Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Kafe Arqasa


__ADS_3

Seorang wanita cantik nampak tengah berjalan keluar dari area bandara sambil matanya mencari-cari sosok yang akhirnya tertangkap juga oleh panca inderanya. Ia melambai dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.


“Syaq,” panggilnya dengan langkah yang sedikit berlari.


“Kakak,” balasnya sambil melambaikan tangan.


“Nggak bawa barang, Kak?” tanya Syaquile yang melihat sang kakak hanya membawa tas kecil yang tergantung di sebelah bahunya.


“Nggak. Kakak malas ah mau bawa-bawa koper. Lagian Cuma dua hari doang terus kita balik ke rumah,” jawab Qania sambil menggandeng tangan sang adik menuju ke motor yang terparkir.


“Nih Kak.” Syaquile menyerahkan sebuah helm dan Qania pun langsung memasangnya kemudian naik ke atas motor.


Banyak pasang mata yang menatap kagum pada kakak adik tersebut, ada yang mengatakan sangat serasi dan ada juga yang sedikit iri karena baik si wanita maupun si pria sama-sama memiliki paras yang mempesona. Namun tentu saja hal itu tidak ditanggapi oleh dua orang yang sebenarnya memiliki sikap dingin dan cuek terhadap orang asing.


Qania sedikit tertawa mendengar orang yang mengatakan mereka adalah pasangan serasi. Wajah baby face Qania membuatnya terlihat bak remaja dan sangat wajar disandingkan dengan Syaquile. Kakak beradik tersebut memang sama-sama memiliki wajah baby face yang menurun dari sang Mama. Orang-orang yang melihat Qania pasti tidak akan mengira ia adalah seorang ibu yang memiliki satu anak mengingat penampilan Qania yang terlihat seperti anak muda zaman now.


Qania yang sedang terkekeh namun Syaquile justru terus menggerutu. Ia adalah tipe pria yang tidak suka menjadi bahan perbincangan orang-orang apalagi orang asing. Sambil bersungut-sungut ia menghidupkan mesin motornya kemudian membawa sang kakak meninggalkan area bandara.


“Udah sih, lagian kita juga nggak kenal dan kecil kemungkinan akan bertemu lagi dengan mereka,” ucap Qania sambil menyandarkan dagunya di bahu Syaquile.


“Hmm.”


Syaquile hanya bergumam, ia pun tidak keberatan saat kakaknya bersikap manja dan sedikit berlebihan padanya. Ia sudah berjanji semenjak Arkana meninggalkan sang kakak untuk selama-lamanya, ia akan menjadikan bahunya sebagai sandaran sang kakak. Menjadikan tubuhnya tameng dan memberikan waktunya untuk mendengar keluh kesah sang kakak. Selama ini hanya dirinyalah tempat sang kakak menumpahkan segala kesedihannya. Dan dari sini pula Syaquile bersikap semakin dewasa. Ia begitu memprioritaskan kebahagiaan sang kakak sehingga lupa mencari pacar.


Untung saja kakaknya mengenalkan Lala padanya hingga akhirnya perasaan yang membuat suasanan hati berbunga-bunga mendarat ke hati Syaquile.


“Kak, udah sarapan?” tanya Syaquile.


“Udah. Tapi kakak udah lapar lagi  nih Syaq. Udah jam makan siang juga,” jawab Qania.


“Ya udah kita mampir ke warung makan atau restoran nih? Eh, kita ke kafe Arqasa aja gimana?” Tiba-tiba Syaquile teringat akan kafe yang baru buka beberapa minggu yang lalu dan tentu saja itu milik mertua Qania.


“Kafe Arqasa ya? Boleh juga,” ucap Qania.


Hah, Papa mertua … kau sangat pandai membuatku tiba-tiba merasa frustasi dan lehilangan seluruh tulang di dalam tubuhku. Bisa tidak hentikan dulu kegiatanmu membangun usaha disana-sini. Aku nggak bakalan kuat mengurusnya seorang diri sambil menunggu Arqasaku tumbuh besar. Kau itu ingin mensejahterakan masa depan kami atau menggelapkan masa depanku sih, Pa? Dengan semua usaha ini aku mana ada waktu untuk anakku, huuhhh.


Karena sibuk menggerutu dalam hati, Qania tak menyadari bahwa kini mereka sudah sampai di kafe Arqasa yang tentu saja adalah kafe miliknya.

__ADS_1


“Yuk, Kak. Aku mau makan gratis disini. Mumpung ada ownernya, hihihi,” ucap Syaquile sambil membuka helmnya.


“Hiih, pantas saja ngajak kakak makan disini,” dengus Qania yang juga ikut membuka helmnya.


Keduanya pun turun dari motor kemudian berjalan masuk ke pelataran kafe tersebut. Mata keduanya langsung dimanjakan dengan desain outdoor kafe yang terkesan begitu hijau. Udara di depan kafe tersebut begitu sejuk yang mana membuat pengunjung merasakan bahwa mereka sedang berada di taman. Ditambah dekorasi yang memang membuat bagian depan kafe tersebut terkesan sejuk dan menyegarkan pandangan mata.


Baru tampak luarnya saja sudah begitu menarik dan bahkan sangat banyak remaja yang sedang nongkrong di bagian luar kafe. Terbukti dengan tidak adanya lagi bangku kosong disana. Qania berdecak kagum dengan kafe ini, ia saja seorang ahli bangunan tidak terpikir untuk mendesain kafe milik mertuanya. Simpel saja alasannya, ia tidak ingin membuat desainnya menjadi alasan mertuanya menambah cabang kafenya. Namun meskipun itu tidak ia lakukan tetap saja sang mertua begitu bersemangat membangun usahanya dengan alasan untuk mensejahterakan menantu dan cucunya.


Dosa nggak sih kalau gue mukul kepala papa Setya. Huaa … Arkana, your father make me wanna kill him. Bisa-bisanya dia tak berhenti menambah cabang usahanya. Aku bisa botak dengan pekerjaan yang akan dia berikan padaku. Bisa-bisa aku akan mati saat bekerja karena terlalu stress dengan semua usahanya.


Meskipun demikian, Qania tetap saja terus menyetujui tiap kali sang mertua mengatakan akan menambah cabang. Alasan sebenarnya kenapa Qania tidak bisa menolak untuk menyetujuinya adalah karena sang mertua akan meminta pendapat namun saat cabang yang ia maksud sedang dalam proses pengerjaan. Jadi Qania tidak bisa berkata tidak setuju karena percuma saja. Ia hanya bisa memendam kekesalan dengan sikap mertuanya yang gila kerja namun tidak pernah memiliki pengeluaran pribadi dalam jumlah besar. Penghasilannya hanya menumpuk di rekeningnya dan juga rekening Qania serta milik Arqasa sebagai tabungan masa depan.


Kadang Qania ingin menertawakan tentang tabungan Arqasa yang baru berusia empat tahun lebih itu dan kini nilainya sudah puluhan milliyar. Namun kembali lagi Qania teringat bahwa tidak selamanya roda berada di atas. Tidak menutup kemungkinan suatu saat mereka akan merasakan hidup di bawah namun Qania tidak berani membayangkannya saat ini. Sehingga ia tidak lagi mempermasalahkan tabungan sang balita milliyarder itu. Ibarat pepatah sedia payung sebelum hujan, itulah alasan Qania menyimpan tabungan Arqasa serta miliknya yang jarang ia gunakan dan terakhir kali membeli motor namun sayang motor tersebut sudah tak lagi bersamanya karena sudah hancur saat kecelakaan tersebut.


“Selamat siang nona Wijaya.”


Sapaan maneger kafe tersebut membuyarkan lamunan Qania dan tatapannya beralih menatap pria yang berumur sekitar tiga puluh lima tahun. Wajahnya cukup tampan namun terkesan dingin. Memiliki tubuh tinggi tegap dengan setelan kemeja yang begitu rapih dan lirikan mata yang membuat orang lain segan cenderung takut kepadanya. Bibirnya tersenyum tipis pada Qania menambah kesan tampannya, namun sayang Qania sama sekali tidak melihat itu karena baginya hanya Arkana Wijaya dan Arqasa Wijaya saja yang tampan serta bonus untuk adik, Papa dan Papa mertuanya.


“Selamat siang kembali. Wah anda mengenal saya rupanya,” balas Qania sedikit kikuk.


Ia tersenyum, “Tentu saja nona, kami bahkan mengenal pria disebelah anda. Selamat datang tuan Syaquile,” lanjutnya.


“Selamat datang di kafe Arqasa, mari saya antar ke dalam. Nona beserta tuan ingin makan di ruangan anda atau di ruang VIP?” tanya Lutfi, maneger tersebut.


“Di ruanganku saja. Mari tunjukkan tempatnya,” sahut Qania.


Lutfi mengangguk kemudian mengantar Qania dan Syaquile ke lantai dua dimana ruangan tersebut berada. Kafe tersebut memiliki tiga lantai dimana lantai atas juga merupakan tempat khusus pengunjung kafe yang menyuguhkan keindahan pemandangan kota dari atas.


Tak lama kemudian pesanan makanan mereka datang dan keduanya menikmatinya dengan tenang hingga semua hidangan habis dan berpindah ke dalam perut mereka. Keduanya mengucap syukur lalu saling tersenyum setelah menyadari porsi makan mereka yang berkapasitas hampir empat orang itu.


“Kau terlalu serakah, Kak,” ledek Syaquile.


“Persis dirimu tidak, Dek,” timpal Qania.


Keduanya pun tertawa bersama. Sesaat kemudian keduanya terdiam, namun Qania bisa menangkap raut wajah adiknya yang terlihat memiliki banyak pertanyaan kepadanya.


“Ada apa?” tanya Qania memancing Syaquile untuk memberitahukan apa yang sedang ia pikirkan.

__ADS_1


“Kak,?” panggilnya ragu.


“Ya.”


“Itu Kak, mengenai pria bernama Tristan Anggara,” tutur Syaquile ragu.


“Oh, kenapa dengannya?” tanya Qania, ia menyembunyikan senyumnya saat tahu kalau adiknya ternyata begitu penasaran dengan sosok Tristan itu.


“Apakah dia memang Tristan Anggara atau bukan sih, Kak? Aku nggak yakin ada orang semirip itu di dunia ini. Aku tahu katanya manusia memiliki tujuh kembaran di dunia, tapi Kak bahkan saudara kembar saja memiliki perbedaan yang cukup mencolok. Apalagi ini bukanlah saudara kembar,” ungkap Syaquile dan Qania mendengarkannya dengan tenang.


“Lalu?”


“Aku merasa dia adalah kak Arka. Mungkin dia hilang ingatan atau ada penyebab lainnya hingga mengganti identitasnya. Ingat  Kak, si brengsek Juna itu sampai detik ini pun tidak terlacak keberadaannya. Dia hilang ditelan bumi bersamaan dengan meninggalnya kak Arka. Bukankah ini suatu hal yang sangat ganjil, Kak?” lanjut Syaquile.


“Masuk akal sih, Dek. Sebenarnya kakak juga terkadang berpikir kemana perginya si bajingan itu ya. Bahkan papa Setya sudah mengerahkan orang untuk mencarinya dan hasilnya nihil. Sudah lima tahun dia belum juga terlihat keberadaannya. Mungkinkah dia pindah ke dunia antah berantah? Heheh ….”


“Kak, kita sedang membahas hal yang cukup serius. Bisakah jangan mengalihkan?! Aku sangat tahu kalau Kakak sedang menyembunyikan rasa sedih dan sakit saat ini. Tapi kejanggalan ini harus kita luruskan, Kak. Aku bahkan yakin seratus persen kalau Kakak pun penasaran juga kan dengan sosok Tristan Anggara itu, ngaku deh,” pancing Syaquile.


“Hmmm … kau memang paling mengenal kakakmu ini,” kekeh Qania.


“Aku adikmu! Kalau begitu mari kita bahas persoalan ini di tempat yang lebih nyaman Kak. Kakak mau nginap dimana malam ini? Orang rumah bakalan sampai disini nanti malam Kak,” ucap Syaquile sambil menatap sang Kakak yang terlihat sedang berpikir.


“Ke hotel Arqasa, kami akan menginap disana malam ini dan besok malam. Kakak sudah memesan kamar dan juga untuk keluarga kita,” jawab Qania.


“Mesan kamar konon, pemiliknya juga pasti punya kamar pribadi lah, Kak,” gerutu Syaquile.


“Iri bilang boss,” ledek Qania.


“Tau ah gelap,” rajuk Syaquile.


Qania tertawa melihat sang adik yang semakin menggemaskan saat sedang merajuk. Ia pun berdiri kemudian mengajak Syaquile untuk segera menuju ke hotel dan membahas masalah kemungkinan-kemungkinan yang selalu Qania semogakan.


 


.... . . . ...


Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎

__ADS_1


...❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️...


__ADS_2