Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Teruslah menangis


__ADS_3

Keduanya melepas pelukannya dan kembali bertatapan. Wajah Qania merona karena malu setelah adegan ciuman yang menurutnya ia seperti wanita tak tahu malu, dengan mudahnya berciuman panas di kamar lelaki yang bukan muhrimnya.


Arkana menyadari tingkah Qania langsung menangkup kedua pipi Qania.


"Jangan malu, aku tetap memandangmu sebagai wanita terhormat. Aku hanya ingin membuatmu berhenti berkata yang bukan-bukan, berpikirlah positif. Aku mencintaimu dan selamanya cinta kamu Qania" ucap Arkana seolah mengerti isi hati dan pikiran kekasihnya itu.


Qania mengangguk pelan dan tersenyum manis, membuat Arkana kembali mengecup keningnya lalu melepaskan kedua tangannya dari pipi Qania.


"Aku sungguh serius Qania, jika tidak percaya, menikahlah denganku" lanjut Arkana sambil menatap intens kearah Qania.


"Tuh kan mulai lagi" Qania berlagak merajuk.


"Aku hanya ingin membuktikan. Tapi sepertinya kamu yang tidak serius denganku" ucap Arkana sambil tersenyum remeh.


"Loh kok gitu sih?" Qania menatap Arkana dengan ekspresi heran.


"Ya habisnya kamu terus saja menolak saat aku mengajakmu menikah" cibir Arkana.


"Kan aku masih kuliah sayang" ucap Qania dengan sok manja.


"Kan bisa tuh kuliah setelah menikah" timpal Arkana tak mau kalah.


"Nanti akan aku pikirkan lagi" ucap Qania berusaha menyudahi perdebatan mereka.


"Nah gitu dong, tapi jangan kelamaan mikirnya, nanti rambut kamu rontok" ledek Arkana.


"Ihh Arkanaaa" geram Qania kemudian mengacak-acak rambut kekasihnya itu.


Cukup lama keduanya saling bercanda, tawa keduanya terus terdengar dari dalam kamar tersebut, hingga Rizal yang tadinya berniat untuk masuk ke kamar Arkana langsung mengurungkan niatnya dan ingin segera berlalu. Sayangnya Qania melihat kedatangannya dan langsung memanggilnya untuk masuk.


Rizal melangkah masuk dan duduk diatas tempat tidur Arkana karena tidak ingin duduk bertiga diatas sofa.


"Sorry nih, nggak maksud buat ngeganggu momen kalian" basa-basi Rizal sambil tersenyum, bahkan dalam hatinya ia sangat senang karena mendapati sahabatnya tengah tertawa bahagia.


"Santai aja Zal, kita hanya sedang ngobrol biasa dan bercanda doang kok" ucap Qania dengan melempar senyum ramah.

__ADS_1


"Oh sayang berhentilah tersenyum semanis itu, nanti banyak yang akan meleleh melihatnya. Cukup aku saja" rengek Arkana.


"Hei Geaku juga punya senyuman yang tak kalah manisnya dengan Qaniamu" ketus Rizal.


"Ih apaan sih, masa senyum doang dipermasalahkan" Qania berpura-pura ngambek.


"Tahu tuh si bucin" sambung Rizal.


"Ya sudah oke. Terus lo kemari ada hal penting apa?" tanya Arkana mengalihkan.


"Oh iya hampir lupa, soal nanti malam gue udah siapin, kalian bersiap-siap saja untuk datang. Oh iya gue juga udah ngajak anak-anak buat ngumpul bareng disana" jelas Rizal.


"Good job brother" ucap Arkana sambil tersenyum sumringah.


"Oh iya satu lagi, gue udah nyuruh yang lain buat selidiki dimana Galih cs sekarang, mereka lagi ikut balap diluar kota. Besok mereka balik tuh, gue sama yang lain bakalan buat perhitungan sama mereka" ungkap Rizal.


"Gue serahin ke kalian semua, gue bangga punya kalian" puji Arkana dengan tulus.


"Oke, gue balik ya. Sampai ketemu nanti malam" pamit Rizal.


"Hati-hati" pesan Qania.


"Harusnya tadi gue turutin aja waktu Gea mau ikut, biar nggak jadi nyamuk gue" batin Rizal.


Saat Rizal pergi, raut wajah Qania langsung berubah menjadi datar lagi.


"Ada apa?" tanya Arkana sambil menyandarkan kepalanya dibahu Qania.


"Jangan berkelahi" tutur Qania namun tatapannya lurus kedepan.


"Tidak sayang, bukan aku tapi sahabat-sahabatku" jawab Arkana.


"Aku nggak mau kamu kenapa-napa" lirih Qania.


Arkana menyadari bahwa kekasihnya itu sepertinya akan menangis lagi, ia mengangkat kepalanya dari bahu Qania dan memutar tubuh Qania menjadi berhadapan dengannya. Ia memegangi kedua bahu Qania dan menatap dalam kearah netra Qania.

__ADS_1


"Jangan berpikiran yang tidak-tidak, oke. Aku akan baik-baik saja selama kamu tetap bersamaku dan aku juga tidak akan berkelahi demi kamu" tegas Arkana.


Air mata yang berusaha Qania tahan kini tanpa permisi langsung keluar dari sarangnya. Qania memeluk tubuh Arkana dengan erat.


"Cukup sekali aku mendengar kabar buruk menimpamu, cukup sekali saja" racau Qania dalam pelukan Arkana.


"Iya sayang, iya" janji Arkana sambil membelai rambut Qania.


"Apakah ini kode agar aku menciummu?" tanya Arkana dengan maksud menggoda agar Qania berhenti menangis.


Dengan cepat Qania melepaskan pelukannya dan bergeser sedikit agar berjarak dengan Arkana. Ia membuang muka agar Arkana tidak menciumnya, lebih tepatnya lagi agar Arkana tidak melihat pipinya yang sudah seperti kepiting rebus.


"Teruslah menangis agar aku bisa puas menciumimu" gurau Arkana.


"Ih reseeee" teriak Qania kemudian mencubit lengan Arkana.


"Aww sakit" ringis Arkana.


"Rasain bweee" ucap Qania sambil menjulurkan lidahnya.


"Itu kode?" tanya Arkana sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ih apaan sih, kamu kok jadi mesum. Ngeselin deh" geram Qania.


"Hehehe, mesum sama kamu doang kok" ucap Arkana.


"Nggak boleh, bukan muhrim" tandas Qania.


"Ntar aku halalin, kamu siap-siap aja" ucap Arkana sambil tersenyum menggoda.


"Tidaaakkk...." teriak Qania membuat Arkana tertawa.


"Hehehe, santai aja dong sayang. Oh iya aku antar pulang yuk, kamu harus istirahat juga. Nanti malam aku jemput ya" ajak Arkana.


"Iya nih, aku mau istirahat walaupun nggak lama" ucap Qania menyetujui.

__ADS_1


"Ayo.." ajak Arkana yang kemudian menggenggam lembut tangan Qania dan kedua berdiri untuk bersiap kembali ke rumah Qania.


........


__ADS_2