
Marsya berlari ke arah mobilnya dengan berderai air mata, bersamaan dengan Tristan yang baru saja turun dari ojek. Tristan heran melihat Marsya. Namun ia yakin kalau ini pasti ada hubungannya dengan putusan sidang tuan Alvindo.
“Sya. Marsya,” panggil Tristan.
Marsya menghentikan tangannya yang akan membuka pintu mobil. Ia melihat Tristan yang berlari menghampirinya. Ia menatap lama kemudian segera masuk ke dalam pelukan Tristan. Menumpahkan segala tangisnya.
“Sya, ada apa?” tanya Tristan panik.
Marsya tidak mau menjawab, ia hanya terus menangis.
“Aku akan membawamu pulang. Aku akan mengantarmu,” ucap Tristan kemudian merangkul Marsya dan membawanya masuk ke dalam mobil kemudian ia berlari kecil menuju ke kursi kemudi. Sebelum ia melajukan mobil tersebut, ia melihat Qania keluar dari gedung itu bersama rombongannya.
Rasanya rindu, namun ia masih ingat dan sadar betul ia sedang bersama Marsya. Ia pun bergegas melajukan mobilnya ke rumah Marsya.
Tristan menuntun Marsya menaiki tangga menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Marsya masih menangis sesenggukan dan Tristan terus berusaha menghiburnya. Tristan membuka pintu kamar Marsya.
“Sya, kamu yang sabar dan tenang. Jika bisa, kita akan mengajukan banding agar Om Alvin bisa mendapat keringanan hukuman,” hibur Tristan.
Marsya menghentikan tangisnya, ia melirik tajam ke arah Tristan dengan pipi yang masih dibasahi oleh air mata.
“Aku bahkan berharap jika dia dipenjara seumur hidup,” ucap tegas Marsya.
Tristan terkejut, “Kenapa kamu ngomong gitu Sya? Sadar Sya, bagaimanapun dia tetap orang tua kamu,” ucap Tristan mengingatkan.
“Kamu nggak tahu Tris, kamu nggak tahu apa yang sudah dia perbuat. Dia bukan cuma membunuh orang tapi perbuatannya juga turut menghancurkan aku, Tris. Dia nggak bisa dimaafkan!”
“Apa? Apa yang dilakukan Om Alvin sampai kamu semarah ini?” tanya Tristan begitu penasaran.
Marsya terdiam. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Tristan dan memilih untuk berbaring memunggungi Tristan yang sedang duduk menatapnya.
“Kamu sebaiknya pulang, Tris. Aku masih ingin sendiri. Ini juga hari Jum’at. Kamu harus sholat juga, kan?”
Ucapan Marsya itu bisa di artikan sebagai pengusiran secara halus. Tristan pun tidak bisa melakukan apa-apa selain menuruti ucapan Marsya.
“Aku pamit dulu, kalau ada apa-apa cepat hubungi aku,” ucap Tristan kemudian ia pergi dan menutup pintu kamar Marsya.
Tristan memesan taksi online untuk mengambil mobilnya di bengkel. Ia melirik jam dan sudah hampir pukul sebelas. Padahal ia masih ingin menemui Qania, namun ini adalah hari Jum’at sehingga ia pun memutuskan untuk segera pulang.
Di kediam Pak Erlangga, Qania tengah melamun. Kurang lebih empat jam lagi ia akan meninggalkan kota ini. Meninggalkan kenangannya dan meninggalkan seseorang yang masih diliputi tanda tanya besar terhadap perasaannya.
__ADS_1
Qania kembali teringat ucapan Marsya tari tadi di pengadilan. Ia semakin merasa bingung. Jika Tristan bukanlah Arkana, lalu dia siapa?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Qania hingga ia lelah sendiri untuk menemukan jawabannya. Qania pun menelepon Lala dan berencana untuk bertemu. Ia meminta Lala untuk datang ke rumah Pak Erlangga dan mereka mengobrol di kamar dengan Qania yang banyak memberi perhatian dan nasihat kepada Lala.
Lala tidak bisa turut mengantar Qania karena jam satu nanti ia harus kembali lagi ke tempat magangnya. Pukul satu kurang dua puluh menit Lala berpamitan pulang. Qania memeluk calon adik iparnya itu kemudian mengantarnya sampai ke teras.
Qania kembali ke kamar dan mendapati ponselnya ada banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari Tristan.
[Qania apa yang terjadi dengan Om Alvin?]
[Qania balas pesanku]
[Qania aku minta maaf, sungguh]
[Qania aku ingin bertemu, jangan pulang dulu sebelum aku mendapatkan maafmu]
Qania tidak mau membalasnya. Ia tidak ingin semakin memberi harapan dan juga tidak ingin membuat hatinya lemah. Biarlah dia dan Tristan melangkah beda arah.
Qania memilih untuk melakukan panggilan video Dengan Arqasa namun belum memberitahukan akan kepulangannya sore nanti.
Di kantornya, Tristan merasa kecewa dan sedih karena Qania sama sekali tidak menanggapinya. Yang ada malah kini ia mendapat panggilan dari nomor telepon rumah Marsya.
Merasa masih memiliki tanggung jawab terhadap Marsya, Tristan pun segera berangkat ke rumah Marsya. Ia melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Ia akan menyusul Qania ke bandara, ia sudah tidak peduli lagi jika akan bertemu dengan Setya Wijaya.
Sesampainya di rumah Marsya, ia tidak mendapati keberadaan Marsya. Yang ada hanya kamar yang berantakan dan banyak pecahan berserakan di lantai. Tristan memeriksa ponselnya dan untung saja ia bisa melacak keberadaan Marsya melalui ponselnya.
“Dia baru saja keluar, gue harus segera menyusul. Gue yakin Marsya pasti akan berbuat nekat,” ucap Tristan kemudian ia berbalik namun hampir saja terjatuh karena menginjak sebuah kertas putih.
Tristan mengambilnya ingin membuang ke tempat sampah namun ia terbelalak membaca isi dari surat tersebut. Segera ia memasukkannya ke dalam saku celana dan bergegas keluar menuju ke mobilnya untuk mengejar Marsya.
Sambil mengejar Marsya, Tristan mencoba untuk menghubungi Qania. Satu kali dua kali hingga tiga kali Qania tidak merespon. Ia memutuskan untuk mengirim pesan.
[Nyonya Arkana Wijaya, tolong lah aku ingin bicara penting denganmu]
Qania yang melihat pesan tersebut langsung menggulum senyuman. Lucu saja membaca pesan Tristan. Qania pun langsung mencoba menelepon Tristan namun sayang begitu Tristan mengangkat panggilannya, Papa Setya datang dan mengajak Qania untuk mengobrol.
Qania terpaksa meninggalkan ponselnya dan Tristan yang tengah memanggil namun tak mendapat sahutan dari seberang.
Akhirnya Tristan pun sampai di tempat dimana Marsya berhenti.
__ADS_1
Pemakaman? Ucap Tristan dalam hati.
Tristan sengaja mengambil jarak agak jauh dari Marsya untuk memantaunya. Ia menjadi tidak tenang begitu melihat Marsya tengah menangis di sebuah makam. Dan juga ia masih terkejut dengan isi kertas yang tengah ia genggam.
Jadi, gue ini adalah ....
Tristan ingin mendekat dan bertanya pada Marsya. Namun ia urungkan karena sekarang sudah hampir pukul tiga. Jarak dari kota ke tempat ini hampir satu jam. Dan jika ia tidak segera kembali maka ia akan kehilangan kesempatan untuk bertemu Qania.
Tristan mendekat dan ingin mengajak Marsya pulang bersama karena khawatir jika Marsya menyetir sendirian. Namun langkahnya terhenti ketika membaca nama di nisan tersebut.
Tristan Anggara?!
Tristan tak bisa mengontrol detak jantungnya karena terlalu terkejut dengan semua fakta yang ia temukan hari ini. Tak ingin Marsya tahu dan tak ingin terlambat, Tristan pun segera pergi meninggalkan area pemakaman dan membiarkan Marsya disana yang masih terus menangis sambil mengajak pemilik makam berbicara dan juga mengatakan tentang hukuman sang Papa.
Pukul tiga lewat tiga puluh menit Tristan memasuki area perkotaan dan sepanjang jalan ia tidak pernah putus untuk menghubungi Qania.
Qania yang berada di dalam mobil bersama Papa Setya menuju ke bandara menjadi gelisah. Ia juga tidak ingin membuat Tristan terus menunggu. Akhirnya dengan ragu-ragu Qania menjawab panggilan tersebut.
“Oh Qania, kamu darimana saja? Aku dari tadi meneleponmu. Tolong jangan pulang dulu. Aku ingin bicara penting denganmu.”
Suara itu terdengar frustrasi dan Qania hanya bisa menggigit bibir bawahnya kemudian melirik Papa Setya yang sedang meliriknya juga.
“Aku sedang dalam perjalanan ke bandara,” jawab Qania yang bingung harus berkata apa agar Papa Setya tidak curiga.
“Qania tolong jangan pulang. Aku mohon. Aku ingin menyampaikan kabar kalau ternyata aku—“
Bruaaakkkkk ....
Jantung Qania seolah berhenti berdetak. Masih bisa ia dengar suara benturan tersebut. Perasaannya menjadi tidak tenang. Ia yakin sesuatu yang buruk telah terjadi pada Tristan.
“Qania, ayo turun,” ajak Papa Setya.
Dengan ragu Qania turun, namun begitu turun ia melihat taksi yang akan pergi ia segera menyetopnya.
“Pa, maaf aku belum bisa kembali. Papa pulanglah dulu. Aku akan kembali secepatnya. Jangan khawatirkan aku Pa,” ucap Qania begitu ia sudah masuk ke dalam taksi.
“Tapi Qania, tunggu Nak kamu mau kemana?” teriak Papa Setya namun taksi sudah lebih dulu pergi.
Dengan membawa rasa penasarannya akhirnya Papa Setya masuk sendiri ke bandara karena tadi mereka tidak ingin diantar oleh keluarga Pak Erlangga. Hanya sopir mereka saja yang mengantar mereka.
__ADS_1