik Arkana sambil menunggu yang lainnya datang dari mengantarkan undangan.
“Habisnya aku khawatir sayang” cicit Qania.
“Aku tahu, aku tahu” ledek Arkana yang akhirnya membuat ia mendapat hadiah cubitan di lengan dari Qania.
“Aww… iya deh maaf” ringis Arkana.
“Hmmm, siapa kira-kira yang melakukan ini padamu?” Qania berpikir.
“Maaf nih ya sayang, tapi aku kok curiganya sama mantan kamu ya” ungkap Arkana ragu-ragu.
“Iya sayang maaf, jadi gimana menurut kamu?” tanya Arkana.
“Bisa jadi, tapi kita harus ada bukti kalau mau nuduh orang sayang” ucap Qania.
“Hmm, kita akan cari buktinya tapi setelah pertunangan kita” kata Arkana sambil membelai rambut Qania yang dibiarkan terurai.
“Iya. Oh iya kenapa mereka belum balik juga ya, ini sudah hampir jam lima sore loh” Qania teringat akan teman-teman Arkana yang belum kembali dari mengantar undangan.
“Tuh mereka baru saja datang” ucap Arkana yang melihat teman-temannya sedang berjalan memasuki kafe.
“Panjang umur nih” kata Qania sambil terkekeh.
“Kalian udah lama disini?” tanya Rizal yang ikut bergabung.
“Ya sudah lumayan lama sih” jawab Arkana.
“Oh iya Ka, tadi kita ngelihat motor yang…” Fero menjeda ucapannya kemudian melirik Qania.
“Dia udah tahu, lanjutin” kata Arkana mengerti maksud Fero.
“Jadi tadi kita lihat motor itu sama persis seperti yang lo jelasin tempo hari. Emm tadi kita lihatnya di daerah barat jalan Sultan Hasanuddin…”
“Rumah nomor dua ratus lima puluh tiga?” sela Qania.
“Kok lo tahu Qan?” tanya Fero kaget bercampur penasaran.
“Jadi benar?” tanya Qania yang di jawab anggukan oleh Fero.
“Ada apa sayang?” tanya Arkana yang juga penasaran.
“Kecurigaan kamu benar sayang, itu rumah dia” jawab Qania yang hanya dimengerti oleh Arkana.
__ADS_1
“Bangsat..” geram Arkana.
“Jadi siapa Ka?” tanya Rizal yang tak kalah penasarannya.
“Fandy” jawabnya dingin.
“Dia lagi?” tanya Ifan dan Fero bersamaan.
“Kalian tahu dia?” tanya Qania penasaran.
“Tahu lah Qan, dia kan mantan lo yang waktu itu hampii…” Rizal secepatnya membekap mulut Ifan.
“Ada apa? Hampir apa? Kok sepertinya ada sesuatu yang kalian tutupin?” tanya Qania penasaran juga kesal.
“Nggak kok Qan” jawab Ifan menunduk.
“Arkaa..?” Qania menatap Arkana meminta penjelasan.
“Ya sudah lanjutin aja, toh udah kecoplosan lo” kata Arkana pada Ifan namun tidak terdengar ada amarah disana.
“Maaf” cicit Ifan.
“Jelasin” pinta Qania.
“Jadi kita semua tahu Fandy itu mantan kamu yang hampir melecehkan kamu” ucap Ifan.
“Kalian tahu darimana?” Qania semakin penasaran.
“Gimana nggak tahu, orang kita yang lemparin kaca jendela rumah itu” sahut Fero.
“Lo tahu siapa ojek itu Qan?” tanya Ifan.
“Nggak sih, sebenarnya masih penasaran juga” jawab Qania.
“Itu Arkana, hahaha” tawa Ifan membuat suasana menjadi gaduh.
“Gila, gue nggak bisa berhenti ketawa kalau ingat gimana gugupnya Arkana saat itu, dan bagaimana dia menggunakan pakaian milik tukang ojek di pasar” cerita Rizal sambil terus tertawa.
“Jangan lupa gimana paniknya dia waktu gue sama Ifan lemparin batu ke jendela rumah itu” sambung Fero.
“Ya gue ingat itu, eh lo hati-hati dong lemparnya jangan keras-keras. Kalau kena Qania gimana? Kalau Qania kenapa-kenapa gimana?” Ifan juga turut menyambung.
“Lo ingat nggak waktu Qania udah di bawa Arka pergi, waktu kita ngerjain si Fandy? Hahaha sumpah gue nggak bisa berhenti ketawa waktu dia kecebur ke dalam got yang baunya uhh nggak bisa gue jelasin” kata Rizal.
“Jangan lupa gimana Arkana waktu balik dari nganterin Qania, untung dia selamat, untung dia nggak kenapa-kenapa, untung dia nggak curiga. Sampai-sampai dia nggak sadar waktu itu dia masih pakai helm sama jacket tukang ojek di dalam kafe yang lagi ramai. Om Setya saja sampai nggak ngakuin dia waktu itu” Fero tertawa sampai matanya berair.
“Terus, terusin aja ketawain gue” kali ini Arkana angkat bicara.
Bagaimana dengan Qania? Dia diam sambil mendengarkan cerita teman-temannya.
Dan..
Bughhh…
Qania memeluk tubuh Arkana dengan erat, menumpahkan air matanya dan kini terdengar isak tangisnya membuat mereka berhenti tertawa.
“Makasih Arkana, makasih untuk selalu jagain dan lindungin aku. Makasih buat semuanya, aku nggak tahu harus dengan kata apa untuk mengungkapkan perasaanku padamu” isak Qania di dalam pelukan Arkana.
“Hei sayang, aku udah pernah bilang kan kalau nggak ada terima kasih untuk cintaku. Semua tulus” ucap Arkana sambil membelai rambut Qania.
Rizal dan yang lainnya langsung pergi untuk memberi ruang bagi keduanya saling mencurahkan isi hatinya.
“Aku nggak tahu apa jadinya aku kalau nggak ada kamu saat itu, makasih sayang” Qania semakin mempererat pelukannya begitu pun Arkana.
“Ekhhmmm…” seorang pria berdehem di dekat Qania dan Arkana.
..........
__ADS_1