
Qania merentangkan kedua tangannya, ia baru saja bangun. "Uh, lelah perjalanan kemarin masih terasa," ucap Qania. "Untung udah di rumah sendiri alias di kost, hihihi," tawa Qania, kemudian ia bergegas turun dari tempat tidur.
Qania pun menuju ke kamar mandi dan segera membersihkan dirinya. Pagi ini ia masih begitu malas untuk memasak sehingga ia memutuskan untuk mandi pagi lalu keluar mencari makanan. Setelah selesai dengan pakaian ala kadarnya, Qania pun keluar dari rumah dan menghidupkan mesin motornya.
Tak lama kemudian ia sudah sampai di sebuah warung dan langsung memesan bubur ayam. Qania menyantap makanannya dengan perlahan-lahan sampai semuanya habis kemudian ia pulang.
Sesampainya di rumah, karena merasa bosan sendiri Qania pun menyetel lagu di ponselnya sambil berbaring menatap langit-langit kamarnya.
Lagu berjudul When You Love Someone mewakili isi hati Qania saat ini. Ada rasa bimbang di hatinya. Sangat ingin rasanya menyatukan perasaannya dengan Tristan namun ia terbelenggu oleh perasaan orang lain.
Beberapa kali Qania menghela napas, ia terus berpikir cara apa yang harus ia ambil untuk mengatasi masalahnya kali ini.
"Haahh ... terkadang aku berpikir kalau Tristan itu sengaja dikirim Tuhan buat gantiin Arkanaku. Tuhan nggak ngebiarin aku hidup tanpa Arkana sehingga hadirlah Tristan. Aku saja yang lambat menyadari berkah dari-Nya. Tapi, bagaimana dengan Marsya?" gumam Qania.
Saat tengah asyik melamun, Qania dikejutkan oleh dering ponselnya sendiri.
"Hallo calon pengantin," sapa Qania.
"Nah, karna kamu udah tahu jadi aku nggak perlu repot-repot buat ngingatin kalau kamu harus pulang kampung dan menyaksikan pernikahan sahabatmu ini," ucap Elin.
"Iya, setelah mengurus laporan aku pastikan akan langsung pulang," sahut Qania.
"Aku tunggu lho. Awas aja kalau nggak datang, aku bakalan blokir bandara kalau kamu pulang kampung setelah kuliahmu selesai," ancam Elin membuat Qania tertawa.
"Sadis amat. Ya aku pastiin bakalan datang, lagian kan masih dua minggu lagi. Aku dua hari lagi bakalan ke kota M karena Syaquile mau wisudahan. Setelah itu langsung ke kampung halaman tercinta," ucap Qania.
"Fyuuhh berarti jadi datang kalau gitu. Lagian kamu nggak boleh kalau sampai nggak datang karena kamu dan Arkana yang udah bikin aku sama Yoga jadian dan akhirnya ke pelaminan," ucap Elin mengingatkan.
"Iya, nanti aku bakalan datang sama Arkana. Kamu tunggu saja," ucap Qania sambil membayangkan wajah Tristan.
Elin yang sedari tadi terus berkicau mendadak bisu setelah Qania mengucapkan akan datang bersama Arkana yang jelas-jelas ia tahu sudah tiada. Ia saja yang tidak tahu kalau sekarang Qania sudah menemukan Arkana keduanya.
"Ya udah Qan, aku tutup dulu ya," ucap Elin yang tidak ingin membahas Arkana yang akan membuat Qania ujung-ujungnya bersedih.
"Iya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Qania meletakkan ponselnya di samping kemudian kembali menyetel lagunya. Baru saja ia menutup mata, suara ketukan pintu membuatnya harus bangun dan melihat siapa yang datang bertamu.
Qania membuka pintu dan mendapati wajah orang yang baru saja ia bayangkan.
"Tristan," gumam Qania.
"Apa kabar?" tanya Tristan bersikap biasa saja, padahal dalam hati ia begitu senang bisa bertemu lagi dengan Qania.
__ADS_1
"Baik. Kamu ada apa datang kesini?" tanya Qania sok cuek.
"Apakah tuan rumah tidak mau mempersilahkan tamunya masuk?" sindir Tristan.
"Maaf, tapi aku sedang sendiri di rumah. Tidak enak jika dilihat oleh tetangga," ucap Qania halus.
Tristan mendengus. "Aku akan bertunangan Qania," ucap Tristan lesu.
Qania menatap sendu pada Tristan, bohong kalau ia tidak terkejut dan sangat berdusta jika sebagian hatinya tidak merasakan sakit.
"Oh-" Qania memaksakan senyuman-"Selamat, bukankah itu yang selama ini kalian inginkan. Jika ingat, undang aku ya," ucap Qania berusaha menahan air matanya.
"Hanya seperti itu? Kau tidak ingin mencegahku?" protes Tristan tak habis pikir.
Qania tersenyum getir. "Aku tidak berhak," ucap Qania lirih.
"Kau berhak Qania, kau bahkan sangat berhak untuk mencegahnya," tandas Tristan.
"Atas dasar apa, hem?"
"Atas dasar cinta. Jika kau mencintaiku seperti aku mencintai kamu, maka kamu berhak mencegahku dan akan aku pastikan kalau aku tidak akan bertunangan dengan Marsya," jawab Tristan tegas.
"Dan membuat wanita lain sakit hati?" sindir Qania.
"Tapi aku tidak bisa melakukan itu, aku tidak ingin. Kalau kau ingin tahu alasannya kenapa, itu karena aku pernah ada di posisi Marsya saat ini. Aku tahu rasanya sakit saat melihat orang yang kita sayang tiba-tiba direbut oleh orang lain. Aku pernah berkali-kali dalam posisi itu sehingga aku tahu seperti apa rasanya. Makanya aku tidak ingin menjadi penyebab wanita lain hancur dan sakit hati," ucap Qania dengan nada suara sedikit tinggi.
"Tapi aku yang memilihmu Qania, bukan kau yang merebutku darinya," sanggah Tristan, ia mencoba menghapus air mata Qania namun tangannya langsung ditepis.
"Lalu kenapa kau memutuskan untuk bertunangan?" tanya Qania.
"Aku dalam posisi terdesak Qania. Lagi pula aku sudah memikirkan seperti apa sebenarnya perasaanku ke Marsya saat ini. Aku sadar kalau aku selama dua tahun terakhir ini hanya menganggapnya sebagai adikku sekaligus sahabatku. Marsya pernah kehilangan sahabat terbaiknya dan saat itu ia sangat terpuruk dan aku pun tidak sanggup melihat keadaannya makanya aku terus memenuhi keinginannya dan juga terus berusaha membuatnya bahagia.
"Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi pada Marsya setelah kecelakaan beberapa tahun lalu. Dan saat aku ingin memutuskan untuk menjauhinya eh malah ada kejadian tak terduga yang merenggut nyawa sahabat Marsya. Niat untuk menyudahi hubunganku dengannya akhirnya aku urungkan karena melihat seberapa frustasinya dia kehilangan Milka. Saat itu dia sedang membutuhkanku dan aku tidak bisa membiarkan dia larut dalam kesedihannya.
"Aku menjalani hubungan itu datar-datar saja, karena aku hanya menganggapnya sebagai adik dan sahabat. Sampai akhirnya aku bertemu kamu. Jujur di awal pertemuan kita dimana aku pernah melihatmu di sebuah restoran sedang meniup lilin seorang diri, dari situ aku mulai tertarik padamu. Di tambah lagi setelah kau bernyanyi dan aku sadar bahwa kau adalah gadis piano yang pertama kali menyentuh piano milikku-"
"Tristan," sela Qania.
"Biarkan aku menyelesaikan semuanya Qania, biarkan aku mengungkapkan isi hatiku. Tolong jadilah pendengar yang baik, oke," ucap Tristan dan Qania hanya mengangguk saja.
"Sampai akhirnya kita bertemu lagi di seminar dan aku mengusirmu karena terlambat. Jujur saat itu aku sangat degdegan saat melihatmu. Ingin rasanya aku menyuruhmu duduk namun aku harus adil pada peserta yang lain. Kedua kali kau datang ke seminarku dan aku pun kembali di Landa perasaan aneh namun saat itu kau membuatku kesal dengan tidak memperhatikan penjelasanku dan hanya sibuk bersama ponselmu. Aku menegurku lalu kau malah pingsan.
"Aku datang menemuimu di rumah sakit berharap bisa berkenalan denganmu. Tapi saat kau melihatku kau malah menyebutku sebagai suamimu namun namanya berbeda denganku. Tentu saja aku emosi Qania, aku mengira kau wanita stress yang ingin menjebakku. Maafkan aku. Lalu kita bertemu lagi saat Marsya mempermalukanmu di kafe, sebenarnya waktu itu aku hanya ingin menguji kesabaranmu dan entah mengapa memarahimu dan membuatmu terlihat kesal itu sangat menarik di mataku. Aku membiarkanmu beradu dengan Marsya dan ingin melihat seberapa kuat sih wanita yang sedang aku sukai.
__ADS_1
"Kau tahu Qania, tanpa sepengetahuanmu aku bahkan menyewa orang untuk memata-mataimu. Dan aku kehilangan jejakmu semenjak kau tidak lagi tinggal di rumah kostmu yang lama. Hingga kita bertemu lagi di mall dan aku langsung menyuruh orang untuk mengikutimu. Dan malamnya kita bertemu lagi dan entah mengapa tiap kali bertemu denganmu emosiku selalu dibuat naik turun dan tak sabar ingin beradu argumen denganmu. Aku menyukai umpatan manismu itu.
"Kau tahu Qania, aku bahkan mengikutimu saat pulang malam itu. Aku mencaritahu semua tentangmu dan identitasmu. Sampai akhirnya Tuhan memberikanku kesempatan untuk bisa lebih dekat denganmu. Dan dari kebersamaan kita aku menyadari satu hal, perasaanku terhadapmu itu lebih dari sekedar suka ataupun kagum. Aku mencintaimu Qania Salsabila Wijaya."
Qania menitikkan air matanya setelah Tristan menyudahi semua ceritanya. Bagaimana pun juga ia begitu terharu, pria yang ia kenal arogan ternyata diam-diam menyukainya namun dengan cara yang berbeda.
"Qania, kau harus tahu. Setelah aku memutuskan untuk bertunangan dengan Marsya, aku semalaman berpikir seperti apa sebenarnya perasaanku padanya. Dan aku menemukan jawabannya, aku tidaklah mencintainya melainkan aku peduli padanya. Dan wanita yang aku cintai itu adalah kamu Qania. Rasaku padamu itu berbeda dengan Marsya. Mengertilah Qania," pinta Tristan sambil menggenggam tangan Qania.
"Kau terlalu banyak bicara Tristan. Aku juga mencintaimu," keluh Qania namun diakhiri kata yang manis.
Tristan terbelalak kaget, secepat ini kah perasaannya bersambut. Ia tidak bisa lagi berkata-kata, speechless. Tidak bisa ia jelaskan seperti apa perasaannya saat ini.
"Tapi ...."
"Tapi apa?" tanya Tristan panik.
"Aku tidak bisa menjalin hubungan denganmu. Berikan aku waktu untuk memikirkan semuanya. Aku hanya ingin kau tahu saja kalau aku memang jatuh cinta padamu. Tapi bukan berarti aku ingin menjalin hubungan denganmu. Mari kita selesaikan garis takdir kita masing-masing sampai akhirnya kita bertemu di satu titik yang menghubungkan kita berdua. Jalani harimu dan aku menjalani hariku. Jika kita memang berjodoh, usaha kita tidak akan sia-sia. Kau memiliki kehidupan lain bersama Marsya dan aku pun juga memiliki kehidupan lain.
"Mari kita lewati semua alurnya hingga akhirnya kita sampai di ujung jalan yang mana akan menyatukan arah kita atau ternyata justru memisahkan kita. Jangan menyakiti hatinya, berilah pengertian padanya dengan lembut. Aku tidak ingin menjadi penyebab kesaktiannya meskipun itu adalah benar," ucap Qania.
"Tentu, aku akan melakukannya Qania. Tidak masalah kalau kita tidak memiliki status asalkan aku tahu kau memiliki perasaan yang sama denganku. Mari kita ikuti alurnya, aku pun tidak sabar untuk mengetahui akhir kisah kita seperti apa," ucap Tristan menyetujui, senyum terus tersungging di bibirnya.
Qania tersenyum mengangguk. "Mau jalan denganku? Aku rasanya sangat bosan verasa di rumah sendirian," ucap Qania yang mana Tristan langsung mengangguk antusias.
"Tentu saja, siapa yang akan menolak," jawab Tristan.
Qania terkikik. "Aku ganti baju dulu, tunggulah sebentar," ucap Qania kemudian masuk ke dalam rumah.
"Cantik," gumam Tristan.
"Terima kasih, yuk jalan," ucap Qania mendahului Tristan.
"Kenapa pakai topi?" tanya Tristan.
"Ini siang Tristan, panas lah. Kalau pakai topi kan bisa sedikit melindungi saat jalan-jalan," jawab Qania.
"Tunggu-tunggu, maksudnya jalan-jalan?" tanya Tristan, entah mengapa ada yang aneh menurutnya.
"Iya, kamu nggak salah kira kok. Kita bakalan jalan kaki," jawab Qania kemudian berjalan meninggalkan Tristan yang sedang terbengang.
.... . . . ...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃...