
Qania mencoba bersikap biasa saja begitu melihat Tristan keluar dari kamar mandi. Tentu saja saat ini ia begitu berdebar-debar melihat Arkananya. Ya, Tristan terlihat seperti Arkana lima tahun yang lalu. Namun Qania harus menutupi senyumannya karena ia masih ingin menuju ke sebuah tempat.
“Terpesona pun tidak,” ucap Tristan merajuk saat melihat Qania yang menatap biasa saja terhadapnya.
Kata siapa Tristan, kata siapa aku tidak terpesona. Bumi langit dan seisinya pun tahu kalau aku terpesona. Hanya saja aku tidak ingin memperlihatkannya kepadamu.
“Biasa aja. Cuma ya, lumayan lah terlihat seperti muda beberapa tahun dari usiamu,” ucap Qania kemudian Tristan bergegas melihat wajahnya di cermin.
Eh, benar juga. Kalau rambut gue modelnya kayak begini berasa belum kepala tiga aja nih usia.
“Udah nggak usah melamun. Ayo kita pergi, aku masih ada tempat yang ingin aku kunjungi. Antar aku pulang,” ucap Qania kemudian berpamitan pada pemilik salon dan berjalan lebih dulu meninggalkan Tristan.
“Mas ganteng masih mau disini sama aku?” goda pria gemulai tersebut.
Tristan tersadar saat tangannya di pegang, seakan ia baru saja disentuh sesuatu yang amat mengerikan hingga bulu kuduknya berdiri.
“Apa sih. Jangan pegang-pegang,” ucap Tristan sedikit membentak kemudian ia bergegas meninggalkan salon tersebut dan mendapati Qania sudah berdiri di samping motornya.
“Naik,” ucap Tristan dan tanpa menyahut Qania langsung naik.
Tristan merasa Qania mendiaminya dan melirik dari kaca spion sepertinya Qania sedang memiliki sesuatu di pikirannya. Dengan sengaja Tristan mengerem mendadak sehingga Qania yang terkejut langsung memeluk Tristan. Langsung saja Tristan menahan kedua tangan Qania dengan sebelah tangannya.
Udah nggak bisa aku hitung berapa kali aku harus merasakan deja vu karena kamu Tristan. Mungkin aku harus terbiasa. Seandainya kamu benar Arkana dan hanya kehilangan ingatan saja, tapi mengapa sampai kini tidak ada setitik pun ingatan tentang aku? Padahal kita sudah lama bersama, setidaknya jika pun kehilangan ingatan pasti kamu merasa mengenaliku dan saat bertemu denganku mungkin saja kamu mengalami hal serupa denganku dan paling tidak sedikit tersirat kenangan-kenangan kita dulu. Tapi kenapa ini enggak? Tahu tidak, ini semakin membuat aku dilema dan ragu jika kamu Arkanaku.
Tristan memarkir kendaraannya di depan kontrakan Qania dan Qania yang sudah memutus lamunannya pun turun tanpa bersuara. Ia merasa lemas saja karena Tristan tak kunjung menunjukkan gelagat dirinya sebagai seorang Arkana Wijaya.
Tristan membuka helmnya dan menyusul Qania yang sudah duduk di kursi teras.
“Sayang, kenapa diam saja hem? Aku perhatikan semenjak keluar dari salon kamu tuh lebih banyak diam,” tanya Tristan begitu mereka duduk di teras.
“Aku hanya sedikit lelah. Kamu tahu kan aku baru saja keluar dari rumah sakit,” kilah Qania.
Tristan langsung cemas, “Sayang bilang sama aku mana yang sakit. Mana yang membuatmu merasa tidak nyaman? Ayo kita ke rumah sakit sekarang.”
Ya, Tristan langsung siaga mengingat kemarin Qania melewati semuanya tanpa dirinya. Ia tak ingin sesuatu terjadi pada Qania terlebih saat dirinya ada di sisi Qania.
“Apa sih. Aku cuma bilang lelah kok. Nggak sakit!” ucap Qania yang menyadari raut kepanikan di wajah Tristan.
Tristan menghembuskan napas lega. “Mau makan atau minum sesuatu?” tanya Tristan.
Qania menggeleng. Bukan dia ingin menolak, hanya saja saat ini ia tengah menimang-nimang apakah keputusannya tepat untuk mengajak Tristan ke alamat yang tadi ia dapat melalui paket.
Qania menghela nafas panjang beberapa kali sebelum ia mulai berbicara kepada Tristan.
“Tristan, kau berada di kubu siapa saat ini?” tanya Qania yang membuat Tristan menoleh dengan tatapan penuh tanya.
“Aku tahu kau dan Pak Handoko serta Pak Alvindo punya hubungan dekat, bukan? Jadi aku tanya, kau berada di kubu siapa?” ucap Qania menjelaskan.
“Sayang ....” Tristan menggenggam tangan Qania sebelum melanjutkan ucapannya. “Mereka memang rekan bisnisku dan bisa dibilang mereka adalah orang yang berada dibalik kesuksesanku. Aku ada diantara keduanya, menyelesaikan bisnis mereka dan juga aku bisa dikatakan asisten dari keduanya. Tapi jika itu menyangkut dirimu, aku siap menentang keduanya. Aku bersumpah akan berdiri untuk membelamu. Tidak peduli kehilangan semuanya,” ucap Tristan sungguh-sungguh sambil menatap lekat kedua mata Qania.
Qania tersenyum miring. “Apakah para pria semudah itu berkata-kata dan mengucap sumpah?”
Tristan terdiam. “Tapi aku berkata dengan sungguh-sungguh. Aku siap kehilangan apapun kecuali dirimu,” ucap Tristan lagi.
Qania terkekeh. “Jangan berlebihan. Belum tentu juga aku memilihmu.”
“Akan aku paksa.”
Qania memutar bola matanya jengah.
“Ada apa?” tanya Tristan. “Apakah Om Alvin juga mengganggumu?”
“Tidak. Aku hanya bertanya karena dari yang aku tahu keduanya memiliki kerja sama hampir dalam semua bisnis,” jawab Qania.
“Benar. Lantas?”
“Lantas mengapa ku masih menaru hati, padahal ku tahu kau tlah terikat janji.”
Tristan tertawa, “Aku bertanya dibalas dengan sebuah lagu.”
Qania tersenyum kecil, kemudian ia mengeluarkan kertas yang berisi alamat tadi dari dalam tasnya.
“Kau tahu alamat ini?” tanya Qania kemudian ia memberikan kertas tersebut kepada Tristan.
Tristan mengernyit, “Alamat inj cukup jauh. Jika kita kesana maka akan memakan waktu tiga sampai empat jam dari sini. Aku pernah ke tempat ini. Disana bisa dikatakan desa terpencil. Kau dapat alamat ini darimana?”
“Ada yang mengirimnya dan entah siapa. Tapi firasatku mengatakan ada hal yang berhubungan denganku di tempat ini,” jawab Qania.
Apa ini ada hubungannya dengan kasus Pak Alvindo dan Pak Handoko? Atau disana ada Arkanaku?
“Kau yakin?” tanya Tristan memastikan.
“Kau mau mengantarku kesana?” tanya Qania balik.
“Tentu. Tapi tidak malam ini. Kau istirahat dulu. Besok pagi kita kesana,” ucap Tristan.
__ADS_1
“Tapi bagaimana jika ini begitu penting?” bantah Qania.
“Tidak ada yang lebih penting selain kesehatan, keamanan, kenyamanan dan keselamatan kamu Qania. Dan aku tidak ingin dibantah untuk saat ini!” tandas Tristan.
Qania mendengus, “Pacar bukan, suami bukan, eh sok ngatur-ngatur,” gerutu Qania dengan suara pelan namun masih bisa didengar oleh Tristan.
“Aku masih bisa dengar lho.”
“Bodoh amat. Aku mau istirahat. Kamu pulang aja,” ucap Qania kemudian berdiri hendak masuk ke dalam kontrakannya.
“Appa?! Yang benar aja sih Qan. Aku pikir kita bakalan jalan-jalan dan menghabiskan waktu berdua sampai malam,” protes Tristan.
“Aku nggak ada ya ngomong kayak gitu,” ucap Qania kemudian masuk dan menutup pintu membiarkan Tristan dengan tampang bodohnya menatap pintu yang sudah tertutup.
“Sial! Apes banget. Harus sabar lagi,” ucap Tristan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Qania tersenyum dari balik pintu. Ia hanya ingin agar Tristan tidak tahu kalau dirinya tinggal di rumah Pak Erlangga. Begitu melihat Tristan yang hendak pergi dari jendela, Qania pun membuka pintu.
“Tristan, mendadak aku lapar. Mau mengantar untuk mencari makan?” tanya Qania yang sudah berdiri di depan pintu.
Tristan berbalik dan langsung bergegas menarik tangan Qania dan membawanya ke motor. Ia dengan lembut memakaikan helm di kepala Qania.
“Jangankan cari makan, ke bulan pun aku anterin kalau ada jalannya,” ucap Tristan yang membuat Qania tak kuasa menahan senyumannya.
. . .
Pagi-pagi sekali Qania sudah bangun dan ikut sarapan bersama keluarga Pak Erlangga. Ia pun sudah meminta izin untuk keluar seharian ini karena ada urusan. Sidang yang diajukan atas kasus bersama Pak Handoko pun akan dilaksanakan dua hari lagi. Besok Papa Setya baru akan datang. Dan Qania masih memiliki waktu untuk istirahat serta mencari berbagai hal yang mungkin saja akan membantunya.
Qania berpamitan dengan istri Pak Erlangga sementara Pak Erlangga sudah lebih dulu berangkat ke kampus.
“Bu, aku pamit dulu ya. Sekalian ada jadwal untuk kontrol di rumah sakit,” ucap Qania di depan pintu.
“Mau pakai mobil atau motor? Atau dianterin aja sama Pak Ujang,” ucap istri Pak Erlangga.
“Udah pesan taksi online Bu, makasih,” jawab Qania.
“Ya udah, hati-hati ya. Ada apa-apa langsung telepon.”
“Baik Bu.”
Qania pun keluar dari halaman dimana sudah ada taksi yang ia pesan menunggu.
Sesampainya di rumah sakit, Qania langsung di arahkan oleh seorang perawat menuju ke ruangan chek up. Dokter Pedro pun memeriksa kondisinya kemudian mengajaknya duduk kembali di kursinya.
“Kondisi nona Qania sudah sangat baik. Hanya saja masih harus kontrol tiga hari atau seminggu dari sekarang ya. Jangan dulu terlalu lelah dan banyak pikiran. Saya juga sudah meresepkan obat dan nanti tinggal di tebus aja di apotek depan. Apa ada keluhan lainnya?”
“Enggak ada sih Dok. Makasih ya. Emm, saya boleh nggak bertanya sesuatu yang diluar kondisi saya Dok?” tanya Qania ragu-ragu.
“Boleh, selagi saya bisa menjawabnya.”
“Dok, saya ingin melakukan tes DNA dengan mengambil rambut sebagai sampelnya. Kira-kira prosedurnya gimana ya Dok?” tanya Qania.
Dokter Pedro tersenyum, “Kamu pergi ke bagian administrasi. Mereka akan mengarahkan kamu ke bagian yang kamu tuju. Bisa kok menggunakan rambut. Dan kemungkinan hasilnya akan keluar dalam waktu dua sampai tiga minggu. Memangnya siapa yang mau di tes DNA, Qania?”
“Seseorang Dok.”
“Why?”
“Ada seseorang yang sangat mirip dengan kolega saya. Sangat mirip Dok. Saya bertemu dengan orangnya saja sampai pingsan. Tapi kolega saya itu sudah meninggal lima tahun yang lalu. Kemudian saya menceritakan kalau saya bertemu dengan orang yang sama namun dia sama sekali tidak mengingat ataupun mengenali saya dan yang lainnya. Kemudian keluarganya memutuskan untuk melakukan tes forensik pada tulang-belulang mayat yang di duga kolega saya. Dan hasilnya ternyata itu milik orang lain. Makanya kami ingin melakukan tes DNA dan agar tidak menyinggung orang ini, maka kami hanya mengambil rambutnya saja,” papar Qania, ia tidak ingin menceritakan siapa sebenarnya yang ingin ia tes karena ia takut dengan istilah ‘Dinding pun memiliki mata dan telinga’ jadi ia tidak percaya dengan siapapun yang tidak mengetahui kisah hidupnya.
Dokter Pedro menarik napas kemudian menghembuskannya secara perlahan.
“Saya rasa mungkin keputusan kalian tidak ada salahnya untuk dicoba. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah di atur oleh sang pencipta. Mungkin saja benar dia adalah orang yang kalian cari. Meskipun konon katanya setiap orang memiliki kembar tujuh di dunia ini. Tapi percayalah, tidak ada yang kebetulan di mata sang Pencipta,” ucap dokter Pedro meyakinkan Qania.
“Terima kasih Dok. Setelah ini saya akan langsung melakukan tes DNA. Saya permisi Dok, sekalian mau nebus obat. Sekali lagi terima kasih Dok,” ucap Qania dengan begitu sangat bersemangat.
“Ya, good luck Qania.”
Qania tersenyum kemudian ia bergegas menuju ke apotek. Setelah itu ia pergi ke bagian administrasi dan memberitahukan niatnya untuk melakukan tes DNA. Salah satu perawat pun menuntunnya untuk mengisi beberapa formulir sebagai formalitas lalu membawanya ke laboratorium rumah sakit.
Pukul sebelas Qania baru menyelesaikan urusannya di rumah sakit. Dengan membawa sejuta harapan ia melangkah keluar dari rumah sakit tersebut dan langsung menuju ke kantin karena ia sangat lapar setelah beraktivitas dan juga hatinya begitu banyak berharap.
Sambil menunggu pesanannya, Qania pun menelepon Tristan.
“Sayang, aku baru saja ingin meneleponmu.”
“Nggak usah lebay. Aku baru mau salam tapi kamu udah keburu bicara. Ya udah langsung saja, kamu sibuk nggak?” ucap Qania dengan nada ketus.
“Nggak ada yang bikin aku sibuk selain memikirkanmu.”
“Sial! Aku ingin pergi ke alamat itu. Kau mau mengantar tidak?” tanya Qania mencoba menahan kekesalannya.
__ADS_1
“Tentu saja. Kamu dimana? Aku jemput sekarang.”
“Di rumah sakit.”
“Kamu sakit apa? Kenapa nggak ngabarin?”
“Aku cuma check up kok. Aku tunggu ya. Aku di kantin.”
“Ya. Lain kali kabari aku biar aku anterin. Aku kesana sekarang.”
. . .
Setelah melewati perjalanan yang panjang, akhirnya Tristan dan Qania sampai di depan sebuah rumah sederhana berlantai satu dengan halaman yang begitu asri. Setelah bertanya kepada penduduk sekitar, mereka pun tahu bahwa itu rumah Pak Jayadi.
“Kamu yakin sayang?” tanya Tristan sedikit cemas.
“Jika tidak mencoba kita tidak akan tahu,” jawab Qania.
Tristan pun hanya bisa mengalah.
Belum juga Qania dan Tristan memasuki halaman rumah, pintu rumah pak Jayadi terbuka dan seorang bocah lelaki yang terlihat cukup tampan keluar dari sana.
“Dengan Mbak Qania Salsabila?” tanya bocah tersebut membuat Tristan dan Qania saling menatap.
“Ya saya sendiri,” jawab Qania.
“Mari Mbak, kakek saya sudah menunggu. Tapi beliau hanya ingin berbicara dengan Mbaknya saja. Jadi Masnya tunggu di luar saja ya. Tenang aja, nggak akan diapa-apain kok,” ucap bocah tersebut.
Qania menatap Tristan kemudian ia mengangguk dan menggenggam tangan Tristan mencoba meyakinkan pria itu bahwa ia akan baik-baik saja. Tristan pun akhirnya pasrah dan membiarkan Qania masuk bersama bocah tersebut.
Pintu di tutup setelah Qania dan bocah itu masuk. Di ruang tamu ada seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun sedang duduk sambil menonton tv.
“Qania sudah datang. Selamat datang di rumah sederhana kami. Silahkan duduk,” ucap Pak Jayadi.
Qania pun mengangguk lalu tanpa ragu ia duduk.
“Buatin Mbak Qania minum.”
Bocah itu pun langsung masuk ke dapur.
“Qania, kamu pasti bertanya-tanya ya kenapa kamu sampai datang ke tempat ini. Singkat cerita, saya sudah mendengar kabar bahwa kamu berhasil menjebloskan Handoko ke dalam penjara,” ucap Pak Jayadi.
Qania tersentak. “Bapak mengenalnya?” tanya Qania.
“Sangat kenal. Bahkan setiap saat saya hanya terus mengenalnya. Mengenalnya sebagai penghancur kehidupan anak itu. Cucu saya yang berusia tiga belas tahun harus rela kehilangan Ibunya dan juga harus menanti Ayahnya kapan terbebas dari penjara,” ucap Pak Jayadi. Wajahnya menyiratkan sebuah kepahitan.
“Maksud Bapak?”
“Jadi, anak saya adalah salah satu dari dua orang kepercayaan Pak Angga yang saya yakin Anda sudah tahu siapa Pak Angga itu. Dia memiliki istri yang bekerja sebagai salah satu staf penting di perusahaan tuan Alvindo. Singkat cerita menantu saya mendapati dokumen dimana tuan Alvindo dan Pak Handoko melakukan penipuan pada proyek negara serta melakukan pencucian uang dan saya yakin jika dugaan saya tidak salah, dokumen itu sudah ada di tanganmu, bukan?”
Qania langsung saja membelalakkan matanya membuat Pak Jayadi tersenyum.
“Yang ada padamu masih belum lengkap. Ambillah dokumen ini dan juga ada file di dalam flash disk yang sudah lama saya simpan. Di dalamnya ada bukti pengancaman mereka pada Pak Angga dan juga bukti tentang seperti apa mereka mencelakai Pak Angga. Ada rekaman CCTV mobil yang terakhir kali ditumpangi oleh Pak Angga.
“Anak saya diancam. Awalnya ia menolak patuh untuk menutup mulut, namun mereka dengan sadis memperkosa serta membunuh menantu saya di rumah kami di kota lalu mereka mengancam nyawa cucu saya. Jadi anak saya memilih masuk penjara dengan tuduhan ia lah yang melakukan pencucian uang bersama-sama dengan istrinya meskipun ia tidak bekerja disana namun memanfaatkan jabatan istrinya disana,” cerita Pak Jayadi dengan berlinang air mata.
Qania yang mendengarkan cerita tersebut pun hatinya begitu ngilu. Ia berjanji dalam hati akan membantu keluarga Pak Jayadi. Tanpa Qania duga, Pak Jayadi berlutut di kakinya sehingga Qania langsung membantunya berdiri.
“Pak tolong jangan begini. Ini tidak pantas,” pinta Qania tak enak hati.
“Saya hanya memohon padamu Nak. Tolong bantu kami dan tolong lah cucu saya. Saya sudah tua dan tidak tahu kapan waktu mungkin saja saya akan meninggalkannya sendiri. Jika kamu berhasil maka anak saya akan bebas dari penjara dan cucu saya bisa berkumpul lagi dengan Ayahnya,” mohon Pak Jayadi dengan deraian air mata.
Cucunya yang sedang membawa gelas berisi teh hangat pun turut menangis karena teringat akan kedua orang tuanya.
“Saya akan mengusahakan yang terbaik Pak. Doakan saya. Saya tidak bisa berjanji tapi saya akan mengusahakannya. Semoga Papa saya bisa membantu kita,” ucap Qania sambil membantu Pak Jayadi kembali duduk di sampingnya.
“Aarav, kemari Nak,” panggil Pak Jayadi.
Aarav pun menyeka air matanya dan memasang senyumannya.
“Silahkan Mbak diminum tehnya, mumpung masih hangat,” ucap Aarav.
Qania pun langsung meminumnya kemudian mereka berbincang sedikit tentang anak Pak Jayadi yang berada di penjara sebelum akhirnya Qania pamit pulang karena ia tak enak dengan Tristan yang sudah hampir sejam menunggu di luar.
Pak Jayadi dan Aarav mengantarkan Qania keluar dan Tristan pun akhirnya bisa bernapas lega setelah melihat Qania keluar.
Mereka berpamitan dengan Pak Jayadi dan Aarav sebelum akhirnya Tristan membawa Qania pergi dengan menaiki motornya.
“Setelah ini kamu dihukum tidak boleh kemana-mana kecuali aku yang mengajak. Dan satu lagi, malam ini aku ingin menghabiskan waktu mengukur jalan dengan kamu. Tidak boleh menolak apalagi membantah,” ucap Tristan dan Qania hanya mengangguk saja dari belakang.
Qania memeluk Tristan dan menyandarkan kepalanya di punggung Tristan.
__ADS_1
Andaipun kamu bukan Arkana, aku akan tetap memilihmu sebagai seorang Tristan.