Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Demi Bakso


__ADS_3

"Hikss, Arkana jahat. Kenapa juga dia tidak bisa menemaniku ke acara Yudisium. Hikss, aku membencimu" tangis Qania di dalam kamarnya.


Tadi sekembalinya ia dari sarapan ia berniat tidur tapi ucapan papanya yang mengatakan bahwa Arkana tidak bisa datang terus saja membuatnya kepikiran hingga ia merasa sedih dan begitu kesal pada Arkana.


"Harusnya dia menepati janjinya, hiks",.


Qania menatap ponselnya yang berada dalam genggamannya itu. Sedari tadi Qania hanya berbaring sambil menangis mengumpati Arkana.


Tutt...


Tutt...


Tutt...


"Hallo sayang" Sapa Arkana.


"Hikss hei kau pria menyebalkan kenapa kau tidak datang hah?" gerutu Qania sambil terus menangis.


"Sayang kenapa kau menangis?" suara Arkana terdengar panik membuat Qania semakin sedih.


"Huaaaa, aku, aku kesal padamu" tangisnya pun akhirnya pecah.


"Kesal? Kesal kenapa lagi sih?" Arkana yang saat ini tengah berbaring di kamarnya langsung terduduk setelah tangisan Qania makin besar.


"Kau sudah berjanji untuk menemaniku ke acara yudisium tapi kau tidak datang" sindir Qania.


'Oh astaga mengapa istriku ini menjadi secengeng ini' batin Arkana.


"Tuh kan diam saja" kesal Qania.


"Maaf sayang aku sedang sibuk" kilah Arkana.


"Ya sudah sibuk saja sana tidak usah menemuiku lagi, aku benci padamu" Qania langsung menutup panggilannya setelah membentak Arkana.


Qania terus saja menangis sambil mengumpati Arkana sementara Arkana tengah bingung sendiri di kamarnya. Ia ingin menemui Qania tapi ia tidak ingin Qania cemas.


"Nanti saja lah, biarkan dia membenciku dulu. Pasti bencinya hanya sekitar sejam dua jam doang" kekeh Arkana kemudian kembali berbaring di kamarnya.


Kembali pada Qania, ia saat ini sedang mendandani dirinya di depan meja riasnya namun wajahnya masih tetap ditekuk karena dari tadi ia tidak mendapatkan satu pun pesan dari Arkana.


Mamanya yang tengah membantunya menjadi salah tingkah sendiri karena riasannya yang sudah sempurna itu malah terlihat buruk karena wajah Qania cemberut terus.


Berulang kali Alisha mencoba membujuk Qania namun anaknya itu masih saja tidak mau tersenyum. Ia sampai merasa kesal pada Qania namun tidak ia ungkapkan.


"Mama keluar dulu dan tolong jangan irit senyum di hari bahagia ini" sindir mamanya yang sudah kesal dibuat Qania yang sedari tadi cemberut dan tiada henti mengumpati Arkana dan kadang ia juga menangis.


"Mamaa...",.


"Sudah, diam dan jangan merusak apa yang sudah mama buat" tegas mamanya kemudian menutup pintu kamar Qania.


Alisha meninggalkan Qania yang entah sedang melakukan apa di dalam kamarnya. Ia menemui suaminya yang sebentar lagi akan berangkat keluar kota itu.


"Pa, lihat tuh anakmu jadi aneh" keluh Alisha.


"Emang Qania kenapa ma?" tanya Zafran yang sedang menenteng tasnya keluar dari kamar.


Alisha menemani Zafran berjalan menuruni anak tangga.


"Tuh dikit-dikit nangis, dikit-dikit cemberut, marah-marah nggak jelas cuma karena nggak ada Arka" jawab Alisha.


"Ya ampun itu anak sudah ketergantungan banget sama calon suaminya. Apa jadinya kalau papa tiba-tiba tidak merestui mereka" tawa Zafran diikuti oleh Alisha yang juga ikut tertawa.


Pak Roni membantu memasukkan koper Zafran ke dalam tasnya.


"Papa cuma nganterin doang Qania ke kampus ma, nanti pulangnya papa minta Arka jemput dia. Kasihan juga anaknya sampai nangis gitu" ucap Zafran sambil merangkul Alisha.


"Iya pa, lama-lama mama geli sendiri dengan kelakuan Qania, mama jadi malu sama Arka pa" ucap Alisha cekikikan.


"Arka juga sama ma, kalau dia mah justru kesenangan dengan Qania yang maunya menempel terus padanya" kekeh Zafran.


"Ada apa nih ketawa-ketawa?" tanya Qania dengan ketus dari pintu.


"Nggak ada apa-apa. Sekarang kamu ikut papa, udah hampir jam sepuluh ini" sahut mamanya.


Qania mengerucutkan bibirnya dan berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya. Alisha dan Zafran membuang muka sambil cekikikan melihat tingkah Qania.


Qania melirik tajam pada kedua orang tuanya sebelum masuk ke dalam mobil.


"Ma, papa pamit dulu ya. Rindukan papa, oke" ucap Zafran kemudian mengecup kening Alisha.


"Tentu pa, hati-hati" ucap Alisha kemudian ia mencium tangan suaminya.


"Assalamu'alaikum ma",.


"Wa'alaikum salam pa",.

__ADS_1


Zafran masuk ke dalam mobilnya dan duduk di belakang kursi kemudi bersama Qania. Supirnya pun menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya ke kampus Qania.


đŸŒč


đŸŒč


"Arka, papa mau kamu jemput Qania dan datangnya sekarang saja oke. Papa mau keluar kota" ucap Zafran langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Arkana.


Arkana hanya bisa mendengus setelah telepon dimatikan secara sepihak oleh papa Qania, ia tahu bahwa pria itu pasti tidak bisa menolak keinginan putri kesayangannya itu.


“Hah jadi mesti gue nih yang ngarang alasan di depan Qania” Arkana berkacak pinggang, ia kesal namun gemas juga pada papa mertuanya yang sama seperti dirinya tidak bisa menolak pesona Qania.


“Baiklah my wife, suamimu akan datang menjemputmu. Jangan sedih lagi” ucap Arkana kemudian mengabil jaket dan kunci mobilnya.


“Sebenarnya gue pingin bawa motor aja, tapi kasihan Qania kalau pakai kebaya terus naik motor” Arkana tertawa sepanjang menuruni anak tangga dari kamarnya.


Di kampus, Qania sudah bisa sedikit melupakan kesedihannya setelah acara yudisium dimulai. Bagaimana tidak, pujian dan gelar lulusan terbaik universitas jatuh pada dirinya. Qania yang tadinya uring-uringan kini semakin bertambah semangat karena ia melihat pria yang sedang menyender di pintu mobil tengah tersenyum padanya.


“Sayaaaaanggg” teriak Qania sambil berlari dengan mengangkat rok lilitnya itu.


“Perasaan gue atau emang Qania yang lagi lebay yah?” gumam Arkana sambil menyambut Qania yang datang dan langsung memeluknya.


“Katanya nggak jadi datang” sindir Qania dengan mulutnya yang mengerucut.


“Aku kasihan sama putri kampus yang cantik kalau di hari bahagianya dia malah cemberut karena pangerannya nggak datang” ledek Arkana membuat Qania menatap sinis padanya.


“Jangan buat aku kesal, aku sedang lapar ini” ucap Qania sambil mengelus-elus perutnya yang rata itu.


Arkana tertawa melihat tingkah konyol Qania yang menurutnya sangat menggemaskan.


“Ya sudah kuy ke kafe” ajak Arkana sambil menggandeng tangan Qania dan membawanya ke pintu mobil sebelah kirinya.


“Aku mau makan mie ayam” rengek Qania saat mereka sudah berada di dalam mobil.


“Tumben”,.


“Iya lagi kepengen nih, mau makan mie ayam pakai bakso dengan kuah pedas” ucap Qania sambil membayangan makanan tersebut, sesekali ia menelan ludahnya membuat Arkana menyeringai.


‘Sudah hadirkah?’,.


Arkana dan Qania kini sudah berada di dalam warung mie ayam dan Qania sudah menghabiskan dua mangkuk mie ayam sementara Arkana semangkuk pun belum habis.


“Ahhh kenyaang” seru Qania setelah menghabiskan jus alpukatnya.


“Makan yang banyak ya sayang, kalau ada lagi yang kamu inginkan cepat katakana padaku” ucap Arkana sambil tersenyum senang.


“Tentu” jawab Arkana kemudian mengelus tangan Qania.


“Pulang yuk, udah ngantuk aku” ajak Qania.


Arkana mengangguk kemudian berdiri dan bergegas membayar makanan mereka. Setelah itu kembali menghampiri Qania yang masih menunggunya di bangku mereka tadi dan menggandeng tangannya keluar menuju mobil.


*


*


Qania terbangun tengah malam, perutnya terasa lapar padahal tadi ia sudah makan malam bersama mama dan adiknya. Bukannya turun untuk mencari makanan, ia malah menangis sesenggukan karena merindukan Arkana. Ia pun bergegas mengambil ponsel di bantal sebelahnya dan menelepon Arkana.


Baru sekali nada sambung berbunyi, Arkana langsung menjawab panggilan tersebut.


“Ada apa sayang? Rindu kah? Atau sedang lapar?” Tanya Arkana dari seberang saluran.


“Hikss, dua-duanya sayang” isak Qania.


“Sayang mau makan apa, biar aku bawakan?”  tanya Arkana lagi sambil tersenyum.


“Aku mau bakso sayang” rengek Qania, “dan kamu, aku mau kamu” lirihnya.


“Tunggu ya sayang aku bakalan cariin kamu bakso dan aku nggak akan lama” ucap Arkana yang tadinya sedang duduk memainkan gitarnya kini ia sedang bersiap untuk keluar.


“Terima kasih sayangku, I love you daddy” ujar Qania girang.


“Panggilan baru kah? Sudah kepengen punya anak dariku, hemm?” ledek Arkana membuat Qania bingung.


“Anak darimu?” beo Qania.


“Iya sayang, itu tadi kamu manggil daddy” sahut Arkana.


“Masa sih?” tanya Qania belum yakin.


“Ya sudah aku mau keluar cari bakso dulu, nanti keburu tutup warung baksonya” ucap Arkana mengalihkan.


“Iya sayang, hati-hati” ucap Qania kemudian member kiss bye pada Arkana yang membuat Arkana terkekeh kemudian memutus sambungan telepon tersebut setelah membalas kiss bye dari kekasihnya itu.


Arkana sudah berputar-putar mengelilingi kota tapi tidak juga menemukan warung bakso yang masih buka. Ia tidak heran karena saat ini sudah tengah malam. Arkana menepikan motornya dan membuka helmnya untuk mengatur napasnya dan beristirahat sejenak.

__ADS_1


“Sabat sayang, daddy akan berusaha mencarikan bakso untukmu” gumam Arkana kemudian tertawa pelan.


Arkana kembali memakai helmnya dan menjalankan motornya. Ia sudah frustasi karena warung bakso yang ia tahu sudah tutup. Ia pun berhenti di depan warung bakso itu dan merogoh saku jaketnya untuk mengambil ponselnya berniat untuk menelepon Qania.


Baru saja Arkana akan menekan tombol panggil di kontak Qania, satu orang berbadan besar dan dua orang berbadan hampir sama dengan Arkana datang dan menggedor pintu warung bakso itu.


“Buka, kami tahu lo belum tidur Manto” teriak mereka.


Arkana kembali memasukkan ponselnya di dalam saku jaketnya, ia mengamati apa yang dilakukan tiga pria itu.


“Manto buka brengsek! Kami lapar dan berikan kami makananmu, kalau tidak besok kami akan memporak-porandakan warung kecilmu ini” teriak mereka lagi.


Krieeett
.


Perlahan pintu terbuka dan keluarlah seorang pria yang berumur sekitar enam puluh tahun yang sedang gemetar dan menunduk di depan tiga preman itu.


“Maaf bang Lon, saya hari ini kurang mendapat pelanggan dan modal saya belum kembali. Tolong jangan dulu meminta makanan gratis. Saya janji besok saya akan memberikan kalian makanan da
”,.


“Bacot lo” umpat bang Lon dan langsung memberikan bogeman mentah di perut pak Manto.


Arkana terperanjat kaget karena tubuh rentan itu diberikan pukulan kuat seperti itu. ia pun turun dari motornya dan berjalan mendekati warung bakso itu.


“Banci, beraninya menghajar orang tua. Kalau mau makan itu ya kerja, cari uang biar bisa beli makanan bukan memalak seperti ini” cibir Arkana yang membantu pak Manto berdiri.


“Siapa lo? Mau jadi pahlawan kesiangan lo?” ejek bang Lon.


“Hahaha buta lo, ini masih malam kali” ledek Arkana.


“Nggak usah banyak bicara lo bangsat! Hajar dia” serunya kepada teman-temannya yang kemudian menyerang Arkana.


“Sial, baru semalam gue berantem masa malam ini juga harus berantem. Wajah tampan gue gimana?” gumam Arkana yang langsung menangkis pukulan dari arah samping dan menendang perut bang Lon yang akan meninjunya dari arah depan.


Pak Manto bersembunyi di belakang pintu rumahnya karena ia sangat ketakutan melihat perkelahian tersebut.


‘Sebisa mungkin gue harus mengindari serangan ke wajah gue. Kasihan Qania kalau harus melihat wajah tampan suaminya ini babak belur’ batin Arkana.


Arkana terus menangkis serangan dan mebalikkan serangan dari ketiga preman itu dengan cekatan.


Bughhhh



Satu bogeman mentah mendarat di sudut bibir Arkana hingga mengeluarkan darah.


“Wajah gueeee” pekik Arkana yang kemudian menatap dingin pada bang Lon yang berhasil melukainya.


Baru saja Arkana akan membalas serangannya, mobil patrol datang karena tadi diam-diam pak Manto sudah menghubunginya. Ketiga preman itu tidak bisa kabur karena banyak polisi yang mengejar mereka.


“Makasih banyak nak kalau nggak ada kamu pasti mereka sudah mengambil bakso saya dan juga merampas uang saya” ucap pak Manto sambil berlutut di depan Arkana.


“Jangan seperti ini pak, saya hanya kebetulan lewat” ucap Arkana kemudian membantu pak Manto berdiri.


“Terima kasih atas kerja samanya pak” ucap salah satu polisi sambil menyalimi Arkana dan pak Manto bergantian.


“Sama-sama pak” ucap Arkana dan pak Manto hampir bersamaan.


“Kalau begitu kami permisi dulu” ucap pak polisi itu kemudian pergi meninggalkan Arkana dan pak Manto.


Setelah polisi pergi, Arkana membantu pak Manto merapikan bangku di depan warung yang sudah tidak beraturan karena perkelahian tadi.


“Pak, boleh buatin saya bakso tiga porsi? Istri saya sedang ngidam pak” pinta Arkana sambil mengatur kursi.


“Oalah kenapa nggak ngomong dari tadi mas, ya sudah saya buatin deh. Tunggu ya” ucapnya terkekeh kemudian masuk ke dalam warungnya untuk membuatkan pesanan Arkana.


Tidak sampai sepuluh menit bakso tersebut sudah siap di dalam kantung kresek lalu pak Manto pun memberikannya pada Arkana.


“Berapa semuanya pak?” tanya Arkana sambil merogoh sakunya celananya mengambil dompet.


“Sudah nggak usah dibayar, kamu sudah menolong saya” tolak pak Manto secara halus.


“Tetap saja pak saya harus bayar, ini sumber penghasilan bapak” ucap Arkana seraya menyodorkan tiga lembar uang seratus ribu, ia tadi sempat melihat bakso di gerobak pak Manto itu masih banyak.


“Tapi ini kelebihan mas” tolaknya.


“Ini sebagai ucapan terima kasih saya pak karena bisa membuatkan istri saya bakso” kilah Arkana.


“Sekali lagi terima kasih mas” ucap pak Manto seraya menerima uang pemberian Arkana.


“Kalau begitu saya pamit dulu pak” ucap Arkana.


“Hati-hati mas”,.


Arkana tersenyum lalu mengangguk, kemudian ia berbalik dan meninggalkan pak Manto yang masih menatapnya.


“Muka gue memar gini, arghh” ringis Arkana saat memakai helmnya kemudian melajukan motornya.


“Tapi ini bakalan jadi alibi gue biar Qania mau sayang-sayangin gue dan bilang, wah Arkana kau sangat romantis demi bakso kau rela terluka untukku” ucap Arkana kemudian tertawa geli di atas motornya.

__ADS_1


...đŸ„€đŸ„€đŸ„€đŸ„€đŸ„€đŸ„€đŸ„€đŸ„€...


Terima kasih sudah membaca 😊😊😊


__ADS_2