Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Move On Manda


__ADS_3

Hari ini adalah hari peresmian masjid yang mereka bangun bersama para warga, dan juga ada acara makan-makan yang disiapkan oleh kesepuluh mahasiswa itu meski pun hanya ala kadarnya saja. Disana juga ada banyak warga dusun berkumpul, untuk bersama-sama merayakan dan membersihkan area sekitar masjid yang mereka sebut kerja bakti.


Saat ini mereka yang baru saja kerja bakti sedang mencuci tangan mereka di tempat wudhu dengan mengantre karena hanya disediakan tiga di bagian laki-laki dan tiga di bagian perempuan.


Qania, Elin, Manda dan bu Karni yang tengah menyiapkan makanan tersebut sudah lebih dulu membersihkan tangan mereka setelah kerja bakti tadi. Disana sudah terdapat tenda dan juga terpal sebagai alas mereka duduk di tanah nanti saat makan siang bersama guna menjalin keakraban.


“Manda, kamu kesini deh” panggil Qania dengan panik.


Sementara Manda yang tengah mengatur makanan di atas terpal itu merasa terkejut dengan melihat ekspresi panik Qania.


“Ada apa sih Qan?” Tanya Manda sambil berjalan mendekati Qania yang tengah mengatur makanan di meja bersama bu Karni sementara Elin mengatur di terpal bersama Manda tadi.


“Kamu lagi datang bulan?” Tanya Qania sarkas.


“Eh, harusnya sih udah karena udah tanggalnya” jawab Manda.


“Ya iyalah, kan udah tembus” celetuk Qania.


Manda sontak mengangkat rok panjangnya dan menarik bagian belakang untuk melihatya.


“Haaah, ini sejak kapan?” pekiknya.


“Baru kayaknya” jawab Qania karena ia juga barusan melihatnya.


“Pantas dari tadi perut gue rasanya nyeri, gue gimana nih Qan?” Tanya Manda mulai gelisah, ia takut akan di lihat oleh para pria disana.


“Lo balik aja deh Man, lo ganti rok lo dan sebaiknya elo istirahat karena dari tadi gue dengar elo mengeluh sakit perut” sambar Elin yang ikut bergabung.


“Iya Elin benar” timpal Qania.


“Yah gue nggak bisa ikut peresmian dong” ucap Manda lemas.


“Tenang, aku fotoin deh kamu dulu, nih pakai jaket aku aja buat nutupin dulu” ucap Qania sembari melepaskan jaketnya.


Ada rasa tidak ikhlas sebenarnya di hati Qania karena memberikan jaket yang sebenarnya milik tunangannya itu di pakai oleh orang lain, namun apa boleh buat kalau ternyata ada yang sangat membutuhkannya.


“Makasih Qan” ucap Manda sambil melilitkan jaket tersebut di pinggangnya.


“Tenang, entar gue bawain lo makanan ke rumah” hibur Elin.


“Yah, momen datang tamu kok nggak pas banget ya” keluh Manda.


“Kasihan juga sih. Emm, gini deh kamu ikut makan-makannya dan duduk aja di batu itu” Qania menunjuk batu yang cukup besar di dekat sumur.


“Setelah itu kamu balik deh, tapi setelah aku ngambil dokumentasi. Kasihan juga kalau kamu nggak ada di acara terakhir program satu kita” lanjut Qania.


“Elo the best deh Qan” Manda mengacungkan dua jempolnya.


Tak lama setelah itu, semuanya sudah berkumpul dan duduk di atas terpal sambil mengambil makanan masing-masing tanpa ketinggalan candaan mereka. Rasanya Qania tidak tega jika tidak mengambil gambar itu, momen dimana keakraban antara mereka dan para warga yang terlihat sedang tertawa bersama.


Qania mendekat sambil mengarahkan kameranya ke arah para warga, beberapa foto ia ambil tanpa memberitahu agar kesannya lebih natural dan setelah itu ia meminta mereka untuk melihat ke arah kamera.


Puas dengan hasil tangkapan gambarnya, sebenarnya bukan hanya dirinya saja melainkan ia bergantian dengan Prayoga untuk mengambil gambar karena ia tidak ingin ketinggalan sesi dokumentasi itu, membuat Qania tak berhenti memandangi hasil dari kameranya itu.


“Woaah ini mah keren semua” takjub Qania membuat Elin yang ada di dekatnya menjadi penasaran.


“Qan, lihat dong” pinta Elin.


“Gue juga dong” wajah Manda yang pucat dan nyeri hebat di perutnya tidak membuat gadis itu mau ketinggalan.

__ADS_1


“Nanti aja kalau aku udah pindahi ke laptop ya” ucap Qania membuat dua temannya mendesah pasrah.


“Yaahh”,.


“Oh iya Manda, kamu pulang gih. Wajahmu sangat pucat dan lebih baik kamu istirahat di rumah, ini juga tinggal beresin peralatan makan” pinta Qania yang sudah tidak tega melihat wajah Manda.


“Iya Man” timpal Elin.


Qania berjalan menghampiri kumpulan rekan prianya yang tengah bercengkrama dengan warga yang turut hadir disana, yang terlihat saat ini lebih banyak bapak-bapak karena para ibu-ibu tadi sudah pulang. Sebenarnya mereka tidak enak membiarkan kesepuluh mahasiswa itu yang mengurus peralatan makan sementara mereka hanya terima beres, tapi setelah di bantu bu Karni untuk membuat mereka mengerti barulah mereka berpamitan dengan banyaknya ucapan terima kasih.


“Banyu oh Banyuwangi” panggil Qania saat berada di belakang pria itu.


Banyu menoleh, siapa lagi yang seenak jidat memanggilnya seperti itu kalau bukan ratu dari fakultas Teknik yang memiliki tiga bodyguard dan yang terpenting dia anak orang yang jabatannya nomor dua di kabupaten mereka.


“Qan, lo mau gue potong kambing lagi hah?” ucap Banyu dengan raut wajah memelas.


“Ups hehe, maaf ya habisnya nama kamu mengingatkan aku sama cerita banyuwangi. Oh iya aku mau minta tolong kamu buat nganterin Manda pulang, soalnya dia sakit” ucap Qania tidak ingin berlama-lama.


“Hah Manda sakit?” pekik Banyu, wajahnya terlihat sangat khawatir.


“Iya makanya kamu cepat bawa dia pulang, kasihan tahu dari tadi dia nangis nahan sakitnya” tambah Qania dengan sedikit bumbu-bumbu cerita.


Tanpa ba bi bu Banyu langsung bergegas mendekati Manda dan hal itu membuat Manda kaget, tapi tidak dengan Qania yang sedang menyeringai puas.


“Emang aku nggak tahu kalau kalian berdua itu diam-diam saling memendam perasaan” gumam Qania.


“Macam gue dong yang diam-diam memendam perasaan sama elo Salsabila” ucapan tersebut sukses membuat Qania terkejut, entah dari mana datangnya si Raka yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat Qania.


“Raka bisa nggak sih kamu nggak hobi kagetin aku” gerutu Qania yang masih memegang dadanya.


“Mau buat aku sakit jantung?” tambahnya.


‘Ah nggak, otak kamu itu udah geser ya Qan? Pokoknya hanya ada Arkana dan Cuma Arkana yang bisa buat kamu ngefly dan yang bebas buat ngegombalin kamu. Jangan biarkan orang lain membuatmu tersipu karena gombalan recehnya, yang ada tunangan kamu yang super cemburuan itu tanduknya ntar muncul’,.


“Tau ah, ngomong sama kamu bisa-bisa aku gila” ucap Qania kemudian berjalan meninggalkan Raka yang tengah cekikikan menatap Qania yang berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya.


“Menggemaskan” gumam Raka, bibirnya menyunggingkan senyuman.


*


*


“Manda lo sakit, ayo gue anterin lo pulang” ucap Banyu tanpa jeda saking khawatirnya.


“Eh Banyu” Manda tersipu saat melihat Banyu yang datang dengan sangat khawatirnya.


“Tuh kan, ayo kita pulang. Wajahmu semakin merah saja, aku takut kamu demam” emang dasarnya si Banyu itu polos, bodoh atau emang nggak tahu ya kalau pipi Manda itu merah karena malu-malu kepadanya.


Ingin sekali Manda menertawai kepolosan Banyu itu, namun ia malah bahagia karena yang begitu mengkhawatirkannya adalah Banyu.


‘Lo terbaik Qan, tahu aja gue maunya Banyu. Eh tunggu, Qania itu orangnya cerdas, apa iya dia tahu kalauuu.. arghhhh, masa iya Qania tahu gue suka sama Banyu” pekik Manda dalam hati.


“Lah itu kenapa wajahnya gelisah gitu, ayo Manda kita pulang sekarang” tidak ingin membuang waktu Banyu segera menyeret Manda menuju ke arah dimana ia memarkirkan motornya. Manda yang ditarik begitu semakin tersipu malu, ia tidak bisa menggambarkan suasana hatinya saat ini.


Di perjalanan, Banyu yang gelisah ingin menanyakan Manda sebenarnya kenapa dari tadi hanya bisa merangkai kata dalam hati namun belum ada satu pun yang bisa ia katakan dan itu membuatnya frustasi.


‘Masa iya gue segrogi ini Cuma buat nanya’ batin Banyu.


Manda di belakang hanya bisa bersenandung dalam hati, betapa bahagianya ia saat ini. Tidak pernah terbayangkan olehnya akan ada momen seperti ini dan parahnya ia ingin ada yang mengabadikan momen pertama ini.

__ADS_1


“Manda” panggil Banyu dengan sangat gugup, akhirnya ia memutuskan untuk bertanya dari pada larut dalam rasa penasaran, toh hanya bertanya, pikirnya.


“Iya” sahut Manda masih dengan senyuman manis di bibirnya yang tentu saja tidak diketahui oleh Banyu.


“Sebenarnya kamu kenapa?”,.


“Eh, ngg, itu, anu..” Manda bingung harus mengatakan apa, masalah tamu bulanan masa iya harus ia katakan dengan jelas kepada Banyu, pikir Manda.


“Kenapa Manda?” Tanya Banyu.


‘Duh Manda jangan buat gue makin khawatir sama lo’,.


‘Gimana ngomongnya ini, masa iya gue bilang kalau gue lagi kedatangan tamu bulanan. Malu banget gue’,.


“Manda, lo beneran nggak apa-apa kan?” Tanya Banyu lagi, kali ini suaranya begitu lembut hingga membuat Manda tidak sadar dan langsung mengatakan keadaannya.


“Gue baik kok Banyu,gue Cuma lagi datang bulan aja makanya perut gue nyeri” jawab Manda masih dalam mode ngefly dengan penuturan halus nan lembut Banyu tadi.


‘Appaaa, sial, awas aja lo Qan. Gue udah panic setengah mati gue kira Manda kenapa-napa eh ternyata dan ternyata dia Cuma lagi datang bulan. Awas lo Qan, gue bales lo ntar, hah. Eh tapi kenapa gue jadi khawatir banget? Apa gue emang ada rasa sama Manda? Kalau emang iya, gue makasih deh sama Qania yang udah peka sama perasaan gue’,.


Akhirnya Banyu hanya bisa mengumpat dalam hati, namun ada kesenangan tersendiri saat ia bisa memiliki ruang berdua dengan Manda, ia merasa berhutang pada Qania yang sudah membantunya kali ini.


“Gue kira lo sakit kenapa Man, tapi emang kalau lagi datang bulan sakit banget ya perutnya?” Tanya Banyu.


‘Hitung-hitung belajar memang biar bisa tahu tentang Manda dan periode datang bulannya. Kali aja emang Manda pas datang bulan sakitnya enggak ketulungan dan gue bisa jadi hero buat dia’ batin Banyu.


“Iya, perut gue sakit banget dan bahkan gue biasa pingsan kalau beraktivitas lebih” jawab Manda jujur.


“What, lo sampai pingsan? Terus kenapa masih maksain buat datang tadi?” kali ini Banyu merasa puas setelah bertanya, ia jadi tahu bahwa gadis yang disukainya ini sangat menderita saat periode tamu bulanannya datang dan ia bisa antisipasi jika Manda sampai kenapa-napa saat mereka bersama nanti.


‘What, bersama? Pikiran lo nggak kejauhan Banyu?’ ejeknya pada diri sendiri.


“Tadi gue nggak tahu kalau gue mau datang bulan, gue emang ngerasa nyeri di perut gue tapi gue nggak tahu kalau itu karena datang bulan. Untungnya ada Qania yang lihat kalau gue udah tembus, jadi gue nggak malu jika kalian para pria yang melihat itu di rok gue” cerita Manda membuat Banyu mengangguk-anggukkan kepalanya.


Motor Banyu berhenti karena sudah memasuki halaman rumah pak kadus, ia memapah Manda yang sudah sangat kesakitan dengan keringat sebesar biji jagung di pelipisnya. Wajah Manda yang putih kini semakin pucat saja, dan itulah yang membuat jiwa kekhawatiran Banyu meronta-ronta ingin segera membantu Manda.


Seandainya ia adalah seorang dokter atau seorang ahli dalam hal menstruasi maka ia ingin rasanya segera menghilangkan sakit Manda. Tiba-tiba saja Banyu ingin menggantikan Manda untuk merasakan sakitnya.


‘Eh Banyu, bucin ya bucin aja. Masa iya elo mau datang bulan? Mau ganti kelamin lo?’ sindirnya pada diri sendiri.


“Makasih ya Banyu yang unyu-unyu udah bantuin gue dan nganterin gue pulang” ucap Manda dengan tulus dan tanpa sadar ucapan unyu-unyu yang hanya bisa ia katakana dalam hati itu kali ini keluar dari mulutnya.


“Iya sama-sama Manda. Oh iya, ada yang lo butuhin nggak?” Tanya Banyu berusaha menetralkan debar jantungnya saat Manda mengatakannya unyu-unyu.


“Kalau lo nggak keberatan, boleh nggak lo panasin gue air terus taruh di botol kaca, gue mau kompres perut gue soalnya, buat ngilangin sakit perut gue” pinta Manda ragu-ragu.


“Kalau gitu lo tunggu aja, diam dan istirahat disini. Gue bakalan siapin buat elo” ucap Banyu yang langsung terburu-buru keluar.


Manda tersenyum bahagia menatap punggung Banyu yang berjalan dengan cepat meninggalkannya, rasanya sangat senang dan tentu saja menguntungkan bagi Manda karena kapan lagi ia akan di rawat oleh orang yang ia sukai.


“Makasih Qan, lo emang teman terbaik gue. Gue salah selama ini kemakan sama omongan Laras yang gue bahkan nggak kenal dekat dengan lo sebelumnya dan udah naruh dendam gitu aja. Emang gue akuin pesona lo udah buat siapa pun ingin dekat dengan lo, termasuk Witno, Raka dan kak Juna itu. Tapi itu bukan salah lo dan yang gue salutin lo bisa jaga hati lo buat Arkana yang sempat ingin gue rebut”,.


Manda menghela napas panjang.


“Tapi seiring berjalannya waktu gue sadar lo itu emang sangat baik dan Laras lah yang sangat iri sama lo sampai ngehasut gue ini itu dan bodohnya gue sampai kemakan hasutan Laras yang emang dendam banget sama elo. Dan satu hal yang gue sadari, gue Cuma sekedar terobsesi sama pria-pria yang dekat dengan elo. Gue semakin yakin sama perasaan gue kalau gue itu emang ada rasa sama Banyu, gue bakalan perjuangin yang satu ini. Gue nggak bakalan sia-siain kesempatan ini, malu ya malu deh dari pada gue kelamaan mendam terus orang lain yang ngambil. Gue udah mutusin buat ngungkapin ke Banyu, itu harus” ucap Manda panjang lebar, tanpa ia sadari ada yang tengah tersenyum di balik pintu.


 


...***...

__ADS_1


__ADS_2