Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Kembalinya Rasa Trauma


__ADS_3

Qania terkejut begitu Tristan dengan kuat menahan pintu yang hendak ia tutup.


"Tri-Tri-Tristan," gagap Qania.


"Ya, ini aku. Kenapa hem? Tidak suka melihatku datang? Atau kau takut karena telah melakukan kesalahan?" cecar Tristan.


Qania melangkah mundur begitu Tristan bergerak mendekatinya. Ia masih dalam mode terkejut sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa.


"Beraninya kau berdansa dengan pria lain di hadapanku Qania. Aku sangat tidak suka kau disentuh oleh pria selain aku, mengerti?" gertak Tristan dan Qania pun hanya menganggukkan kepalanya meskipun kurang paham dengan perkataan Tristan.


Qania tersadar begitu betisnya tertahan di meja ruang tamu karena terus melangkah mundur. Tristan menyeringai melihat wajah cemas Qania. Ia pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya lalu menyetel lagu Pink Sweat yang berjudul At My Worst yang ia nyanyikan tadi di restoran.


"Mari kita berdansa Qania," bisik Tristan yang membuat Qania merinding.


Tanpa menunggu persetujuan dari Qania, Tristan meraih tangan Qania dan meletakkan keduanya di bahunya kemudian ia menarik pinggang Qania dan mendekatkan dengan tubuhnya.


Musik pun mulai mengiringi dansa keduanya, namun semakin lama Tristan bertindak semakin agresif dengan menempelkan tubuh mereka yang mana membuat Qania terbelalak dan mulai merasa risih.


"Tristan, bisakah jangan seperti ini?" pinta Qania yang berusaha melepaskan diri namun semakin ia berusaha lepas Tristan justru semakin mempererat pelukannya.


"Kenapa Qania? Tadi saja kau begitu mesra dengan pria itu. Lalu mengapa kau menolakku?" tanya Tristan namun masih terus bergerak mengikuti musik.


"Tristan aku mohon, aku risih jika tubuh kita menempel seperti ini," mohon Qania.


Tristan menulikan telinganya. Ia terus bergerak hingga akhirnya kegiatannya terpaksa berhenti karena Qania menginjak kakinya.


"Qania, kau--"


"Aku tadi sudah bilang untuk berhenti tapi kau berpura-pura tuli," bentak Qania memotong ucapan Tristan.


"Tapi aku--"


"Pulanglah, aku lelah dan ingin istirahat," usir Qania halus.


"Jika aku menolak?" tantang Tristan.


"Tolonglah Tristan ...."


"Dia bebas menyentuhmu lalu kenapa kau risih saat aku menyentuhmu. Kau tidak adil Qania," ucap Tristan tersenyum meremehkan.


"Tidak adil? Apa yang membuatmu berkata seperti itu?" bentak Qania, jujur saja senyuman Tristan membuatnya marah.


"Ya, kau tidak adil. Aku tadi bernyanyi untuk mengungkapkan perasaanku padamu tapi dengan mudahnya kau berdansa dengannya. Maka untuk menghapus jejak sentuhannya di tubuhmu ini, aku harus menghapusnya dengan sentuhanku," ucap Tristan lantang.


"Siapa kau bisa berlaku seperti itu terhadapku, hah? Kau pikir aku ini benda yang disinggahi debu sehingga kau berniat seperti itu?" geram Qania.


"Siapa aku? Aku adalah calon suamimu. Aku adalah pemilikmu. Kau adalah milikku dari ujung kaki sampai ujung rambutmu, semua adalah milikku," bentak Tristan.


"Cih, aku tidak pernah mengatakan kalau aku ini adalah milikmu dan aku tidak pernah mengatakan kalau kita memiliki hubungan. Aku hanya mengatakan perasaanku terhadapmu, bukan menerimamu menjadi kekasihku. Aku rasa ucapanku waktu itu sangat jelas," ucap Qania menggebu-gebu.


"Hahahaha ... begitu ya. Apakah kau tidak ingin menjalin hubungan denganku karena kau juga tidak ingin kehilangan pria itu? Kau menyukaiku dan dia, begitu? Kau menginginkan kasih sayang kami berdua, begitu? Hahaha ... Qania, Qania. Kau ini wanita kekurangan kasih sayang atau ****** hah? Sana sini membiarkan tubuhmu disentuh pria, dasar tidak punya pen--"


Plakk ...


Belum habis Tristan mencaci Qania, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya hingga membuatnya mengerang kesakitan. Tristan menatap bengis pada Qania yang matanya sudah berkaca-kaca namun sorot mata Qania saat ini begitu tajam, mencekam.


"Keluar dari rumahku bangsat, keluar!"teriak Qania sambil menunjuk arah pintu.


"Aku tidak akan pergi," ucap Tristan enteng.


"Kalau kau tidak mau pergi aku akan berteriak dan para warga sekitar sini akan datang dan menyeretmu keluar," ancam Qania.


"Berteriak saja, maka aku akan mengatakan bahwa kita adalah pasangan yang sedang berbuat mesum dan setelah itu kita akan segera dinikahkan, bagaimana hem?"


"Kau ...."

__ADS_1


"Ayolah Qania, tidak perlu munafik. Aku tahu kau adalah wanita yang haus akan kasih sayang dan belaian dari pria semenjak ditinggal suamimu. Tidak usah sungkan denganku, aku bisa memberikan yang kau inginkan. Tidak perlu berpura-pura padaku, buktinya kau pun menikmati ciuman dariku, bukan," ejek Tristan.


Tubuh Qania bergetar hebat menahan emosinya. Tidak pernah ia sangka kalau Tristan akan berkata buruk seperti ini tentang dirinya. Sungguh hari Qania saat ini seakan dicabik-cabik.


"Oh, jadi seperti itu penilaianmu tentangku?" Qania tersenyum seringai. "Aku ini wanita yang haus kasih sayang dan belaian, iya? Dan apa tadi katamu, aku ini ******? Hahahaha ... terima kasih atas pujianmu tuan Tristan Anggara. Ya, aku memang adalah wanita seperti itu, aku menjajakan diriku pada banyak pria dan memberikan cinta pada banyak pria lalu menggantungkan hubungan seperti yang aku lakukan terhadapmu. Lalu kau mau apa jika aku adalah wanita seperti itu, hah?" ucap Qania sambil tersenyum manis namun semakin manis senyumnya semakin menusuk lawan bicaranya.


"Hahaha ... mengaku juga kan kau Qania. Sudahlah, tidak perlu sok suci, wanita yang pernah merasakan surga dunia itu tidak mungkin bisa menahan diri dari sentuhan pria. Aku bisa memberikan kepua-"


Plakk


Satu tamparan lagi Qania hadiahi untuk Tristan.


"Aku mendekatimu dan memiliki perasaan khusus padamu karena kau begitu mirip dengan suamiku, Arkana Wijaya. Kau jangan terlalu percaya diri dengan sikap manisku terhadapmu, aku mendekatimu semata-mata hanya untuk bisa menikmati wajah suamiku dan menebus rinduku. Namun yang terjadi saat ini benar-benar membuatku sadar bahwa kau, bukanlah Arkanaku. Ya, jujur sebenarnya aku menganggapmu sebagai Arkana Wijaya selama ini. Bukan Tristan Anggara, bukan. Aku tidak mudah jatuh cinta karena hatiku hanya untuk Arkana dan kau jangan terlalu percaya diri dengan kedekatan kita. Aku bukan tipe orang yang mudah didekati pria lain. Aku mudah dekat denganmu karena kau memiliki ini-" Qania menunjuk wajah Tristan- "Jika wajahmu tidak mirip dengan suamiku, maka kau adalah orang kesekian kalinya aku tolak, tuan Tristan Anggara," ucap Qania masih memasang senyum di bibirnya.


"Dan kau tahu, Raka sahabatku yang kau maksud itu bahkan mengenalku dengan baik. Sampai saat ini pun dia tahu kalau aku masih begitu mencintai suamiku dan dia tidak pernah mengatakan apapun terhadapku seperti kau yang mencaciku tadi. Dia tahu aku pernah jalan denganmu namun dia pun tanggap karena kau begitu mirip dengan suamiku. Dia sangat menjaga perasaanku dan bahkan aku sudah ribuan kali menolaknya namun sikapnya tetap sama. Dia tahu banyak pria yang mendekatiku tapi dia tetap dengan caranya sendiri mendekatiku dan tidak pernah mengataiku wanita ****** ataupun wanita yang haus belaian dan kasih sayang. Jadi tuan Tristan Anggara, jangan terlalu percaya diri dengan dirimu itu, kau hanyalah pria berwajah sama dengan suamiku," ucap Qania panjang lebar.


"Lalu apa artinya ucapan cintamu padaku Qania?" bentak Tristan.


"Kau akan tahu suatu saat nanti. Namun kali ini aku kecewa padamu Tristan. Arkanaku tidak pernah mengatakan satu pun kata yang buruk terhadapku saat dia melihatku dekat dengan pria lain. Dia bahkan tidak memarahiku disaat dulu Raka tidak sengaja mencium rambutku. Arkanaku pun tidak marah disaat aku berkumpul dengan pria lain bahkan dengan banyak pria, dia justru berbaur dan mendekati semua temanku untuk meminta mereka menjagaku saat dirinya sedang tidak bisa bersamaku. Arkanaku begitu manis, bukan. Dan kau, kau mematahkan hatiku karena sudah berkata seburuk itu terhadapku. Arkanaku bisa marah nanti. Serigalaku itu bisa mengamuk dan mencabik-cabik tubuhmu jika tahu kau membuatku sakit hati. Dan mungkin suatu saat nanti pun jika kau menyadari ucapanmu malam ini terhadapku kau pun akan melukai dirimu sendiri Tristan Anggara," ucap Qania penuh penekanan sambil meneteskan air mata mengenang kasih sayang Arkana terhadapnya.


"Ah, kan. Mengenang suamiku membuatku gagal move on terus. Dia terlalu hebat untuk dicintai memang," ucap Qania sambil mengusap air matanya.


"Qaniaaa ...." teriak Tristan. "Aku tidak suka kau memuji pria lain selain diriku Qania. Sekalipun itu suamimu sendiri. Aku tahu aku salah sudah mengatakan hal buruk padamu tadi, tapi itu semua karena aku terlalu kesal padamu yang disentuh oleh pria lain. Kau adalah milikku Qania, kau tidak boleh disentuh oleh pria lain, aku tidak suka," ucap Tristan lirih. Ia sangat menyesal sudah mengatakan hal tersebut. Apalagi saat melihat Qania tersenyum namun matanya menangis, entah mengapa hati Tristan seolah sedang ditusuk ribuan belati.


Qania tersenyum getir. "Berhenti menganggap ku ini adalah milikmu karena aku ini hanyalah milik Arkana Wijaya," tandas Qania.


Tristan menyeringai. "Kalau begitu, malam ini juga kau akan kutandai sebagai milikku. Bersiaplah."


Qania sedikit ngeri melihat senyum Tristan, namun ia berusaha untuk terlihat berani.


"Kau mau apa?" tanya Qania dengan nada sedikit membentak.


"Menurutmu? Aku ingin menandaimu agar tidak ada satupun lagi pria yang akan mendekatimu," ucap Tristan sambil mengayunkan tangannya membelai rambut Qania.


"Tristan, jangan macam-macam," ancam Qania.


"Tidak kok, hanya satu macam saja," ucap Tristan sambil melangkah maju mendekati Qania yang mulai mundur.


Tristan mencoba untuk mencium Qania namun Qania terus menghindar hingga akhirnya ia kehabisan stok kesabarannya ia pun menampar Qania hingga membuat pipi itu memerah dan membuat Qania menitikkan air matanya.


"Maaf, tapi kau terus saja melawan," ucap Tristan kemudian langsung membopong tubuh Qania masuk ke dalam kamar.


Qania terdiam saat Tristan mulai menyentuh kulit tubuhnya. Tak ada sedikitpun gerakan dan itu membuat Tristan lebih leluasa untuk menyentuh Qania.


Hahaha ... Qania, Qania. Tadi kau berusaha menolak tapi lihat sekarang saja kau bahkan tidak menolak sentuhanku.


"Kau tahu Qania, yang dibawah sini selalu gelisah tiap kali berdekatan denganmu. Selama ini aku terus berusaha menahannya tapi tidak untuk kali ini," ucap Tristan kemudian mendekatkan dirinya untuk mencium bibir Qania.


Baru saja Tristan akan menempelkan bibirnya ke bibir Qania, ucapan yang lolos dari bibir Qania membuat Tristan terhenti.


"Ju-Juna."


"Juna? Siapa lagi itu Qania? Tolong jangan katakan masih ada pria lain yang kau sembunyikan dariku," erang Tristan.


"Ju-Juna, ja-jangan mendekat. Ku mohon," ucap Qania dengan air mata yang mulai tumpah.


"Sial, siapa pria itu hah? Qania, jangan coba-coba menipuku dengan menyebutku sebagai pria lain hanya untuk membuatku marah padamu. Mari kita nikmati malam ini, baby," ucap Tristan kemudian mendekatkan bibirnya lagi.


Baru saja, baru saja bibir itu akan menempel kini kembali harus terhenti karena suara ketukan dari luar. Sambil mengumpat Tristan berjalan keluar, namun dalam hati ia berharap yang datang itu adalah warga sekitar agar mereka menyangka Tristan dan Qania adalah pasangan mesum dan langsung mereka nikahkan malam ini juga.


Tristan membuka pintu, namun ketika kedua netranya bertemu dengan netra sang tamu, keduanya saling menatap bengis.


"Kau?" ucap keduanya bersamaan.


"Ada urusan apa kau datang kemari?" sungut Tristan.

__ADS_1


"Harusnya gue yang nanya, lo ngapain disini?" balas Raka.


"Gue disini karena wanita gue ada disini," jawab Tristan.


"Jangan sembarang lo kalau ngomong. Qania itu bu--"


"Arkanaaaa tolong akuuuuu."


Teriakkan Qania sukses membuat Raka dan Tristan terperanjat kaget. Dengan kasar Raka mendorong tubuh Tristan hingga punggungnya membentur dinding.


Raka berlari masuk ke kamar Qania dan mendapatinya sedang meringkung di sudur ranjang sambil memeluk kedua lututnya. Raka pun langsung naik ke atas tempat tidur untuk menenangkan Qania yang terus memanggil Arkana.


"Qania lo kenapa?" tanya Raka khawatir kemudian melirik Tristan yang sedang menatap mereka di dekat tempat tidur.


"Arkana tolong," lirih Qania.


Raka terkejut, ia langsung menatap Tristan seolah meminta jawaban. Hatinya sudah siap jika harus mendengar kenyataan yang ia takutkan selama ini.


"Dia sedari tadi meracau menyebutkan nama seseorang dan sekarang malah memanggil suaminya yang sudah tiada. Jangan-jangan dia sudah gila," celetuk Tristan.


Raka bernapas lega kemudian ia kembali menatap Qania yang masih memanggil Arkana.


"Qania, lo kenapa? Arkana nggak ada, ini gue Raka," ucap Raka berusaha menenangkan Qania.


"Ra-Raka? Kamu datang Ka? Mana Abdi, Baron dan Yoga?" tanya Qania yang langsung masuk ke dalam pelukan Raka.


"Siapa lagi itu?" keluh Tristan.


"Mereka juga nggak ada Qan. Lo kenapa sebenarnya?" tanya Raka semakin cemas sambil membelai rambut Qania.


"Raka, Juna dia-dia, hiksss," tangis Qania pecah di dalam dekapan Raka.


Raka berpikir keras dengan apa yang sedang di alami oleh Qania.


Juna? Siapa Juna? Kenapa Qania menyebut nama Abdi, Baron dan Yoga? Juna, Juna, Juna? batin Raka.


Raka membelalakkan matanya saat satu kejadian hinggap di pikirannya. Dengan cepat ia berdiri dan memberikan satu bogeman di perut Tristan hingga pria itu menabrak dinding.


"Apa-apaan lo?" bentak Tristan sambil memegangi perutnya.


"Bangsat! Lo apain Qania hah?" geram Raka.


"Nggak gue apa-apain," jawab Tristan.


"Jangan bohong. Lo pasti sudah melakukan sesuatu ke Qania sehingga dia jadi kayak gini. Lo pasti berusaha melecehkannya dan melakukan kekerasan padanya, kan?" teriak Raka kemudian kembali meninju perut Tristan.


Sial! Darimana dia tahu?


"Bangsat lo! Qania itu punya trauma yang berbau pelecehan dan tindak kekerasan dan lo udah mendatangkan kembali rasa trauma itu. Sialan, bangsat, anj*ng lo," maki Raka dengan bertubi-tubi menghujam tubuh Tristan dengan pukulannya.


"Hajar dia Ghai, bunuh dia. Dia-dia merobek pakaianku dan menamparku. Habisi dia Ghai," teriak Qania yang membuat Raka berhenti memukuli Tristan.


"Ghai?" beo Tristan dan Raka.


"Oh tidak, berarti benar Qania saat ini kembali trauma. Sial! Dia mengira ini kejadian waktu kami KKN dulu dan Ghaisan datang menolongnya saat Juna akan memperkosanya. Bangsat lo Tristan!" geram Raka kemudian segera naik ke tempat tidue.


Namun belum sempat Raka menyentuh Qania, Qania langsung ambruk dan hilang kesadaran. Raka semakin panik dan Tristan, ia terdiam tak mampu berucap sepatah kata pun karena menyadari kalau saat ini ia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal yang bisa membuat jiwa Qania terguncang.


Maafin aku Qania, maaf.


.... . . . ...


***Terima kasih sudah membaca 🤎🤎🤎🤎


...❣❣❣❣❣❣❣❣***...

__ADS_1


__ADS_2