Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Dering telepon


__ADS_3

Qania bukanlah orang yang suka berlama-lama hanya untuk sekedar mandi, apalagi di malam hari. Tapi kali ini ia sudah hampir sejam berada dibawah guyuran air yang mengalir dari showernya. Air mengalir bersama air matanya yang terus tumpah, membawa kepingan kenangan bersama Arkana.


Sudah sebulan sejak kejadian di kafe malam itu ia tidak lagi berhubungan dengan Arkana, bagaikan di telan bumi Arkana hilang begitu saja. Qania berusaha menyembunyikan tentang hubungannya dengan Arkana dari kedua orang tuanya dengan dalih tugasnya banyak dan sudah memasuki akhir semester, maka ia ingin fokus belajar.


Qania tak seceria dulu, kalau pun ia bercanda bersama teman-temannya hanya sekedar menutupi luka hatinya. Ia mampu meyakinkan teman-temannya bahwa ia sudah baik-baik saja, bahkan jauh lebih baik. Namun hal itu tidak berhasil pada Baron yang sudah cukup lama mengenal Qania, ia dapat membaca sorot mata Qania yang menyiratkan luka yang teramat dalam.


Sejam kemudian Qania menyudahi aktivitas mandinya karena tubuhnya sudah menggigil. Ia memakai pakaiannya dari dalam kamar mandi dan keluar sudah dengan pakaian tidurnya.


Qania mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, kemudian meraih ponsel yang ia simpan diatas tempat tidurnya, mengutak-atik aplikasi di dalamnya. Ia terlihat bosan, karena sebenarnya selama sebulan ini ia menunggu kabar dari Arkana meskipun hanya lewat pesan singkat.


Lagi-lagi Qania dibuat kecewa karena harapannya tidak terkabulkan.


"Huhhh" Qania menghembuskan napas kecewanya karena apa yang ia tunggu tak kunjung datang.


Ia mencoba menutup matanya berharap mimpi segera menjemputnya.


"Berilah kabar meskipun hanya lewat mimpi" gumam Qania sembari memejamkan matanya.


Baru semenit Qania memejamkan matanya, ponselnya berdering. Dengan cepat Qania mencari ponselnya yang ia taruh sembarangan. Setelah mendapatkan ponselnya ia sedikit kecewa karena yang menelepon bukanlah Arkana melainkan Elin.


"Ada apa Lin?" tanya Qania dengan nada sengaja dibuat seolah ia baru bangun tidur.


"Upss kamu udah tidur ya Qan, maaf ya" ucap Elin dari seberang telepon.


"Nggak apa-apa Lin" ucap Qania.


"Qan boleh nggak besok temenin aku ke mall buat beliin kak Fadly hadiah?" tanya Elin langsung ke intinya.


"Besok ya? Jam berapa Lin?" tanya Qania.


"Jam sebelas gitu Qan" jawab Elin.


"Oh iya, aku ada kuliah pagi jadi aku pasti bisa nemanin kamu. Aku selesainya jam setengah sepuluh. Kita ketemunya dimana nih?" tanya Qania bersemangat.


"Aku juga ada kuliah pagi besok dan selesai di jam yang sama, kita ketemu di kampus aja. Nanti aku hubungi kamu besok" usul Elin.

__ADS_1


"Oke beib" setuju Qania.


"Ya udah bobo lagi sana, maaf ya udah ganggu mimpi indahmu" pinta Elin diselingi tawa.


"Ya..ya..ya.. bye" ucap Qania seraya mematikan sambungan teleponnya.


"Semoga aku benar-benar akan mimpi indah, hehhhh" hela napas Qania menunjukkan seberapa rapuhnya ia saat ini.


Qania menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepalanya. Pikirannya yang semakin kacau membuat matanya tak memiliki daya lagi sehingga ia terlelap dengan sendirinya.


Baru saja beberapa saat Qania tertidur, dering ponselnya kembali berbunyi. Dengan malas Qania mengambil ponselnya dan menggeser tombol hijau keatas untuk menjawab telepon tersebut. Belum sepenuhnya sadar, Qania langsung saja bicara.


"Ada apa lagi Lin, aku ngantuk banget nih?" tanya Qania sambil terus menguap.


"Ini aku" tutur seseorang dari seberang saluran.


Suara tersebut menggetarkan hati dan tubuh Qania, ia mengucak matanya dan mencubit lengannya sendiri berusaha meyakini bahwa ini bukanlah mimpi indah yang hanya sesaat.


"Qania..." panggilnya.


"A..Arkana" ucap Qania terbata.


"Iya ini aku. Kamu tadi sudah tidur ya?" tanya Arkana.


"Iya" jawab Qania masih terus berusaha membangunkan dirinya dan mengumpulkan kesadarannya.


"Maaf ya udah ganggu tidur kamu" ucap Arkana.


"Nggak apa kok, kamu apa kabar?" tanya Qania dengan detak jantung yang tak karuan.


"Aku baik, kamu sendiri?" tanya Arkana balik.


"Ya aku juga baik" jawab Qania. "Apalagi setelah mendengar suaramu" batin Qania.


"Maaf" ucap Arkana.

__ADS_1


"Hmmm" gumam Qania.


"Aku tidak pernah mengabarimu selama ini, apa kamu merindukanku?" tanya Arkana.


"Kamu kemana selama sebulan ini? Tidak pernah memberi kabar padaku. Apa kamu tahu aku tersiksa memikirkanmu. Aku seperti orang bodoh yang selalu menunggumu menghubungiku. Setiap malam aku berharap kamu datang padaku ataupun hanya memberiku kabar walaupun lewat pesan singkat sekalipun. Aku.. aku benar-benar kesal padamu" ungkap Qania, ia mengeluarkan keluh kesahnya.


"Aku memang salah, kamu berhak marah dan kecewa padaku. Aku hanya bisa minta maaf atas kesalahanku" lirih Arkana.


"Mengapa tidak menemuiku, aku pasti siap mendengarkan penjelasanmu. Atau memang semuanya itu benar" sergah Qania.


Padahal ia pun tidak siap mendengar jika memang ucapan Susan tempo hari adalah sebuah kebenaran.


"Qania, aku malu jika mendatangimu. Aku belum punya keberanian menatap matamu" tutur Arkana.


"Alasan macam apa itu hah? Kamu saja berani balapan liar dengan taruhan nyawa, masa hanya bicara denganku kamu bilang tidak berani" ucap Qania menyindir Arkana.


"Itu dua hal yang berbeda"ucap Arkana membela diri.


"Jadi katakan saja sekarang, jangan menggantungku seperti ini" ketus Qania.


"Qania aku sungguh minta maaf, tapi kejadian malam itu memanglah sebuah kebenaran yang harus aku dan kamu terima dengan lapang dada.." Arkana tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena ia mendengar suara seperti benturan kuat.


Ya benar, Qania tidak dapat mendengar kata-kata Arkana lagi sehingga ia menjatuhkan ponselnya di lantai.


"Hallo.. halloo.. Qan kamu masih disana?" panggil Arkana panik.


Qania menggigit selimutnya berusaha agar isak tangisnya tak terdengar, ia begitu hancur mendengar ucapan Arkana tersebut.


Pria yang begitu ia rindukan dan setiap detiknya ia pikirkan dan selalu menunggu kabarnya, kini datang namun dengan membawa kabar yang sama sekali tidak ingin di dengar oleh Qania.


Sementara Arkana masih terus mencoba memanggil Qania yang sudah tidak bersuara lagi. Qania menggelengkan kepalanya tidak ingin percaya dengan hal ini, namun sekeras apapun ia menolak kenyataan tetaplah kenyataan.


"Ya Tuhaann" teriak batin Qania.


........

__ADS_1


__ADS_2