
Di dalam mobil Tristan terus menekan perasaannya. Sangat ingin ia berteriak menumpahkan kekesalannya, namun itu tidak mungkin mengingat masih ada Marsya di dalam mobil ini. Jika hanya bertiga dengan Pak Yotar dan Bi Ria, Tristan tentu tidak akan sungkan memperlihatkan titik terendahnya saat ini. Ia tak mau Marsya tahu tentang hal ini dan akan membuat hal yang tak pernah ia prediksi selama ini. Tristan sebenarnya sangat memperhitungkan bukan tidak mungkin Marsya akan mengincar ketentraman hidup Qania saat ini jika sampai hubungan mereka putus tiba-tiba.
Tristan ingin, suatu saat nanti, ketika ia mengakhiri hubungannya dengan Marsya, ada alasan yang kuat yang mendasari keputusan tersebut. Ia tidak ingin Qania dicap sebagai pelakor ataupun perusak hubungan orang karena memang kenyataannya tak seperti itu. Dirinya lah yang mengejar wanita bermulut pedas itu, bukan sebaliknya. Hanya saja terkadang pihak ketiga lah yang sering disudutkan dan dijadikan korban dalam setiap hubungan.
Tak sedikit tudingan dan hujatan yang diberikan kepada pihak ketiga. Tetap saja tradisi itu berjalan seperti begitu dimana kesalahan terbesar ada di pihak ketiga. Orang-orang mana tahu alasan sebenarnya. Entah apakah memang hubungan pasangan yang tak harmonis, tak sejalan, bertentangan pendapat, atau bahkan hubungan mereka yang tak sehat. Tetap saja jika hadir pihak ketiga maka ia tetap akan menjadi kambing hitamnya.
Padahal bisa saja pula si pihak ketiga awalnya menolak bahkan menghindar namun terus dikejar dan diberi perhatian. Siapa yang tidak akan luluh, apalagi diberikan kelembutan serta kasih sayang berlimpah. Siapa yang tidak ingin. Akan tetap tetap saja pihak ketiga yang bersalah karena pasti dituding mudah tergoda, atau ada yang akan mengatakan 'Kau saja yang mudah tergoda' padahal mereka tidak tahu sekeras apa si pihak ketiga menolak. Dan itu adalah hal yang lumrah. Sangat ironi bukan?
Itulah yang Tristan pikirkan dan itu intinya tentang harga diri Qania yang ia pertahankan sehingga ia tidak gegabah dalam mengambil keputusan.
Bisa saja, bahkan sangat bisa untuk dirinya meninggalkan Marsya. Tapi ia adalah Tristan Anggara, ia sangat menjunjung tinggi harkat dan martabatnya apalagi wanita yang dicintainya. Tak akan ia biarkan siapapu. merendahkan wanita yang akan selalu berdiri di sisinya nanti.
Brengsek!
Hanya bisa mengumpat dalam hati, Tristan tak bisa mengeluarkan keluh kesahnya.
Marsya yang sedari tadi diam dalam kekesalan pun kembali teringat akan adegan tadi saat ia dengan cerobohnya menjatuhkan cincin pertunangannya.
Sial! Kenapa bisa seceroboh itu sih? Aku tadi mikir apa sih? Jelas-jelas yang ada di hadapanku itu adalah Tristan ku. Dan akhirnya cincin itu jatuh ke Qania, kan? Brengsek! Bahkan Qania tadi ngancam gue? Dan katanya lagi Tristan itu suaminya? Brengsek! Berani sekali dia mengatakan tunanganku sebagai suaminya. Dia halu atau gila? Atau? ... Gue harus cari tahu siapa Qania, harus! Kenapa nggak dari dulu gue coba cari tahu tentang Qania.
Marsya menyeringai tipis, ia sudah mendapatkan ide brilian dan jika informasi yang ia inginkan sudah berada di tangannya, bukan tidak mungkin ia bisa mengetahui titik lemah wanita pengacau itu.
Dari depan, Tristan bisa melihat dari kaca yang menggantung itu. Ia sedikit dibuat heran mengapa Marsya tiba-tiba saja menyeringai mengerikan seperti itu. Ia memaksa otaknya untuk berpikir padahal tengah kalut seperti ini.
Ayo Tristan, pikirkan apa yang sedang Marsya rencanakan!! batin Tristan memaksa kerja otaknya.
Deggg ...
Satu nama terlintas di benaknya.
Qania Salsabila ...
Tidak bisa, ini tidak bisa dibiarkan. Tristan harus bergerak cepat sebelum apa yang ia pikirkan terjadi.
"Sya," panggil Tristan sambil menoleh ke belakang.
"Iya Tris, ada apa?" tanya Marsya yang cukup tersentak saat Tristan tiba-tiba menoleh ke belakang.
"Enggak, aku cuma mau nanya aja kamu udah siapin keperluan buat berangkat ke LN?" tanya Tristan, ia memasang wajah seramah mungkin.
Marsya tersenyum, ia kira ada apa ternyata Tristan menanyakan hal ini. Namun ia tetap berusaha bersikap biasa saja supaya Tristan tidak bisa membaca niatannya.
"Belum Tris, mungkin sehari sebelum berangkat. Ada apa?" tanya Marsya tenang.
"Aku hanya terpikir gimana kalau kita nyiapinnya bersama-sama. Kita belanja aja nanti sehari sebelum berangkat. Kamu setuju, kan?" tanya Tristan, ia berusaha berbicara dengan nada manja.
"Hahaha ... tentu saja aku sangat setuju. Baiklah, kita akan berbelanja bersama," ucap Marsya senang, namun dalam hati ia tetap tidak bisa mempercayai ajak mendadak Tristan. Marsya tak selugu itu untuk langsung percaya kepada orang yang sudah beberapa kali ia tahu membelot darinya dengan wanita yang sama.
"Makasih Sya. Oh ya, besok pagi aku akan sarapan di rumahmu. Kita akan pergi mengantar Paman dan Bibi bersama-sama. Kau jangan sampai lupa mengingatkanku di pagi hari," ucap Tristan dengan mengedipkan matanya sebelah.
Marsya tersipu dengan sikap Tristan ini. Tiba-tiba saja ia merasa sedang berada di musim semi. Ah tidak, lebih dari itu. Ia merasakan bahwa Tristannya sudah kembali. Sikap manja yang hanya kepadanya ini sudah kembali. Tristannya yang sudah lama mati suri itu sudah kembali lagi menjadi Tristan yang mampu membuatnya selalu berada di musim semi.
"Ka-kau apa-apaan sih Tris. Jangan seperti itu, aku malu kepada Pak Yotar dan Bi Ria," ucap Marsya gugup, namun tak bisa menyembunyikan senyumannya.
__ADS_1
"Tenang aja, mereka nggak akan ledekin kamu kok. Iyakan Bi," ucap Tristan mengedipkan sebelah matanya kepada Bi Ria.
Marsya tertawa begitupun dengan Bi Ria. Ia sudah dibuat sangat senang malam ini setelah berbagai drama menyssakkan tadi.
Fix, ini Tristan gue.
Sambil terus menggoda Marsya, tak terasa mobil sudah berhenti di depan rumah megah tersebut. Disana sudah ada keluarga Marsya yang menanti mereka.
"Ya sudah sampai aja nih. Padahal aku masih ingin melihat wajah memerahmu," ucap Tristan cemberut.
"Apa sih Tris," sela Marsya malu-malu.
"Ya sudah, akan aku bukakan pintu untukmu." Tristan pun turun dan langsung membukakan pintu untuk Marsya.
Sebelah tangan Tristan ia masukkan ke dalam saku celananya. Tentu saja ia tak ingin yang lain tahu kalau tangan itu berdarah.
"Ya sudah, karena tuan putri ini sudah sampai dengan selamat, maka hamba pamit undur diri. Selamat istirahat dan mimpi indah," ucap Tristan kemudian mengusap puncak kepala Marsya dihadapan keluarganya.
"Uh manisnya!" pekik Juliana.
"Huss anak kecil diam aja," tegur Tante Bendelina namun setelah itu ia malah tertawa.
"Tris, jangan mulai deh," keluh Marsya dengan pipi merona.
"Hehehe ... ya sudah, aku pamit ya. Selamat malam semuanya. Om Alvin, Bibi, Paman dan Julia, aku pamit ya. Tolong jaga tuan putri ini untukku, sebab tak lama lagi akulah yang akan menjaganya untuk kalian," ucap Tristan dengan sangat manis dan sangat pandai membuat semua orang disana diabetes.
Marsya yang tak mampu lagi menahan gejolak di dadanya segera berlari masuk ke dalam rumah. Ia ingin segera berteriak dan melompat-lompat di atas tempat tidurnya. Ia merasa kembali seperti remaja yang baru saja jatuh cinta.
"Kita langsung pulang saja, Pak," ucap Tristan setelah duduk di samping Pak Yotar.
Pak Yotar mengangguk, ia tak ingin banyak bicara karena ia paham dengan keadaan Tristan saat ini. Tristan pun akhirnya memilih pulang karena ia tidak mungkin mencari Qania malam ini. Yang ada ia hanya akan mengganggu.
"Berpura-pura itu sangat tidak enak ya Bi," ucap Tristan lirih. Ia menyandarkan kepalanya kaca jendela.
"Sabar Den, Bibi yakin Tuhan sudah mengatur segalanya. Jika memang Aden jodohnya sama non Qania, pasti kalian akan bersatu. Bibi bisa lihat bagaimana cara non Qania natap den Tristan, dia menatap penuh cinta kepada Aden," ucap Bi Ria jujur.
*Bibi tidak tahu saja kalau yang ditatap Qania itu bukanlah saya Bi, melainkan suaminya. Si brengsek Arkana Wijaya! Udah mati aja masih aja bikin jalan gue sulit gini. Gimana kalau masih hidup!
Degg ..
Kalau dia masih hidup, terus gue gimana*?
Tristan menghela napas, ia berusaha untuk tidak meledakkan amarahnya.
"Saya benar-benar payah Bi. Benar kata Raka tadi, harusnya saya berjuang meskipun seluruh isi dunia ini menentang saya. Harusnya itu yang saya lakuin dari kemarin-kemarin Bi. Tapi saya malah membuat diri ini semakin dalam masuk ke permainan yang saya tidak tahu akan berakhir seperti apa," ucap Tristan yang terdengar begitu lirih.
"Maafkan jika Bibi lancang, Den. Tapi sejujurnya memang ada benarnya. Wanita itu memiliki pemikiran yang cukup rumit Den. Kadang mereka berkata tidak padahal yang sebenarnya adalah iya dan juga sebaliknya. Apalagi jiak menyangkut perasaan, akan sangat sulit untuk bisa menebak isi hati mereka. Bermain ekspresi pun sangat pandai. Mereka selalu berkata kaum pria tidak peka, sebenarnya bukan seperti itu juga. Kebanyakan wanita memang lebih ingin prianya mengerti tanpa harus diberitahu ya meskipun itu sulit. Wanita itu tipe pemendam terbaik, Den. Berharap prianya peka tanpa harus di rangsang. Mengerti tanpa dijelaskan. Bertindak tanpa menunggu perintah," ucap Bi Ria dengan bersemangat.
"Ya, dan karena semua itu banyak pria yang frustasi karena sering salah tanpa tahu kesalahannya. Selalu meminta maaf dan siap salah, padahal nggak tahu apa-apa." Tristan mendesah kemudian memijat pelipisnya.
Pak Yotar pun turut menyahuti ucapan Tristan sementara Bi Ria cekikian di belakang. Ia cukup terhibur dengan dua pria yang kini tengah frustasi memikirkan sifat ajaib wanita itu.
.... . ....
__ADS_1
Tristan langsung membuka jasnya dan merenggangkan dasinya. Ia duduk di atas tempat tidur lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi seseorang.
"Pastikan data-data tentang Qania Salsabila Wijaya aman dan tak ada yang bisa meretasnya. Jangan sampai data tentang wanita itu bocor meskipun dari pihak kampus," ucap Tristan setelah panggilan tersebut terhubung.
"Baik."
Setelah mematikan ponselnya, Tristan pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Tak cukup lima belas menit ia pun segera keluar dan langsung memakai pakaian tidurnya
Ponsel Tristan berdering dan ia pun segera mengangkatnya.
"Maaf boss, tapi data tentang Qania Salsabila Wijaya sudah ditutup rapat dan entah siapa yang melakukannya. Bahkan saya yang mencoba mencari tahu pun komputer saya langsung terserang virus."
Mata Tristan terbelalak kaget. Ia terus meneria siapa gerangan yang sudah melakukan antisipasi seperti ini sebelumnya. Apakah Qania? Tapi jika memang benar dirinya tentu saja dari awal sudah ia lakukan. Tapi baru kali ini hal itu terjadi.
"Baiklah. Terima kasih untuk infonya. Saya akan tetap membayarmu karena kau juga sudah memberikanku informasi yang menarik," ucap Tristan.
"Terima kasih boss."
Tristan mengiyakan sebelum ia mematikan ponselnya. Tadinya ia ingin mengeluarkan seluruh uneg-uneg di dalam hatinya namun pikiran tentang siapa yang menutup data milik Qania itu kini mengganggu pikirannya.
Hingga ia tertidur dengan membawa berjuta pertanyaan tentang hal yang sama, siapa?
.... . ....
"Fyuuuhhh ...."
Syaquile merengganggkan tangannya, ia pun tersenyum menyeringai.
"Jangan harap bisa menyentuh Kakakku," ucap Syaquile sambil menatap layar laptopnya. Ia baru saja mengirim virus kepada salah satu komputer yang ia ketahui sedang mencari informasi tentang sang Kakak.
"Aku sudah mengantisipasi ini dari lama. Dan tadi setelah drama murahan cincin jatuh itu dan aku melihat tatapan tunangan Tristan itu penuh permusuhan kepada Kakak, aku semakin yakin keputusanku waktu itu untuk mengamankan data Kakak sangatlah benar. Aku adalah adik yang sangat manis, bukan?"
Syaquile terkekeh, ia merasa lucu dengan dirinya sendiri. Kemudian kekehan itu hilang dan berganti dengan raut wajah datar namun sorot mata yang begitu tajam.
"Selama aku masih hidup, tak akan aku biarkan siapapun menyentuh Kakakku. Jangan harap bisa melukainya. Dia adalah saudaraku satu-satunya. Lukanya adalah lukaku. Aku akan berdiri di depan untuk melindunginya. Bahkan akan aku hempaskan siapa pun yang mencoba menyakitinya. Aku Syaquile Sanjaya tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti Kakakku. Jangan mimpi! Bagaimana Kak Arkana melindungi Kakakku, maka aku akan lebih darinya untuk melindungi Kakak. Kakak berhak bahagia. Dan aku, aku yang akan membantunya untuk meraih kebahagiannya."
Ucapan Syaquile terdengar begitu mengerikan bak sebuah sumpah kutukan. Tak ada yang akan menyangkah wajah manis, lugu dan kalem itu memiliki sisi lain yang cukup mengerikan.
Begitu pun dengan Qania. Siapa pun yang tak mengenal baik dengannya akan terkecoh dengan wajah cantik, anggun dan polosnya. Pemimpin demo, berpendirian keras, sangat pandai mengintimidasi dan tentu saja ia memiliki juga sifat mengerikan lainnya yang tersamarkan oleh wajah cantiknya dan senyum hangatnya.
Dari mana keduanya kakak beradik itu mendapatkan sifat baik dan mengerikan itu, tentu saja dari sosok berwibawa, bersahaja dan sangat disegani oleh banyak orang, Zafran Sanjaya.
Ia mendidik anak-anaknya dengan penuh kelembutan dan cinta kasih, serta menyisipkan sebagian sifat keras yang mampu menumbangkan lawan dengan sikap mereka.
Bagi Zafran, kedua sifat itu harus dimiliki oleh anak-anaknya agar orang-orang tidak berani mengintimidasi atau berbuat semena-mena kepada anaknya. Ia bahkan pun tak menyangkah bahwa Qania lebih keras darinya. Bahkan sifat keras dan juga aura pekat dari Qania mampu mengalahkan auranya.
Jangan coba-coba mengusik Qania, ia tak segampang yang terlihat. Seperti itulah pendapat yang pernah dikemukakan oleh Zafran, Arkana dan teman-teman seangkatan Qania di Fakultas Teknik dulu.
.... . . . . . . ...
Next Bab nyusul yaa 😄😄
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
__ADS_1