
Brakkkk….
Arkana dan Daren terkejut sat melihat Rizal menggebrak meja mereka.
“Lo apa-apaan Zal?” Tanya Arkana yang berdiri dengan menatap marah pada Rizal.
“Lo yang apa-apaan Ka? Bisa-bisanya lo merencanakan pembunuhan untuk bokap lo, lo gila?” bentak Rizal sambil menarik baju Arkana.
“Bangsat lo” Arkana menepis tangan Rizal yang menarik bajunya.
Bughhh…
Arkana memukul wajah Rizal penuh emosi, sehingga Rizal tersungkur dan terjatuh di lantai.
“Banyak bacot lo Zal” bentak Arkana.
“Arka stop, gue kira lo hanya pura-pura jahat, tapi ternyata gue salah. Lo emang jahat Ka, gue nyesel datang kesini buat mengkhawatirkan elo” cibir Fero yang sedang membantu Rizal berdiri.
“Baguslah kalau lo nyadar, gue nggak perlu capek pura-pura baik sama kalian” ucap Arkana sambil tersenyum kecut.
“Ayo Ro, kita tinggalkan manusia sampah ini” ajak Rizal sambil menatap jijik pada Arkana.
Daren menikmati pertunjukan di depannya ini sambil menyeringai.
“Setahu gue mereka bertiga adalah sahabat yang paling kompak dan sudah seperti saudara, tapi di depan mat ague sendiri mereka saling serang, hahaha” Daren tertawa dalam hati.
Rizal dan Fero berjalan melewati Arkana, Fero dengan sengaja menyenggol bahu Arkana dengan kasar membuat Arkana sedikit mundur.
“Bangsat lo” teriak Arkana kemudian menarik bahu Fero dan saat Fero menoleh sebuah bogeman dari Arkana mendarat di pinggir bibirnya, darah segar mengalir disana.
“Kurang ajar lo” geram Fero langsung membalas meninju wajah Arkana dan menimbulkan lebam disana.
Terjadilah aksi baku hantam yang menyebabkan kafe menjadi gaduh, orang-orang yang ada disana segera menjauh bahkan ada yang keluar dari kafe atau pun merekam kejadian tersebut. Tak lama kemudian pemilik kafe itu datang dan berusaha menghentikan duel sengit dua sahabat itu.
“Hentikan” teriak pemilik kafe itu, dia seorang wanita yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun.
Arkana dan Fero yang sudah babak belur itu menghentikan aksinya mendengar teriakan tersebut. Rizal membantu Fero dan Arkana dibantu oleh Daren.
“Saya meminta ganti rugi pada kalian atas kekacauan yang sudah kalian buat di kafe saya, jika tidak saya akan membawa kasus ini ke jalur hukum” ancam pemilik kafe.
Rizal menatap sinis pada Arkana yang juga menatapnya.
“Ini saya ada tiga juta dan saya rasa ini lebih dari cukup untuk mengganti kerugian yang saya buat, dan sisanya anda minta lah pada sampah itu” ucap Rizal menunjuk ke arah Arkana.
“Santai brother, uang gue banyak” ucap Arkana kemudian mengeluarkan dompet dari saku celananya dan berjalan ke arah pemilik kafe.
“Lima juta dan tiga juta, sudah cukup?” Tanya Arkana meletakkan uangnya di meja yang sama dimana Rizal meletakkan uang tiga jutanya.
“Sangat cukup” jawab pemilik kafe itu kemudian mengambil uangnya.
“Sering-seringlah buat kekacauan disini” ucapnya lagi kemudian pergi memasuki ruangannya.
Rizal dan Fero hendak pergi namun Arkana menahannya.
“Jadilah teman yang baik untukku” ucap Arkana dengan dingin menatap ke Fero dan Rizal yang melewatinya.
Hening..
“Temani aku melihat papaku untuk yang terakhir kalinya. Bukankah lo juga ingin melihatnya untuk yang terakhir kali?” ucap Arkana sekali lagi saat tidak mendapat jawaban dari mereka.
“Lo yakin mau bawa mereka?” Tanya Daren berbisik.
“Lo tenang aja, mereka tidak akan berbuat macam-macam. Anak buah lo banyak kan?” Tanya Arkana juga berbisik.
“Banyak, lo tenang aja” jawab Daren.
“Kalau begitu untuk apa khawatir”
“Terserah lo” Daren pasrah.
“Gue nggak sudi ikut sama lo” ucap Fero kemudian melangkah pergi.
“Keselamatan Cika ada di tangan gue” ancam Arkana membuat langkah Fero terhenti.
“Jangan coba-coba lo nyentuh dia” teriak Fero geram.
“Makanya ikut” Arkana mengangkat bahunya.
“Sampah lo” umpat Fero.
__ADS_1
“Dan lo Rizal? Nggak mau ikut juga? Apa perlu gue nyuruh anak buah Daren buat nyulik Gea?” Arkana menatap Rizal yang hanya diam sedari tadi sambil tersenyum licik.
“Bangsat lo” maki Rizal.
“Lo hebat bisa tahu titik lemah mereka” puji Daren.
“Makanya lo bersahabat, biar lo bisa tahu titik lemah mereka, hahahaha” Arkana tertawa diikuti oleh Daren.
“Ayo pergi” ajak Daren.
“Gue ikut di mobil lo, gue malas nyetir” ucap Arkana yang lebih dulu keluar dari kafe.
“Heh memangnya siapa yang mengizinkan?” gumam Daren sambil melangkah malas keluar dari kafe.
Rizal dan Fero saling berboncengan di motor Rizal mengikuti mobil Arkana.
Di mobil Daren..
“Gue udah nggak sabar mengirim Setya ke neraka” ucap Arkana sambil menatap lurus ke jalan.
“Sabar bro, bentar lagi kita sampai” Daren terkekeh.
“Ah lo lambat banget bawa mobilnya, siniin biar gue yang bawa” cibir Arkana.
“Enak aja lo ngatain gue. Lo numpang di mobil gue terus lo ngatain gue" ketus Daren.
"Santai bro, habisnya lo lelet amat" Arkana membela diri.
"Terus kalau gue ngasih ke elo, emang lo tahu gitu jalan ke tempat gue?" tanya Daren menatap Arkana.
"Ya enggak lah" jawab Arkana santai.
"Ya udah diam lo"
"Oke, oke"
Tak lama kemudian Arkana, Daren, Rizal dan Fero sampai di sebuah rumah kecil yang mirip gubuk dengan enam orang bertubuh kekar berjaga di teras rumah itu.
"Hei lo kurus, kenapa gue lihat banyak anak baru di sini?" tanya Daren pada salah satu anak buahnya.
"Mereka anggota kami tuan, yang tadi berjaga sedang pergi istirahat dan kami akan saling bergantian" jawabnya.
"Hallo Setya Wijaya, apa kabarmu papa?" tanya Arkana sambil tersenyum licik.
"Anak durhaka, anak kurang ajar, jangan pernah panggil saya papa" teriak Setya geram.
"Upsss, santai" Arkana mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Apakah sudah selesai temu kangennya?" tanya Daren sambil berjalan ke arah Setya.
Setya membuang muka ketika Arkana berjalan ke arahnya juga sambil membawa berkas.
"Daren bolehkah kau membuka ikatan di tangannya? Dia tidak akan bisa menandatangani berkas ini" pinta Arkana dengan manjanya.
"Hih gue jijik sama muka lo" ucap Daren kemudian membuka ikatan di tangan Setya.
Kalau saja kakinya tidak terikat, ingin rasanya Setya mencekik leher Arkana saat ini juga karena anak yang ia banggakan dengan tega ingin membunuhnya.
"Thank you Daren"
Daren menatap jijik pada Arkana.
"Gue jijik punya teman kayak lo" ucap Rizal.
"Setelah ini kita tidak akan lagi berteman, karena setelah dia kau akan menjadi yang selanjutnya" ucap Arkana namun tidak menoleh ke belakang ke arah Rizal dan Fero.
"Sampah lo" umpat Fero.
"Hahahaha" Arkana tertawa terbahak-bahak.
"Kalian sudah salah memilih teman" sindir Setya sambul menatap Arkana dengan tatapan menghina.
"Sudah cukup, sekarang cepat tanda tangani berkas ini dan kau akan menemui kebebasanmu, kebebasanmu di dunia maksudnya, hahahaha" Arkana melempar berkas itu ke wajah Setya dan Setya menangkapnya.
"Apa ini?" tanya Setya dengan suara lantang.
"Kau punya mata, jadi baca lah" cibir Arkana.
"Sudah cepat selesaikan drama ini" Daren mulai kesal.
__ADS_1
"Sabarlah sobat" ucap Arkana santai.
"Aku sudah tidak sabar menunggunya menjemput kebebasan" Daren terlihat mulai bosan.
"Sebentar lagi" Arkana menyeringai.
"Baiklah" Daren memilih pasrah.
"Cepat baca dan tanda tangan" bentak Arkana.
Rizal dan Fero berusaha melukai Arkana dengan ingin menghajarnya namun anak buah Daren menahan tangan keduanya dan menarik kedua tangan mereka kebelakang.
"Terkutuk kau Arkana" teriak Rizal.
"Kau manusia tidak punya hati, kau lah yang pantas mati" sambung Fero.
"Diamlah kalian, dan terima kasih" pinta Setya dengan lembut pada Rizal dan Fero yang ada di belakang Arkana yang berdiri di depan Setya dan pak Anwar yang hanya bisa diam.
Setya membaca dan membulatkan matanya.
"Anak kurang ajar" teriak Setya geram setelah membaca berkas itu namun Arkana malah tertawa.
"Daren lepaskan kakinya, biar dia bisa memelukku untuk yang terakhir kali" perintah Arkana.
"Kau pikir aku babumu" protes Daren namun tetap mengikuti perintah Arkana.
Setelah tali terlepas, dengan menatap nyalang pada Arkana, Setya segera mendekati Arkana.
Plakk...
Setya menampar Arkana dengan keras, membuat wajah Arkana menoleh ke arah berlawanan.
Beberapa detik kemudian....
Bughhhh....
Setya memeluk erat tubuh Arkana dan Arkana membals tak kalah eratnya.
"Maaf pa" bisik Arkana lirih.
"Apa-apaan ini?" tanya Daren bingung melihat Arkana dan Setya berpelukan erat.
Setya melepas pelukannya dan menatap jengah ke arah Daren.
"Dia putraku" jawab Setya dengan bangga.
"Dan dia papaku, hahaha" Arkana tertawa.
"Ka..kau menjebakku?"
"Bacalah ini" Arkana melempar berkas yang tadi ia berikan pada Setya.
Dengan cepat Daren membacanya.
"AKU DATANG MENYELAMATKANMU PA. TAMPARLAH AKU SEKERAS MUNGKIN KARENA KATA-KATAKU PASTI SUDAH SANGAT MENYAKITI HATIMU. DAN MARI KITA MAINKAN DRAMA INI HINGGA SELESAI"
"Kurang ajar" geram Daren meremas kertas tersebut.
"Marahlah, sebelum kau tidak bisa berkata-kata" ejek Arkana.
"Kalian cepat urus dua orang ini" teriak Daren pada anak buahnya.
Namun...
"Hahahahaha" Semua anak buahnya tertawa termasuk Fero dan Rizal.
"Ka..kalian..."
"Mereka adalah intel yang menggantikan anak buahmu yang saat ini sudah menantimu di penjara" ucap Arkana menjelaskan kebingungan Daren.
"Kurang ajar kalian, aku pastikan kalian akan menderita" ancam Daren.
"Aku tunggu" ledek Arkana.
Para intel itu langsung meringkus Daren yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia pasrah karena pergerakannya terkunci. Ia menatap sinis pada Arkana yang tersenyum devil padanya.
"Aku tunggu pembalasanmu" teriak Arkana saat Daren sudah di bawa para intel itu keluar.
...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺 ...
__ADS_1