Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Karena Dia Menantumu


__ADS_3

Sekembalinya Papa Setya ke kamar rawat Qania, Syaquile pun permisi untuk mengantar Lala pulang ke kontrakan. Tadi di ruangan mereka melakukan panggilan video bersama Mama Alisha dan juga Papa Zafran yang sudah sampai di kabupaten seberang. Tinggallah Qania dan mertuanya di kamar tersebut. Papa Setya menarik bangku lalu duduk di dekat Qania.


“Berikan Papa penjelasan tentang kasus ini, Qania,” ucap Papa Setya dengan mimik wajah tegas.


“Papa ih, aku merasa seperti sedang diinterogasi,” canda Qania.


“Qania, Papa serius. Kamu memangnya mau dua temanmu itu berlama-lama di kantor polisi?”


“Mereka akan segera bebas Pa. Dan ya, Qania nggak mungkin sembunyiin ini dari Papa. Sebenarnya alasan aku magang dan sampai terjadinya insiden hari ini itu saling terkait Pa. Maaf selama ini aku menyembunyikan ini dari kalian. Jadi, aku udah lama diminta pak Erlangga untuk magang di kantor itu. Ada hal yang harus aku dapatkan dari sana. Awalnya aku nggak tahu kalau ini adalah misi besar. Tapi setelah Pak Erlangga menceritakan kalau ini menyangkut keadilan dua orang yang telah tiada karena ulah Pak Handoko, maka aku bersedia Pa ....”


Qania pun mulai menceritakan tentang adik pak Erlangga yang bernama Angga dan asisten pribadinya yang tiada karena ulah pak Handoko. Ia juga menceritakan tentang mengapa ia mengambil langkah berani seperti ini. Qania tidak bisa berlama-lama disana dengan sikap mesum pak Handoko padanya. Terlebih lagi setelah ia mengetahui kasus Clara, ia tidak ingin menjadi Clara selanjutnya.


Qania pun mengatakan bahwa jika ia bisa menyelesaikan misinya maka ia dinyatakan selesai magang. Dan itulah yang membuat Qania semakin terpacu untuk segera menyelesaikan misinya. Ia ingin segera menyelesaikan kuliahnya dan kembali ke rumah bersama keluarganya dan juga Arqasa.


Namun, Qania tidak mengatakan alasan yang sebenar-benarnya mengapa ia mau mengambil misi ini. Itu hanya rahasia baginya dan juga pak Erlangga sampai tiba waktunya untuk ia membuktikan sendiri kebenarannya.


Mendengar cerita Qania membuat papa Setya banyak berekspresi. Ia bangga, sedih, terharu, marah dengan sikap mesum bos tempat Qania magang dan juga lega karena Qania mampu menjaga dirinya.


“Itu semua benar, bapak Setya Wijaya.”


Qania dan papa Setya langsung mengalihkan pandangan mereka pada sosok yang sedang berdiri di pintu dan di tangan salah satunya sedang memegang keranjang buah.


“Pak Erlangga, Pak Agus, Bu Maharani,” gumam Qania mengabsen satu per satu orang yang ada disana. Namun dua orang yang tidak ia kenali.


Papa Setya mengerutkan keningnya, sedang menerka sosok yang sangat familiar baginya.


“Erlangga?” tanya Papa Setya.


“Ya, jangan bilang kau sudah lupa padaku ya,” ucap pak Erlangga.


Papa Setya tersenyum kemudian ia segera berdiri menyambut tamu yang datang menjenguk Qania. Ia mengajak mereka untuk duduk di sofa dan ia juga menerima buah tangan dari wanita cantik yang wajahnya sangat familiar bagi Qania.


Wanita paruh baya yang terlihat sangat elegan itu berjalan mendekati Qania bersama pria yang Qania duga adalah suaminya. Ia memperlihatkan senyuman manisnya kemudian duduk di bangku yang tadi papa Setya duduki sementara pria bersamanya berdiri disampingnya.


“Gimana keadaan kamu Nak?” tanya wanita tersebut.


“Alhamdulillah, baik Bu,” jawab Qania.


“Saya Rianti, Mamanya Julius. Dan ini suami saya, Pandu, papanya Julius,” ucapnya memperkenalkan.


“Oh maaf saya tidak tahu Om, Tante. Pantas saja wajah Tante sangat familiar, ternyata mirip dengan Julius,” ucap Qania.


Tante Rianti tersenyum, “Qania, kata Julius kamu tadi sempat kritis Nak. Maafkan kami semua ya,” ucapnya lirih.


“Jangan meminta maaf Tante, semua sudah baik-baik saja,” ujar Qania.


“Terima kasih ya Nak, semoga usahamu dan Julius tidak sia-sia,” ucap Om Pandu.


Qania hanya menjawab dengan senyuman.


“Oh ya, kenapa harus Qania yang kau minta menjalankan misi ini huh?” tanya Papa Setya sedikit kesal pada sahabatnya ini.


“Karena dia menantumu, menantu seorang Setya Wijaya,” jawab enteng pak Erlangga membuat papa Setya terbengang.


“Kau?!”


“Hei aku hanya mencari aman saja. Dengan memiliki anak didik yang orang tuanya seorang pengacara hebat tentu saja aku bisa tertolong. Apalagi menantumu itu sangat cerdas dan dipadukan denganmu yang sangat hebat, maka semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Bukankah aku sangat jenius,” ucap Pak Erlangga yang membuat papa Setya menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sangat, kau sangat jenius,” ucap papa Setya namun wajahnya begitu masam. “Ini namanya kau menjebakku. Kasusmu kau limpahkan padaku dan Qania. Dasar brengsek!” umpat papa Setya namun hanya ditanggapi tawa oleh mereka.

__ADS_1


“Sesekali lah,” ucap pak Erlangga yang membuat papa Setya mendengus.


“Oh ya, aku harus mengurus dua bocah yang sedang berada di kantor polisi itu,” ucap papa Setya mulai gelisah.


“Santai aja. Julius tadi bilang nggak usah terburu-buru. Dia dan Raka masih ingin merasakan bermalam di kantor polisi,” ucap Tante Rianti sambil memijat pelipisnya.


“Kenapa?” tanya papa Setya heran, ia semakin yakin bahwa semua ini sudah diatur oleh Qania dan Julius.


“Karena mereka memiliki bukti katanya,” jawab pak Agus.


“Ya sudah, kami pamit dulu ya. Besok saja mengurus kasusnya. Dan untukmu Qania, bapak tidak akan ingkar janji. Bahkan jika kau sembuh kau bisa langsung ujian kalau sudah siap,” ucap Pak Erlangga dengan mengerlingkan matanya.


Qania yang mendengar hal tersebut menjadi sangat senang. Ternyata langkah besar yang ia ambil bisa membuat jalannya semakin dekat ke garis akhir perkuliahannya.


“Baik Pak, setelah semuanya selesai maka saya akan langsung ujian,” sahut Qania bersemangat.


“Sudah sangat ingin pulang kampung ya,” ledek Bu Maharani.


Qania tertawa, ia memang sudah sangat ingin mengakhiri perkuliahannya dan juga ia ingin segera menyelesaikan persoalan bersama Tristan ....


Tristan? Kemana dia? Kenapa dia tidak mengabariku seharian ini? Tidak biasanya, ucap Qania dalam hati.


“Hei, kenapa melamun?” tegur Tante Rianti.


“Eh enggak kok Tant,” jawab Qania.


“Ya sudah kami pamit ya. Selamat beristirahat,” ucap Tante Rianti.


Setelah semuanya pergi, Papa Setya kembali mendekati Qania. Ia sudah sangat penasaran dari tadi.


Baru saja ia duduk, Qania langsung membuatnya tertohok.


“Aku dan Julius sudah merencanakan semuanya ini Pa. Dan aku sudah meminta Julius untuk memasang kamera di ruangan itu dan juga mematikan cctvnya sebelum kejadian itu, kalau Papa mau tahu,” ucap Qania yang membuat mulut papa Setya yang baru saja akan bertanya langsung terkatup.


Papa Setya bertepuk tangan, ia memang mengakui strategi Qania kali ini. Sudah sangat pantas mendampinginya menjadi pengacara.


“Menantu papa memang yang terbaik,” puji Papa Setya. “Tapi Papa tidak suka caramu kali ini. Apa-apaan kau ini, mengumpan diri sendiri. Kalau sampai Julius terlambat, kau yang akan habis Nak,” omel Papa Setya.


“Hihi, maaf Pa. Semua ini untuk kebahagiaan kita dan juga Arka ....”


Ucapan Qania terhenti karena sekilas ia seperti melihat sesuatu.


“Arka?” tanya Papa Setya membuat Qania tersadar ia hampir kecoplosan soal Arkana dan Tristan.


“Lupakan soal itu Pa. Pa, ada seseorang yang sedang menguping di balik pintu kalau Papa mau tahu,” ucap Qania. Ia sangat yakin kalau orang yang tadi mengintip dari pintu yang masih setengah terbuka itu adalah asisten Revan.


“Siapa Nak?” tanya Papa Setya langsung memandang ke arah pintu.


“Asisten pak Handoko Pa. Oh ya, aku akan mengirim buktinya ke ponsel Papa. Biar Papa yang mengurus kasusnya. Aku masih ingin rebahan Pa. Masih ada kasus yang lebih besar lagi dari ini nanti,” ucap Qania kemudian mengambil ponselnya dan mengirimkan video tersebut ke nomor Papa Setya.


“Pa, aku ngantuk banget,” ucap Qania sambil menutup mulutnya yang menguap.


“Kamu tidur aja ya Nak, Syaquile akan segera sampai,” ucap Papa Setya membantu Qania berbaring kembali.


Tak lama kemudian Qania tertidur. Sedari tadi ia sudah sangat mengantuk karena efek obatnya. Namun ia menahannya karena tidak enak dengan orang-orang yang datang menjenguknya.


Setelah memastikan Qania tertidur, Papa Setya berjalan ke depan dan tak mendapati siapapun disana karena memang saat Qania sempat beradu pandang dengan asisten Revan, ia langsung saja pergi dari sana. Asisten Revan baru menyadari bahwa bosnya dan Qania di rawat di rumah sakit yang sama.


“Kali ini sepertinya Pak Handoko mendapatkan lawan yang sebanding. Setya Wijaya, aku sudah menyelidiki tentangnya dan ternyata dia salah satu pengacara hebat dan terkenal. Qania memang bukan orang sembarangan. Dan ternyata dibelakangnya ada orang-orang hebat lainnya. Tapi apa motif dari para dosen itu pada Pak Handoko?” gumam asisten Revan sambil berjalan ke ruang rawat pak Handoko.

__ADS_1


Ruang rawat pak Handoko dan Qania tidaklah berjauhan. Searah namun dibatasi oleh beberapa kamar lainnya. Jika Qania di rawat di kamar 08 maka pak Handoko di rawat di ruangan 016.


Asisten Revan masuk ke ruang rawat pak Handoko, disana ada istri bosnya yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah. Sementara pak Handoko sudah tertidur.


“Karena kau sudah datang, saya akan kembali ke rumah. Titip suami saya,” ucapnya dengan gaya angkuh dan asisten Revan pun hanya mengangguk.


Begitu pintu tertutup, Pak Handoko langsung membuka matanya. Sedari tadi ia hanya berpura-pura tidur agar tidak berdebat dengan istrinya. Kabar tentang ia yang mencoba melecehkan karyawan di kantornya sudah sampai ke telinga sang istri.


“Apa yang kau dapatkan?” tanya Pak Handoko.


Asisten Revan yang masih berdiri di dekat pintu pun sedikit terkejut. Ia lalu bergegas mendekati pak Handoko.


“Qania, dia ternyata menantu Setya Wijaya seor—“


“Setya Wijaya? Setya Wijaya pengacara dari Sulawesi?” potong pak Handoko.


“Bagaimana Anda bisa tahu?” tanya asisten Revan sedikit kaget.


“Saya memiliki daftar nama pengacara hebat di negara ini. Ah, jadi lawanku kali ini adalah dia. Sudah sangat lama saya menantikan kesempatan ini. Saya sangat ingin tahu kinerja pengacara hebat itu. Lalu siapa saja orang-orang yang ada di belakang Qania? Saya tidak pernah bersinggungan dengan Setya Wijaya. Jadi saya yakin orang yang ada dibalik ini semua sengaja memanfaatkan Qania karena status orang dibelakangnya,” ucap Pak Handoko.


“Saya tidak tahu pasti. Hanya saja saya sudah mencari tahu siapa saja dosen yang datang menjenguk Qania tadi. Ada Pak Erlangga dan Pak Agus Setiawan beserta istri mereka dan juga ternyata Julius merupakan keponakan dari kedua dosen tersebut. Ini masih menjadi misteri bagi saya karena yang merekomendasikan mereka untuk magang di kantor adalah Pak Erlangga sendiri,” jawab asisten Revan.


“Pak Erlangga? Saya sedikit tahu tentang dosen yang ahli dalam bidang hukum itu. Tapi untuk bersinggungan dengannya saya sama sekali belum pernah,” ucap pak Handoko juga mulai bingung.


“Untuk masalah itu, saya akan mencari tahu. Dan juga kedua pria yang memukuli Anda sekarang sudah berada di kantor polisi. Kemungkinan pak Setya Wijaya yang akan menangani kasus mereka,” ucap asisten Revan.


“Ya, ya, ya. Sekarang kau selidiki dosen itu. Dan juga untuk kasus Qania dan teman-temannya saya akan mengurusnya sendiri. Saya tahu lawan kali ini berat. Tapi ada seribu satu cara untuk bisa memenangkan kasus ini,” ucap angkuh pak Handoko.


“Baik Pak, saya permisi.”


Asisten Revan pun meninggalkan pak Handoko sendirian. Dalam keheningan Pak Handoko teringat akan dokumennya yang hilang dan ia duga itu diambil oleh Qania.


“Apa target mereka sebenarnya itu adalah dokumen milik Angga? Jika benar, salah satu dari mereka pasti memiliki kaitan dengannya. Ini gawat. Jika benar begitu maka aku dan Alvindo dalam bahaya sekarang. Jangan sampai dokumen itu jatuh ke tangan Setya Wijaya,” ucap resah pak Handoko. Ia pun kembali duduk bersandar dan mengambil ponselnya.


“Sial! Kenapa nomor Alvindo tidak bisa dihubungi,” umpat pak Handoko.


Pak Handoko pun menelepon anak buahnya.


“Geledah kontrakan Qania. Temukan dokumen penting disana. Dokumen itu berisi file sekitar lima atau enam tahun yang lalu.”


Setelah berbicara, tanpa menunggu jawaban dari anak buahnya pak Handoko langsung mematikan ponselnya. Ia teringat akan seseorang yang mungkin bisa menyambungkannya dengan tuan Alvindo.


Sayang sekali nomor telepon sekretaris tuan Alvindo juga tidak bisa dihubungi. Ia pun mencoba menghubungi seseorang.


“Selamat malam,” sapanya.


“Ya Pak, selamat malam. Ada apa? Ada yang bisa saya bantu?”


“Apakah kamu bisa menghubungkan saya dengan Alvindo?”


“Maaf Pak, Om Alvin sedang dalam perjalanan ke negara I dan juga saya dan Marsya sedang berada di negara I. Mungkin beberapa jam lagi beliau akan sampai. Marsya terkena tembakan di bandara saat kami akan pulang sehingga om Alvin memutuskan untuk langsung kemari.”


“Ya ampun! Baiklah Tristan. Setelah Alvindo sampai disana, katakan padanya untuk segera menghubungi ku.”


“Baik Pak.”


Panggilan pun terputus, baik Tristan dan pak Handoko sama-sama terdiam. Tristan mencoba menghubungi nomor Qania. Berdering namun tak ada jawaban sebab ponsel Qania dalam mode diam dan orangnya kini sedang berpetualang di alam mimpi.


Tristan mengerang frustasi. Kali ini dia tidak bisa berpikir jernih. Meninggalkan Marsya disini dan menemui Qania tapi ia tak bisa karena Marsya sangat membutuhkannya.

__ADS_1


Marsya sudah dipindahkan ke ruang rawat sejam yang lalu setelah operasinya berjalan lancar. Namun sampai saat ini ia masih belum siuman pengaruh obat bius.


“Qania, gue rindu sama Lo,” lirih Tristan sambil memandangi foto Qania di ponselnya.


__ADS_2