
Dokter dan para perawat bersiap untuk melalukan pacu jantung agar detak jantung Qania segera kembali.
“Siapkan defribrilator, kita akan melakukannya sekarang. Semoga gadis ini masih bisa kita selamatkan,” ucap dokter dengan panik.
Bagaimana bisa? Tadi memang ia mengalami kondisi yang cukup kritis namun setelah pertolongan pertama itu kondisinya mulai membaik hanya saja karena kemungkinan gadis ini pernah mengalami trauma maka ia sampai mengalami koma seperti ini akibat jiwanya terguncang. Tapi ... jantung berhenti berdetak dengan tiba-tiba ini kenapa bis ....
“Dokter alatnya sudah siap,” ucap salah satu perawat yang menghentikan lamunan dokter tersebut.
Dokter pun mulai menggesek alat pacu jantung tersebut kemudian memastikan dengan apakah semuanya clear sebelum meletakkannya di dada Qania.
Hingga tiga kali percobaan namun tak ada perubahan sama sekali. Pasien menolak untuk bertahan hidup.
“Pukul satu lewat lima puluh menit,” gumam dokter tersebut kemudian dicatat oleh suster.
“Kalian tolong urus jenazahnya, saya akan memberitahukan kepada keluarga pasien,” ucap dokter tersebut dengan lemas, dalam hati ia masih diliputi tanda tanya dengan kondisi Qania yang tiba-tiba saja jantungnya berhenti berdetak.
Dokter membuka pintu, Raka dan Julius bergegas menghampirinya dan langsung menanyakan keadaan Qania.
“Dok gimana kondisi Qania?” tanya Raka.
“Qania baik-baik saja kan, Dok?” timpal Julius.
Dokter menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan dari kedua pria yang sedang menanti jawabannya ini.
“Mohon bersabar, pasien—“
“Tunggu Dok, kebetulan adiknya menelepon, sekalian Anda memberitahukan pihak keluarganya. Mereka juga akan segera datang ke kota ini,” ucap Raka sembari menyerahkan ponselnya kepada dokter setelah ia menjawab panggilan dari Syaquile.
“Assalamu’alaikum Kak, gimana keadaan kak Qania?” tanya Syaquile, ia mengaktifkan loud speakernya karena disana ada keluarga yang juga turut mendengarkan kabar terbaru tentang Qania.
“Wa’alaikum salam, saya dokter Pedro yang menangani pasien yang bernama Qania. Apakah saya berbicara langsung dengan keluarga pasien?” tanya dokter.
“Ya, kami semua sedang mendengarkan Dok,” jawab Syaquile.
“Baik Pak, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun Tuhan berkehendak lain. Saya turut berdukacita, semoga segenap keluarga diberikan ketabahan. Nona Qania sudah meninggal pukul tiga belas lewat lima puluh menit tadi,” ucap dokter tersebut.
Raka dan Julius yang berada di depan dokter tersebut seketika terduduk lunglai di lantai karena terlalu terkejut mendengar berita tersebut.
“Tidaakkk!! Qaniaaa!!”
Mama Alisha langsung terjatuh pingsan dan untung saja papa Zafran dengan sigap menangkapnya.
“Dok, jangan bercanda tolong. Kakak saya nggak mungkin meninggal,” erang Syaquile, bola matanya bergerak gelisah.
“Dokter jangan mengada-ada, menantu saya pasti baik-baik saja kan,” timpal Papa Setya menahan sesak di dadanya.
Sementara Papa Zafran sedang berusaha menyadarkan mama Alisha namun juga dengan perasaan yang sangat sesak.
“Mohon maaf Pak, saya tidak mungkin bermain-main dengan kondisi pasien. Awalnya pasien sudah melewati masa kritisnya namun beliau mengalami koma kemungkinan karena pernah mengalami trauma dengan kejadian yang menimpanya sebelum dilarikan ke rumah sakit. Namun sebelumnya ia sempat mengigaukan nama Arkana berulang kali ketika dalam masa kritisnya. Hingga keanehan terjadi dan mendadak jantung pasien berhenti berdetak. Kami sudah mencoba namun Tuhan berkehendak lain Pak,” cerita dokter tersebut.
“Arkana?” gumam Papa Setya. “Arkana itu nama suami Qania, Dok. Hanya saja dia sudah lama meninggal,” ucap Papa Setya yang kini semakin bertambah sesak.
Dokter Pedro menghela napas, ia sudah meradang melihat dua pria yang sedang menangis sesenggukan di depannya, belum lagi keluarga pasien yang sedang berbicara dengannya melalui sambungan telepon. Baru saja ia ingin mengatakan sesuatu, suster terburu-buru keluar dari ruangan dan memanggilnya.
__ADS_1
.... . ....
... ...
“Arkana, bukankah saat ini kita sudah bersama. Aku sangat menyukai hal ini. Hidup bersamamu adalah impianku selama ini. Dan akhirnya keinginan itu terwujud,” ucap Qania sambil menatap Arkana yang juga tengah menatapnya. Qania berbaring dipangukan Arkana. Keduanya sedang duduk di bangku yang berada di taman yang sangat indah.
“Lihatlah, tempat ini sangat indah dan sangat romantis,” ucap Qania lagi.
“Sangat pas untuk kita berdua,” timpal Arkana.
Qania hanya tersenyum sambil menikmati wajah Arkana yang berada tepat dihadapannya. Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Arkana.
“Aku sangat merindukanmu,” ucap lirih Qania.
Arkana tersenyum, “Aku juga. Tapi bukankah saat ini kita sudah bersama? Apa lagi yang membuatmu merindukanku, hem?” tanya Arkana dengan suara lembut yang membuat Qania tenang.
“Entah, tapi aku memang sangat merindukanmu,” jawab Qania.
“Jika begitu, tinggallah disini bersamaku,” ucap Arkana sambil membelai rambut Qania.
“Tentu saja aku ma—“
“Mamii, Mamii. Mamii jangan tinggalin Ar. Ar sama siapa nanti, hikss.”
Suara familiar itu menghentikan ucapan Qania. Qania langsung bangun dari pangkuan Arkana dan berusaha untuk mencari sumber suara tersebut.
“Ar! Arqasa Mami disini Nak. Mami nggak akan ninggalin Arqasa. Mami hanya sedang bersama Daddy,” ucap Qania gelisah karena ia sudah mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan sosok yang ia cari.
“Tidak sayang. Jika Ar mau, ayo kita tinggal bersama. Kita bertiga akan membangun rumah disini,” bujuk Qania. “Ka, tolong bantu bujukin Ar,” Isak Qania sambil menggoyang-goyangkan lengan Arkana.
“Aku ti—“
Baru saja Arkana akan bersuara, ucapannya dipotong lagi. “Mi, tempat Daddy itu berbeda Mi. Nggak bisa! Ar dan Mami belum saatnya untuk bersama Daddy. Tolong Mi, jangan tinggalin Ar, hikss “
“Berbeda?” gumam Qania, ia kemudian menatap Arkana yang kini tengah tersenyum lembut kepadanya.
“Duduk dulu sayang,” ucap Arkana menarik lembut tangan Qania hingga Qania duduk di sampingnya dengan wajah yang masih kebingungan.
“Sayang, kau masih ingin disini bersamaku?” tanya Arkana lembut tanpa melepas tatapan dan genggaman tangannya.
“Aku-aku ....”
Arkana tersenyum, “Belum saatnya kita semua berkumpul di tempat ini. Ada waktunya sayang. Kau lihat dan dengar sendiri, anak kita membutuhkanmu disana. Tolong jaga anak kita untukku sampai waktu mempertemukan kita kembali. Aku tak tahu pasti, aku dan kalian akan segera bersama. Kau kembalilah. Ini bukan tempat kita. Dan terima kasih untuk cinta yang selalu kau jaga untukku sayang. Aku saanggaat mencintaimu,” ucap Arkana kemudian membawa Qania ke dalam dekapannya.
“Tapi—“
“Sttt ....” Arkana meletakkan jari telunjuknya di bibir Qania. “Rencana Tuhan selalu indah sayang. Bersabarlah! Tuhan tidak akan pernah menguji diluar batas kemampuan hamba-Nya. Percayalah!”
Qania langsung menghambur memeluk Arkana, ia terisak lama dalam dekapan pria yang selalu ia cintai ini.
“Hiks, maafkan aku. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu, maafkan aku tapi aku harus memilih Arqasa. Dia membutuhkan aku untuk menjaganya. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Arkana Wijaya,” Isak Qania semakin mempererat pelukannya.
__ADS_1
“Kau tidak bersalah. Aku mendukung keputusanmu sayang. Sekarang kembalilah, anakku membutuhkanmu, aku juga sangat mencintaimu istriku,” ucap Arkana kemudian mengecup lama puncak kepala Qania sambil memejamkan mata.
.... . ....
... ...
“Dokter, jantung pasien kembali berdetak dan pasien terus memanggil nama Arqasa,” ucap suster tersebut dengan terburu-buru.
Raka dan Julius spontan langsung berdiri dan menatap lekat pada suster yang sedang berdiri di samping dokter Pedro.
“Benar begitu Sus?” tanya Raka.
“Qania masih hidup kan Sus?” tanya Julius.
“Hallo ... dokter tolong jelaskan apa yang terjadi,” ucap Papa Zafran yang langsung mengambil alih ponsel dari tangan papa Setya.
“Mohon maaf Pak, saya harus segera memeriksa pasien. Teruslah berdoa untuknya, permisi,” ucap dokter Pedro kemudian menyerahkan ponsel tersebut kepada Raka.
Dokter dan suster kembali masuk ke ruangan meninggalkan Raka dan Julius yang masih dalam keadaan bingung hingga suara Papa Zafran dari ponsel Raka mengejutkan keduanya.
“Hallo, siapa yang bisa saya hubungi untuk mengetahui perkembangan anak saya?” tanya Papa Zafran dengan perasaan campur aduk antara senang dan juga cemas.
“Sa-saya Om, saya yang akan mengabari kalian tentang keadaan Qania,” jawab Raka.
“Baik, tolong beritahukan perkembangan Qania kepada kami. Tolong temani Qania disana sampai kami datang,” ucap Papa Zafran.
“Iya Om,” sahut Raka.
Panggilan pun terputus. Baik Julius maupun Raka sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Baru saja mereka dikejutkan dengan kejadian tak terduga. Qania yang terkonfirmasi meninggal tiba-tiba hidup kembali entah bagaimana itu semua terjadi. Hanya Tuhan yang memiliki kuasa diatas segala kekuasaan.
Raka dan Julius pun kembali duduk dengan perasaan sedikit lega karena kabar buruk tadi tidak benar-benar terjadi.
Qan, kalau sampai Lo kenapa-napa semua itu karena gue. Tunggu sampai keluarga Lo datang, pria brengsek tua bangka itu akan mendapatkan bagiannya sendiri. Gue yakin keluarga Lo nggak semurah hati itu membiarkan penjahat hidup tenang setelah membuat Puteri mereka kehilangan nyawanya dalam beberapa waktu, gumam Julius dalam hati.
Di rumah Qania, Papa Zafran berusaha membangunkan mama Alisha dengan mendekatkan botol minyak angin di dekat hidungnya.
“Ma ayo bangun Ma,” bisik lirih papa Zafran.
Bulu mata mama Alisha bergerak perlahan. Matanya mulai terbuka dan begitu kedua mata itu terbuka sempurna, ia langsung bangun dan memeluk sang suami yang sedari tadi memangkunya ketika ia pingsan.
“Hikss, Qania Pa. Qania, hikss.” Kembali tangis mama Alisha pecah ketika teringat alasan mengapa ia sampai pingsan.
“Tenang Ma, Qania sekarang baik-baik saja. Tuhan belum mengizinkan Qania untuk ninggalin kita, Ma,” ucap Papa Zafran sembari mengusap punggung istrinya.
“Maksud Papa?” tanya ragu Mama Alisha. Ia melepaskan pelukannya kemudian memandang lekat wajah suaminya itu.
“Qania baik-baik saja Ma. Dokter sedang memeriksanya. Mungkin tadi Qania sedang bermain-main bersama Arkana. Tapi sekarang dia sudah kembali karena teringat disini ada Arqasa yang membutuhkannya,” jawab Papa Zafran kemudian ia tersenyum tampan hingga membuat pipi mama Alisha memerah karena malu.
“Ishh, masih sempat ya kalian,” cibir papa Setya.
Mama Alisha dan Papa Zafran terkikik sementara Syaquile hanya mendengus lalu berpikir ingin menelepon seseorang.
__ADS_1
“Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Mami baik-baik aja, hikss. Makasih Mi, makasih karena Mami nggak ninggalin Ar kayak Daddy. Ar sayang Mami,” ucap Arqasa sembali menyeka air mata yang membasahi pipinya. Ia kemudian kembali ke tempat tidur dan melihat ponselnya yang terdapat banyak panggilan tak terjawab dari Tristan namun ia cuek dan kembali memejamkan matanya.