Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Menyadarinya


__ADS_3

"Maafkan aku"


Begitulah isi pesan dari Arkana yang dibaca oleh Qania.


"Hanya melalui pesan singkat?" gerutu Qania yang baru saja bangun dari tidurnya semalam.


Qania menaruh ponselnya sembarangan kemudian bergegas mandi karena hari ini ada kuliah pagi.


Sementara Arkana sibuk menatap layar ponselnya di rumah sakit, menunggu balasan dari Qania.


"Ah sial, gadis itu kemana sih" umpat Arkana.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dan Arkana menyahutinya dengan menyuruhnya masuk. Terlihat seorang dokter tampan seumuran papanya dan seorang suster dengan berbagai berkas di tangannya masuk sambil memberi salam dan di balas oleh Arkana.


"Bagaimana perasaan anda hari ini?" tanya sang dokter dengan ramah.


"Sudah baikan dok" jawab Arkana ramah pula.


"Jadi menurut hasil pemeriksaan, siang nanti anda sudah boleh pulang. Tetapi dua hari lagi ada jadwal untuk kontrol, jadi saya harap anda datang untuk mengontrol kondisi anda ya" ucap dokter tersebut.


"Terima kasih dok, saya pasti akan datang nanti" jawab Arkana dengan senyum sumringah.


Setelah dokter bersama suster tersebut keluar, Arkana berpikir untuk menyusun rencana permohonan maaf pada Qania. Sementara ia sedang sibuk berpikir, Syeril datang dan langsung masuk serta duduk di samping Arkana.


"Selamat pagi sayang" sapa Syeril namun hanya dibalas tatapan aneh oleh Arkana.


"Gimana kabar kamu hari ini?" tanya Syeril manja.


"Aku baik" jawab Arkana singkat.


"Kok gitu sih jawabnya" rengek Syeril.


"Gue nggak mau basa-basi, sebaiknya lo keluar dari sini sekarang" usir Arkana dengan nada penuh penekanan pada kata sekarang.


"Hei beb kamu kenapa sih?" tanya Syeril bingung.


"Gue bilang pergi ya pergi. Jangan sampai gue main kasar" teriakArkana geram.


Syeril menatap takut pada Arkana sambil menitikkan air matanya, kemudian pergi berlalu. Syeril tanpa sengaja menabrak seseorang yang tidak lain adalah Rizal. Keduanya beradu tatap sesaat, namun Rizal tidak ingin pusing terhadap wanita di depannya itu sehingga ia langsung pergi ke arah kamar Arkana.

__ADS_1


"Ngapain lo semalam nyuruh gue kesini? Udah ingat sama teman lo sekarang?" ucap Rizal yang berdiri di ambang pintu kamar Arkana sambil sebelah tangannya bersandar di daun pintu.


"Santai bro, lo nggak mau masuk dulu. Ayo duduk disini" panggil Arkana.


Rizal menatap horor pada Arkana kemudian membuang napas kasar lalu berjalan ke arah Arkana. Arkana cengengesan melihat tingkah Rizal.


"Maaf untuk sikap gue akhir-akhir ini" lirih Arkana saat Rizal sudah duduk di bangku di sampingnya.


"Oh lo udah nyadar nih" hardik Rizal.


"Iya" tutur Arkana hampir tak terdengar oleh Rizal.


"Terus ngapain nyuruh gue kemari?" tanya Rizal dengan ketus, sebenarnya ia sudah tidak kesal lagi, hanya saja ia ingin agar Arkana tidak bertindak bodoh lagi.


"Gue mau minta tolong nih, gue mau minta maaf sama Qania. Tapi gue nggak tahu harus mulai darimana" cerita Arkana.


"Terus Syeril?" tanya Rizal.


"Gue nggak ada urusan lagi sama dia, gue kemarin itu hanya bingung sama perasaan gue sendiri. Oh iya, lo semua udah tahu tentang Syeril tapi nggak ngasih tahu ke gue, gimana sih" tiba-tiba Arkana teringat ucapan papanya tentang Syeril.


"Ya kita pikir lo udah bahagia sama Qania, ngapain bahas soal nenek lampir itu" ucap Rizal kesal saat mengingat sosok Syeril.


"Ya..ya..ya.. Atau jangan-jangan lo emang masih cinta sama dia?" selidik Rizal.


"Gue baru sadar, cuma Qania yang gue cinta dan sayang. Gue udah dua kali ngelakuin hal bodoh dan membuat Qania ninggalin gue, kali ini nggak lagi. Tolong bantuin gue Zal" pinta Arkana dengan penuh permohonan.


"Baiklah, gue akan bantu lo. Tapi gue nggak bisa jamin kalau Qania mau maafin elo" ucap Rizal.


"Thanks bro" Arkana tersenyum sumringah.


"Terus apa rencana lo sekarang?" tanya Rizal penasaran.


"Rencana awal gue mau minta tolong lo ke rumah Qania, nanyain soal gue gitu tapi sama orang tuanya. Gue mau mastiin dulu nih apakah orang tua Qania udah tahu soal ini atau belum, setelah itu baru ke rencana selanjutnya" jelas Arkana.


"Jadi lo nyuruh gue gitu ketemu sama orang tua Qani? Gue mah ogah ya" tolak Rizal.


"Please Zal, orang tua Qania baik kok. Mereka sangat ramah dan bersahabat banget. Mau ya, please" pinta Arkana.


"Terus kalau disana ada Qania gimana?" tanya Rizal.

__ADS_1


"Sebentar dia akan masuk kampus, lo sebaiknya bersiap ke rumahnyasekarang. Gue tungguin di rumah ya, gue udah mau pulang juga nih tinggal tunggu bokap" ucap Arkana sambil melihat jadwal kuliah Qania di ponselnya.


"Lo kok bisa tahu soal Qania mau masuk kampus sih?" selidik Rizal.


"Gue punya jadwalnya, hehe" jawab Arkana terkekeh.


"Dasar bucin" ledek Rizal.


"Emang lo enggak gitu sama si Gea?" tanya Arkana.


"Ya enggak lah, gue mana tahu soal dia kuliah jam berapa dan jadwalnya boro-boro. Gue tahunya cuma kalau dia tiba-tiba minta di antar atau dijemput doang" cerita Rizal.


"Lo kurang perhatian tuh" timpal Arkana.


"Bukan gue kurang perhatian, tapi emang elonya yang udah bucin sama Qania. Lo nggak ingat apa waktu lo ngebuang waktu cuma buat ngintai Qania kemana-mana?" tegas Rizal.


"Oke-oke gue akuin. Ya sudah, lo siap-siap gih ke rumah Qania" perintah Arkana.


"Nggak nunggu lo keluar aja, sekalian ngantar pulang gitu?" tanya Rizal.


"Nggak usah, gue sama bokap aja" tolak Arkana.


"Ya sudah, gue ke rumah Qania dulu" Rizal mengalah.


"Oke, hati-hati" ucap Arkana.


"Yoi" ucap Rizal sambil berbalik arah.


Saat Rizal sampai diambang pintu, Arkana kemudian memanggilnya sehingga ia berhenti melangkah dan berbalik badan lagi.


"Zal" panggil Arkana.


"Ya, ada apa lagi hemm?" tanya Rizal berkacak pinggang di pintu.


"Thanks ya" ucap Arkana dengan melempar senyum manis membuat wajah tampannya terekspos.


"Hemm" Rizal menjawab dengan deheman kemudian membalas senyum Arkana.


Setelah Rizal pergi, Arkana segera menelepon papanya agar datang untuk menjemputnya pulang ke rumah.....

__ADS_1


__ADS_2