
Qania berjalan tanpa arah dan tujuan, namun satu hal yang pasti ia sedang dalam keadaan yang tidak sedang baik-baik saja. Dan entah bagaimana namun langkahnya menuntun ke sebuah ruangan yang gelap.
"Qania tolong aku, tolong aku sayang."
Qania tersentak, suara yang begitu familiar di telinganya. Jantungnya berdegup kencang bahkan lidahnya pun menjadi kelu.
"Ar-Arkana?" panggil Qania namun ia tidak kunjung menemukan sosok yang berteriak memanggilnya. Yang ia ketahui jelas itu adalah suara Arkananya. Namun saat ini ia seolah berada di suatu ruangan yang amat gelap.
"Iya, ini aku sayang. Aku, Arkana Wijaya," sahut suara itu.
"Hikss ... Arkana kau dimana?" teriak Qania sambil terisak.
"Aku ada disini. Tolong aku, selamatkan aku sayang. Aku sudah lelah berada di tempat ini. Aku sangat merindukanmu, tolong aku."
Suara itu terdengar begitu lirih di telinga Qania. Ia pun berusaha mencari asal suara tersebut. Dengan hati-hati Qania berjalan ke sebuah ruangan yang ia yakini suara itu berasal dari dalam.
Kreekkk
Qania tak kuasa membendung air matanya melihat sosok yang juga sedang menatap sendu ke arahnya. Seluruh tubuhnya terikat rantai dengan keadaan lusuh dan tidak memiliki tenaga.
"A-Arkana," lirih Qania sambil berjalan mendekatinya.
"Sayang hei, aku merindukanmu," lirih Arkana.
Qania menghambur memeluk tubuh yang teramat sangat ia rindukan. Terisak bersama dalam pelukan. Ruang sunyi itu terisi penuh dengan suara tangis yang begitu mengharu biru.
"Kenapa sayang bisa ada di tempat ini? Siapa yang menyekapmu disini?" tanya Qania setelah mengurai pelukannya sambil menatap sendu pada Arkana.
"Aku tidak tahu bagaimana bisa ini semua terjadi padaku. Aku saat ini sangat mengharapkan pertologanmu sayang, tolong aku," tutur Arkana.
"Aku tidak mengerti," ucap Qania sambil menggelengkan kepalanya.
"Tolong bantu aku keluar dari sini," pinta Arkana.
"Tentu sayang, aku akan membantumu. Kau tunggu disini dan aku akan mencari bantuan," ucap Qania sambil membelai pipi Arkana.
"Aku akan menunggu. Cepatlah kembali untuk menolongku. Aku sangat tersiksa berada di tempat ini. Aku menunggumu sayang, aku percaya cintamu bisa menolongku dan membawaku pergi dari tempat ini. Pergilah dan cepatlah kembali untuk membebaskan ku dari tempat ini," ucap Arkana membuat Qania semakin terisak.
"Aku janji tidak akan lama. Dan selama aku mencari bantuan, berjanjilah untuk tetap berada disini dan menungguku datang," pinta Qania kemudian memeluk Arkana.
"Aku berjanji sayang. Aku tidak akan pernah pergi dari sini dan akan setia menunggumu datang. Jika memang takdir kita berjodoh maka cinta akan menuntun kita untuk kembali bersama. Cepatlah cari bantuan untuk menyelamatkanku. Hanya kau yang bisa melakukan itu semua untukku. Aku percaya cintamu bisa membawaku kembali pulang," ucap Arkana membalas pelukan erat Qania.
"Aku janji sayang, aku janji. Bertahanlah untukku," ucap Qania terisak dalam dekapan Arkana.
"Aku akan bertahan, tapi berjanjilah untuk tidak menggantikan posisiku dengan orang lain meskipun ada hal yang membuatmu memandangnya seperti kau memandangku," ucap Arkana dan itu sukses membuat Qania terdiam.
"Pergilah," ucap Arkana.
"Sayang kau mengusirku?" tanya Qania lirih kemudian melepas pelukannya.
"Aku tidak mengusirmu. Aku hanya ingin kau pergi dan segeralah kembali untuk menolongku," jawab Arkana diiringi senyuman manis.
"A-apa kau tahu tentangku selama tidak ada dirimu?" tanya Qania ragu-ragu namun Arkana hanya menjawab dengan senyuman.
"Bisakah aku tinggal saja disini denganmu? Aku tidak mau lagi berpisah denganmu, rasanya sangat sesak disini," ucap Qania sambil memegangi dadanya.
"Jangan seperti itu. Kau lupa akan Arkana junior, hem?"
"Ka-kau pun tahu kalau kita memiliki anak?" kaget Qania.
"Tentu, aku tahu lebih dulu sebelum kalian menyadarinya. Aku ayah yang baik bukan?" kekeh Arkana.
Qania mengangguk-angguk sambil menitikkan air mata. Ia juga menyesalkan sikap dan tindakannya sekarang ini yang sudah membagi hatinya. Kemana kepercayaannya selama ini dan juga kesetiaannya. Jika saja saat ini ia tidak bertemu dengan Arkana maka bisa dipastikan dalam waktu yang singkat maka posisi Arkana akan tergantikan.
"Pergilah sayang, aku menunggumu," pinta Arkana yang melihat kebimbangan Qania.
"Ba- bagaimana aku bisa datang lagi ke tempat ini? Aku sama sekali tidak bisa mengenali tempat ini?" tanya Qania.
Arkana tersenyum. "Kau akan menemukan jalannya sayang. Aku yakin kau akan menemukanku di tempat ini dan aku akan menunggu sampai waktunya tiba. Berusahalah untuk menolongku dan jangan alihkan fokusmu pada yang lain. Tolong ingat jika ada aku yang sedang menunggumu disini," jawab Arkana membuat Qania merasa ambigu.
"Aku tidak paham," lirih Qania.
"Wanita cerdasku tidak mungkin tidak memahami apa yang aku katakan," ucap Arkana.
Meski tak paham sedikitpun tapi Qania berusaha untuk mengiyakan ucapan Arkana. Ia kembali masuk ke dalam dekapan sang suami yang telah lama ia rindukan itu.
"Tunggu aku disini dan jangan kemana-mana. Berjanjilah," Isak Qania.
"Pasti sayang, aku akan selalu menunggumu datang untuk membawaku kembali pulang. Segeralah pergi dan bawa aku kembali," ucap Arkana yang membuat Qania semakin terisak.
Meskipun enggan tapi Qania tetap harus pergi. Setelah melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Arkana dan mencium setiap inci di wajah itu.
"Aku akan segera kembali sayang," ucap Qania terisak kemudian bergegas pergi untuk mencari bantuan.
__ADS_1
Dalam kebingungannya mencari jalan keluar, suara seseorang yang sangat familiar pun terdengar di telinganya.
"Qania Salsabila," panggilnya.
Qania berbalik, baru saja ia ingin mendekap tubuh itu namun ia kembali teringat akan ucapan Arkana tadi.
"Kau bukan Arkanaku, kau Tristan Anggara," ucap Qania.
Ia tersenyum seringai. "Apa kau tidak bisa mengenali suamimu sendiri Qania?"
"Kau berbeda, meski wajah kalian sama tapi kau bukanlah Arkana," bantah Qania.
"Lihatlah dengan mata hatimu, aku Arkana bukan Tristan Anggara," ucapnya lirih.
Untuk sesaat Qania menjadi bimbang. Namun suara Arkana yang mengingatkannya untuk tidak terpengaruh apapun membuatnya kembali mendapati kesadarannya.
"Arkanaku sedang terikat disana dan tidak mungkin bisa secepat ini berdiri tegak di depanku. Jangan membodohiku," bentak Qania.
"Tutup matamu dan rasakanlah siapa aku," pintanya.
Namun karena tidak ingin lagi terprovokasi Qania tidak menuruti keinginan Tristan.
"Jangan halangi jalanku, aku harus segera pergi dari tempat ini," ucap Qania kemudian berlari kencang meninggalkan Tristan yang sedang tersenyum menatap punggung Qania yang mulai menghilang.
.... . ....
Qania mengerjapkan kedua matanya menyesuaikan dengan cahaya lampu yang masuk ke indera penglihatannya. Ia menyapu sekeliling ruangan dengan kedua matanya dan mendapati ruangan yang asing baginya.
Argggghhh
Qania memekik merasakan sakit di kepalanya. Setelah rasa sakit itu menghilang, Qania kembali teringat akan mimpinya.
"Apa maksud Arkana?" gumam Qania.
Qania menatap ke samping dan mendapati Raka yang tengah tertidur di sofa.
"Apakah Raka yang dimaksud Arkana?" gumam Qania.
"Aku dimana ini?" tanya Qania pada dirinya sendiri.
Qania berusaha mengingat apa yang terjadi namun ia tidak mendapati apa-apa. Ditengah kebingungannya, pintu kamar itu terbuka dan masuklah seorang wanita dengan jas putihnya yang Qania bisa langsung kenali bahwa wanita itu adalah seorang dokter.
"Selamat pagi Qania," sapa dokter tersebut.
"Pagi juga, Dok," balas Qania.
"Baik Dok. Ngomong-ngomong kenapa saya bisa berada di tempat ini?" tanya Qania.
"Semalam temanmu menemukanmu tak sadarkan diri dan membawamu kesini. Saya periksa dulu ya tekanan darahnya," ucapnya kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Nah sudah selesai, semuanya baik-baik saja. Jangan terlalu lelah dan jangan banyak pikiran dulu ya," ucap dokter tersebut dan hanya diangguki oleh Qania.
"Dok, bisakah saya pulang? Saya ada kegiatan di kampus," tanya Qania.
"Tentu saja. Jika kau sudah mampu berjalan kau bisa pulang dan saya sudah memberikan obat untukmu pada Raka," jawab dokter tersebut memberikan kelegaan pada Qania.
"Terima kasih dok," ucap Qania.
"Sama-sama. Saya tinggal dulu," ucapnya kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Qania perlahan-lahan menurunkan kakinya dan berjalan ke kamar mandi kemudian setelah membasuh wajahnya ia pun keluar dan berjalan mendekati Raka. Sepelan mungkin Qania membangunkan Raka hingga Raka pun perlahan membuka matanya.
"Kau sudah bangun Qan?" tanya Raka sambil membersihkan wajahnya takut-takut kalau ada kotoran di matanya.
"Menurutmu? Ayo cepat bangun dan antarkan aku pulang. Ah, aku bahkan belum mencetak laporan ku. Ayo cepatlah," ajak Qania panik.
Raka mendengus kemudian dengan segera ia bangkit dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Setelah merasa segar Raka pun keluar namun sudah tidak mendapati Qania di ruangan itu.
"Qania-Qania," gumam Raka kemudian berjalan keluar.
Raka mendapati Qania yang sudah duduk di teras klinik tersebut. Ia tersenyum kemudian mendekati Qania.
"Yuk," ajak Raka dan Qania pun bergegas berjalan di belakang Raka.
Tidak ada obrolan sepanjang jalan, sesampainya di rumah Qania langsung masuk bahkan melupakan Raka yang kini tengah menggelengkan kepala karena sikap Qania.
"Nasib-nasib, terus saja terlupakan," gumam Raka kemudian pulang ke kost-annya.
.... . . ....
Kelegaan terpancar dari wajah Qania dan teman-teman sekelasnya karena laporan pertanggung jawaban mereka telah berakhir dan saatnya untuk liburan sebelum masuk ke waktu magang.
"Gimana kalau kita makan-makan dulu," ajak Zakih.
__ADS_1
"Ayooo ...."
Semuanya langsung setuju dan bergegas untuk pergi mencari tempat makan dan tentu saja yang terdekat adalah kafe di depan kampus.
Meskipun enggan tapi Qania tetap ikut masuk bersama teman-temannya. Dalam hati ia berharap semoga Tristan sedang tidak berada di kafe tersebut.
Para mahasiswa itu mendominasi kafe tersebut karena suara berisik mereka dan untung saja para pengunjung yang lainnya tidak memprotes keributan mereka dan memilih cuek-cuek saja. Kecuali pria yang berada di dalam ruangannya sendiri yang sedang sibuk namun bukan bekerja melainkan melamunkan sesuatu.
"Brengsek! Kenapa pengunjung kafe ini sangat berisik sekali. Tidak tahu apa kalau gue sedang galau," gerutunya, Tristan.
Ia pun segera menyambar telepon di depannya untuk menghubungi managernya.
"Kenapa berisik sekali sih?" keluhnya saat telepon tersambung.
"Maaf boss, itu para mahasiswa. Mereka berjumlah kurang lebih dua puluh orang dan sepertinya sedang merayakan sesuatu."
"Sial! Bisa tolong tegur mereka agar sedikit memelankan suara mereka, saya jadi tidak fokus bekerja," umpat Tristan. Dan saya tidak bisa fokus buat mikirin Qania, batinnya.
"Maaf boss, sepertinya tidak bisa."
"What the f*ck. Ya sudah biar saya saja, bersiaplah saya akan memecatmu. Dasar tidak berguna," gerutu Tristan tanpa mempedulikan manegernya yang tengah bermohon namun panggilan tersebut sudah terputus.
Denga kasar Tristan membuka pintu ruangnnya. Ia sudah menyiapkan segala umpatan sekaligus pelampiasan karena rasa kecewanya pada dirinya sendiri yang sudah membuat Qania merasa trauma.
Baru saja mulutnya terbuka hendak bersuara, pandangannya terhenti pada sesosok wanita yang saat ini tengah mendominasi pikirannya.
"Qania?" gumam Tristan.
Setelah mengamati cukup lama, Tristan tersenyum karena benar itu adalah Qania. Ia merasa lega karena Qania saat ini baik-baik saja. Ia pun berjalan mendekati mereka dan berniat menyapa Qania dan teman-temannya.
"Selamat siang semua, selamat siang Qania," sapa Tristan.
Qania tersedak minumannya begitu mendengar suara yang sangat ia kenali.
Sial! Ternyata Tristan ada disini, batin Qania.
Semua teman Qania menatap datar pada Tristan. Semenjak kejadian Qania yang kecelakaan mereka menjadi kurang menyenangi pria itu terlebih lagi mereka mengetahui Tristan berhubungan dengan Marsya namun masih saja mendekati Qania.
"Guys, makanannya udah habis kan. Yuk kita balik," ajak Vando.
Semuanya mengangguk setuju kemudian segera berdiri dan berjalan beriringan dengan Qania yang masih sempat melihat tatapan sendu dari mata Tristan.
Ia menjadi bingung sendiri ketika teringat akan mimpinya. Saat ini otak cerdasnya belum bisa memahami maksud dari perkataan Arkana dalam mimpinya itu.
Sementara Tristan, ia sangat ingin mengejar Qania namun melihat tatapan tak bersahabat dari semua teman Qania membuatnya mengurungkan niatnya.
"Yang penting kamu baik-baik saja. Aku bisa mengunjungimu setelah ini," ucap Tristan kemudian kembali ke ruangannya.
Baru saja Tristan membuka pintu ruangannya, manegernya langsung memanggil.
"Boss jangan pecat saya," ucapnya memohon.
"Ya, kau tidak jadi dipecat. Lagi pula kenapa kau tidak melaporkan padaku kalau tadi Qania datang kesini?" gerutu Tristan.
"Itu alasannya boss kenapa saya bilang tidak bisa dan biar boss saja yang keluar," jawabnya.
"Jadi aku yang gagal paham, begitu?"
"Mungkin boss, hehe."
"Dasar, kembalilah bekerja," ucap Tristan kemudian masuk ke ruangannya.
Di luar kafe tepatnya di parkiran, teman-teman Qania merasa lega karena Qania tidak terlihat kecewa sama sekali dengan tindakan mereka yang ada mereka bisa melihat wajah lega Qania.
"Kita pulang yuk, sampai bertemu dua minggu lagi," ucap Mae.
"Daa ...."
Mae yang dibonceng oleh Qania pun membalas lambaian tangan teman-temannya. Dan mereka pun berpisah jalan karena arah rumah yang berbeda. Dan Qania fokus menyetir berusaha membuat pikirannya teralihkan dari mimpinya untuk sesaat.
"Mae, aku kan besok pagi kan bakalan pulang. Bisa nggak kalau aku nginap di tempatmu?" tanya Qania saat mereka sudah sampai di rumah Mae.
"Apa ada hubungannya dengan Tristan?" selidik Mae.
Qania menganggukkan kepalanya sekali dan Mae pun langsung paham.
"Tentu saja boleh. Yuk masuk," ajak Mae.
Qania pun ikut masuk bersama Mae menuju ke kamar gadis itu yang berada di lantai dua.
Aku perlu waktu untuk mengartikan tentang mimpiku itu. Aku harus tahu sebenarnya apa maksud perkataan Arkana, aku tidak ingin salah melangkah.
.... . . ...
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎
...❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️❣️...