
Tristan berjalan dengan cepat meninggalkan bandara. Saat ini waktu pun menunjukkan pukul empat subuh yang seharusnya ia sampai lebih cepat namun karena ada kendala dengan pesawat yang ia tumpangi maka ia pun harus bersabar menunggu. Ia hanya memiliki satu tujuan yaitu rumah sakit. Ia tidak ingin membuang-buang waktu dan tidak peduli apakah ia lelah atau tidak ia semata-mata hanya ingin segera mungkin melihat Qania. Ia pun sudah menghubungi salah satu orangnya untuk menjemputnya. Orang yang dari kemarin ia perintahkan untuk memantau kondisi Qania.
Tristan masuk ke dalam mobil dan langsung saja orang suruhannya membawanya menuju ke rumah sakit tempat Qania di rawat. Kumandang adzan subuh terdengar begitu Tristan memasuki halaman rumah sakit. Sebelum turun, orangnya sudah memberitahukan Qania di rawat di ruangan apa sehingga Tristan tak perlu bertanya lagi pada perawat yang berjaga.
Tristan melangkah cepat namun ia bergegas menyembunyikan dirinya yang hampir saja berpapasan dengan Papa Setya dan juga Syaquile.
“Syukurlah mereka tidak melihat gue. Ini artinya kemungkinan Qania sedang sendiri di ruangannya,” ucap Tristan kemudian melanjutkan lagi langkahnya.
Meski awalnya ragu-ragu, namun Tristan mencoba memberanikan diri membuka pintu ruangan tersebut. Tak ia duga, hal pertama yang ia lihat begitu pintu terbuka adalah tatapan tajam dari Qania. Seakan jantung Tristan berhenti berdetak melihat tatapan yang selalu membuatnya luluh itu.
“Kau?!” Qania yang tadinya sedang mengecek ponselnya untuk mencari tahu sesuatu dibuat bingung karena melihat gagang pintu yang bergerak-gerak namun tak kunjung terbuka. Awalnya ia memasang mode waspada kalau-kalau ini orang jahat, namun yang terlihat saat pintu terbuka adalah pria yang wajahnya begitu dirindukan oleh Qania. Entah ia merindukan wajahnya saja atau pun orangnya juga.
Tristan tersentak kemudian buru-buru ia tutup pintu dan berlari ke arah Qania. Qania yang sedang duduk bersandar tak bisa mengelak begitu Tristan memeluknya erat dengan isakan tangisnya.
“Maaf. Maaf. Maaf.” Hanya tiga kata itu yang bisa Tristan ucapkan.
Qania tak ingin bersuara, ia hanya ingin menikmati momen ini. Momen dimana ia bisa memeluk pria yang ia rindukan wajahnya ini. Ia membiarkan Tristan memeluknya erat serta meracaukan kata maaf berulang kali. Ingin menangis, tapi dia adalah Qania Salsabila Wijaya. Ia tak ingin terlihat lemah pada apa yang menjadi kelemahannya.
“Tak apa, ini bukan salahmu,” ucap Qania setelah sekian menit mereka berpelukan dan Qania segera melepaskan pelukannya tersebut.
“Jelas saja ini salahku,” ucap Tristan kemudian duduk di ranjang Qania dan memegangi tangan Qania. “Aku lalai menjagamu. Aku sangat bersalah,” lanjutnya.
Qania tersenyum, “Jangan menyalahkan dirimu. Berhenti membahas itu, oke. Aku juga sekarang sudah baik-baik saja. Oh ya, apa kau tidak membawakanku oleh-oleh?” Qania sengaja mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin membahas kejadian yang telah berlalu dan juga tak ingin Tristan semakin mencari tahu yang sebenarnya.
“Ah tentu. Aku bahkan sudah membelinya hampir seminggu yang lalu,” ucap Tristan sedikit bersemangat. Ia teringat dengan kalung yang ia beli dan sebelumnya sudah ia masukkan ke dalam saku celananya.
Tristan mengeluarkan kotak perhiasan dan langsung memberikannya kepada Qania. Dengan manjanya Qania berkata bahwa ia ingin Tristan membukakan kotak itu padanya dan Tristan pun tak membantah langsung mengikuti permintaan nyonya di hatinya itu.
“Waw, lumayan,” ucap Qania sengaja menggoda Tristan.
“Apa?! Lumayan? Ini sudah sangat indah,” ucap Tristan kemudian mengerucutkan bibirnya.
“Haha, aku bercanda. Sekarang tolong pasangkan,” ucap Qania.
Tentu saja Tristan tidak melewatkan kesempatan tersebut. Namun begitu ia hendak memasangkan kalungnya, di leher Qania sudah tersemat kalung lainnya.
“Eh maaf, sepertinya kamu nggak perlu memasangnya. Maaf tapi aku nggak bakalan ngelepasin kalung ini. Di kalung ini ada cincin pertunanganku dengan Arkana,” ucap Qania pelan dan tak enak hati.
Tristan mendesah pasrah. Ia kembali menyimpan kalung tersebut ke dalam kotaknya dan kembali duduk di samping Qania.
“Aku kok sakit hati ya,” ucap Tristan dengan kekehannya namun Qania tahu ia sedang menutupi rasa kecewanya.
“Ya maaf. Oh ya, berikan saja padaku. Nanti akan kubuat menjadi gelang,” ucap Qania sambil menampilkan senyuman indahnya.
“Hmm, benar juga,” ucap Tristan kembali bersemangat dan ia pun segera memberikan kotak itu pada Qania. Qania menyimpannya di dalam tas yang ada di atas nakas.
__ADS_1
“Kau tidak merawat diri selama disana?” tanya Qania yang memperhatikan penampilan Tristan dimana sudah mulai tumbuh jenggot dan juga rambutnya yang mulai gondrong.
“Aku hanya tidak ingin ada bule yang terpesona padaku. Karena aku sudah memiliki calon,” jawab Tristan memang jujur namun justru Qania mengatainya narsis.
Mereka pun berbincang-bincang. Qania tidak membiarkan Tristan sampai bertanya ke arah kejadiannya dan Tristan pun diam-diam memakluminya karena ia tahu kalau Qania memiliki trauma dengan kejadian seperti itu. Tristan hanya terus memuji dan memujanya sementara Qania pun sedikit-sedikit mengomentari fisik Tristan dan juga ucapan-ucapannya.
Tiba-tiba saja terbesit ide dipikiran Qania yang menurutnya sangat brilliant.
“Tristan,” panggil Qania.
“Iya sayang,” jawab Tristan membuat pipi Qania merona dan Tristan pun tersenyum senang. Ia sangat suka rona wajah itu.
“Nanti kalau aku udah keluar dari rumah sakit, kamu mau ya aku ajak ke salon buat gunting rambut,” ucap Qania.
“Tentu saja,” jawab Tristan antusias. Ia sangat suka dengan ajakan Qania.
“Oke.”
Suara tawa Syaquile dan Papa Setya terdengar di telinga Qania, ia dengan cepat menyuruh Tristan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Begitu pintu terbuka, bersamaan dengan Tristan yang sudah berhasil bersembunyi di dalam kamar mandi.
“Kak, mau makan apa?” tanya Syaquile.
“Kakak makan makanan rumah sakit aja Dek, kasihan kalau beli terus. Ntar uang Papa Setya abis lagi,” gurau Qania membuat ketiganya tertawa dan Tristan yang berada di dalam kamar mandi hanya bisa tersenyum.
“Yang benar saja. Meskipun kakak mesan seluruh makanan di restoran bintang lima mah uang Om nggak bakalan habis yang ada malah nambah terus,” ujar Syaquile.
“Ya teori dari aku lah Om. Coba saja Om borong semua makanan yang ada di restoran Arqasa, pasti uang Om bertambah.” Setelah berkata seperti itu, Syaquile dan Qania tertawa terbahak sementara Papa Setya berwajah masam.
“Ya iya, milik sendiri tentu kembali lagi uangnya. Ah berbicara denganmu membuat Om ingin buang air kecil,” ucap Papa Setya yang seketika membuat Qania dan Tristan yang berada di dalam kamar mandi menjadi panic.
“Tunggu Pa!” teriak Qania mencegah Papa Setya yang sudah sangat dekat dengan kamar mandi.
Papa Setya berbalik, “Kenapa Nak? Ini Papa sudah kebelet,” tanya Papa Setya.
“Qania juga Pa. Qania duluan ya,” ucap Qania dengan gegas mengambil infusnya.
“Ya sudah,” ucap Papa Setya mengalah kemudian ia membantu Qania berjalan menuju ke kamar mandi.
“Bisa kok Pa, udah sehat aku. Sebentar bisa pulang,” ucap Qania saat ia dipapah oleh mertuanya menuju ke kamar mandi.
“Berlian Papa tetap harus dijaga dengan baik,” ucap Papa Setya tulus membuat Qania tersenyum.
Dengan cepat Qania menutup pintu dan bersandar di baliknya. Ia membuang napas kasar beberapa kali dan melirik Tristan yang sedang tersenyum usil kepadanya. Qania memutar bola matanya jengah kemudian menyalakan keran air.
“Kau sudah membuatku dalam masalah besar kali ini,” ucap Qania kesal.
__ADS_1
“Dan kau juga sudah membuatku dalam suasana menguntungkan kali ini,” balas Tristan dengan senyuman penuh makna.
Qania memelototi Tristan, ia mencoba mengintimidasi lewat tatapan matanya namun yang ada Tristan hanya bersiul-siul seolah tak mengetahui maksud dari tatap Qania.
“Kau ….” Qania tak menuntaskan perkataannya karena ia pun tak tahu harus berkata apa lagi.
“Aku merindukanmu Qania,” ucap Tristan kini beralih mendekati Qania dengan ucapan yang serius.
Qania dibuat degdegan karena berada di ruangan sempit hanya berdua dengan Tristan. Dengan perasaan rindu yang membuncah mungkin saja mereka bisa melepaskan rindu itu di tempat ini. Namun sadar akan siapa yang ada di luar kembali membuat Qania menarik pikirannya.
“Tetaplah di tempatmu atau aku akan melaporkanmu kepada mertuaku,” ucap Qania mengancam karena Tristan sudah hampir memeluknya.
“Oh ya? Mengapa justru aku sangat menunggu kesempatan itu ya?” ledek Tristan dan Qania hanya bisa mendengus kesal.
Qania tak lagi mempedulikan Tristan, ia hanya sibuk berpikir bagaimana caranya Tristan keluar dengan tanpa diketahui oleh Syaquile dan Papa Setya.
“Qania, masih lama Nak?” suara Papa Setya membuat Qania tersentak. Dengan ragu ia membuka pintu namun terlebih dulu ia menyuruh Tristan untuk bersembunyi di belakang pintu.
Qania hanya menyembulkan kepalanya saja. “Pa, Qania bisa minta tolong?” tanya Qania ragu namun ia juga merasa bersalah karena harus berbohong.
“Ada apa Nak? Ada yang sakit?” tanya Papa Setya panik.
“Enggak kok Pa, aku hanya sedang kedatangan tamu bulananku. Boleh minta tolonh Syaquile mencarikan keperluanku? Hehe.”
Papa Setya terkekeh begitupun dengan Tristan yang sedang menahan tawanya di balik pintu.
“Baiklah. Ada lagi yang kamu butuhkan? Akan Papa carikan untukmu,” tanya Papa Setya.
“Aku hanya ingin makan dan minum Pa. Aku selalu merasa lapar jika sedang dalam siklusnya,” jawab Qania.
“Oke. Papa dan Syaquile keluar dulu. Kamu jaga diri baik-baik,” ucap Papa Setya kemudian pergi mengajak Syaquile untuk mencarikan kebutuhan menantunya.
“Yang benar aja sih Om,” ucap Syaquile mendengus kala mendengar perintah kakaknya.
Papa Setya hanya tertawa melihat Syaquile yang melangkah dengan malas. Begitu mereka keluar, Qania pun keluar dari kamar mandi dan langsung mengecek ke luar ruang rawatnya. “Aman,” ucapnya.
Ia pun kembali masuk ke kamar mandi dan mendapati Tristan sedang tersenyum menatapnya. Baru saja Qania akan bersuara, Tristan dengan cepat meraih tubuhnya dan membawa Qania ke dalam dekapannya.
“Percayalah, tiada hari yang aku lalui tanpa mengingatmu. Aku sangat merindukanmu Qania. Bahkan aku selalu merutuki waktu karena berjalan begitu lamban. Percayalah, saat aku mendengar kabar buruk tentangmu, duniaku seorang berhenti dan aku bisa merasai kesakitanmu. Berjanjilah untuk tetap hidup dan berbahagia untukku. Aku takut, aku sangat takut kehilanganmu. Tolong, jangan menjauh dan jangan tinggalkan aku.”
Qania terdiam, ia bisa merasakan bahu Tristan bergetar. Ia tahu Tristan tengah menahan tangis. Qania pun membalas pelukannya, sejujurnya ia memang merindukan Tristan. Dan ada sejumput rasa takut memikirkan akan kehilangan, lagi.
“Tristan, jangan penuhi pikiranmu dengan hal buruk. Aku percaya padamu. Sekarang kamu pulang dan istirahatlah dulu. Aku tidak mau kamu berpapasan dengan keluargaku untuk saat ini. Lagi pula, besok kita akan bertemu dan aku akan menemanimu pergi ke salon. Aku juga akan menemanimu besok kemanapun kamu mau kecuali ke KUA dan juga ke akhirat,” ucap Qania diakhiri candaan yang membuat Tristan kembali tersenyum.
“Aku akan memaksamu untuk datang ke KUA bersamaku suatu saat nanti. Dan saat itu tiba mungkin juga aku tidak perlu memaksamu,” ucap Tristan kemudian ia mengecup puncak kepala Qania. “Cepatlah sehat. Aku merindukan keceriaan dan juga umpatanmu. Aku rindu suara ketusmu,” ucap Tristan kemudian mengacak rambut Qania.
__ADS_1
“Aku jamin sebentar lagi semua itu akan kembali seperti yang kau inginkan. Bersiaplah,” ucap Qania kemudian ia dan Tristan sama-sama tertawa.
“Aku pamit dulu, hubungi aku jika ada sesuatu,” ucap Tristan menyempatkan diri mengecup kening Qania kilat sebelum ia berlari meninggalkan Qania yang ia yakin akan kesal padanya.