Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Di awasi


__ADS_3

Qania sedang menikmati jus alpukat yang tadi dibawakan oleh Fero sambil melihat Arkana yang tengah bernyanyi di kafenya untuk menghibur pada pelanggannya. Ada rasa kagum dan juga tidak rela karena banyak mata terutama para gadis yang memuja Arkana itu turut mendengarkan suara merdu kekasihnya.


“Salah nggak sih kalau aku nggak suka Arkana bernyanyi di depan banyak orang?” Tanya Qania pada dirinya sendiri masih dengan menatap Arkana.


“Nggak salah kok” celetuk Fero.


“Eh Ro, nyambar aja” kaget Qania.


“Resiko punya suami tampan dan bertalenta Qan, romantis pula” ujar Fero.


“Apa sih suami suami” sewot Qania tapi wajahnya memerah malu.


“Lah kan benar” tegas Fero tak ingin kalah.


“Serah kamu deh Ro” ucap Qania kemudian menyeruput jusnya.


Tak lama kemudian Arkana datang dan ikut bergabung bersama Fero dan Qania.


“Ngomongin gue?” Tanya Arkana yang duduk di samping Qania kemudian mengambil jus milik Qania dan langsung ia minum.


“Nggak, gue lagi nanya Qania aja” sahut Fero.


“Nanya apa?” Tanya Arkana penasaran.


“Gue nanya Qania udah ada isi belum” ceplos Fero membuat Qania tersedak.


Uhukk..


Uhukk..


“Minum sayang” ucap Arkana seraya memberikan jusnya pada Qania.


“Gila lo Ro, masa nanya kayak gitu ke Qania” kesal Arkana.


“Lah emang salah pertanyaan gue? Kita kan sama-sama tahu kalau kalian sud…..”,.


“Kita nikahnya dua minggu lagi, jadi lo jangan asal ngomong. Mana ada orang belum nikah udah hamil” serga Arkana.


“Ya kan kalia…”,.


“Udah deh jangan ngada-ngada mendingan elo ngantar pesanan sana” potong Arkana.


“Baik boss” ucap Fero kemudian berdiri dan meninggalkan Qania dan Arkana.


Qania memijat pelipisnya, rasanya pertanyaan Fero tadi mengganggu pikirannya sampai ia menjadi pusing.


“Sayang kamu nggak apa-apa kan? Jangan pikirin pertanyaan Fero yang nggak jelas itu” ucap Arkana khawatir.


“Kepala aku pusing sayang” keluh Qania.


“Kamu kecapen kali sayang, seharian ini kan kita jalan-jalan” terka Arkana dan diangguki oleh Qania.


“Mungkin sayang, gimana kalau kita pulang aja. Sekarang udah hampir jam sebelas malam dan aku udah ngantuk juga” ucap Qania sambil menutupi mulutnya dengan tangan karena menguap.


“Ya sudah, ayo pulang” ajak Arkana sambil merangkul Qania.


“Terus kafe dititip sama siapa sayang?” Tanya Qania.


“Fero nggak lama kok sayang” jawab Arkana.


“Semenjak wisudah dan dapat gelar Rizal langsung kerja di hotel papa ya sayang?” Tanya Qania lagi sambil duduk di boncengan Arkana.


“Iya sayang, dia mau ngumpulin uang buat nikahan” jawab Arkana kemudian menyalakan mesin motornya.


Qania tidak menyahuti lagi jawaban dari Arkana, ia hanya mengeratkan pelukannya saat motor Arkana sudah melaju di jalan raya. Karena sangat mengantuk, Qania akhirnya terlelap dipunggung Arkana. Mendengar dengkuran halus dari belakangnya, Arkana tersenyum. Ia memelankan laju kendaraannya dan memegangi tangan Qania yang melingkar dengan erat di perutnya dengan tangan kirinya.

__ADS_1


‘Andaikan gue bisa meminta Qan, gue ingin hidup bersama selamanya dengan elo. Gue nggak mau ninggalin elo tapi entah mengapa akhir-akhir ini gue sering ngerasa lo bakalan diambil dari gue dan seolah-olah kita tidak di takdirkan bersama. Pernikhan kita dua minggu lagi tapi perasaan gue masih belum tenang entah apa gue juga nggak tahu. Ada rasa takut dan juga khawatir di hati gue tapi susah buat gue mengerti keadaan ini Qan. Gue hanya berharap yang terbaik untuk akhir kisah kita nanti, kalau pun kita tidak akan bersama sampai kita tua yang penting elo bahagia Qan. Gue bakalan berdoa nanti dikehidupan selanjutnya kita berdua akan selalu menjadi pasangan’,.


Arkana membiarkan air matanya mengalir begitu saja tanpa berniat mengusapnya. Ia menikmati udara malam dengan Qania yang berada di belakangnya yang entah dimana sekarang ia berada dalam petualang mimpinya. Arkana sesekali tersenyum mendengar racauan Qania dari belakang dan menurutnya itu sangat menggemaskan.


“Arkana kau sangat menyebalkan”,.


“Tapi aku mencintaimu, sangat mencintaimu Arkana Wijaya”,.


Bahkan dalam mimpi pun Qania terus mengungkapkan isi hatinya membuat air mata Arkana tidak berhenti mengalir entah saking senangnya dan juga karena ketakutannya.


*


*


Arkana menghentikan motornya di depan teras rumah Qania, dengan pelahan ia membuka helmnya kemudian ia diam saja menunggu hingga Qania bangun. Pak Roni yang tadi membukakan pintu gerbang pun datang mendekati mereka.


“Apa nggak apa-apa nak Arka duduk di motor seperti itu?” Tanya pak Roni dengan suara dikecilkan.


Arkana tersenyum, “Nggak apa-apa pak, kasihan kalau dibangunkan”.


“Ya sudah saya masuk dulu, mau bikin kopi” pamit pak Roni yang dijawab anggukan oleh Arkana.


Sepeninggalan pak Roni, Arkana pelan-pelan melepaskan tangan Qania dari perutnya, kemudian ia membuat gerakan berbalik sepelan mungkin agar Qania tidak terbangun. Ia berbalik menghadap Qania dan membawa Qania kedalam dekapannya.


Arkana mendekap erat tubuh Qania seolah tiadal lagi hari esok baginya untuk memeluk tubuh itu. ia juga menghujani puncak kepala Qania dengan ciumannya yang menjadi salah satu kegemarannya itu.


“Ekhmmm”,.


Arkana menoleh pada sumber suara yang tentu saja sangat ia hapal milik siapa.


“Kalau pacaran itu jangan di depan rumah, masuk” ucap Zafran yang sedang berdiri sambil berkacak pinggang di ambang pintu.


“Istriku sedang tidur pa” seru Arkana dengan suara pelan.


“Apa? Qania tidur? Haih kebiasaan” ucap Zafran sambil berdecak. “Apa tadi kau bilang, istri? Jangan kePDan, siapa juga yang akan menikahkanmu dengan anakku hah?” ejek Zafran.


“Masih dua minggu dan saya masih bisa berubah pikiran Arkana Wijaya” sungut Zafran membalas candaan Arkana.


“Hiss bukannya membawa Qania masuk kalian berdua malah beradu mulut” gerutu Alisha yang baru saja keluar.


“Maaf ma” ucap Zafran dan Arkana bersamaan.


“Tuh kan kompak, kalian emang cocok jadi anak dan bapak” celetuk Alisha.


“Sudah, gendong saja Qania masuk Ka” pinta Alisha.


“Biar papa saja, bajingan itu belum sah jadi suami anakku” serga Zafran.


“Tapi sayang bajingan ini lebih kuat dan akan menjadi kecintaan dan kesayangan putrimu tuan” tandas Arkana sambil membopong tubuh Qania.


Alisha hanya bisa mendesah frustasi melihat pertengkaran dua pria yang berwatak sama namun berbeda generasi itu. Baginya itu lucu dan menggemaskan tapi juga menyebalkan.


Arkana membaringkan tubuh Qania di atas tempat tidurnya dan menyelimuti hingga ke dada Qania ditemani oleh kedua orang tua Qania.


“Sudah malam, pulang sana” usir Zafran ketus.


“Nggak mau, aku mau disini sampai Qania bangun” tolak Arkana.


“Mau tidur disini kamu?” Tanya Zafran dengan tatapan membunuh.


“Tentu saja” jawab Arkana mantap.


“Kau…”,.


“Kalian berdua tidak mau menghentikan drama murahan kalian haahh” Alisha yang berdiri di tengah-tengah Arkana dan Zafran langsung menarik telinga kedua pria itu karena sudah kesal dari tadi di luar, saat masuk dan bahkan di kamar pun masih saja saling berdebat.

__ADS_1


“Ampun ma sakit” ringis Arkana.


“Ma, ampun ma telinga papa bisa copot ntar” timpal Zafran.


“Kalian dua pria menyebalkan sebaiknya kalian yang keluar dari sini sekarang” ujar Alisha setelah melepaskan tangannya dari telinga kedua pria itu.


“Baik ma” ucap keduanya kompak.


“Dasar menyebalkan” umpat Alisha.


“Tapi tampan kan?” ujar keduanya.


Alisha mendengus mendengar ucapan kedua pria itu, kemudian ia keluar lebih dulu karena tidak ingin mendengar ucapan-ucapan aneh dari kedua pria itu.


“Arka ikut papa” ajak Zafran yang berjalan lebih dulu keluar meninggalkan Arkana.


Arkana kemudian mengecup kilat kening Qania, kemudian mengucapkan selamat tidur untuk kekasihnya itu.


“Selamat tidur my wife, mimpi indah dan itu harus aku”,.


Arkana dan kedua orang tua Qania kini tengah berada di ruang keluarga, waktu sudah hampir tengah malam tapi ketiga orang itu masih belum mengantuk karena sibuk membahas masalah Qania dan Arkana.


“Kau jangan pura-pura tidak tahu Ka kalau kau, Qania dan papamu sedang diawasi orang bukan?” ucap Zafran menatap tajam pada Arkana.


“Aku tahu pa, makanya selama ini aku selalu mengantar jemput kemana pun Qania pergi. Kalau aku tidak sibuk aku selalu menemaninya, itu semua karena aku takut Juna akan mencelakai Qania” jawab Arkana kali ini ia berbicara dengan serius.


“Bukan Cuma Qania yang harus kau perhatikan tapi dirimu dan papamu juga” tegas Zafran.


“Bukankah papa sudah memberi pengawalan pada papaku dengan mempekerjakan om Kriss sebagai asisten papa?” Tanya Arkana.


“Iya papa tahu, tapi papa khawatirnya ke kamu Ka” lirih Zafran.


Zafran sudah tahu jika setelah sidang itu ada orang yang diam-diam mengawasi putrinya, Setya dan Arkana. Makanya ia bergerak cepat untuk mencarikan orang yang ahli bela diri untuk menjaga Setya. Ia tahu jika Arjuna masih mengincar putrinya, itu sebabnya ia tidak pernah membiarkan putrinya pergi seorang diri setelah ia mendapati ada orang yang diam-diam mengawasi Qania ketika Qania pergi bersama Elin.


Waktu itu untung saja Zafran sedang berada di kafe yang sama dengan Qania dan Elin sehingga ia bisa melihat ada dua pria yang mengintai Qania di kafe itu. Awalnya ia ragu, namun ketika Qania dan Elin pergi orang itu juga pergi dan mengikuti mereka sampai di rumah.


Zafran awalnya mengira orang itu mengikuti Elin yang mungkin mereka adalah musuh Ghaisan tapi setelah ia mendengar percakapan telepon mereka dan menyebut nama Qania dari situlah ia tersadar bahwa putrinya yang sedang diawasi dan mereka juga menyebut nama Arkana dan Setya sehigga Zafran bergerak cepat untuk memberikan perlindungan pada Setya.


“Papa tenang saja. Tapi kenapa papa memberikan penjagaan pada papaku sedangkan Qania tidak?” Tanya Arkana memancing Zafran.


“Kau ini bodoh atau pura-pura bodoh hah? Untuk apa aku menikahkanmu dengan anakku kalau kau tidak bisa diandalkan hah?” sindir Zafran membuat Arkana terkekeh.


“Arka pikir papa tidak percaya pada Arka pa, hehehe” kekehnya.


“Kau mau pulang atau mau tidur disini?” Tanya Zafran setelah melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas kurang lima belas menit.


“Tidur disini saja pa” jawab Arkana senang.


“Ya sudah, gantiin pak Roni berjaga diluar. Ini demi keamanan Qania juga” ucap Zafran menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Arkana yang cemberut.


“Kalau begitu aku pulang saja deh pa, mending tidur di rumah bersama kasur yang empuk. Papa tunggu saja, Qania juga akan ku bawa bersamaku. Nikmati lah saat –saat terakhir kalian” ucapnya kemudian berdiri dan dan mencium tangan kedua orang tua Qania bergantian sambil menyeringai puas.


“Berani sekali kau berbicara seperti itu anak muda” sungut Zafran sambil memberi tatapan membunuh pada Arkana.


“Mengapa tidak” balas Arkana membuat Alisha mendengus kesal.


“Arka sayang ini sudah malam sebaiknya kau pulang dulu dan hati-hati di jalan” ucap Alisha melerai.


“Baik mamaku tercinta. Assalamu’alaikum” ucap Arkana kemudian pergi meninggalkan rumah Qania.


Saat Arkana sudah keluar dari rumah Qania, ia menyeringai karena mendapati dua orang yang berada di atas motor tengah mengikutinya.


“Mereka dari tadi masih disini rupanya. Apa tidak bosan dari tadi menguntit orang pacaran” gerutu Arkana kemudian menghentikan motornya secara tiba-tiba membuat dua orang itu harus mengerem mendadak dan hampir menabrak belakang motor Arkana.


 

__ADS_1


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Terima kasih sudah membaca 😊😊😊


__ADS_2