Selamanya Cinta

Selamanya Cinta
Ahli Tafsir Mimpi


__ADS_3

Marsya menatap kagum pada riasan wajahnya. wajah yang cantik alami itu kini sudah disulap menjadi semakin cantik dengan polesan make up. Bibirnya merah mereka dengan sentuhan lipstick berwarna merah dan dibalut dengan gaun putih panjang pada tubuh jenjangnya. Rambutnya dibiarkan terurai indah. Sangat cantik dan mempesona.


“Anda benar-benar sangat cantik, Non,” puji penata rias tersebut.


“Terima kasih. Kaulah yang pantas mendapatkan pujian karena sudah membuatku terlihat seperti ini. Lihatlah ke cermin, bukankah kau yang melakukan magic ke wajahku ini, Mbak,” ucap Marsya sambil tersenyum manis menatap pada cermin yang menampilkan bayangan dirinya.


“Anda sangat berlebihan memuji saya Nona. Saya hanya memoles sedikit dan hasilnya sangat luar biasa seperti ini, itu karena wajah Anda memang sudah cantik dari sananya,” ucap Mbak penata rias yang berumur sekitar tiga puluhan tahun.


“Terima kasih ya Mbak,” ucap Marsya tulus dengan senyuman manisnya.


“Sama-sama Nona. Kalau begitu saya permisi dulu,” ucapnya meninggalkan kamar Marsya.


Marsya mengangguk. Ia memperhatikan wajahnya kembali di depan cermin riasnya, “Apakah dengan wajah cantik seperti ini bisa membuatmu tertarik padaku, hem? Sejujurnya aku ragu karena sampai detik ini aku masih merasa belum bisa meruntuhkan pertahananmu itu. Tapi aku sudah mencintaimu sejak dulu, sejak pertama kali aku melihatmu. Kau yang datang padaku, bukan? Kau yang datang disaat aku patah hati dan hancur karena kehilangan sesuatu yang paling aku jaga di dunia ini. Apapun yang terjadi, kita akan terus bersama Tristan Anggara,” ucap Marsya menyeringai.


Marsya pun mengambil ponselnya yang ada di atas meja riasnya kemudian memotret wajahnya dengan berbagai gaya. Ditengah kesenangannya itu, terdengar pintu kamarnya di ketuk. Ia menghentikan aktivitasnya.


“Masuk!” seru Marsya sambil melihat-lihat hasil tangkapan gambarnya di ponsel.


Pintu pun terbuka, masuklah dua wanita cantik namun berbeda generasi dengan mengenakan gaun berwarna senada menutupi kaki jenjang mereka. Tante Bendelina dan Juliana. Mereka tersenyum kepada Marsya yang tengah melirik mereka dari pantulan cermin yang saat ini juga tengah tersenyum manis.


“Kamu sangat cantik, sayang. Tristan pasti tidak akan bisa berpaling saat melihat kecantikanmu malam ini,” ucap Tante Bendelina membuat Marsya tersipu.


“Apa yang dikatakan Mama sangat benar Kak. Kakak sangat cantik sekali malam ini. Semua orang yang datang pasti akan terpana melihatmu,” timpal Juliana.


“Kalian terlalu berlebihan memujiku,” ucap Marsya yang masih merona pipinya.


“Itu kenyataan sayang,” ucap Tante Bendelina.


“Ahh … bagaimana kalau kita berfoto untuk mengabadikan momen ini,” usul Juliana.


“Ide bagus,” ucap Marsya dan Tante Bendelina bersamaan.


Ketiganya pun kini tengah asyik berpose untuk memperbanyak koleksi foto mereka. Bahkan ketiganya sampai berebut ponsel siapa dulu yang akan digunakan untuk mengambil gambar.


 


. . .


 


Tristan menatap pantulan dirinya di depan cermin. Saat ini ia belum juga bersiap padahal acaranya akan dimulai kurang dari satu jam lagi. Ia merasa tak sanggup untuk menghadiri acara tersebut. Seakan ada yang terus menahan kakinya untuk melangkah. Ia saat ini bahkan masih mengenakan handuk yang ia menutupi kaki hingga pinggangnya. Sudah beberapa menit yang lalu ia selesai mandi, namun masih disini saja. Menatap iba pada pantulan dirinya sendiri tanpa berbicara.


Cukup lama. Hingga waktu terus bergulir dan akhirnya lamunannya itu terbuyarkan oleh suara ponselnya. Tristan berjalan ke arah tempat tidurnya dimana ia meletakkan ponselnya. Tertera nama pemanggil Marsya, membuat Tristan menghembuskan napas gusar.


“Hallo, Tris. Kamu dimana?”


“Di rumah, sedang bersiap,” jawab Tristan malas, namun ia berusaha melembutkan nada bicaranya.


“Aku sebentar lagi akan berangkat ke hotel. Kamu ingin datang sekalian atau sendiri?”


“Aku akan datang sendiri. Kabari kalau sudah sampai,” ucap Tristan.


“Baiklah, aku akan mengabarimu saat aku akan berangkat dan ketika aku sudah sampai. Bye Tris, sampai ketemu disana ya. I love you.”

__ADS_1


Tristan tak membalas ucapan cinta dari Marsya karena setelah mengatakannya Marsya sudah memutus sambungan, sebuah keuntungan bagi Tristan karena ia tak perlu menipu gadis itu dengan ucapan cinta yang tidak tulus dari hatinya.


“Apa gue kabur aja ya? Balik ke kota Qania? Hahh, memikirkan wanita keras kepala itu membuatku selalu memiliki banyak ide gila dan sesat,” ucap Tristan yang saat ini sudah duduk di atas tempat tidurnya.


Ponsel Tristan berdering, sebuah pesan masuk dengan nada khusus tentu saja. Dengan segera ia membuka pesan pada ponsel yang masih ia genggam itu.


Jangan coba-coba kabur dari acaramu. Aku tidak akan mau melihatmu atau berbicara denganmu lagi jika kau memikirkan ide gila saat ini.


Begitulah isi pesan singkat yang terlihat seperti sebuah ancaman yang dikirimkan oleh Qania.


“Dia ini cenayang atau apa? Kenapa bisa tahu apa yang sedang aku pikirkan saat ini? Apakah ini ikatan batin atau memang tandanya kami berjodoh?” gumam Tristan tak habis pikir dengan isi pesan Qania.


Sesuai keinginan permaisuriku.


Balas Tristan dengan cepat, ia tak ingin membuat Qania menunggu. Tapi nyatanya sampai saat ini Qania lah yang tak lagi membalas pesannya. Hanya tertera centang dua berwarna biru yang artinya pesan telah dibaca namun enggan dibalas.


“Huhh … kalau centang satu aku masih bisa maklum Qania. Tapi centang dua biru ini benar-benar membuatku sesak. Hahh … gue udah kayak anak ABG yang lagi galau ya Bun,” kekeh Tristan yang kini tersadar dengan tingkahnya sendiri.


Akhirnya karena sudah mendapat pesan ancaman dari wanita pujaan hatinya itu, Tristan pun mulai bersiap untuk pergi ke acara pertunangan. Ia mengenakan setelan jas berwarna hitam, mendongakkan kepalanya dengan mata terpejam. Menghirup napas sedalam-dalamnya untuk meraih ketenangan. Bagaimanapun ia juga tidak ingin membuat keluarga Marsya malu di acara nanti.



Setelah terlihat sangat tampan dan sempurna, ia pun bergegas turun untuk mencari dua asisten rumah tangga yang sudah ia anggap sebagai pengganti kedua orang tuanya.


Tristan mengetuk pintu kamar bi Ria, tak lama kemudian bi Ria keluar dan sedikit terkejut karena melihat majikannya berdiri di depan pintu.


“Ada apa Den? Den Tristan butuh sesuatu? Kenapa tidak memanggil saja, saya akan segera datang?” tanya bi Ria, ia begitu tidak enak pada majikannya ini.


“Kenapa Bibi belum bersiap? Malam ini kan acara pertunanganku dengan Marsya. Bukannya Marsya sudah mengundang Bibi kemarin?” tanya Tristan yang melihat bi Ria hanya mengenakan daster saja.


“Bersiaplah Bi. Ajak pak Yotar juga. Kalianlah keluargaku satu-satunya di dunia ini. Dampingi aku. Aku menunggu di depan,” ucap Tristan kemudian melenggang pergi meninggalkan bi Ria yang tengah terpaku setelah mendengar ucapan Tristan.


 


. . .


 


Qania mendesah pelan setelah membaca balasan pesan dari Tristan. Hanya membaca saja, tak berniat membalas. Yang ada hanya akan membuat Tristan menjadi tak waras dan akan terus menghabiskan waktu berbalas pesan dengannya dan melupakan acaranya malam ini. Alasan kenapa Qania bisa mengirimkan pesan itu, karena ia sangat yakin jika Tristan ada kemungkinan melakukan aksi yang tak terduga seperti waktu itu ia yang dibuat terkejut karena kedatangan Tristan secara tiba-tiba di kediaman Wijaya.


“Kenapa tidak mencegahnya saja jika akhirnya Kakak yang terlihat seperti orang yang tidak waras, hem?” sindir Syaquile yang melihat sang Kakak terus berbicara sendiri sambil menatap layar ponselnya.


Saat ini Qania dan Syaquile sedang berada di hotel tepatnya di kamar Qania karena Syaquile menempati kamar disebelahnya dan saat ini ia sedang ingin menghibur kakaknya. Hotel ini juga adalah tempat dimana Tristan dan Marsya akan melangsungkan pertunangan. Qania tak ingin pulang ke rumah kostnya karena nanti tak ingin orang berpandangan buruk tentangnya dan Syaquile meskipun mereka ada saudara kandung.


“Kau tidak waras Dek? Bisa-bisanya berkata seperti itu,” sungut Qania.


“Aku bahkan rela menjadi psikopat agar Kakakku bahagia,” ucap Syaquile sambil menaikturunkan kedua alisnya.


Qania terkekeh, seperti inilah sifat sang adik jika menyangkut dirinya. Syaquile rela melakukan apapun untuk melihat Kakak-nya bahagia. Berbekal janjinya pula pada Arkana Wijaya untuk menjaga sang Kakak. Padahal waktu itu Syaquile hanya mengiyakan saja karena merasa Arkana bicaranya melantur. Ternyata itu adalah pertanda akan kepergiannya untuk selama-lamanya.


Eh apakah iya? Batin Syaquile.


Qania yang melihat Syaquile sedang melamun terbesit ide jahil di benaknya.

__ADS_1


“Woaah, Lala kamu disini La?” pekik Qania yang sontak membuat Syaquile berdiri gelagapan mencari sosok yang dimaksud oleh Qania.


“Mana Lala, Kak?” tanya Syaquile yang terlihat girang namun juga bingung karena tidak melihat sosok Lala di ruangan ini.


“Ini, di ponsel Kakak. Fotonya,” ucap Qania dengan tampang polosnya, sementara Syaquile menatap penuh aura permusuhan pada Kakak-nya.


Tawa Qania akhirnya pecah begitu melihat ekspresi mengenaskan dari wajah tampan sang adik.


“Melamun apa sih tadi Dek?” tanya Qania yang melihat adiknya enggan untuk menatapnya lagi.


Syaquile menghela napas, “Aku sedang mengingat Kak Arka,” jawab Syaquile jujur.


Hati Qania terasa perih mendengar jawaban Syaquile. Bagaimana bisa saat ia sedang sibuk memikirkan Tristan justru adiknya lah yang memikirkan Arkana. Ia merasa malu akan sikapnya ini.


“Kenapa?” tanya Qania dengan suara serak.


“Aku hanya keingat dulu waktu Kak Arka minta aku buat jagain Kakak kalau dia nggak ada. Awalnya aku nganggap itu Cuma guyonan Kak Arka saja, siapa sangka itu adalah pertanda yang Kak Arka berikan namun kita tidak menyadarinya,” ungkap Syaquile, ia memijat kedua pelipisnya dengan salah satu tangannya.


Mulut Qania tertutup rapat. Kembali ia teringat akan sikap Arkana dan mimpi-mimpinya yang selalu sama dimana Arkana pergi meninggalkannya untuk selamanya. Seandainya ia tahu jika itu bukan hanya sekadar bunga tidur biasa, maka ia sebisa mungkin untuk mencegahnya. Bahkan ia akan mengakui di depan kedua orang tuanya tentang mereka yang sebenarnya sudah menikah agar tak terjadi malam itu. Malam yang menjadi pemisah dirinya dan Arkana-nya untuk selama-lamanya.


Tapi apalah daya, nasi kini telah menjadi bubur. Daun telah gugur dari pohonnya, tak akan bisa menempel kembali pada pohon tersebut dan justru akan berganti dengan daun yang baru. Tapi bagaimana dengan Qania, ia masih saja di tempatnya. Menjadi pohon yang akan mati karena tidak menginginkan dedaunan baru yang tumbuh di rantingnya. Sangat ironi bukan, seorang wanita yang masih berusia dua puluhan tahun berjanji setia pada mendiang suaminya. Bahkan wanita diluaran sana yang sudah berkepala empat pun akan berpikir untuk mencari sandaran baru untuk menemani hari-harinya. Dan justru dirinya yang masih sangat muda dan cantik malah memilih hidup bersama kenangannya. Apakah sanggup seumur hidupnya seperti ini?


Aku akan sanggup, karena cintaku pada Arkana adalah cinta yang sejati. Ah tidak, cinta sejati itu hanya cinta hamba kepada Tuhan-Nya. Bagiku Arkana itu adalah cinta sehidup semati untukku. Ya, aku hidup dan mati hanyalah untuk Arkanaku. Cinta ini, selamanya untuk Arkana. Batin Qania.


“Sekarang giliran Kakak kan yang melamun.” Ucapan Syaquile membuat Qania tersadar.


“Hehehe.”


“Oh ya Kak, emangnya mimpi yang tadi Kakak ceritain di pesawat itu gimana sih?” tanya Syaquile yang baru saja teringat akan tujuan sebenarnya dirinya datang ke kamar Kakak-nya.


“Mimpi?” beo Qania.


“Jangan bilang Kakak lupa?” tanya Syaquile dengan wajah datarnya.


“Oh itu. jadi gini ….”


Qania pun menceritakan mimpinya kepada Syaquile secara mendetail.


“Apakah ini pertanda? Atau sebuah klu dari teka-teki yang kita coba pecahkan saat ini Kak?” tanya Syaquile. Otak cerdasnya pun saat ini sedang mencari jawaban atas mimpi sang Kakak.


“Entahlah Dek, semuanya membuat Kakak bingung. Dan pria terakhir itu, Kakak sama sekali tidak mengenalnya. Dan bocah berusai lima tahun itu, dia memakai gaun berwarna putih dengan rambut yang terurai indah. Kira-kira mereka itu siapa ya Dek?”


“Tidak ada tanya yang tak memiliki jawab Kak. Aku yakin semuanya akan terjawab seiring dengan berjalannya waktu,” ucap Syaquile. Ia berusaha tak membebani pikiran Kakak-nya, tapi yang sebenarnya saat ini otaknya itu tak berhenti menerka-nerka tentang mimpi Kakak-nya.


“Kamu benar Dek. Hahh, rasanya Kakak sangat lelah dengan semua ini. Ingin gitu Kakak kuliah aja, lalu nggak lama kemudian lulus dan balik ke rumah. Main dan mengurus Arqasa. Menjadi Ibu sekaligus Ayah yang terbaik untuknya. Kapan ya?” ucap Qania, ia mengungkapkan lagi beban hatinya.


“Bersabarlah Kak, tak sampai setahun lagi. Bukankah minggu depan Kakak akan ujian proposal dan setelah itu Kakak akan magang selama tiga bulan. Sambil magang kan bisa nyusun skripsi juga. Ya kurang dari enam bulan Kakak udah bisa meninggalkan kota ini dan balik lagi ke kampung halaman kita,” ucap Syaquile memberikan semangat kepada Kakak-nya.


“Ya. Pokoknya Kakak tidak ingin membuang masa, kalau saja bisa maka Kakak akan ujian skripsi saat masih dalam masa magang,” ucap Qania bersemangat.


“Ya nggak gitu juga Kak, mana ada Kakak magang jika sudah yudisium. Kan namanya udah bukan mahasiswa magang lagi. Gimana sih Kak,” ledek Syaquile.


Kakak beradik itu pun akhirnya tertawa ria. Saling melempar candaan, melupakan masalah yang saat ini mereka alami. Tapi tidak dengan Syaquile, ia saat ini sudah bertransformasi menjadi ahli tafsir mimpi.

__ADS_1


 


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


__ADS_2