
Qania POV
Semenjak bertemu dengan Elin dan mendengarkan semua ucapannya membuatku terus berpikir.
Apa iya kalau aku sudah melakukan kesalahan dengan mengunci hatiku? Apakah aku keliru mempertahankan kesetiaanku?
Ucapan Elin bak alarm yang terus berdering di telingaku. Aku pun mengakui kalau apa yang ia katakan tadi ada benarnya. Namun hatiku terus saja menolak kebenaran itu. Aku terus saja berusaha menahan diri untuk tidak memberikan hatiku kepada siapapun.
Hanya Arkana, hanya dia yang aku inginkan selamanya untuk menempati relung hatiku. Tapi kembali lagi, hidup itu terus berjalan. Aku tidak bisa berhenti ketika yang aku cintai berhenti lebih dulu. Masih panjang perjalanan yang harus aku tempuh dan aku memang tidak akan bisa melewati semuanya tanpa pendamping dan penguat.
Suara Elin yang terus menggema di telingaku membuatku tersadar akan anakku yang tidak akan selamanya menjadi balita. Suatu saat ia pun akan berumah tangga dan fokusnya akan teralih pada keluarganya dan aku, aku hanya akan sendirian. Hanya akan sesekali ia menengokku dan mengurusku.
Lalu aku harus apa? Menerima siapa? Jujur hati ini masih berharap Tristan adalah Arkana meskipun kemungkinannya itu teramat kecil. Tapi aku terus berharap.
Aku tahu aku salah sudah memberikan harapan pada Raka, tapi aku harap surat yang aku berikan padanya bisa membuatnya mengerti kalau aku sedang tidak bisa menerima siapapun untuk mengisi hatiku. Semua ucapan yang pernah kuucapkan dan membuat Raka berharap itu membuatku gila! Bagaimana mungkin aku membual seperti itu hanya untuk menolak kehadiran Tristan? Akhir dari semua ini adalah Raka yang sakit hati dan aku yang terus menyalahkan diriku sendiri serta Tristan yang akhirnya kecewa padaku.
Kenapa aku bisa berada di situasi seperti ini? Kemana keteguhan dan semangat serta fokusku yang dulu? Aku yang dulu hanya ingin memikirkan belajar dan cepat menyelesaikan kuliah dan segera pulang untuk memeluk Arqasaku.
Apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku terlanjur masuk ke dalam lingkaran ini? Membuat dua orang tersakiti karena sikapku yang tidak konsisten seperti ini. Apa? Apa yang harus aku lakukan untuk meluruskan semua ini? Apa?
"Hahh ... rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin untuk melepaskan semua masalahku."
Wajah itu, wajah anakku, wajah milik suamiku yang kini entah dirinya masih hidup atau memang sudah tiada. Aku tidak tahu! Aku bingung! Mimpi itu, mimpi yang sampai saat ini sulit untuk ku terjemahkan dan sampai saat ini sukses membuatku gelisah dan terus memikirkan kemungkinan itu ada. Kemungkinan yang selalu kusemogakan.
Apakah Tristan? Apakah Tristan adalah Arkanaku? Mengingat perlakuan dan sikapnya terhadapku, mengingat foto itu, foto SMA Tristan yang seharusnya terlihat lusuh atau terlihat jadul justru malah foto itu terlihat masih baru. Tapi itu belum bisa dijadiin kesimpulan bahwa dia adalah Arkanaku. Semua perlu bukti.
"Lalu, jika dia Arkanaku, lantas yang terbaring di tanah dengan nama suamiku itu siapa? Siapa yang mengenakan cincin tunangan kami itu? Siapa?"
Ingin rasanya aku teriak namun aku tahu aku pasti akan membuat anak tampanku ini terbangun. Memandangi wajah teduhnya membuat hatiku menghangat sekaligus sakit.
"Tunggu, jika dia Arkanaku dan semisal dia kehilangan ingatannya, tapi masa iya nggak ada satupun ingatannya tentang aku? Seharusnya saat kita bertemu ada kemungkinan ia teringat akan diriku, kenangan kita walaupun hanya sedikit saja. Tapi ini, bahkan ia tak memiliki respon tubuh apapun saat bertemu denganku. Tapi ... tapi rasanya ciuman itu sama persis seperti ciuman Arkana. Apakah iya dia Arkana karena aku merasakan ciumannya? Atau apakah semua ciuman itu rasanya sama? Aku tidak tahu masalah itu karena aku hanya berciuman dengan Arkana saja, huhhh ...."
Ku tatap mata mungil itu perlahan-lahan mengerjap. Ah, anak tampanku rupanya sudah kembali dari petualangan mimpinya.
"Assalamualaikum anak Mami yang tampan," sapaku lelu ku kecup kedua pipi gembulnya.
"Wa'alaikum salam Mi," balasnya dan kulihat ia masih terus menguap.
"Gimana, udah enakan?" tanyaku lagi karena aku tahu anakku itu pasti akan sangat kecapaian setelah melakukan penerbangan baik jauh maupun dekat.
"Lumayan sih, Mi. Udah jam berapa sih Mi?" ucapnya sambil mengedarkan pandangan mungkin mencari jam sambil menutup mulutnya dengan tangan karena masih terus menguap.
"Hampir jam empat sayang. Dikit lagi kita mandi ya," ucapku sambil mengacak-acak rambutnya. Entahlah, tiap kali aku melihat anakku itu aku selalu dibuat gemas dan terkagum-kagum, bahkan aku khawatir akan jatuh cinta padanya. Sorot matanya begitu mirip dengan Daddy-nya dan aku yang selalu luluh ditatap oleh Arkana pun kini dibuat meleleh oleh tatapan anakku sendiri.
__ADS_1
"Aku mandi sendiri lah Mi, masa aku mandi sama Mami. Ih Mami cabul deh."
What the f*ck! Itu anak gue barusan bilang gue cabul?! Gue cabul? Apa-apaan dia!
"Ar, kamu kok bilang Mami cabul sih? Bahasa darimana itu, hemm?" tanyaku yang sebenarnya dalam hati sedang memendam kekesalan.
"Aku mendengar berita di tv Mi." Jawabannya yang singkat dan terkesan cuek membuat darahku seolah mendidih.
"Arqasa Wijaya! Ini Mami kamu lho, kenapa kamu ngomong kayak gitu ke Mami?" Aku berbicara padanya dengan penuh penekanan berharap anakku paham kalau aku tidak suka ucapannya tadi dan juga sekalian menekan perasaanku yang sedari tadi meronta ingin marah.
"Udah Mi, nggak usah ngedrama deh. Aku mau mandi dulu," ucapnya seraya turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi dengan mengabaikan tatapanku yang seakan bola mata ini ingin melompat keluar.
"ARQASA WIJAYAAA!! Memang, kau memang benar anaknya Arkana Wijaya! Kalian sama-sama pria menyebalkan," teriakku geram begitu anakku itu menutup pintu kamar mandi.
Hah, rasanya kesabaranku akan diuji selama dua minggu ini. Bagaimana bisa Tuhan begitu tidak adil padaku? Aku yang hamil, aku yang melahirkan dan anakku dibuat mirip dengan Arkana hingga sifat keduanya pun sama. Sungguh ketidakadilan yang begitu nampak!
Drrrttt ...
Getar ponselku yang berada di atas nakas mengalihkan perhatianku. Aku pun berdiri dan berjalan untuk mengambil ponselku.
Nomor baru? Siapa?
Aku bingung ingin menjawab atau tidak, tetapi bagaimana jika itu adalah panggilan penting. Ya sudah, aku akan menjawabnya.
"Qania ...."
Hampir saja ponselku terjatuh kalau aku tidak segera tersadar. Aku kenal suara itu, suara Arkanaku. Tapi aku yakin seribu persen kalau yang sedang meneleponku ini adalah Tristan.
"I-iya," jawabku terbata, jujur aku bingung apakah aku matikan saja teleponnya atau terus berbicara dengannya. Aku, aku gugup dan itu entah kenapa. Atau mungkin karena surat tersebut.
"Kita perlu ngomong Qania."
A-ada apa dengan diriku? Mengapa hanya berbicara via telepon dengan Tristan begitu membuatku gugup dan aku kesulitan mengendalikan diri, batin Qania.
"Hallo, hallo Qania."
"Ya. Kalau kamu mau ngomong ya tinggal ngomong aja," jawabku berusaha bersikap ketus.
"Qan, tiga hari lagi aku bakalan tunangan dan kalau kamu memang cinta aku, maka bantu aku menggagalkan rencana tersebut. Please Qania, gue pingin dengar kata yang bikin gue semangat."
Aku hanya bisa menghela napas dalam-dalam kemudian Aku hembusin perlahan. Sumpah aku nggak mau ngecewain Tristan apalahi sampai menyakiti Marsya.
"Maaf Tristan, aku rasa kamu sudah membaca surat dariku dan aku tahu kamu pasti bisa menarik kesimpulan sendiri. Kita ini adalah dua orang asing, kalaupun kamu bertunangan ya itu adalah urusanmu bukan urusanku. Aku tidak peduli dan aku rasa aku tidak memiliki urusan dengan kalian. Ingat Tristan, kita adalah orang asing, orang asing!"
__ADS_1
Aku menandaskan ucapanku dan aku yakin Tristan di seberang sana merasa kecewa, terdengar dari helaan napasnya. Aku bingung! Aku tidak tahu harus berkata apa, belum sempat kurangkai kata untuk menjawab keinginannya. Ini terlalu tiba-tiba bagiku. Jujur saja ada bagian kecil di hatiku yang merasa sakit mendengarnya akan bertunangan. Tapi aku bisa apa? Mencegah? Itu tidak mungkin karena itu bukan bagianku. Jika saja dia benar Arkanaku, maka aku pasti akan melakukannya. Gila saja kalau seandainya aku mengizinkan suamiku bertunangan dengan orang lain.
"Qania, bukan seperti itu."
Suara lemah Tristan membuatku merasa lemah juga. Lantas apa, apa yang harus aku lakukan? Mencegahnya? Mustahil!
Aku menjauhkan ponselku kemudian kutarik napas dalam-dalam lalu kuhembuskan perlahan. Sungguh sangat sulit berkata-kata dengan keadaan hati yang sedang dilema.
"Lantas, kamu maunya apa?" tanyaku dengan suara pelan, sungguh itu bukan kusengaja pelan akan tetapi aku seperti kehilangan tenagaku.
"Aku mau, yang aku mau itu sederhana Qania. Tolong cegah aku, tolong bantu aku meyakinkan diriku untuk membatalkan semua ini."
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sungguh tidak tahu harus apa. Apakah aku turuti saja keinginan Tristan? Lalu Marsya?
"Akan aku pikirkan." Hanya itu yang aku ucapkan padanya kemudian kumatikan sambungan telepon tersebut saat melihat putra kesayanganku keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya.
Senyumku mengembang. Aku meletakkan ponselku di atas kasur kemudian berjalan mendekati anakku.
"Ar, biar Mami yang ambilin bajunya ya," ucapku kemudian membuka lemariku.
"Makasih Mi," ucapnya sambil menata rambutnya di depan cermin.
Aku memberikan baju padanya kemudian membantunya memakaikan pakaian tersebut. Anakku tersenyum dan itu sukses membuat jantungku degdegan.
Apa iya aku jatuh cinta pada anakku sendiri? Haha sangat lucu, bukan.
"Nah, karena Ar sudah tampan, sekarang giliran Mami mau mandi. Ar boleh main di kamar ataupun keluar main sama uncle ya," ucapku sembari mengambil baju mandiku dari dalam lemari.
Degg ...
Aku melihatnya. Aku melihat gaun putih yang pernah ku kenakan saat acara pertunangan ku dengan Arkana. Pikiranku kini menjadi tidak karuan karena teringat akan Tristan.
"Haruskah?"
Aku mencoba menepis pikiranku kemudian bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Mungkin dengan mandi akan membantuku menyegarkan pikiranku.
Qania POV end ...
.... . . . . ...
Next partnya nyusul ya 😊😊
Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎🤎
__ADS_1
...❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️...