Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Ualng Tahun Papa Setya


__ADS_3

Sesampainya di rumah Papa Zafran, Papa Setya kembali lesu. Papa Zafran paham dengan apa yang di rasakan oleh sahabat sekaligus besannya ini. Ia pun memanggil Syaquile untuk memberikan penjelasan kepada mereka.


“Sekarang ceritakan kepada kami, bagaimana bisa kalian mengetahui kalau yang ada di dalam makam itu bukan Arkana?” tanya Papa Zafran kepada Syaquile.


Syaquile terkejut, rupanya mereka sudah tahu perkara makam tersebut. Untung saja ia dan Qania sudah sepakat membuat jawaban jika suatu saat semuanya ketahuan dan Arkana belum juga ditemukan. Apalagi kakaknya sudah memberitahu bahwa hasil tes DNA itu tidak cocok, maka Syaquile sudah menyiapkan jawaban sesuai instruksi kakaknya.


Papa Setya menanti jawaban Syaquile. Bisa Syaquile lihat bagaimana wajah itu menatapnya penuh harap.


“Jadi, kakak pernah bercerita padaku kalau dia sering mimpiin hal aneh tentang kak Arka. Katanya dalam mimpinya itu kak Arka sering minta tolong dan mengatakan bahwa dirinya bukan dia. Aku juga nggak paham apa maksudnya. Lalu bersamaan dengan mimpi itu, katanya ada sosok Juna yang terus meminta tolong padanya dan meminta maaf. Kakak dan aku juga tidak paham apa maksudnya. Dan waktu itu kakak lagi jalan ke mall dan nggak sengaja ketemu sama kak Dennis yang katanya sahabat Juna. Dia minta tolong sama kakak untuk menyelidiki makam itu karena ia rasa itu bukan kak Arka mengingat Juna pun menghilang sejak saat itu. Katanya, malam itu Kak Dennis tidak sengaja mendengar rencana jahat Juna. Jadi ya itu, dia minta tolong buat di periksa. Dan hasilnya ternyata benar kalau yang ada di makam itu adalah Juna,” cerita Syaquile dengan bergantian menatap kedua orang tua di hadapannya.


“Kenapa tidak mengatakan kepada kami?” tanya Papa Zafran.


“Aku lupa Pa, benar lupa. Karena waktu itu hasilnya keluar bersamaan dengan kakak masuk rumah sakit. Aku nggak tahu harus cerita dulu atau mengurus kakak pada waktu itu. Dan karena aku buru-buru berangkat sama Om Setya, aku jadi lupa. Aku juga belum ngasih tahu kakak soal itu kalau kalian nggak ingatin aku hari ini,” jawab Syaquile setengah mengarang cerita.


“Jadi Qania juga belum tahu?” tanya Papa Setya.


“Belum Om,” jawab pelan Syaquile.


Papa Zafran memicingkan matanya, ia bisa melihat gelagat Syaquile. Ia tersenyum tipis menyadari ada yang coba ditutupi oleh putranya itu.


“Cepat telepon Qania, dia harus tahu soal ini. Ada kemungkinan Arka masih hidup. Dia pasti akan senang mendengar berita ini,” ucap Papa Setya antuasias.


Syaquile pun mengangguk kemudian ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menelepon kakaknya namun hanya suara operator yang menjawabnya. Beberapa kali ia coba namun tetap saja sama. Mereka tidak tahu saja jika yang mereka hubungi itu tengah bermesraan di dalam pesawat.


Qania sedang menyandarkan kepalanya di bahu Arkana dengan kedua tangan mereka saling menggenggam. Arkana terus saja menghujani kepala Qania dengan ciuman, tempat favoritnya.


“Nggak bisa dihubungi,” ucap Syaquile diikuti gelengan kepalanya.


“Ya udah, sebaiknya sekarang jangan dulu pikir soal ini. Kamu sebaiknya bersiap karena nanti malam pesta ulang tahun kamu akan digelar. Jangan banyak pikiran dulu,” hibur Papa Zafran.


“Gimana nggak kepikiran sih, ini nggak bisa lepas dari pikiranku. Pestanya dibatalin aja. Lagi pula itu kan sekalian pesta penyambutan Qania tapi orangnya nggak ada. Batalin aja,” ucap Papa Setya malas.


“Gila Lu ya! Enak aja, gue yang capek-capek urus undangan dadakan dan nyuruh orang buat nyebarin dan ngurus semua persiapan acaranya dan lu seenak jidat ngomong buat ngebatalin. Wah minta dijitak otaknya nih,” sungut Papa Zafran.


“Aelah, ntar gue ganti rugi,” ucap Papa Setya tak ingin berdebat.


“Nggak! No debat! Pokoknya malam ini pestanya jadi dan gue nggak nerima penolakan,” ucap Papa Zafran dengan sengit.


Papa Setya mendengus, “Lu nggak ngerti perasaan gue.”


“Gue ngerti Set. Makanya malam ini, gue cuma mau Lu terhibur dan besok kita bakalan cari sampai dapat keberadaan Arkana baik dia hidup ataupun mati. Gue bantuin sampai dapat,” ucap Papa Zafran tegas.


Ada benarnya juga sih kata Zafran. Aku lelah dan butuh hiburan. Mungkin dengan pesta dan berkumpulnya para kolega bisa jadi hiburan buatku, batin Papa Setya.


“Ya udah atur aja,” ucap Papa Setya mengalah.


 


. . .


 


Pesta ulang tahun Papa Setya sebentar lagi akan dilangsungkan. Rizal lah yang paling sibuk mengurusinya. Fero hanya membantu beberapa saja karena Chika baru melahirkan tiga hari yang lalu dan masih membutuhkan dirinya. Namun ia tetap stay jika Rizal menghubunginya. Nanti malam pun Fero akan hadir walau tanpa Chika.


Ada Ghea dan anak mereka yang menemani Rizal di hotel itu sekaligus mereka sudah memesan satu kamar hotel agar nanti tidak perlu pulang ke rumah.


Dekorasi sangat indah dan terkesan elegan. Makanan dan minuman sudah tersaji di atas meja. Musik pun mulai terdengar di dalam ruangan yang digunakan untuk mengadakan pesta perayaan ulang tahun itu.


Ada kue bertingkat dengan lilin angka 55 di atasnya.


Para tamu pun mulai berdatangan sementara yang bertugas menerima tamu adalah Papa Zafran, Mama Alisha yang memegangi Arqasa yang malam ini nampak begitu tampan dan keren dengan setelan jasnya dan Syaquile. Rizal dan Fero pun turut menyambut beberapa tamu dan kembali bersibuk mengecek segala persiapan acara.


Papa Setya datang diantar oleh Pak Anwar dan turut bergabung bersama kedua besannya.

__ADS_1


“Selamat ulang tahun Bro, semua doa terbaik gue berikan buat lu. Dan gue harap yang menjadi harapan lu itu akan menjadi kenyataan,” ucap Papa Zafran memeluk Papa Setya.


“Aamiin Bro, makasih,” balas Papa Setya terharu kemudian mereka melepas pelukan.


“Mas, selamat ulang tahun ya. Aku doain Mas selalu mendapatkan kebahagiaan dan semua harapannya dikabulkan oleh Allah SWT,” ucap Mama Alisha.


“Aamiin, makasih Al doanya,” ucap Papa Setya tersenyum haru.


“Kakek selamat ulang tahun ya, Ar sayang kakek,” ucap Arqasa yang langsung digendong oleh Papa Setya.


“Kakek juga sayang banget sama Ar,” balas Papa Setya.


Arqasa pun minta diturunkan namun Papa Setya tidak ingin dan bersikukuh untuk terus menggendong cucunya itu hingga Ar pasrah saja.


Satu persatu mereka mengucapkan selamat kepada Papa Setya. Baik keluarga maupun kerabat dan rekan kerja. Banyak yang menanyakan keberadaan Qania termasuk Rizal dan Fero namun Papa Setya dan kedua besannya hanya menjawab kalau Qania berhalangan hadir.


“Sayang sekali ya Qania nggak bisa datang,” ucap Rizal.


“Iya, padahal tiap tahun dia nggak absen datang untuk perayaan ini,” timpal Ghea.


“Kira-kira hal apa yang bikin Qania nggak pulang. Dari yang gue dengar dia kan udah selesai ujian skripsinya,” imbuh Fero.


Ketiganya pun hanya saling melempar pertanyaan dan pendapat namun tidak menemukan jawabannya.


MC sudah memanggil Papa Setya untuk mendekat ke meja dimana kue ulang tahunnya berada. Papa Setya tersenyum berpamitan kepada para koleganya untuk menuju ke tempat yang sudah disediakan. Ia didampingi oleh Papa Zafran dan Mama Alisha serta Arqasa yang kini berdiri di sampingnya.


“Terima kasih untuk semua yang berkenan hadir di acara sederhana saya malam ini. Saya sangat senang bisa berkumpul dan merayakan ulang tahun saya kali ini dengan kalian semua. Saya pun tidak bisa banyak berkata-kata. Jadi mari kita mulai saja acaranya,” ucap Papa Setya.


MC pun kembali mengambil peran. Ia meminta untuk pemain musik memainkan lagu selamat ulang tahun dan diikuti oleh para hadirin. Mereka bernyanyi sambil bertepuk tangan.


Nyanyian lagu selamat ulang tahun yang sangat tidak asing itu memeriahkan ruangan tempat mereka mengadakan pesta. Dan kini berganti dengan lagu untuk meniup lilin.


Lagu pun berakhir, MC meminta Papa Setya untuk berdoa mengucapkan keinginannya dalam hati yang biasa disebut ‘make a wish’ sebelum meniup lilinnya.


Papa Setya kebingungan dan para undangan pun mulai bersuara dan saling menyalakan ponsel mereka masing-masing. Papa Setya baru saja ingin meminta Fero dan Rizal untuk mengeceknya, namun semua dibuat terdiam dan membuka jalan untuk dua orang yang baru saja masuk dengan salah satu diantar mereka memegang kue ulang tahun dengan lilin angka 55 yang sudah menyala.


Cahaya lilin ditambah penerangan ponsel dari para tamu undangan membuat ruangan itu seperti sedang mengadakan konser. Namun bukan itu fokus mereka. Mereka memperhatikan wanita dan pria yang tengah berjalan mendekat ke meja dimana Papa Setya dan kedua besannya itu tengah berdiri dan menatap penuh rasa penasaran pada dua orang yang tengah mendekat pada mereka.


Selamat ulang tahun Papa ...


Suara wanita yang bernyanyi tentu sangat mereka kenali yaitu suara Qania. Hal itu membuat Papa Setya tersenyum haru karena ia sangat terkesan dengan Qania yang ternyata membuat kejutan untuknya.


Selamat ulang tahun Papa ...


Suara pria yang kini bergantian bernyanyi pun membuat Papa Setya menjadi gelisah begitupun dengan Mama Alisha dan Papa Zafran.


Selamat ulang tahun Papa


Selamat ulang tahun Papa


Semoga panjang umur


Semoga bahagia.


Lagu berakhir tepat ketika mereka berada di hadapan papa Setya dengan kue ulang tahun di tangan Qania.


Papa Setya yang tadinya tersenyum kini sudah berderai air mata. Ia seperti tidak mampu mengontrol dirinya ketika melihat pria yang berada di sebelah Qania meskipun hanya terlihat samar dengan penerangan lilin kecil.


“Pa, ditiup lilinnya,” ucap Qania.


Papa Setya tergagap namun baru saja ia ingin meniup lilinnya, lampu langsung menyala.


Papa Setya terbelalak, pria di hadapannya yang berdiri bersama Qania membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

__ADS_1


Qania melirik Syaquile dan adiknya itu langsung tanggap dengan mengambil kue ulang tahun di tangan Qania.


“Pa, selamat ulang tahun. Arka rindu Papa,” ucap Arkana yang kini pipinya sudah basah dengan air mata.


“Ar-Arka. Ini kamu Nak? Ini anak papa, Arkana? Hikss Arkana ini kamu Nak?” ucap Papa Setya yang langsung menghambur memeluk Arkana dengan Isak tangis yang terdengar begitu pilu.


“Iya Pa, ini Arka. Maafin Arka udah buat Papa sedih,” ucapnya.


“Arkana, hiks. Arkana anak Papa. Kamu masih hidup Nak. Papa sangat merindukanmu, Nak. Papa sangat merindukan Arka,” tangis Papa Setya pecah, ia tidak lagi mempedulikan para tamu dan hanya terus menumpahkan tangis dan kerinduannya dalam pelukan sang anak.


Papa Zafran dan Mama Alisha pun sama. Mereka pun menangis tersedu-sedu melihat menantu mereka yang kini berdiri tegak di hadapan mereka dan itu semua bukanlah mimpi.


Rizal dan Fero pun tak mempedulikan siapa yang mereka tabrak karena terburu-buru untuk sampai di tempat Papa Setya berdiri. Keduanya sama-sama tidak lagi bisa membendung air matanya.


Para tamu yang mengenal cukup dekat dengan pasangan Ayah dan anak itu pun menangis haru dan ada pula yang turut mengabadikan momen tersebut melalui kamera ponsel mereka.


Qania menangis haru, ia memandangi anaknya yang sedang terdiam. Lalu Qania meraih Arqasa dan menggendongnya.


“Ar, itu Daddy Ar datang Nak. Ar tidak merindukan Daddy?” tanya Qania masih sesenggukan.


Papa Setya melepas pelukannya kemudian menghujani ciuman di seluruh wajah Arkana. Kemudian kembali ia peluk dan air mata serta Isak tangis itu seolah tak mau berhenti.


“Papa, ini Arkana Pa. Anak Papa. Anak Papa,” ucap Arkana yang ia pun terus mengeratkan pelukannya kepada sang Papa.


“Dia Daddy Ar?”


Suara kecil itu membuat perhatian Papa Setya dan Arkana serta semua mereka yang hadir tertuju padanya.


Papa Setya dan Arkana melepas pelukan mereka dan menyeka air matanya.


“Ka, anakmu Ka. Anakmu sudah besar,” ucap Papa Setya.


Arkana menitikkan air mata memandang Arqasa seolah ini adalah pertemuan pertama mereka.


“Ar, tidak mau peluk Daddy?” tanya Arkana dengan senyuman manis meskipun lagi dan lagi air matanya tumpah.


“Dia benar-benar Daddy atau dia Om Tristan?” tanya Arqasa yang membuat mereka terkejut.


Arkana tanggap, anaknya ini pasti mengira ia adalah Tristan karena memang itu identitas yang anaknya tahu sejak awal.


“Ar, Om Tristan itu berbeda. Dia sudah bersama Tuhan dan ini adalah Daddy Arkana. Daddynya Arqasa,” ucap Arkana dengan tenang dan sabar menjelaskan.


“Daddy. Dad-dy, hikss Daddy.”


Arkana yang melihat Arqasa menangis langsung secepatnya mengambil alih anaknya dari sang Mami.


Keduanya berpelukan erat. Arqasa menangis sambil terus memanggil Daddy-nya dan mengucapkan kata rindu berulang kali begitu pun dengan Arqasa.


Pertemuan ayah dan anak itu juga semakin menambah keharuan. Mama Alisha dan Papa Zafran segera mendekat  dan turut memeluk Arkana. Mereka sangat terharu dan bahagia karena kembalinya Arkana. Fero dan Rizal pun bergantian memeluk Arkana.


Tangis haru, ucapan rindu serta ucapan selamat datang kembali terus terucap dari semua yang hadir dalam acara ini.


“Pa, ini adalah hadiah dari Qania untuk Papa. Qania harap Papa suka dengan hadiah yang Qania bawakan. Qania minta maaf jika tadi pasti Papa merasa sedih mendengar suara pria lain yang memanggil Qania sayang. Tapi jangan marah pada Qania. Salahkan saja anak Papa yang menyebalkan itu,” ucap Qania terkekeh diiringi air mata.


Papa Setya langsung memeluk menantu kesayangannya itu. Ia kembali menangis dalam kebahagiaan.


“Terima kasih Nak, ini adalah hadiah terindah yang Papa dapatkan selama hidup Papa dan di hari ulang tahun Papa,” ucap Papa Setya.


“Baiklah, acara reuninya kita pending. Mari kita lanjut acara ulang tahunnya karena yang berulang tahun pun belum meniup lilin dan para tamu undangan pun belum menyantap hidangan. Jangan membuat malu seorang Setya Wijaya membuat tamunya kelaparan di hari ulang tahun,” gurau Papa Zafran membuat mereka semua tertawa.


“Benar apa kata Papa mertua. Oh ya Pa, tolong dong itu istri Arka jangan dipeluk terus. Aku aja belum puas meluknya dan Papa dari tadi nggak mau lepasin dia. Tolong ya, Pa,” sindir Arkana yang sebenarnya hanya bercanda dan kembali gelak tawa terdengar dari ruangan tersebut.


MC pun kembali meminta pemain musik untuk mengulang lagu selamat ulang tahun hingga lagu potong kuenya.

__ADS_1


Acara ulang tahun itu berlangsung dengan penuh suka cita dan banyak sekali awak media kota itu yang mengabadikan momen malam ini. Yakin berita kembalinya Arkana besok pagi akan menjadi trending topik.


__ADS_2