
“Qania kembalilah atau tidak sama sekali” teriak papanya lagi karena Qania masih diam mematung disana.
Dengan berat hati Qania menuruti perintah sang papa dan sebelumnya ia menghapus air mata yang membekas di wajahnya. Qania melangkah begitu lambat seolah terpasang bola rantai di kakinya. Ia kembali duduk di antara kedua orang tuanya namun enggan menatap kearah Arkana.
“Qania, maafkan aku mengatakan ini. Tapi harus aku katakan sebelum nantinya akan terjadi kesalahpahaman di antara kita. Tapi yakinlah aku sangat mencintaimu” bujuk Arkana dengan perasaan begitu menyesal.
“Aku tidak ingin menjadi penghalang, sungguh aku ikhlas” tutur Qania dengan hati yang bergetar menahan tangis.
“Jangan bicara seperti itu Qania, tolong percayalah padaku, aku mohon” bujuk Arkana.
“Hei, hei kalian melupakan kami disini?” papa Qania menyela pembicaraan antara Qania dan Arkana.
“Maaf om” ucap Arkana lirih.
“Mau dengar cerita?” tanya mama Qania.
“Cerita apa ma?” tanya Qania menengok ke arah sang mama.
“Cerita cinta sejati” jawab mamanya tersenyum berseri.
“Ya sudah ceritakan saja sekarang ma” sahut papa Qania.
“Jadi begini ceritanya...” Alisha memulai ceritanya.
Flashback on.....
“Selamat atas pernikahan kalian Zafran dan Alisha” ucap Ayu sambil memeluk tubuh Alisha dengan penuh kebahagiaan.
“Terima kasih loh mbak Ayu sudah datang dalam keadaan hamil muda gini” balas Alisha setelah melepaskan pelukan.
“Tadinya aku nggak mau ngajak bumil ini, karena tadi dia nggak berhenti mual. Aku takut dia akan merusak pesta pernikahan dengan mual-mualnya. Eh dia malah nuntut harus datang katanya bayinya sangat ingin melihat pernikahan calon mertuanya. Hahh ada-ada saja” cerita Setya.
__ADS_1
“Wah rupanya si calon bayimu menginginkan kami menjadi mertuanya yah. Tapi dia harus bersabar dulu, karena kami masih harus melakukan proses untuk membuat jodohnya, hahaha” canda Zafran.
“Ih apaan sih mas, malu tahu” Alisha mencubit lengan Zafran.
“Ya ampun udah sah kali, nggak perlu malu” ledek Ayu membuat pipi Alisha merona.
___
Dua bulan setelah pernikahan akhirnya Alisha hamil, kabar tersebut membuat Ayu begitu antusias dan kini usia kandungannya sudah menginjak lima bulan. Ia begitu rutin bertemu dengan Alisha yang tengah hamil muda namun tidak merasa mual atau mengidam itu.
“Kamu santai banget ya Al hamil mudanya, nggak kayak aku waktu itu” ucap Ayu sambil membantu Alisha menanam sayuran di pot, Alisha begitu menyukai kegiatan berkebun dari masih remaja.
“Iya nih mbak, aku saja heran kok nggak seperti orang lainnya ya” jawab Alisha sambil menata potnya.
“Hah sepertinya anak di kandunganmu tidak akan menyusahkanmu dan aku nantinya” ucap Ayu sambil berkhayal.
“Maksudnya mbak?” tanya Alisha bingung.
“Kelak anak dalam kandunganmu itu akan menjadi anakku juga, dia akan menjadi menantu dikeluargaku” jawab Ayu sambil memegangi perutnya.
“Yakinlah, mereka itu berjodoh. Entah mengapa perasaanku itu sangat kuat Al. Dan aku mohon jika terjadi sesuatu padaku kelak, tolong jaga dan sayangi anakku seperti anak kandungmu sendiri” tutur Ayu, membuat perasaan Alisha bergetar.
“Loh mbak kenapa ngomong gitu sih, kita akan bersama-sama membesarkan anak kita dan melihat mereka menikah. Kita akan mengurus cucu kita bersama, waah serunya” Alisha ikut berkhayal.
“Ya kan aku bilangnya kalau. Oh iya nanti saat lamaran tiba kita akan memakai seragam yang dulu seperti waktu pertama kita double date itu loh” usul Ayu.
“Wah boleh juga tuh mbak, tapi di zaman mereka nanti pakaian seperti itu apa masih ngetrend?” tanya Alisha sambil membayangkan.
“Mungkin sudah enggak, tapi kita harus tetap mengenakannya, janji ya” pinta Ayu sambil menampilkan deretan giginya yang putih.
“Yah kalau sudah seperti itu, aku mah mana bisa nolak” jawab Alisha.
Keduanya berpelukan, tanpa sadar suami keduanya sudah memperhatikan kedua bumil itu sedari tadi. Keduanya menggeleng melihat dua wanita itu saling menjodohkan anak mereka yang masih janin itu.
__ADS_1
___
Hari ini di depan ruang bersalin Alisha dan Zafran tengah menunggu Ayu yang akan melahirkan. Di dalam ia di dampingi oleh Setya, ia akan melakukan persalinan normal meskipun kata dokter itu berisiko besar karena ia memiliki penyakit bawaan dan persalinan secara normal akan berbahaya baginya.
“Duh mas kenapa mbak Ayu nekad sih melahirkan secara normal? Aku sangat khawatir” ucap Alisha yang terus mondar-mandir di depan ruang bersalin.
“Sayang daripada kamu sibuk mondar-mandir sebaiknya kamu duduk dan berdoa agar Ayu dan calon menantu kita selamat” saran Zafran.
Alisha yang mendengar ucapan sang suami langsung mengiyakan dan memeluk suaminya dengan perutnya yang sudah membesar itu.
Hampir satu jam akhirnya terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan Ayu, Zafran dan Alisha akhirnya bernapas lega. Tak sabar lagi menunggu, setelah suster keluar dari ruangan tersebut, Alisha langsung menerobos masuk padahal Zafran masih menahannya.
“Mbak Ayu selamat ya” ucap Alisha yang berjalan cepat dan memeluk Ayu yang masih terbaring lemas.
“Makasih Al, oh iya itu calon mantumu sudah lahir. Dia tampan bukan?” tanya Ayu sambil melirik kearah bayinya yang tengah di urusi oleh perawat.
“Iya mbak, tapi bagaimana keadaan mbak sekarang?” tanya Alisha yang memang masih memikirkan Ayu.
“Aku baik, kamu tenanglah” jawab Ayu menenangkan, ia dapat melihat raut wajah Alisha yang begitu sangat mengkhawatirkannya.
“Selamat ya bro, jadi papa juga akhirnya” ucap Zafran sambil memeluk Setya.
“Thanks bro” jawab Setya membalas pelukan sang sahabat.
“Jadi siapa namanya?” tanya Zafran sambil melihat bayi yang baru saja di serahkan kepada sang ayah.
“Emm siapa ma?” tanya Setya kepada Ayu.
“Arkana pa, gimana?” tanya Ayu meminta pendapat.
“Ya nama yang bagus, Arkana Wijaya” ucap Setya sambil menatap sang putra dengan bangga.
__ADS_1
____