
Qania baru saja sampai bersama Lala di rumah kost mereka dan langsung menuju ke kamar masing-masing setelah tadi mereka singgah untuk makan siang di warung tenda tempat biasanya Qania makan ayam bakar.
Qania memilih untuk tidur saja daripada memikirkan kekesalannya pada Tristan Anggara yang menurutnya begitu angkuh. Seperti biasa jika ia sedang marah maka ia akan mencari makan dan setelah itu marahnya akan berlanjut lagi.
Qania terkekeh ketika teringat kata-kata Arkana yang mengatakan “marah yang bersambung”. Tentu saja tidak ada satu hal pun yang Qania lupakan dari ucapan Arkana yang selalu mengena di hatinya.
“Ah aku jadi merindukannya. Saat ini dia sedang apa ya di dunia barunya? Mengingatku atau sedang menggoda roh wanita lainnya?” Qania terkekeh setelah berbicara seperti itu.
“Mau nelpon mama tapi pasti sekarang Arqasa sedang tidur. Nanti malam sajalah, aku tidur siang aja dulu” ucap Qania berusaha menutup matanya.
Belum lama Qania memejamkan matanya, suara ketukan pintu memaksanya untuk kembali pulang ke alam sadarnya. Dengan mengucak kedua matanya Qania berjalan membuka pintu kamarnya.
“Hoaam, ada apa nek?” tanya Qania sembari menutup mulutnya yang menguap dengan tangannya.
“Itu nak, ada temannya yang mencari di luar” jawab nek Nilam sambil melirik kearah ruang tamu.
“Teman Nek? Siapa?” tanya Qania lagi.
“Nggak tahu nak, cowok” kekeh nek Nilam.
“Ini jam berapa sih nek? Salah alamat kali. Nggak ada teman kuliah Qania yang tahu dimana Qania tinggal” sanggah Qania yang terus menguap di depan nek Nilam.
“Ya temui saja dulu, dia kan mengenalmu jadi nggak mungkin salah alamat” ucap nek Nilam kemudian berjalan ke dapur.
“Iya juga ya” gumam Qania, kemudian ia masuk lagi ke kamarnya untuk mencuci mukanya.
Setelah merapikan rambutnya, Qania kemudian bergegas keluar dan melihat seseorang tengah duduk memunggunginya sambil memainkan ponsel.
Qania pun berjalan dan mendekatinya lalu berdehem sambil melirik pria yang tengah asyik memainkan game di ponselnya itu.
“Eh Qan” ucapnya hanya menoleh sedikit lalu kembali fokus pada ponselnya.
“Mau numpang main game di rumah orang? Diusir kamu dari kostan? Masih belum bisa lepas dari game juga?” cibir Qania lalu ikut duduk di depan Raka.
“Ya gue kelamaan nungguin elo makanya gue main game aja dan gue datang berkunjung doang kok nggak di usir gue sama pemilik kostan gue, secara gue pria paling tampan di kostannya” ucap Raka kemudian menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.
“Narsis abissss” cibir Qania.
Raka tertawa mendengar cibiran Qania, entah mengapa berada di dekat Qania ia selalu mampu bersikap lebay dan narsis padahal ia selama ini selalu bersikap dingin dan cuek pada orang-orang terlebih lawan jenisnya.
“Oh ya, aku mau protes sama kamu Ka” Qania melipat kedua tangannya di atas dadanya sambil menatap kesal pada Raka.
“Protes? Emang gue abis ngelakuin apa?” tanya Raka heran.
__ADS_1
“Ya soalnya tadi kamu cegat aku di jalan dan akhirnya aku terlambat buat mengikuti seminar dan diusir secara tidak terhormat. Coba aja tadi kamu nggak cegat, pasti aku nggak akan telat dan nggak akan diusir dari ruang seminar” sungut Qania.
Raka cengengesan sambil menggaruk belakang kepanya yang tidak gatal, ia belum menemukan ide untuk melawan ucapan Qania.
“Udah salah nggak minta maaf malah sok-sokan terlihat nggak punya dosa” sindir Qania.
Raka justru tertawa setelah mendengar sindiran Qania tersebut. Entah mengapa ucapan Qania itu terdengar menggemaskan di telinganya.
“Kalau lo masih berani ngetawain gue mendingan lo pulang sana” hardik Qania namun hanya berpura-pura marah saja.
“Oke oke Qan, gue udah hapal nih kalau jurus lo gue elo nih udah keluar itu tandanya ada bahaya yang mengancam gue. Baiklah, Qania Salsabila gue minta maaf dan gimana kalau permintaan maaf gue, lo gue traktir deh makan di kafe” ucap Raka dengan raut wajah serius membuat Qania berusaha untuk menahan tawanya.
“Itu sogokan?” tanya Qania sambil menaikkan sebelah sudut alisnya.
“Bukanlah, itu ajakan” jawab Raka cepat dan tegas.
Qania memasang ekspresi seolah sedang berpikir, menimbang-nimbang ajakan Raka padahal yang sebenarnya ia sudah sangat setuju dengan ajakan Raka. Hanya saja ia masih senang melihat wajah bersalah dan memelas Raka.
“Gimana Qan, mau ya?” bujuk Raka.
“Hmm, aku sibuk kayaknya” ucap Qania yang diartikan penolakan oleh Qania.
“Sibuk?” beo Raka.
“Kan belum ada kesibukan Qan, kuliah masih dua minggu lagi” ucap Raka.
“Ya sibuk ngerjain kamu” kekeh Qania membuat Raka mendengus kesal.
“Awas ya lo Qan, ya udah ayo” ajak Raka yang sudah berdiri.
“Pamit dulu sama nek Nilam” ucap Qania.
Pada saat Qania berdiri hendak untuk mencari nek Nilam, orang yang dicarinya juga datang dengan membawa nampan berisi satu cangkir minuman.
“Lah sudah mau pulang?” tanya nek Nilam yang menatap Raka yang sudah berdiri.
“Enggak Nek, kita mau jalan. Rakanya lagi ulang tahun jadi mau traktir Qania” jawab Qania sambil menatap devil pada Raka yang nampak kaget mendengar ucapan Qania.
“Waah selamat ya nak Raka, selamat ulang tahun. Semoga semua yang diharapkan dikabulkan sama gusti Allah” ucap nek Nilam kemudian meletakkan nampannya di atas meja.
Raka hanya bisa tersenyum miris pada nek Nilam sementara Qania menutup mulutnya dengan tangan untuk menahan tawanya yang akan pecah.
“I..iya nek, makasih” ucap Raka.
__ADS_1
“Ya sudah Ka, karena nek Nilam udah buatin kamu minuman ya kamu habiskan dulu aku mau ganti baju” ucap Qania seraya berjalan meninggalkan Raka dan nek Nilam di ruang tamu.
‘Padahal gue lebih suka lihat penampilan elo yang natural banget itu Qan, tapi ya sudahlah kalau elo mau tampil cantik mah gue juga senang-senang aja. Arkana maafin gue, tapi gue udah lama mendam rasa sama istri lo dan gue bakalan berusaha buat ngerebut hatinya yang meskipun gue tahu itu hanya ada elo. Tapi gue berharap bisa mendapatkan bagian itu meskipun hanya satu persen saja. Gue janji bakalan jaga Qania dan anak lo Ka, gue harap lo bakalan merestui hubungan gue sama Qania’,.
“Nak Raka kenapa melamun, ayo duduk” tegur nek Nilam.
“Eh, iya nek” Raka tersadar dari lamunannya kemudian duduk kembali lalu mengambil cangkir yang berisi teh hangat tersebut.
“Sudah lama kenal sama Qania?” tanya nek Nilam yang sedari tadi terus tersenyum menatap wajah Raka.
“Oh sudah dari kecil nek, kita teman SD sama kuliah dan satu kampung juga” jawab Raka antusias.
“Oh pantas terlihat sangat akrab” ucap nek Nilam sambil menganggukkan kepalanya.
“Tadi saya kaget waktu ada cowok datang bertamu, soalnya selama nak Qania ngekost disini belum pernah ada tamu dari teman kuliahnya yang datang berkunjung” cerita nek Nilam.
“Ah yang benar Nek?” tanya Raka yang tiba-tiba tertarik dengan cerita nek Nilam.
“Iya, nak Qania selama ini sangat tertutup dan juga hanya mengobrol bersama nenek dan Lala yang ngekost disini juga. Bahkan nenek selalu diajaknya makan di restoran kalau lagi malas masak dia dan malas untuk makan di rumah bersama Lala. Baru kamu yang berkunjung ke rumah nenek, selama ini nenek juga mendengar dari Lala kalau Qania itu banyak yang ngedekatin tapi selalu di tolaknya” cerita nek Nilam yang membuat Raka semakin bersemangat mendengarnya terlebih lagi setelah mengetahui ia adalah orang pertama yang berkunjung ke rumah ini.
“Qania sebenarnya orang yang sangat ceria dan banyak temannya Nek. Dulu saja dia sangat senang jika kami datang berkunjung ke rumahnya dan bahkan kami dalam jumlah yang banyak. Qania sangat cerdas dan juga sangat suka menolong temannya, bahkan tidak ada satu pun dari kami teman-temannya yang tidak pernah berkunjung ke rumahnya. Ya, mungkin karena insiden meninggalnya suami Qania membuatnya menutup diri dan hanya fokus pada hidupnya saja dan anaknya. Cinta dan kasih sayang yang sangat besar dari suaminya membuat Qania enggan untuk membuka dirinya Nek” cerita Raka sambil mengenang bagaimana cerianya Qania dulu apalagi bersama Arkana.
‘Gue bahkan ragu cinta gue nggak sebesar dan sehebat Arkana’,.
“Pantas kalau seperti itu” ucap nek Nilam lirih.
Nek Nilam melirik Qania yang sedang berjalan kearah mereka yang nampak cantik mengenakan pakaian santai dan wajahnya yang terlihat bak remaja, kemudian ia merubah ekspresi sedihnya agar tidak dilihat oleh Qania.
“Wah sudah siap rupanya” ujar nek Nilam membuat Raka menoleh.
‘Huh natural dan muka bantal aja udah buat gue degdegan, apalagi sekarang dengan wajah yang berseri kayak gitu. Aaaahh mama anakmu mau kawin maaa, eh nikah maksudnya’,.
“Iya Nek, pamit ya” ucap Qania sambil menyalami tangan nek Nilam disusul oleh raka.
“Hati-hati ya, titip Qania nak Raka” seru nek Nilam begitu melihat keduanya naik ke atas motor.
“Pasti nek” teriak Raka kemudian melajukan motornya meninggalkan kediaman nek Nilam.
...🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀...
Terima kasih sudah membaca 🤗🤗🤗🤗🤗
__ADS_1